Cundrik Putut

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.600,000,- (TERMAHAR) Tn. H. SA Legok Banten


1. Kode : GKO-386
2. Dhapur : Cundrik Putut
3. Pamor : Mrambut
4. Tangguh : Majapahit (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1008/MP.TMII/VIII/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Bandung, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 19 cm, panjang pesi 6,3 cm, panjang total 25,3 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, warangka dusun


ULASAN :

KERIS SAJEN, keris-keris dengan ukuran sejengkal jari, biasanya gonjo-nya iras, serta mempunyai keunikan lain berupa hulu keris berbentuk menyerupai manusia yang menyatu dengan bilahnya dikenal sebagai “keris sajen”, Oleh banyak kolektor keris di dunia barat disebut sebagai “keris majapahit”. Sesuai dengan namanya (sajen), bisanya keris ini merupakan salah satu perlengkapan ritual persembahan, salah satunya dalam ritual bersih desa yang dilakukan setelah panen raya.

Keris-keris yang digolongkan sajen kebanyakan hanya berpamor keleng, sanak atau mrambut atau era yang lebih muda berpamor banyu mili, singkir dan lain sebagainya. Meskipun secara tampilan mungkin tampak biasa, tapi besi-besi keris sajen tidak bisa dipandang sebelah mata, karna meskipun tipis justru besinya seperti lebih tahan korosi dibandingkan keris rata-rata umumnya, dimana semua bahan diulet atau dicampur menjadi satu, tidak seperti keris yang diselipkan slorok baja di tengah.

FILOSOFI, Umumnya orang akan menyebutkan bahwa  Cundrik bentuknya justru tidak menyerupai keris, tetapi malah lebih dekat ke bentuk pisau, belati atau pedang yang bilahnya dari hulu sampai ujung melengkung atau cekung (membungkuk), mengikuti sisi tajamnya. Di bagian lain, punggung bilah (gandik, setengah dari panjang bilah) ada semacam “pematang” (kruwingan) yang bisa terlihat jelas atau hanya tipis.

Konon menurut Serat Pustakaraja Purwa dhapur cundrik (diberi nama badhèr) bersama dengan patrem, pasupati, lar ngatap serta senjata lain seperti cakra, kunta, katana, cundha, sarata, kalaka, sakri, nagapasa, sanggali, dibabar oleh Empu Ramadi yang merupakan Bapak Empu di Tanah Jawa pada masa pemerintahan Sri Paduka Raja Maha Dewa Budha, pada tahun Saka 153. Serat-serat lama pun seolah tidak ketinggalan menyebutkan para Raden dan Kêtip (ulama) memakai cundrik sebagai salah satu kelengkapan busana dengan cara nyothe (diselipkan di pinggang atau depan). Dalam kisah Babad Tanah Jawi disebutkan pula Trunojoyo, yang menjatuhkan Amangkurat I dari tahtanya itupun menyengkelit keris dhapur cundrik (tidak ada catatan tentang nama, pamor dan tangguh). Keris kecil ini selalu dibawanya ketika maju dalam peperangan.

Pada umumnya keris sajen memiliki hulu iras dalam bentuk sifat manusia, atau di dalam dunia perkerisan lebih dikenal dengan Puthut. Bentuk beraneka macam; ada yang berdiri membungkuk dengan menempatkan kedua belah tangan bersilang dada. Lalu ada juga jenis hulu dalam posisi duduk sambil menempatkan kedua belah tangan ke atas lutut. Ada pula keris sajen yang mempunyai hulu menghadap ke samping.

Yang menarik, meski terdapat kemajemukan bentuk posisi maupun arah hadap namun rata-rata memiliki kesamaan, yakni figur yang ada tampak selalu mengenakan topi. Maka ada pendapat yang menyatakan jika hulu keris yang berbentuk figur manusia bertopi (sejenis tekes) itu sejatinya adalah panji. Terlebih jika dikaitkan bukti arkeologis, figur bertopi menjadi sangat menarik karena ditemukan dalam sejumlah besar relief pada candi periode Majapahit (misal candi Panataran, Kendalisodo. Selokelir), bukan periode sebelumnya. Topi, yang awalnya merupakan mode tutup kepala setempat, digunakan untuk penggambaran rakyat jelata, abdi, pemusik dan pelayan raja atau pelayan dewa. Namun topi juga semakin banyak digunakan sebagai tutup kepala dalam penggambaran kaum mulia, baik prajurit, pemuda bangsawan dan pangeran.

Munculnya Panji dalam figur bertopi menjadi semacam ikon zaman Majapahit awal dalam memandang konsep baru terhadap seni, sastra dan agama, yang lepas dari pengaruh India. Karenanya keris-keris dengan hulu relief manusia dipercaya bukan sekedar hiasan tanpa arti, tetapi punya makna dan simbolisme religius yang tinggi. Menjadi perantara antara dunia manusiawi dan dunia suci.

PAMOR MRAMBUT, merupakan salah satu motif atau pola gambaran pamor yang bentuknya menyerupai deretan garis yang membujur dari pangkal hingga ujung keris, seperti rambut lurus yang terurai. Seringkali memang garis-garis itu bukan garis yang utuh, melainkan terputus-putus. Tuah pamor ini oleh para pecinta keris adalah untuk menangkal atau menolak bala (halangan), atau sesuatu yang tidak diinginkan. Selain itu istilah mrambut juga digunakan untuk menilai besi wasuhan keris. Besi yang mrambut artinya besi itu tampak berserat halus bagaikan rambut. Kesan tersebut bisa dirasakan melalui perabaan maupun melalui penglihatan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *