Tombak Buntel Mayit

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.444,444,-(TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-395
2. Dhapur : Tombak Kudhup Melati
3. Pamor : Buntel Mayit atau gubed
4. Tangguh : Madura (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1178/MP.TMII/IX/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 16,5 cm, panjang pesi  7,8 cm, panjang total 24,3 cm
8. Keterangan Lain : pamor langka


ULASAN :

KUDHUP MELATI, artinya dalam bahasa Indonesia adalah kuncup bunga melati, tombak ini adalah sejenis tombak kecil, berbentuk lurus, ukurannya tidak sampai sejengkal pemakainya, paling-paling panjangnya kurang dari 20 cm. Pada dasarnya tombak dhapur Kudhup Melati bukan untuk tombak menyerang atau berperang. Tombak-tombak dhapur kudhup juga tidak mungkin dilontarkan karena ringan, ujungnya relatif kecil dan tidak praktis untuk tombak lontar (lembing). Kegunaannya lebih sebagai pusaka.

Aku adalah saya dan saya adalah aku, Aku yang tak seperti kamu dan tak akan menjadi kamu. Karena aku adalah aku, dan kamu adalah kamu, Melati

FILOSOFI, Mendampingi anggrek dan rafflesia, bunga melati menyandang predikat puspa bangsa di mata Dunia Internasional. Ukuran dan bentuk bunganya yang kecil, seakan tidak ingin terlalu show off (pamer) atau menampakkan diri. Warnanya yang hanya putih bersih, tidak menyimpan warna lain di balik kelopaknya. Kesetiaan akan warnanya tidak berubah dalam kondisi apapun. Walau disengat kemarau panjang atau diguyur hujan deras, putihnya tetap berseri. Pada alam pun ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Memberi kesan lembut, nyaman, tenang dan menyejukkan.

Jika melati adalah manusia, sudah pasti ia bersifat rendah hati. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati teguh akan dirinya. Maka, melati akan terus berhati-hati membawa diri. Ia akan tetap mawas diri. Melati akan selalu menyadari kodratnya untuk menjadi putih, tidak membiarkan apapun merubah warna aslinya hingga masanya mempertanggung-jawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya.

Melati adalah bunga kecil yang berwarna putih bersih serta harum baunya, melambangkan laku yang bersih, kasih tulus suci tanpa pamrih, jiwa kesatria, kesetiaan dan keluhuran budi. Kekuatan magis bunga melati juga diyakini mampu untuk mendatangkan kekuatan yang baik (putih) dan menangkal kekuatan jahat atau ilmu hitam. Dan jika nanti pada masanya ia harus gugur, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati. Alam akan tetap mengenang dirinya dan keharuman jejak yang ditinggalkannya pada alam yang pernah disinggahinya.

PAMOR BUNTEL MAYIT, adalah salah satu motif pamor yang langka ditemui, dimana bentuk gambarannya menyerupai belitan kain yang menyelimuti seluruh badan bilah keris, tombak, atau pedang. Gugon tuhon mengenai pamor buntel mayit memang mengesankan sesuatu yang angker, yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam bahasa Jawa dikenal kata buntel yang digunakan untuk menunjukkan satuan benda. Dalam bahasa Jawa, kata buntel berarti ‘bungkus’. Alat pembungkus yang digunakan biasanya berupa lembaran kain, seperti sapu tangan. Adapun, benda yang dibungkus biasanya berupa benda-benda yang padat/bukan cair, seperti uang logam, perhiasan, pakaian, atau makanan.

Dan mayit berarti orang yang telah meninggal (mayat). Memang seolah lebih menyiratkan makna yang berhubungan dengan alam kubur (kematian), yang bagi orang Jawa kematian mungkin adalah salah satu hal paling tabu untuk dibicarakan. Inilah salah satu sebabnya mengapa pamor buntel mayit oleh masyarakat Jawa selama ini cenderung disirik (dihindari).

Walaupun sebagian orang Jawa lain berpendapat, jika si pemilik ini tergolong orang yang ‘kuat’ memegang pusaka sekelas ini, maka pamor buntel mayit ini justru akan sangat ‘mendongkrak’ si pemilik dalam menarik rezeki. Buntel mayit dianggap sebagai piyandel pungkasan untuk melunturkan segala kesialan yang dianggap menempel ‘akut’ pada pemiliknya. Seperti dianalogikan dengan kepercayaan (utamanya) di masyarakat jawa, membacakan surat Yasin kepada Orang yang sedang sakit keras. Walaupun salah niat, kebanyakan yang terjadi niatnya adalah “kalau memang memang masih panjang umur, semoga segera sehat, kalau memang sudah waktunya dipanggil Allah semoga cepat di ambil”. Demikian juga adanya kepercayaan terhadap pamor buntel mayit, jika masih rejekinya, semoga didekatkan dan roda cepat kembali berputar naik, kalau bukan haknya roda akan berhenti berputar dan semakin lama terpuruk di bawah.

