Sengkelat Amangkurat TUS

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.777,777,- (TERMAHAR) Tn. LS, Semarang


1. Kode : GKO-394
2. Dhapur : Sengkelat
3. Pamor : Ilining Warih
4. Tangguh : Mataram Amangkurat (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1098/MP.TMII/IX/2019
6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 34,3 cm, panjang pesi  6 cm, panjang total 40,3 cm
8. Keterangan Lain : TUS, mendhak perak


ULASAN :

SENGKELAT, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk 13 (tigabelas). Keris Sengkelat memakai ricikan: sekar kacang, jalen, lambah gajah (satu), sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan dan greneng. 

Dalam riwayatnya, ada 2 (dua) versi menceritakan mengenai hal ikhwal penciptaannya; versi pertama bahwa keris dhapur Sengkelat dipesan kepada Mpu Supo oleh Sunan Bonang dan versi kedua dipesan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta milik Nabi. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang (versi kedua = pangot sejenis pisau), maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sang Sunan disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V. Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan keindahan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel kerajaan yang mampu mengalahkan keris condong campur sekaligus menyingkirkan pagebluk yang melanda nagari Majapahit.

FILOSOFI, Nama keris Sengkelat begitu melegenda di akhir keruntuhan imperium Majapahit. Jejak besar yang ditinggalkan dalam menelusuri keris Sengkelat dapat ditemukan melalui Babad Demak. Babad adalah cerita rekaan (fiksi) yang didasarkan pada peristiwa sejarah, dimana penulisannya biasanya dalam bentuk macapat (tembang/puisi/syair). Babad cenderung menjadi percampuran dari fakta dan mitologi. Penulisannya yang imajinatif menjadikan semua nama dan peristiwa itu hanyalah sanepa/lambang-lambang.

Sunan Kalijaga angadika aris / sun arani keris dapur sangkelat / dene kris abang warnane / nanging iki tan patut / dipun enggo wonglaku santri / iki pantes kagema / mring patingginipun / negara ing pulo Jawa / wus pinasti besuk dadi pusaka ji / kang mengku nusa jawa //  Babad Demak

Penggalan teks di atas menceritakan, Sunan Kalijaga bersabda menamakan keris tersebut Keris Dhapur Sengkelat, karena berwarna kemerahan. Akan tetapi bila dipergunakan oleh santri tidaklah pantas. Keris ini lebih pantas menjadi pusaka pegangan Raja yang menguasai Nusantara. Babad Demak seolah menginspirasi bahwa keris Sengkelat adalah identik dengan sebuah piyandel dan wahyu kepemimpinan.

Sengkelat merupakan lambang kepemimpinan di tanah Nusantara, pemimpin yang memihak wong cilik dan menjadikannya sumber inspirasi. Seperti makna kepemimpinan dalam tembang dolanan “Gundul-Gundul Pacul”, yang bisa menjadi pameling akan sesuatu hal, piwulang tentang pengetahuan baru, atau bahkan menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua. Dituturkan lisan bahwa sebenarnya lagu yang diciptakan oleh RC Hardjosubroto ini merupakan ciptaan asli Sunan Kalijaga sekitar tahun 1400-an.

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan….. Gundul (bahasa Jawa) yaitu kepala plontos, botak tanpa rambut. Kepala merupakan lambang kehormatan serta kemuliaan seseorang yang selalu dijaga. Memegang kepala orang lain apalagi yang lebih tua merupakan suatu tindakan yang sangat tidak sopan dan dianggap merendahkan/tidak menghormati orang tersebut. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Gundul berarti kehormatan tanpa mahkota. Pacul (bahasa Jawa) yaitu cangkul, salah satu alat pertanian yang digunakan petani untuk mencangkul yang terbuat dari lempeng besi berbentuk segi empat. Pacul melambangkan kawula alit, masyarakat kecil. Gundul pacul, artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Gembelengan, artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Maka Gundul-gundul pacul gembelengan dapat diartikan sebagai pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanah rakyat, amanah tersebut disalahgunakan untuk kepentingan diri pribadi dan kelompoknya.

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan… Wakul (bahasa Jawa) artinya bakul tempat nasi. Wakul merupakan simbol kesejahteraan rakyat. Nyunggi wakul berarti membawa bakul di atas kepalanya. Namun banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting yaitu membawa bakul dikepalanya (untuk menyejahterakan rakyatnya). Namun kondisi saat ini masih banyak pemimpin yang masih gembelengan dan bermain-main terhadap amanah yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya. Terbukti dengan banyaknya pemimpin daerah dan pejabat negara melakukan korupsi berjamaah dan tertangkap KPK.

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar… Akibat dari pemimpin yang “lupa” membawa amanah tadi, maka jatuhlah bakul hingga isinya berserakan kemana-mana. Wakul ngglimpang berarti bakul diatas kepala jatuh. Segane dadi sak latar berarti nasi yang menjadi isi di dalam bakul tersebut jatuh dan berserakan kemana-mana. Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya negara akan tumpah (bocor) ke mana-mana, tidak terdistribusi dengan baik. Menyebabkan kesenjangan sosial ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tidak akan bisa dimakan lagi karena telah kotor. Sehingga amanahnya akan jatuh dan tidak bisa dipertahankan lagi karena telah menodai kepercayaan rakyat. Menjadikan kepemimpinannya sia-sia. Maka gagal sudah tugasnya dalam mengemban amanah rakyat.

Singkatnya, orang yang “kalungguhan” keris Sengkelat harus mampu menjaga komitmen yang telah dijanjikan dan mengemban amanah yang dititipkan.

TANGGUH AMANGKURAT, Tidak harus dengan gebyar pamor untuk menunjukkan kegagahan atau kewibawaan. Keris Sengkelat ini sudah menunjukkan jati dirinya sebagai Keris tangguh Mataram Amangkurat yang banyak dicari orang karena dipercaya dapat menambah keberanian dan ketegasan pemiliknya. Tengoklah pula bentuk sekar kacang-nya yang tampak kokoh, nggelung wayang-nya masih sangat perfect. Bagian greneng-nya juga masih utuh, demikian pula dengan ricikanricikan lain sehingga layak mendapat predikat “kolektor item”. Bekas sepuhan yang menjadi ritual wajib sang Empu dalam membabar pusaka dapat pula dideteksi pada duapertiga bilah atas.

Ada sebuah kisah menarik yang mengiringi perjalanan pusaka ini di masa lalu. Apabila kita perhatikan secara seksama warangka yang menjadi sandangan pusaka ini selain tampak sudah uzur juga bahan kayu yang ada tampak ireng lenges atau hitam seperti batu arang. Ya, betul menurut ahli waris sebelumnya, pusaka tinggalan ini di zaman kakek buyutnya pernah mengalami kebakaran, dan secara ajaib… boleh percaya tidak percaya… masih sanggup bertahan dari amukan si jago merah. Untuk mengingat moment tersebut hingga kini warangka yang mungkin telah berusia satu abad tidak diganti.

lubang warangka masih sangat trep dengan bilah

Demikian pula di dalam deder (gagang) pusaka ini masih tersimpan rambut asli dari kakek buyut ahli waris tersebut. Walau sebetulnya ada efek yang kurang begitu menguntungkan membungkus bagian pesi dengan rambut, karena dikhawatirkan akan lebih cepat memunculkan karat. Namun cara ini (melilitkan rambut sendiri pada pesi) umum dilakukan oleh orang-orang tua di zaman kolonial dengan berbagai latar belakang kepercayaan esoteri yang beragam, diantaranya: supaya “isi” dapat “diikat” oleh pemiliknya, ada pula yang meyakini cara tersebut untuk menyatukan atau mensinkronisasikan antara “energi” yang ada pada pusaka dengan “karakter” pemiliknya. Wallahu a’lam.

PAMOR BAWANG SEBUNGKUL, bungkul merupakan kata bilangan yang digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Bawang sabungkul adalah bawang yang terdapat pada satu pangkal tangkai daun bawang. Biasanya bawang sabungkul terdiri atas 8-14 siung bawang putih. Istilah bungkul tidak banyak diketahui oleh masyarakat sehingga istilah tersebut jarang sekali digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Masyarakat lebih mengenal kata siyung daripada bungkul sebagai penunjuk satuan atau ukuran bawang putih.

letak pamor bawang sebungkul

Dinamakan bawang sebungkul juga dikarenakan letak pamornya berada pada bagian bungkul keris, yakni tonjolan di bagian paling bawah dari pangkal keris, tepat di tengah bilah atau di atas pesi berupa ruas-ruas garis. Tuahnya dipercaya memberikan ketenangan lahir dan batin pemiliknya (ayem tentrem).

PAMOR ILINING WARIH, secara harfiah berarti air yang mengalir. Merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir.

Adalah simbol perjalanan hidup yang dinamis meski penuh dengan ketidakpastian atau hal-hal yang tak terduga. Meski terhalangi, air selalu bisa flexible mengalir mencari jalannya sendiri dari Gunung (hulu) hingga Samudera (hilir), membasahi daratan kering, menghidupi tempat-tempat yang tandus. Pamor ilining warih dipercaya membawa semangat pembaharuan, keluar dari masa sulit dalam kehidupannya.  Tak heran banyak Pecinta keris menggemari keris dengan pamor motif sederhana ini karena tuahnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *