Mahar : 15.000,000,- (TERMAHAR) Tn R, Bogor
1. Kode : GKO-367
2. Dhapur : Naga Liman
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 725/MP.TMII/VI/2019
6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 39 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total 46,5 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka
ULASAN :
NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari sosok ular (biasanya dibuat tersamar mirip naga siluman). Ricikan lainnya adalah sraweyan, ri pandan atau greneng. Keris ini biasanya dijumpai dalam bentuk lurus maupun keluk. Dhapur Naga Liman tergolong langka seperti halnya dhapur ganan lain seperti nagasasra dan singo barong.
FILOSOFI, Manusia sejak dahulu selalu mencari suatu kekuatan yang ada di atasnya, dan percaya bahwa kekuatan itu dapat memberikan kebaikan dan keberuntungan bagi diri mereka. Ketika kekuatan itu tidak dapat memberikan mereka kebaikan dan keberuntungan, maka manusia akan meninggalkan kekuatan itu. Namun jika dirasa kekuatan tersebut membawa manfaat dalam kehidupan maka akan dijadikan sebagai salah satu panutan hidup. Antropomorfik (pemanusiaan atau atribusi pada bentuk/karakter manusia) merupakan suatu simbol dari kekuatan yang dipercaya dapat memberikan kebaikan dan keberuntungan bagi umat manusia dilekatkan. Salah satunya ada pada Naga Liman.
NAGA = dalam bahasa Sansekerta berarti ular (jantan). Namun begitu naga seringkali dibedakan secara fisik dari ular biasa. Naga digambarkan bertubuh lebih besar dari ular biasa, memakai mahkota dan perhiasan lainnya (kalung, sumping). Karena seekor ular dengan ukuran sebesar apapun tapi jika tidak memiliki mahkota di kepalanya, maka ia tetaplah hanya sebatas ular biasa. Sedangkan, ular yang bermahkota di kepalanya adalah sang naga. Naga adalah simbol penjaga keseimbangan bumi. Motif naga dalam tradisi seni hias Jawa sendiri masih banyak yang menggunakan ‘figur’ naga yang dipengaruhi Hindu-Budha daripada naga yang berasal dari Tiongkok.
Dalam dunia tosan aji sendiri, khususnya keris, naga seringkali dihadirkan sebagai bagian ornamentik yang cukup sakral. Tosan aji yang memakai hiasan “naga” pada bilahnya dapat dipastikan bahwa tosan aji tersebut sengaja dibabar sebagai benda pusaka, bukan hanya semata- mata sebagai senjata.
Dalam perwujudannya pada pusaka, badan naga yang tersamar hanya sampai bagian leher dan selanjutnya menyembunyikan perut/badannya mengikuti lekukan bilah sampai ke atas dapat diinterpretasikan sebagai himbauan kepada manusia untuk menjalani hidup dengan mengendalikan hawa nafsunya. Pengendalian diri ini dimaksudkan sebagai suatu proses menuju pemahaman spiritual kasampurnaning urip supaya mampu menangkap bisikan-bisikan maupun tanda-tanda alam, seperti wahyu, ilham atau wisik.
Bentuk yang demikian juga memiliki makna bahwa seorang Raja/Pemimpin tidak boleh memuja pribadinya dengan mengutamakan nafsu dunia. Terdapat sebuah ungakapan bondo anamung titipan, raga anamung silihaning Gusti kang akarya jagad, yang artinya ” harta hanyalah titipan dan raga atau badan hanya pinjaman dari Tuhan yang menciptakan Alam”. Maka ketika menjadi pemimpin akan senantiasa menyadari bahwa derajad dan pangkat merupakan sebuah amanah dari Tuhan yang musti dijalankan dengan benar. Semakin tinggi derajad dan pangkat maka kewajibannya akan semakin berat pula.
LIMAN = Gajah, Ganesha, dan Ghana adalah hal yang merujuk pada bentuk yang hampir sama, yaitu sama-sama memiliki belalai. Liman adalah nama lain dari gajah, hewan berbelalai. Ghana dan Ganesha adalah nama dewa berkepala gajah, wajahnya berbelalai.
Dalam perwujudannya liman memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah, atau simbol dari manusia yang seharusnya mempunyai volume otak yang besar dalam artian mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Akal yang cerdas juga dapat membantu seorang pemimpin dalam membuat inovasi dan ide-ide baru yang kreatif. Sedangkan mata yang sipit berarti berkonsentrasi penuh. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Liman juga memiliki dua telinga yang lebar laksana simbol kebijaksanaan untuk lebih banyak mendengarkan. Kita memang selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita “betul-betul mendengarkan” orang lain dengan baik. Bagi para pelajar mendengarkan ucapan sang guru, bagi pemimpin mau mendengar kritik atau pendapat orang-orang yang dipimpinnya. Semuanya untuk didengar, dipikirkan, dan dipertimbangkan untuk mengambil langkah selanjutnya.
Lantas, liman juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mampu mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi lisan yang tidak-tidak. Pada sosok pemimpin, sikap yang harus dimiliki adalah hati-hati dalam berucap. Konsep keutamaan hidup masyarakat Jawa ada dalam ungkapan ajining diri soko kedaling lati, yang artinya kehormatan dan harga diri seseorang tergantung dari ucapan atau kata-katanya. Ajaran ini merupakan refleksi dari tuntunan Hadits Rasulullah S.A.W: ‘falyaqul khoiron au liyasmut’ ‘berkatalah yang baik atau diam’. Sementara belalai panjang yang menjulur melambangkan perubahan. Artinya, belalai tersebut menandakan fleksibilitas, efisiensi, dan kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan dengan waktu. Selain itu maknanya agar dapat memanfaatkan kemampuan yang ada untuk segala keperluan serta kemampuan memprediksi jauh ke depan.
Di daerah Jawa Bagian Barat, Naga Liman memiliki popularitas dan kharismanya tersendiri. Dipercaya sebagai dhapur penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Seperti yang diharapkan dari sosok gajah dalam sebuah hutan yang mampu membuka jalan, bergerak di antara semak-semak, mendobrak segala pepohonan di hutan dengan tubuhnya yang gagah dan kuat. Semak-semak ibarat masalah kecil dan pepohonan diibaratkan berbagai masalah besar. Ia membersihkan jalan bagi makhluk lain untuk mengikuti (Vinayaka).
GAJAH NGULING, Dalam mitologi Hindu, arah lengkung belalai Ganesha memiliki makna yang penting. Arah lengkungan belalai ini bisa mengarah ke kiri (idamburi), ke arah kanan (walamburi), menjulur ke arah tengah (tidak diberi nama karena normal), dan lurus menghadap ke arah depan.
Di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah temuan-temuan lepas yang berupa arca Ganesha memiliki belalai yang selalu melengkung ke arah kiri. Belalai yang melengkung ke arah kiri memiliki makna yang berkaitan dengan bulan yang memiliki sifat lebih feminine, menenangkan dan memelihara. Di India, arca Ganesha dengan posisi belalai melengkung ke kiri biasanya di tempatkan di dalam rumah. Belalai yang melengkung ke arah kanan memiliki makna yang berkaitan dengan matahari. Matahari memiliki sifat maskulin dan berapi-api. Biasanya arca ini ditempatkan di dalam tempat-tempat ibadah (pemujaan).
Sedangkan yang khas kulonan, berupa gajah yang sedang nguling (menguak), dengan belalainya mencuat bengkok ke atas. Belalai yang mencuat ke atas sangat jarang ditemukan, namun memiliki makna yag sangat dalam, melambangkan bersatunya seluruh indera di dalam tubuh dengan segala sifat kebaikan telah lengkap dan sempurna. Dalam tahap ini, seseorang dianggap sudah tidak terbebani dan bersih.
Dalam simbol kearifan lokal lain, ‘gajah’ dimaksudkan untuk melambangkan sesuatu yang lebih besar dan kuat dari manusia dan ‘uling‘ adalah kata plesetan dari eling. Jadi gajah uling adalah supaya manusia senantiasa eling atau ingat (taqwa) kepada Yang Maha Besar.
TANGGUH CIREBON, Cirebon memiliki banyak sekali keanekaragaman budaya serta sejarah, dan di Keraton Cirebon sebagai pusat budaya ternyata liman atau gajah memiliki kedudukan khusus. Liman ada dalam bentuk kereta, lukisan, gambar dan ukiran dapat ditemukan dengan mudah di Keraton Kanoman maupun Keraton Kasepuhan Cirebon. Beberapa orang berpendapat hal ini ada hubungannya dengan Cirebon sebagai penerus Pajajaran? Patung gajah duduk dan lukisan burung yang terdapat di Taman Sari Gua Sunyaragi lah penunjuk benang merahnya. Yang dalam bahasa Cirebon memiliki peribahasa ‘kuntul umalayang anedaksi, gajah depa tanedaksi’, yang berarti, ‘burung kuntul pergi meninggalkan bekas, gajah tidur tidak meninggalkan bekas’. Yang merujuk simbol putra-putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Pangeran Walang Sungsang serta Nyi Mas Rara Santang, yang memilih pergi dari Pajajaran, dan meninggalkan bekas berupa keturunan serta keraton-keraton Islam. Sedangkan patung gajah duduk, menandakan, jika bekas Kerajaan Pajajaran hingga saat ini tidak diketahui.
Namun ada pula pendapat lain yang menyatakan hibriditas yang ada di Cirebon khususnya yang disimbolkan dalam bentuk visualisasi makhluk seperti singabarong dan paksi naga liman ini tak lepas dari ajaran Islam Tarzekat Syattariyah yang berkembang dan menjadi acuan masyarakat Keraton Cirebon dan umum pada saat itu. Pangeran Cakrabuana mempelajari agama Islam. Beliau berguru dan kemudian mengamalkan ajaran tersebut kepada masyarakat akar rumputnya. Sepeninggalnya pun, ketika tahta berikutnya berlanjut ke Sunan Gunung Jati, ajaran ini tetap menjadi pilihan utama untuk dikembangkan di wilayah Cirebon. Mengingat ajaran ini merupakan ajaran yang dirasa tepat untuk menghadapi situasi penduduk yang masih beragam. Berbeda dengan ajaran Islam ‘garis lurus’ yang banyak menghindari perupaan makhluk-makhluk bernyawa, ajaran tarekat ini lebih mementingkan keluwesannya terhadap nilai kepercayaan yang sudah ada jauh sebelum Islam diperkenalkan, sehingga terkadang ditemukan nilai-nilai yang sifatnya sinkretis.
Anggun sekaligus wingit, dua karakter yang jarang bisa berpadu-padan. Penggabungan antara sosok Naga dan Liman hadir dalam bentuk Naga dengan wajah berbelalai khas Kulonan (Cirebonan) terasa hidup. Bentuk yang sama apabila kita melihat kereta-kereta kebesaran seperti Singo Barong, Paksi Naga Liman, situs batu naga Jabranti-Kuningan dan artefak kepala naga temuan gunung Lalakon-Bandung.
Secara khusus perwujudan naga liman ini menggunakan gelung supit urang polos atau gelung minangkara yang dihias dengan kinatah jeningan (kuning sari/emas muda), dimana bentuk gelungnya melingkar dan melengkung ke atas seperti bentuk capit udang. Model gelung seperti yang dikenakan oleh tokoh wayang Bima dan Arjuna. Luk-nya pun berani tampil berbeda dari pakem Cirebon, tampak rengkol seperti sarpa nyander atau sarpa ngrangsang mengisyaratkan kewaspadaan.
Dalam ukuran panjang bilah 39 cm, namun tantingan keris ini terasa sangat enteng adalah sebuah kelebihan tersendiri dalam penempaannya. Sedangkan pamor yang menghiasi bilah ini oleh sang Empu dibuat tiban dengan karakter pamor tidak terlalu mencolok, kemungkinan agar keindahan bisa berfokus pada bagian gandik naga liman. Jika sarangka dan garan diganti model Cirebonan tentu akan lebih senafas dengan bilahnya. Sudah dijamas dan diwarangi, panjenengan hanya tinggal menyimpan dan merawatnya.
PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Dapat dikatakan bahwa garis-garis lengkung yang berirama pada pamor ngulit semangka ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible). Fase kehidupan yang kemudian berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Yang nantinya akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut keadaan, dan pada akhirnya harus kembali ke asalnya.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————