Pamor ini juga menjadi pengingat dimana belitan seperti kain dari bawah ke atas menggambarkan bahwa untuk menikmati keindahan mentari, seseorang harus melalui perjalanan berputar dan menanjak seperti mengitari gunung menuju puncaknya. Bahwa tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini, semua butuh proses dan haruslah diperjuangkan.

Di sisi spiritual, dengan merenungi kematian (sangkan paraning dumadi) akan bisa mengubah cara berpikir seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagai sebuah misteri yang tak terelakkan, kematian telah menghadirkan ketakutan bagi mereka yang terikat dengan keduniawian. Buntel Mayit secara harfiah adalah bungkus mayat yang berarti kain kafan. Di Indonesia, kafan biasanya terbuat dari kain mori. Sehelai kain polos berwarna putih itu tidak berwarna-warni. Karena ketika sudah mati, semuanya di hadapan Tuhan adalah sama, baik yang berpangkat maupun tidak. Tuhan tak melihat seberapa tinggi jabatanmu, tak menilai berapa banyak hartamu. Namun yang dilihat adalah warna-warni amalan yang dibawa hingga mati. Dan adalah harapan kita semua, semoga saat ini telah putih bersih hatinya dari khilaf dan dosa. Agar kelak pantas menggapai keindahan firdaus-Nya. 

Di Madura pamor ini dikenal dengan pamor lawe segulung, berupa seperti benang lawe berkeliling di sekeliling bilah. Tuahnya dipercaya dijauhi segala macam kejahatan orang hingga binatang, selamat, derajad dan pangkat, tidak kekurangan makan.

Di Pulau Bali dan Lombok pamor buntel mayit sering disebut sebagai pamor tambangan. Dan yang paling digemari adalah pamor tambangan badung. Tuahnya  dipercaya bisa mendatangkan segala hal yang baik bagi diri manusia, yakni kepercayaan diri dan keteguhan juga membawa kewibawaan dan keberanian. 

Di Semenanjung Melayu pamor Buntel Mayit dinamakan dengan pamor Lilit Ubi. Keris dengan pamor lilit ubi jarang dimiliki oleh orang-orang biasa, karena keris ini biasanya hanya berhak dimiliki oleh orang-orang tertentu (orang kerajaan). Makna pamor lilit melambangkan jalan berliku bagi kemajuan pihak musuh serta menjauhkan dari pertentangan dan pengaruh/maksud jahat. Sang pemilik keris akan dihormati dan disanjung banyak orang. Pada masa lampau nilainya amat tinggi.

WARANGKA SEKEN, Jika umumnya tombak-tombak dipasang pada landeyan dan diberikan tutup model kudup (walau ada pula tombak dengan jenis yang panjang dan ramping seperti cipiran atau cacing kanil dimasukkan dalam tongkat komando), terdapat jenis warangka tombak lain yang banyak dipakai oleh masyarakat Jawa bagian timur dan madura, yakni warangka seken. Bentuknya ramping, layaknya perpaduan antara sandang walikat dan tongkat komando. Tombak yang biasanya disandangi dengan warangka seken umumnya bukan yang berbilah lebar dan panjang. Untuk memudahkan jika hendak disengkelit atau dibawa bepergian. Rata-rata merupakan tombak yang dipusakakan oleh pemiliknya,

CATATAN  GRIYOKULO, aura tombak ini sangat terasa mistis, mereka yang pernah berkesempatan melolos bilah buntel mayit ini dari warangka sekennya turut merasakan hal yang sama. Mungkin Panjenengan nanti akan  mempunyai kesempatan yang sama pula untuk membuktikannya. Besinya yang garang berwarna hitam ditambah pamor puntiran yang wingit membelit-belit sekeliling bilah dhapur kudup melati, terasa menyatu dalam filosofi. Pamor yang dihadirkan sang Empu berhasil mengingatkan tentang sesuatu yang pasti yang nantinya akan dialami setiap manusia, yakni kematian. Ada kalanya memang kematian menghadirkan ketakutan bagi mereka yang terlalu mencintai duniawi. Namun justru sebenarnya dalam ajaran makrifat Jawa, kematian mengacu pada pengertian pulang ke asal mula keberadaan (Sangkan paraning dumadi).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *