Carubuk Panji Pilis

Mahar : 2.950,000,-


1. Kode : GKO-376
2. Dhapur : Carubuk Panji Pilis
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Madura Sepuh (Abad XIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 905/MP.TMII/VIII/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 31,5 cm, panjang pesi 6,8 cm, panjang total 38,3 cm
8. Keterangan Lain : kinatah panji pilis, warangka dusun


ULASAN :

CARUBUK, adalah satu dhapur keris luk tujuh. Ukuran panjang bilahnya sedang, tanpa ada-ada. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah satu, selain itu memakai sraweyan dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Dhapur Carubuk biasanya dimiliki oleh mereka yang mendalami dunia spiritual.

Berdasarkan manuskrip Sejarah Mpu ing Tanah Jawi, dijelaskan bahwa kersi dhapur Carubuk pertama kali dibuat oleh Mpu Dewayasa II merupakan cucu dari Mpu Dewayasa I yang mengabdi pada Raja Negeri Wiratha. Mpu Dewayasa II membabar tiga dhapur keris, yaitu Sang Carubuk, Sang Kebo Lajer dan Sang Kabor. Dalam versi lain, keris Carubuk yang khusus untuk dikenakan wanita pertama kali dibuat oleh Mpu Gandawijaya tahun 1125 Saka, pada era Pengging Wiratadya.

Dalam Babad Tanah Jawa selanjutnya, keris dhapur Carubuk yang pertama kali dimiliki oleh Sunan Kalijaga ini semakin tersohor ketika menjadi piyandel Panembahan Hadiwijaya atau yang lebih familiar disebut Joko Tingkir, yaitu Raja Kasultanan Pajang di Jawa Tengah. Dengan keris Carubuk yang dimilikinya, Jaka Tingkir dikenal menjadi sosok yang sangat pandai, cerdik, pemberani, berwibawa dan sangat sakti, sehingga terangkat derajad kemuliannya menjadi menantu Sultan Demak (Trenggono) kala itu. Seiring runtuhnya Kasultanan Demak, Jaka Tingkir kemudian mendirikan dinasti Kasultanan Pajang di Pedalaman Jawa Tengah, dan bergelar Panembahan Hadiwijaya.

KINATAH PANJI PILIS, Kinatah ingkang namung ing gandhik tuwin lambe gajah, nami panji pilis, punika tur kadhang botên namung rêrênggan, ananging kangge sarana ngêndhokakên dhuwung ingkang watakipun brangasan, kêras Dhuwung = Wesi Aji, Nayawirongka, 1936.

Menurut Serat Dhuwung = Wesi Aji yang ditulis Mas Ngabei Nayawirongka tahun 1936, kinatah panji pilis merupakan sejenis hiasan emas yang ditempelkan pada bagian gandik serta lambe gajah-nya. Dijelaskan pula pemberian kinatah tersebut bukan hanya dimaksudkan sebagai hiasan untuk menambah keindahan pada bilah semata, namun lebih difungsikan untuk suatu maksud tertentu (esoteri), yakni sebagai sarana meredam keris yang mempunyai watak brangasan atau keras (panas).

Dalam falsafah Jawa, cerita Panji menggambarkan perjalanan hidup manusia dan perjalanan spiritual manusia (mencari dan menemukan). Semua manusia akan mengalami proses perjalanan yang sama, hanya saja waktu dan jalannya bervariasi. 

Dan apabila mengacu pada Serat Duwung = Wesi Aji di atas disebut kinatah Panji “Pilis”, bukan Wilis. Pilis dapat berarti obat tradisional (berwarna agak hitam) yang dipaliskan atau dilekatkan di dahi dan di pelipis (untuk sakit kepala, wanita yang baru melahirkan, dan sebagainya); atau garis silang di dahi untuk menangkal penyakit (berdasarkan kepercayaan).

UNYENG GEMBOL, Bagi masyarakat jawa, unyeng-unyeng sering dianggap sebagai suatu tanda lahiriah yang mempunyai maksud dan kegunaan tertentu. Demikian pula dalam dunia perkerisan, unyeng-unyeng yang muncul dalam hulu keris dipercaya memiliki tuah tertentu. Unyeng-unyeng sendiri sebenarnya adalah cabang atau ranting dari dahan pohon (mata kayu) yang membentuk lingkaran kecil berlapis-lapis.

Unyeng Gembol adalah unyeng-unyeng yang terletak pada bagian samping bungkul kiri, kanan, atau kedua-duanya. Unyeng-unyeng seperti ini dipercaya akan menjadikan pemegangnya pandai dalam menyimpan rahasia dan berhemat.

PAMOR SANAK, adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaannya. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pamor sanak. Pemahaman lainnya pamor sanak berasal bahan pamor yang tertua dimana terdiri dari dua atau beberapa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang tidak murni dan  berbeda komposisi unsur-unsurnya itu yang biasanya didapatkan dari daerah yang berbeda pula. Karena proses ‘reaktif’ dari tempa dan pemanasan menghasilkan alur-alur samar.

CATATAN GRIYOKULO, Meski sudah tidak dalam kondisi terbaiknya, keris ini masih mampu memancarkan aura kewingitannya melalui besinya yang mrambut hitam meles. Dari tampilan luk bilahnya mirip dengan karakter keris-keris se-zaman Majapahit. Dengan pemberian kinatah emas panji pilis pada gandhik-nya (masih bertahan dengan cukup baik) bisa diasumsikan bahwa keris ini pernah dipusakakan.

Untuk warangka yang ada terbuat dari kayu trembalo, sebetulnya jika di-gebeg ulang akan mampu menampilan serat-serat nginden. Hanya saja bagian pendoknya sudah tampak memprihatinkan. Dengan “bonus” unyeng gembol yang ada pada hulu keris tentu saja menjadi keberuntungan tersendiri.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *