Kujang Cangak

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 13.000,000,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-382
2. Dhapur : Kujang Cangak
3. Pamor : Sulangkar
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 969/MP.TMII/VIII/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 28,5 cm, panjang pesi 8,3 cm, panjang total 36,8 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item, pernah dipamerkan


ULASAN :

CANGAK, adalah salah satu bentuk kujang yang bentuk fisiologisnya menyerupai burung cangak yang kala itu banyak dijumpai dan akrab dengan masyarakat agraris. 

FILOSOFI, Cangak adalah satu burung air yang dalam habitatnya membutuhkan lahan basah. Lahan basah didefinisikan sebagai daerah-daerah rawa (termasuk rawa bakau/mangrove), payau, lahan gambut, persawahan, perladangan dan perairan yang alami atau buatan dengan air yang tergenang atau mengalir berupa air tawar, payau, juga asin. Mereka mempunyai leher yang panjang dan ramping, kaki yang panjang, tidak berbulu, dan sangat kurus, serta jari-jari kaki yang panjang termasuk jari belakang yang besar. Dengan langkah berwibawa mereka menjelajah perairan, mencari katak, kepiting kecil, atau reptilia kecil. Saat mencari makan mereka berdiri tidak bergerak, dengan sabar menunggu ikan kecil mendekati mereka. Ketika berdiri menunggu mangsa, leher berada dalam posisi istirahat (bentuk S). Lalu dengan gerakan secepat kilat, leher burung yang panjang itu menghunjam dan menombak ikan itu dengan paruhnya yang runcing. Dengan sayap yang besar, mereka terbang agak lambat tetapi anggun, kaki mereka terentang ke belakang tetapi lehernya ditekuk dan kepalanya bertumpu di antara kedua bahu.

Kehadiran burung-burung air dalam suatu ekosistem sangat penting, sebagai indikator sehatnya lingkungan, hadirnya berbagai jenis burung di suatu wilayah, otomatis menunjukkan wilayah tersebut memang alami. Kualitas alamnya terjaga. Banyaknya jumlah Cangak merupakan indikator ketersedian pangan yaitu ikan dan kualitas air di suatu wilayah tersebut (gemah ripah loh jinawi). Melihat keperkasaan, kecantikan, dan sifat-sifat unggul burung satu ini dalam hubungannya dengan alam  membuat Empu-empu zaman dahulu terinspirasi membuat sebuah pusaka dengan role model burung cangak.

TANGGUH CIREBON, Menyebut Cirebon, orang kini seolah sudah lupa membayangkan jejak kebesarannya di masa lalu sebagai kota pelabuhan dan kerajaan pesisir yang termasyur, tetapi saat ini justru lebih kerap menggunjingkan hal-hal yang berbau mistis, sesuatu yang lazim melekat di daerah yang pernah punya pengaruh dan kharisma besar pada masanya.

Bentuk-bentuk seperti kujang ini di dalam jurnal atau buku-buku mengenai kujang disebut dengan kujang naga. Naga bagi masyarakat Sunda dipercaya sebagai simbol penguasa langit, bumi dan air (Naskah Sewaka Dharma, naskah rontal abad XV), sedangkan air mutlak diperlukan sebagai sarana pertanian (masyarakat agraris). Dalam kepercayaan selanjutnya Naga sering dilambangkan sebagai simbol kebangsawanan, lambang kekuasaan serta sumber kekuatan supranatural yang besar dan bermanfaat (perlindungan dan penjagaan). Pada jaman dahulu Kujang Naga merupakan ganggaman atau pusaka para Raja dan para Ratu atau wali nagara yang merupakan pelindung rakyat. Pasangannya yaitu kujang geni (Ra) Naga-Ra ditempatkan di belakang singgasana. Nagara mempunyai pemahaman yang suci dan adil.

Namun bagi masayarakat Cirebon dan sekitarnya (dan secara kebetulan tangguh geografis terakhir kujang ini didapatkan dari daerah Cirebon) justru akrab menyebutnya sebagai cangak, konon terinspirasi dari burung cangak yang banyak terdapat di gunung Cangak baik dari zaman Resi Sentanu sampai masa Walangsungsang. Di kawasan ini pula terdapat beberapa situs sejarah yang sejak lama menjadi tujuan ziarah. Karuhun (nenek moyang) orang Sunda menganggap Gunung Cangak sebagai tempat keramat sebab di sana orang mendalami agama leluhur.

Jika keris, mungkin cangak adalah naga sasra-nya. Tidak mudah didapatkan karena memang dulunya bukan untuk dimiliki masyarakat kebanyakan. Tak heran bersama dengan kujang wayang, cangak menjadi incaran para kolektor kakap. Dari ukurannya yang hampir mencapai 30 cm, cangak ini tampak lumayan besar, gagah dan berwibawa dengan kerlip-kerlip pamor malela yang royal menghiasi bilah. Walau sebenarnya kujang-kujang di daerah kulonan lebih banyak dibiarkan putihan, tanpa diwarangi. Fisik dan keutuhan ornamen hiasan pendukungnya, seperti bagian methuk padma khas Cirebonan, bentuk mahkota dan jambul sampai ke bagian paksi pun masih terpelihara dengan sangat baik, menjadikannya sangat layak untuk dikoleksi. Kujang cangak ini sudah dilengkapi dengan kowak atau warangka baru dengan cara membuka dari samping, dan perah (gagang) mengadopsi daun ngora paku (pakis).

PAMOR SULANGKAR, Tinjauan tentang Kujang berdasar ‘Pantun Bogor‘, dapat memberikan sedikit gambaran pamor kujang yang biasanya digunakan pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran. Penyebutan pola pamor yang terdapat dalam sebuah kujang digambarkan setidaknya adanya dua macam pamor, yaitu pamor sulangkar (mengacu pada sejenis pamor yang bentuknya seperti alur sejajar dari bagian bawah sampai ke bagian atas, atau merambut, jw) dan pamor tutul (diasumsikan berupa pamor seperti tutul-tutul pada kulit macan tutul dan sampai sekarang penulispun belum pernah melihatnya).

Belum lama berselang, tepatnya pada tanggal 14 hingga 20 Juni 2019, kujang ini turut serta berpartisipasi pada Festival Keris Ratu Boko yang dipandegani oleh Komunitas Keris Lar Gangsir Yogyakarta di Kompleks Taman Wisata Kraton Ratu Boko, Kalasan Yogyakarta. Dalam pameran bertajuk “Keris dan Pusaka dalam Peradaban Nusantara, sekaligus bertepatan diluncurkannya Komunitas Keris Lar Gangsir, sebagai wadah masyarakat perkerisan baru di Yogykarta ini sebanyak 112 koleksi tosan aji dipamerkan saat itu, dengan rincian keris 84 bilah, 9 tombak, 8 bilah pedang, kujang sebanyak 6 bilah, 2 badik dan rencong, wedung serta trisula masing-masih 1 bilah.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Kujang Cangak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *