Junjung Derajad

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.500,000,- (TERMAHAR) Tn. LS, Semarang


1. Kode : GKO-396
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Junjung Derajad
4. Tangguh : Tuban Mataram (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1240/MP.TMII/X/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 32,5 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 32,5 cm
8. Keterangan Lain : pamor banyak dicari, sudah nyandang gagah


ULASAN :

BROJOL, merupakan salah satu dhapur keris yang sangat populer yang bisa ditemukan di setiap tangguh/era. Jika beberapa dhapur keris seringkali ditemukan berbagai bentuk perbedaan mengenai ricikan yang menyertainya, nampaknya dalam dhapur brojol semua buku keris baik serat-serat lama hingga buku-buku baru sepakat menuliskan deskripsi yang sama; brojol adalah sebuah keris lurus yang sangat sederhana hanya memakai satu (1) buah ricikan saja, yakni pejetan. Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok pertama kali dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun Jawa 1170.

Brojol makna karêpkita | muradipun ingkang sampun kawijil | rasa kang bisa sirèku | anggêmèni wicara | sadurunge kawêtu sinukmèng kalbu | aja lunyu ing pangucap | lunyu lonyot angacuwis ||……. Serat Centhini

FILOSOFI, Ajaran Sunan Kalijaga mengenai simbol ilmu perkerisan dalam Serat Centhini  yang diwedarkan oleh Ki Nom kepada Mas Cebolang memberikan pemahaman akan berbagai makna dhapur keris. Salah satunya adalah bentuk brojol; maknanya adalah kehendak kita, yakni apa yang telah dikeluarkan. Jadi hendaknya kita selalu hati-hati dan cermat dalam berbicara. Sebelum berbicara hendaknya apa yang kita bicarakan itu diresapi dahulu dalam hati. Jangan mudah mengucapkan kata-kata yang sulit dipegang atau nantinya akan di cap tidak bisa dipercaya oleh orang lain. Sebuah ajaran sederhana yang jika benar-benar diresapi tampaknya mulai memudar di era milenium ini.

Bukanlah suatu kebetulan jika Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut, dua telinga dan dua mata, maksudnya supaya kita bisa lebih banyak mendengar dan melihat daripada bicara. Anteng, meneng, jatmika adalah sikap ksatria Jawa yang ada kaitan dengan bicara adalah perak dan diam adalah emas. Ajining raga dumunung ing busana, ajining dhiri dumunung ana ing lati, menunjukkan bahwa raga fisik dinilai dari busana yang kita kenakan tetapi nilai dari diri kita ada pada ucapan-ucapan kita.

Diamnya seseorang bukan berarti sebuah kekalahan dan ketidakmampuan, Sebaliknya, diam adalah upaya untuk melihat persoalan secara lebih jernih, mengolah dan menganalisisnya lewat batin dan pikiran. Pelajaran berharga dari dhapur brojol (mbrojol, Jw = keluar) adalah untuk tidak terburu-buru dalam berkata atau mengomentari sesuatu. Orang bijak mengatakan ucapan yang baik adalah ucapan yang memenuhi empat syarat yakni: ucapan itu benar, ucapan itu beralasan, ucapan itu bermanfaat, dan ucapan itu tepat pada waktunya. Sebab, lisan yang tak terjaga justru seringkali menimbulkan fitnah dan dosa baru. Bukankah Tuhan lebih menyukai hamba yang “berbuat” daripada sekedar “berucap”?

Namun kini, diam seolah menjadi barang langka. Kita terlalu responsif bicara mengenai apapun walaupun terkadang tidak membawa manfaat atau kebaikan apapun. Justru kini semua orang bisa dengan tiba-tiba menjadi pengamat/ahli dadakan.  Mengunggah komentar, tanggapan, atau wacana atas berbagai peristiwa dan kejadian. Lebih banyak “sharing” tanpa lebih dulu “saring”. Apalagi jamaknya orang lebih banyak menuntut ekspresi kebebasan berbicara dengan dalil menghargai kebebasan berpendapat, daripada memilih untuk diam.

Dan di zaman digital dimana teknologi informasi telah berkembang begitu pesat, mengubah dunia ke arah yang tidak pernah kita duga. Semua serba cepat. Kini tidak hanya ada ungkapan “Lidah tak bertulang”, namun “jempolmu (berpotensi menjadi) harimau mu”, menjadi gambaran tajam dan lenturnya mulut dalam berbicara dan jahatnya publikasi jika kita sembarang memposting sesuatu (hoax), yang jika suatu saat terbukti tidak benar berujung terkaman/jeratan konsekuensi hukum. Telah banyak contoh anarkisme dan perpecahan banyak terjadi karena saling menghujat dan perang kata-kata kasar.

TANGGUH TUBAN MATARAM, kendati Tuban silih berganti menjadi vasal kerajaan-kerajaan besar di Tanah Jawa, namun ternyata keris ciptaan para Empu daerah tersebut menyisakan ciri yang selalu berkesinambungan sepanjang zaman. Tak heran julukan kota Empu sangat tepat diberikan untuk Tuban. Tersebutlah keris tangguh Tuban Jenggala,  Tuban Pajajaran, hingga Tuban Mataram. Sebutan nama kerajaan dibelakang-nya oleh masyarakat perkerisan sebenarnya untuk lebih memudahkan penamaan atau penggolongan, bahwa keris Tuban yang dimaksud dibuat pada era kerajaan-kerajaan itu.

Keris-keris Tuban pada zaman Mataram mengalami sedikit pergeseran bentuk. Bila bilahnya pada masa sebelumnya rata-rata tipis, maka pada masa Mataram, agak lebih tebal dengan bentuk nglimpo mengikuti model keris Mataram, bagian pejetan juga lebih sempit dari era sebelumnya dan gandik-nya agak tegak. Besinya tampak hitam, tempaannya nyaris sempurna sehingga mewujudkan bilah keris yang nyaris tidak berpori-pori. Pada bagian gonjo, sirah cecak umumnya masih ada pengaruh atau warisan dari Pajajaran yakni berbentuk buweng (bulat), dengan bentuk seperti mbatok mengkurep.

Kesederhanaan seperti menjadi DNA keris Tuban sejak lama, seolah menyembunyikan sesuatu yang luar biasa, karena dibalik kesederhanaan selalu ada kekuatan lain. Tidak banyak lagi sekarang kita bisa menemukan keris junjung derajad di pasaran tosan aji, jika adapun nilai mahar atau mas kawin yang ditawarkan akan berlipat dibandingkan dengan keris/tombak/pedang dhapur dan tangguh yang sama. Terlebih keris Junjung Derajad ini sudah gagah nyandang warangka ladrang, tidak ada pekerjaan rumah yang menunggu, Panjenengan tinggal merawat dan menyimpan saja.

MAS KEMAMBANG, atau maskumambang adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, sangat cocok jika memiliki keris yang gonjo-nya berpamor mas kumambang ini.

PAMOR JUNJUNG DERAJAD, pamor ini telah tertera dalam Manuskrip Darma Kapandean era Kediri, selain itu dijumpai pada Manuskrip Serat Pamor, Serat Wesi Aji dan Kitab Centhini, dimana motif gambaran pamornya menyerupai corak berupa garis yang berbentuk panah/segitiga/gunung yang mengarah ke atas. Di Semenanjung Melayu pamor seperti ini dinamakan gambaran gunungan, suatu simbol peningkatan derajad dalam kehidupan seseorang, mengantarkan seseorang pada kekayaan dan kemuliaan.

Secara harfiah berarti mengangkat derajad. Sesuai dengan namanya, doa dari sang Empu adalah seseorang (pemilik) mendapatkan hal-hal yang bisa mengangkat dan meninggikan kedudukan atau kemulyaan, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia sendiri. Derajad disini memiliki dua makna, yakni dunia dan akhirat. Ketika seseorang diangkat derajadnya di dunia, maka dia menjadi orang yang diistimewakan oleh Tuhan. Sebut saja seperti selalu diberikan kemudahan, dipercepat rezekinya dan berbagai keistimewaan dunia lainnya. Sementara itu, jika diangkat derajadnya di akhirat, dilayakkan dan dipantaskan untuk masuk ke surga dengan tingkatan yang paling tinggi.

Jika dulu keris berpamor junjung derajad  banyak dimiliki oleh mereka yang memiliki ikhtiar untuk dapat mengabdi kepada Raja, kini banyak pecinta keris mempercayai keris berpamor junjung derajad sangat tepat dimiliki oleh mereka yang bekerja mengabdi pada negara, seperti ASN, mereka yang terjun dalam dunia politik, hingga yang aktif dalam dunia perwira, seperti militer dan kepolisian. Konon dengan sugesti energi positif pamor ini dan tentu saja atas izin Tuhan YME, pemilik keris junjung derajad diyakini akan mudah mendapat promosi, kedudukan atau kenaikan jabatan lebih tinggi dan kemulyaan hidup, seperti gambaran pamor junjung derajad yang selalu berlapis-lapis mengarah ke atas. Aamiin…..

 Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *