Kujang Ciung Mata Empat

Mahar : 2.950,000,-


1. Kode : GKO-397
2. Dhapur : Kujang Ciung
3. Pamor : Sulangkar
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1249/MP.TMII/X/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Ajibarang
7. Dimensi : panjang bilah 16,5 cm, panjang pesi 4,5 cm, panjang total 21 cm
8. Keterangan Lain : TUS


ULASAN :

Kujang pada masanya pernah menjadi simbol kedaulatan dan kejayaan sebuah negara ‎bernama Kerajaan Pajajaran. Bendera Pajajaran yang berwarna hitam putih bersulamkan gambar kujang, juga diberitakan dalam kisah serial Pantun Bogor (Umbul-umbul Pajajaran hideung sawaréhbodas sawaréh disulaman kujang jeung pakujajar nu lalayanan) seolah ikut tenggelam ketika negara Pajajaran mulai runtuh setelah tahun 1579 Masehi. Pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran, kujang pun jarang dipertontonkan karena (Pajajaran) sudah tidak “daulat” lagi. Orang-orang terdahulu pun seolah ikut menyimpan dan menyembunyikan kujang.  Bahkan, sejak saat itu pula kujang tidak pernah muncul dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial. Hal ini seolah diperkuat melalui arsip-arsip foto zaman Belanda dimana jarang sekali (hampir tidak diketemukan) para Bupati, Pangeran dan Ningrat di Bumi Priangan dan sekitarnya terlihat membawa kujang, namun justru menyengkelit atau menganggar keris. Itulah kenapa kujang seolah jarang ditemukan atau senyap keberadaannya (sinengker).

KUJANG CIUNG, adalah salah satu bentuk kujang yang memiliki waruga (bilah) seperti paruh burung Ciung (sejenis burung Bincarung, melambangkan makhluk dunia atas), burung dengan rupa yang elok yang memiliki paruh panjang dan lancip, warna bulu yang merah, lincah dalam gerak, gagah apabila sedang bertengger di dahan pohon, serta nyaring ketika berkicau. Pengambilan bentuk dasar dari hewan merupakan salah satu cara dan kebiasaan masyarakat Indonesia membuat suatu benda, semua berbasis pada kekayaan alam di sekitar, baik itu tumbuhan maupun hewan.

Kujang Ciung merupakan salah satu jenis kujang yang paling khas dan paling populer atau banyak ditemukan dengan berbagai variasi bentuk hampir di seluruh wilayah Pasundan, bahkan juga banyak dijumpai di sepanjang pulau Jawa, Madura hingga ke Bali dan Lombok. Varian-varian tersebut apabila dicermati masih tetap mengacu pada struktur dua sabit yang saling membelakangi, hanya saja pada bagian tertentu ada yang lebih tipis atau ada yang lebih lebar. Pola Dasar Bentuk Struktur Kujang Ciung adalah Sabit pada bagian atas membentuk congo atau papatuk yang merupakan ujung atau bagian yang paling runcing pada kujang ciung. Ujung sabit atas yang melengkung ke bawah membentuk siih (eluk atau lekukan pada bagian punggung). Sabit Pada bagian bawah membentuk waruga (badan) sampai ke tadah (lengkungan menonjol pada pangkal perut) kujang. Dua sabit tersebut saling membelakangi untuk membuat keseimbangan bentuk.

penggambaran kepala burung ciung dalam kujang ciung

SILOKA, Burung Ciung bagi masyarakat Sunda dianggap sebagai simbol pencitraan yang positif, sehingga dalam Pantun Bogor kujang ini dituturkan sebagai senjata para Bangsawan yang berkedudukan paling tinggi, yaitu sebagai Raja, Prabu Anom, dan Pendeta Agung Kerajaan (Brahmesta). Nama raja besar Sunda yang sangat termashur adalah Prabu Ciung Wanara. Penamaan Ciung bertalian dengan keberadaan burung Ciung ketika itu, dimana sifat-sifat nature burung Ciung tersebut merupakan cerminan kecerdasan, pandai berdiplomasi, dan rupawan. Personifikasi karakter kujang ciung memiliki kesamaan dengan Prabu Ciung Wanara.

Struktur Haksara pembentuk kata Ciung : Ca Ya Wa Nga.

Ca memaknai Cahaya
Ya memaknai Hurip atau kahirupan
Wa memaknai Salaput Tunggal atau Hawa atau Udara
Nga memaknai Nu Kawasa

Ringkasnya Ciung (Chi-Hung) artinya Ca’ang (tercerahkan), dalam konotasi ajaran udagan kasampurnaan melepaskan segala nafsu duniawi.

MATA/LUBANG KUJANG, adalah lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisanya berupa lubang lubang kecil. Kegunaannya sebagai lambang kedudukan status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.

Dalam tradisi prepantun Bogor (Ki Panjak) mengenal adanya Mata kujang yang melambangkan Mandala atau Dunia atau Alam yang akan dilalui manusia sejak di dunia fana hingga alam baka, yaitu Mandala Kasungka, Mandala Permana, Mandala Karma, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Mandala Jati, Mandala Samar dan Mandala Agung.

Kujang berdasarkan mata atau lubang dan artinya :

  1. Mandala Agung, bermata sembilan. Adakalanya dipanggil medal. Biasanya pemegangnya adalah Raja Bramestha dan Pandita agung.
  2. Mandala Samar, Bermata delapan. Adakalanya disebut ngajadi.
  3. Jati Mandala, Bermata tujuh. Adakalanya disebut malik. Biasanya pemegangnya Prabu anom, Mantri dangka (Perdana Menteri) dan pandita.
  4. Mandala Suda, Bermata enam. Adakalanya disebut usik.
  5. Mandala Seba, bermata lima. Adakalnya disebut mangrupa. Biasanya pemegangnya adalah seorang Bupati, Geurag serat, gerang Puun.
  6. Mandala Rasa biasa disebut wesi kuning, bermata empat. Adakalanya disebut gumelar. Pemegangnya para putri menak keraton.
  7. Mandala Karna, bermata tiga. Adakalanya disebut gumulung. Pemegangnya para Puun.
  8. Mandala Permana. bermata dua. Adakalanya disebut lumenggang.
  9. Mandala Kasungka, bermata satu. Adakalanya disebut ngaherang. Pemegangnya para guru tangtu Agama.

PAMOR SULANGKAR, kujang-kujang sepuh buatan jaman kerajaan dahulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis (sulangkar) dan bintik-bintik (tutul) yang tidak beraturan. Pamor sulangkar mengacu pada sejenis pamor yang bentuknya seperti alur sejajar dari bagian bawah sampai ke bagian atas. Bentuk pamor seperti ini banyak sekali ditemukan, bentuknya seperti pamor nyerat atau ngarambut.

CATATAN GRIYOKULO, Kujang Ciung ini memiliki rericikan mata (lubang-lubang kecil) sebanyak empat buah, tiga buah pada bagia tonggong (bagian punggung) dan satu buah lainnya pada bagian beuteung (perut). Lubang-lubang yang ada apabila kita perhatikan dengan seksama tidak tampak sama besarnya, begitu pula tidak berbentuk bulat sempurna, namun hal ini justru menandakan keotentikannya di zamannya, bukan hasil rekayasa owahan dari alat bor modern.

periodesasi kujang

Keberuntungan yang lain adalah meski kujang ciung adalah varian kujang yang paling banyak ditemukan, karena ditengarai dibuat mulai dari abad XII hingga abad XVII atau mulai zaman Galuh – Pakuan Pajajaran  (tangguh Madya Kuno)  hingga zaman Cirebon, Sumedang Larang dan Banten (Tangguh Tengahan). Namun berbanding lurus pula dengan yang ditemukan, banyak pula kujang ciung yang sudah tidak utuh lagi. Seringkali korosi mencapai mata/lubang hingga mata kujang tidak berbentuk bulat lagi. Namun pada kujang ciung ini masih tampak utuh bagian-bagiannya, mulai dari papatuk, siih, mata, tadah hingga ke paksi, selain itu juga tebal, sehingga layak untuk dikoleksi.

Kujang ini sudah dijamas dan diwarangi, sebagai syarat untuk menangguh/membuat surat keterangan dari museum pusaka meski dalam pandangan pribadi penulis lebih cantik dan wingit jika berada dalam kondisi putihan saja. Dan sangat mungkin pula kujang ciung ini berasal dari era/tangguh yang lebih tua dari yang tertulis dalam surat keterangan. Demikian pula kowak (sarung kujang) yang ada masih cukup bagus dan pantas untuk mendampingi bilah kujang, tidak ada pekerjaan rumah menanti.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *