Mahar : 7.500,000,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan
1. Kode : GKO-369
2. Dhapur : Panji Penganten (Kiai Mimi Mintuno)
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Mataram Madiun (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 755/MP.TMII/VI/2019
6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 34 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 41 cm
8. Keterangan Lain : dhapur sangat langka
ULASAN :
PANJI PENGANTEN, biasanya berbentuk lurus atau luk lima. Keris ini mudah dikenali karena memiliki sekar kacang kembar. Jika pada dhapur Karna Tinandhing sekar kacang berada pada bagian depan dan belakang atau kanan kiri, maka pada dhapur Panji Penganten sekar kacang-nya menempel pada gandik yang sama – atas dan bawah saling berhadapan atau saling membelakangi. Selain itu dhapur Panji Penganten memiliki kelengkapan ricikan lain, yakni lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng sungsun. Bilahnya juga memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi.
Pada zaman dahulu, dhapur Panji Penganten biasanya diberikan sebagai kancing gelung dari orang tua kepada mempelai laki-laki pada saat prosesi perkawinan. Hal ini sebagai simbol pemberian restu sekaligus amanat kepada calon mempelai pria untuk selalu menjaga dan melindungi sang gadis yang telah dipersunting.
Selain itu menurut adat Jawa di masa lalu, dhapur Panji Penganten dapat berlaku sebagai duta atau utusan pribadi yang mewakili seorang pria pada waktu meminang seorang gadis, dan secara “sah” dapat mewakili pengantin pria, dipersandingkan dengan mempelai wanita di pelaminan tanpa menyinggung kehormatan pihak keluarga atau mempelai wanita.
keris sebagai duta pribadi di masa lalu
Dalam Buku Ensiklopedi Keris (2004) karangan Bambang Harsrinuksmo disebutkan jika dhapur keris ini termasuk rekaan baru, yakni diciptakan pada masa pemerintahan Sri Paku Buwono IX, kira-kira awal abad ke-20. Namun tidak semua sesepuh/ahli dan masyarakat perkerisan sependapat, mengingat banyak juga dhapur Panji Penganten yang disinyalir berasal dari berbagai variasi tangguh, mulai nom-noman, madya hingga sepuh seperti era Kartasura hingga Majapahit. Saat ini keberadaan dhapur Panji Penganten bisa dikatakan cukup langka, salah satunya kemungkinannya adalah lebih banyak disimpan sebagai pusaka keluarga.
KANCING GELUNG, Untuk peristiwa penting seperti perkawinan, dikenal dengan adanya keris kancing gelung, dimana pada jaman dahulu orang tua dari pihak mempelai perempuan mempunyai kewajiban yang paling utama untuk memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Seandainya pihak mempelai wanita tidak mempunyai, maka keluarga dari mempelai pria yang dianggap punya kewajiban untuk memberikan pusaka sebagai Cundhuk Ukel. Bahkan menurut catatan sejarah Sunan PB X gemar memberikan Kancing Gelung kepada Putra Mantu. Budaya Kancing Gelung ini tidak hanya menjadi milik keluarga kraton tapi juga masyarakat luar kraton.
Tujuan pemberian keris Kancing Gelung atau Cundhuk Ukel, adalah :
- Keris sebagai simbol kongkret, bahwa anak yang menerima keris pusaka tersebut sudah dilepas dari masa lajang dan dipersilahkan memasuki masa kedewasaaan dan kemandirian, melalui pintu gerbang pernikahan. Dan Keris adalah kancing atau pengunci yang merupakan pernyataan kepastian akan perjodohan.
- Keris sebagai pasren atau pemersatu yang menumbuhkan keserasian dan kebersamaan dalam menjalani hidup berumah tangga.
- Keris sebagai Pusaka yang secara simbolik merupakan pernyatan harapan, petuah, restu dan sipat kandel (penguat batin) dalam mengarungi mahligai rumah tangga.
- Keris sebagai senjata yang dapat untuk menjaga keselamatan calon pengantin pria. Bahkan keris kancing gelung ini akan dibawa ke medan peperangan, sebagai senjata maupun piyandel. Dahulu, prajurit Jawa biasanya menyandang 3 buah keris sekaligus. Yang dikenakan di pinggang sebelah kiri umumnya adalah Kancing Gelung, keris pemberian mertuanya sewaktu menikah.
FILOSOFI, Panji Penganten secara harfiah berarti Panji (sang) Pengantin. Sebutan “Panji“ lebih tepat jika dipahami sebagai representasi ikon. Dipahami demikian karena sebutan tersebut dipilih untuk menandai kebangsawanan dari trah keturunan Raja Jenggala, terutama dari jalur permaisuri. Keturunan Raja Jenggala dari jalur selir tidak dilekatkan gelar panji, melainkan gelar raden saja. Panji menggambarkan sosok laki-laki yang dapat diandalkan dan ideal pada masanya.
Sebagai seorang ksatria Jawa, belumlah “jangkep” (lengkap) jikalau belum memiliki lima hal, yaitu “Wisma (rumah), Wanodya (wanita), Turangga (Kuda), Kukila (burung) dan Curiga (keris). Memiliki rumah dengan pendapa joglo, di dalam rumah itu ditemani istri cantik jelita, di teras bergantungan sangkar burung perkutut dan ia akan mengembara menjalani dharmanya untuk berbuat kebajikan dengan mengendarai kuda hitam yang perkasa dengan sebilah keris terselip di pinggangnya. Gagah dan berwibawa. Gambaran imajiner sosok “hero” seorang Panji kira-kira memang seperti itu.
Namun jika digali lebih dalam, semuanya bisa menjadi perlambang. Wisma artinya, seorang pria wajib bersikap melindungi, mengayomi. Wanita artinya seorang pria hendaknya berlaku lemah lembut. Kuda mewakili konsepsi sosok laki-laki dengan karakteristik gagah, pemberani, kuat dan cekatan. Burung artinya seorang pria harus mampu bertingkah laku yang dapat memberikan manfaat bagi siapapun. Dan Keris artinya seorang pria wajib memiliki ketajaman berpikir.
Dalam jarwo dosok, nama Panji memiliki filosofi yang tinggi, khususnya tentang nilai Ketuhanan. Dimana Panji berasal dari dua kata, yakni Pan dan Ji, atau maPan marang kang siJi. Maknanya adalah bahwa Tuhan itu Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan sumber dan muara dari kesucian batin dan pikiran manusia. Ketika kita sudah mencapai derajad kesucian tersebut, kita layak menggapai surga-Nya.
Selain rizki dan kematian, perkawinan (jodoh) adalah misteri Tuhan. “Penganten” dalam pandangan orang Jawa merupakan ratu sedino, yang artinya penganten adalah raja sehari. Bahwa rumah tangga yang dibangun melalui sebuah ikatan suci perkawinan merupakan kerajaan bagi pasangan suami-istri dan anak-anaknya kelak. Suami sebagai kepala keluarga ibarat raja dan istri menjadi permaisurinya. Selayaknya sebuah kerajaan, rumah tangga perlu dijaga kedaulatannya dan kehormatannya.
Kepemimpinan sang raja tidaklah sendirian. Ia didukung oleh permaisuri. Untuk saling mengisi. Bukan sekedar diposisikan sebagai “kanca wingking” (bukan penentu kebijakan) atau “suwarga nunut neraka kathut” (ke surga ikut serta, ke neraka terbawa serta). Tanpa dukungan permaisuri (istri), raja (suami) tidak bisa menjalankan kepemimpinan dengan baik. Artinya, baik buruk kerajaan yang bernama rumah tangga ini akan sangat bergantung pada kepemimpinan suami dan dukungan istri.
Demikian pula dalam sebuah kerajaan rumah tangga menjadi istri berarti menjadi pendamping suami. Pendamping setia di kala senang, sedih, jaya dan papa. Kesuksesan suami dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, sangat dipengaruhi oleh istrinya. Oleh karena itu kesuksesan seorang suami, juga kesuksesan seorang istri yang merupakan manifestasi dari puncak prestasi kariernya sebagai ibu rumah tangga.
Sedangkan ciri khas utama dari dhapur Panji Penganten, yakni bentuk dualisme keberadaan sekar kacang (kembar) pada gandik yang sama, merupakan perwujudan dari penyatuan hubungan kosmis dari dua pasangan paradok (bertentangan) yaitu laki-laki dan perempuan, maksudnya adalah untuk menyatukan dunia sakala dan niskala. Maka kesempurnaan hidup, keselamatan hidup, kesejahteraan hidup akan dapat dicapai.
LUK LIMA, juga sering disebut dengan keris Pandawa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa perang Badar di zaman Rasulullah amat berat, tetapi dalam riwayat itu pula disebutkan oleh Kanjeng Nabi, bahwa masih ada peperangan yang lebih berat lagi yang akan dihadapi oleh kaum muslimin setelah perang badar, ialah perang melawan hawa nafsu. Ya, jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu, terutama yang berasal dari panca indera.
Namun, perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri ternyata tidaklah segampang itu. Jika kalah, akan mendapatkan imbalan neraka. Jika menang, akan diuji dengan godaan yang lebih berat lagi. Senantiasa akan terus seperti itu sampai akhirnya ajal menjemput.
Contoh yang sederhana seseorang yang dapat mengangkat beban yang sangat berat terkadang tidak mampu mengangkat selimutnya untuk menunaikan shalat Subuh atau shalat Tahajud. Seorang yang melakukan perjalan sangat jauh terkadang tak sempat barang sejenak mampir ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Hal ini membuktikan, melawan godaan yang datang dari diri sendiri akan lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang nyata dari luar.
Maka keris luk lima Pandawa adalah sebuah tuntunan hidup agar pemiliknya mampu berjihad melawan dirinya sendiri dan selalu berusaha mengalahkan hawa nafsunya serta selalu ingat dan melaksanakan kewajiban lima rukun Islam. Itulah makna sebenarnya yang bisa dikupas hingga kenapa para Orang Tua zaman dahulu sering mengatakan tidak semua orang ‘kuat menyandang’ keris keningratan luk lima ini.
KIAI MIMI MINTUNO, tidak nyuwun (meminta) terlalu banyak, doa yang dipanjatkan agar selalu dapat berjalan bersama-sama, tak terpisahkan. Saling menjaga setia sampai mati. “Runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna”
PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka. Membawa jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti usaha memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, hingga merajut pertalian keluarga.
bentuk sekar kacang (kembar) yang unik, berhadapan-hadapan, seolah membentuk tautan hati (love). Ditakdirkan saling ada…
CATATAN GRIYOKULO, Karakter Madiun sangat kental pada pusaka Pandawa Panji Penganten ini. Lugu dan sederhana namun mempunyai perbawanya sendiri dan terasa ‘kuat’ di sisi esoteri. Bentuk sogokan yang tampak lurus meskipun keris ini berluk lima (biasanya keris yang mempunyai luk pada bagian sogokan belakang akan ikut menekuk sesuai luk pertamanya). Dalam hal blumbangan-nya pun seolah tak imbang sisi depan dan belakangnya. Namun tetaplah enak dipandang. Terlebih bentuk sekar kacang kembarnya yang saling berhadap-hadapan seolah membentuk tautan berbentuk jantung hati, original bukan susulan/owah-owahan. Seolah menjadi perlambang mengenai ikatan cinta abadi antara Adam dan Hawa atau Dewa Asmara (Kamajaya) dengan Dewi Cinta (Kamaratih). Terasa nyess… di hati. Adalah sebuah keberuntungan kita masih bisa menikmati warisan adi luhung dari masa lalu. Sangat pantas untuk disimpan sebagai pusaka keluarga dan diturunkan kepada lintas generasi selanjutnya.
– lambang cinta sejati
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————










Banyak juga koleksinya Tn D