Pasopati Singosari

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,-(TERMAHAR) Tn. AP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-359
2. Dhapur : Pasopati
3. Pamor : Sanak
4. Tangguh : Singosari (Abad XI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 567/MP.TMII/V/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Sungai Musi, Palembang
7. Dimensi : panjang bilah 34 cm, panjang pesi ? cm, panjang total 41,4 cm
8. Keterangan Lain : dhapur dan tangguh langka


ULASAN :

Hulun tan mande suko lintang taranggono, tarlen muhung brastho watak angkoro, budi candholo, hambeg siyo, leletheking jagad gelah gelahing bumi

PASOPATI, ada yang menyebut dengan nama Pasupati. Adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang sangat populer karena banyak dicari oleh para pecinta tosan aji, kolektor hingga para pejabat di negeri ini. Keris Pasopati memakai ricikan yang khas, yakni kembang kacang pogog dimana ‘belalai’-nya seolah terpotong di bagian pangkalnya. Namun kembang kacang yang pendek itu bukan disebabkan patah, melainkan dari awal pembuatan sengaja direkayasa sang Empu untuk memenuhi kelengkapan ricikan suatu (pakem) suatu dhapur keris tertentu. Selain itu keris Pasupati memakai jalen, lambe gajah, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, dan greneng. Keris Pasopati biasanya juga memakai ada-ada sehingga permukannya tampak seperti nggigir sapi dan kontur bilahnya menampilkan kesan ramping.

Apabila kita membaca Serat Pustakaraja Purwa, dhapur Pasopati bersama dengan patrem, cundrik, lar ngatap serta senjata lain seperti cakra, kunta, katana, cundha, sarata, kalaka, sakri, nagapasa, sanggali, dibabar pertama kali oleh Empu Ramadi yang merupakan Bapak Empu di Tanah Jawa pada masa pemerintahan Sri Paduka Maharaja Budda tahun Jawa 152 di Medhangkamulan, ibukota kerajaan Mataram Kuno (diperkirakan berada di Gunung Lawu), yang pada waktu itu pulau Jawa masih menyatu dengan Sumatra sebelum letusan Gunung Krakatau.

Agak berbeda memang dengan pemahaman masyarakat perkerisan sekarang yang menganggap dhapur tertua adalah Jalak atau Bethok (budha), padahal jika kita membuka referensi serat kuno justru dhapur seperti Pasopati, Lar Ngatap dan Cundrik yang lebih dulu lahir.

Seperti halnya dhapur Naga Sasra. Megantara dan Singa Barong, konon dhapur Pasopati-pun pada zaman dahulu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja (Senapati).

Pasopati dan Pemimpin negeri ini, Keris Pasupati yang sejak dulu hingga sekarang banyak dicari untuk dijadikan piyandel (sipat kandel) tampaknya saat ini pamornya mulai bersinar kembali. Apalagi dengan adanya pemilu 2019 yang dilaksanakan secara serentak. Kabarnya dua pasangan calon Presiden RI sama-sama mempunyai piyandel dengan dhapur Pasupati.

Jokowi memiliki KK Cahyo Buwono yang didapatkan dari paguyuban Tosan aji Bowo Roso Surakarta saat dirinya berulang tahun ke 52 dan masih menjabat Gubernur DKI (2013). Keris ini ditempa oleh Empu KRAT Fauzan Puposukadgo yang sebenarnya usai tahun 1997 sudah menutup besalennya sejak wafatnya Panembahan Go Tik Swan. Nama KK Cahyo Buwono didapatkan melalui berbagai keanehan terjadi saat rombongan pelaku ritual menempuh perjalanan dari desa Blumbang ke Pringgondani. Ketika para pelaku ritual tiba di pos satu Pringgondani, empat ekor lutung (kera jawa) entah darimana datangnya tiba tiba berada di dalam barisan pembawa sesaji, turut serta mengikuti prosesi kirab sesaji di Pertapaan Pringgondani. Keanehan itu tak hanya berhenti sampai disitu, saat seluruh rombongan tiba di monumen garuda yaksa, sebuah sinar terang menyala berwarna biru memancar dari monument garuda yaksa hingga ke atas langit. Keanehan ini seakan menjadi sebuah pertanda, bahwa kelak salah satu putra terbaiknya dari Solo yang akan menjadi ‘satriya pinilih’ untuk memimpin bangsa ini ke depan. Sinar tersebut adalah sebuah pertanda ghaib, bahwa kelak dari kepemimpinanya akan menjadi terang bagi dunia (Cahya Buwana) dan negara yang dipimpinya.

Keris Pasupati KK Cahyo Buwono memiliki pamor gabah sinawur yang sengaja dibuat sebagai harapan agar pemilik keris mampu melebur dengan rakyatnya, mengayomi rakyatnya, sekaligus menjadi suri tauladan bagi rakyatnya.

Serupa dengan Jokowi, Prabowo juga baru saja mendapatkan keris Pasupati saat kampanye akbar terakhirnya tanggal 10 April 2019 di Surakarta, bernama KK Garudha Yaksa. Keris KK Garudha Yaksa dibuat oleh Empu Totok Brojodiningrat selama sekitar empat bulan dengan bahan-bahan (pasir besi) dari beberapa daerah di Indonesia, demikian pula air yang digunakan untuk menyepuhnya. Tidak main-main  setelah proses pembabaran berakhir digenapi dengan ritual di Khayangan Dlepih, yang dalam tradisi spiritual Jawa, Khayangan Dlepih merupakan petilasan raja-raja tanah Jawa yang sakral.

Garudha ialah lambang pembebasan dari penindasan. Sebagai konsep ruwatan Sukerta, Garuda ada pada relief Candi Sukuh lereng Lawu. Sedangkan Yaksa berarti besar, perkasa, dan kuat. Yaksa juga punya arti pandawa atau lima. Pesan yang tersirat didalamnya adalah, hendaknya pemegang keris tersebut mampu Meper Ubal Kanepsoning Ponco Hindriyo, yaitu mampu mengendalikan nafsu dari panca indra. Yaksa juga berarti Tata Gati Wisaya, menggenggam erat Pancasila, sebagai darma dalam hidupnya. Karena dengan menggenggam lima darma itulah seorang pemimpin akan bermahkotakan Hasta Brata.  Sebagai pusaka asma Garudha Yaksa dibabar sebagai simbol pembebasan NKRI dari perbudakan, eksploitasi, kemiskinan, ketidakadilan, serta dengan harapan sang pemiliknya bisa memimpin Indonesia lebih baik.

FILOSOFI, Dalam dunia pewayangan siapa yang tidak mengenal Arjuna sang pemilik Pasopati? Lelananging Jagad, Jagoning Dewa  dan dipuji Dewi-Dewi. Dalam lakon Arjuna Wiwaha, Arjuna mendapatkan Pasopati dari Batara Guru dengan tidak mudah, setelah menyempurnakan tapa bratanya di Gunung Indrakila. Pasopati yang jika digunakan seolah segera menyihir semesta dan tidak akan mindhon gaweni, tepat sasaran dan pasti akan mati.

Pasopati adalah cerminan bahwa hidup adalah suatu proses. Tujuan hidup kita di dunia ini bukanlah untuk memburu keindahan dunia? Atau hanya sekedar untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan keluarga, tetapi lebih dari itu untuk mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran agar hidup bermakna bagi sesama dan bagi alam semesta. Dhapur Pasopati dibuat tanpa luk agar sebagai seorang pemimpin tidak goyah pendiriannya, lurus dalam perjalanan hidupnya, serta menjadi seorang pemimpin yang teguh memegang sumpahnya. Karena jihad terbesar justru melawan hawa nafsu diri sendiri. Orang yang berhasil melawan dirinya sendiri tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, juga tidak bisa dirayu. Dan saat pengendalian diri telah melekat sebagai tujuan hidup maka kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup akan dapat diraih pula.

TANGGUH SINGOSARI, Bagaimana sebuah keris yang diperkirakan berasal dari Singosari bisa terbenam di dasar sungai Musi yang notabene berada di pulau Sumatera? Jika membuka buku-buku sejarah mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara  kita tentu pernah mendengar mengenai ekspedisi Pamalayu di era Singosari sebagai embrio nusantara (yang nantinya dilanjutkan oleh imperium Majapahit). Ekspedisi ini tentu saja berdampak besar terhadap persebaran budaya keris ke wilayah Sumatera. Kitab Negarakertagama pada wirama 41 bait 157 menceritakan Prabu Kertanegara dari Singasari mengadakan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun Saka Nagasyabhawa atau 1197 Saka (1275 M). Keris-keris tangguh singosari yang diketemukan di sungai Musi, Palembang kemungkinan besar dibawa ke Sumatera pada saat ekspedisi Pamalayu oleh Kertanegara. Tidak mengherankan apabila kemudian keris-keris yang diduga tangguh Singasari seringkali dijumpai atau diketemukan di jalur perjalanan dan pertempuran pasukan tersebut di tanah Sumatera, khususnya di Jambi, Palembang, Minangkabau, dan sekitarnya. Selain itu ekspedisi Pamalayu juga berdampak pada hijrahnya para empu dari tanah Sunda ke Jawa Timur.

Ditemukan dalam dasar sungai Musi, tampak besi keris ini telah membatu, kembali kepada unsur oksida besi magnetite-hematite. Bentuk pamornya pun seolah ikut terkubur dalam misteri. Demikian pula dengan kondisi hulunya terlihat sisa-sisanya yang sudah memfosil. Sehingga dapat dipastikan keris ini adalah benar-benar tertimbun selama ratusan tahun, bukan hasil rekayasa atau prosesan demi menangguk rupiah (bukan keris baru yang sengaja ditanam kemudian selang beberapa waktu dipanen). Namun ricikan-ricikan yang menghiasi bilah ini seolah tidak ingin pudar untuk dapat dibaca lintas generasi. Bentuk kembang kacang pogog sebagai salah satu penanda ‘dhapur berkelas’ Pasupati ini dapat digunakan sebagai referensi bagaimana bentuk kembang kacang yang asli ‘pogog’, bukan jadi-jadian.

Dalam wujud tampilan fisiknya keris Pasupati ini dapat dianggap sebagai sebuah artefak, yang seolah “membela” cerita-cerita mengenai penciptaan dhapur keris yang sering dianggap sebagai sebuah dongeng, bisa jadi benar adanya. Keris-keris temuan dalam ketidaksempurnaan bentuknya justru sering tampak sangat wingit, karenanya keris-keris temuan ini biasanya juga dipercaya sebagai ‘keris tindih’ (berasal dari kata ‘tetindhih’ yang menurut kitab Bausastra Jawa versi Poerwadarminta Tahun 1939 berarti lelurah atau pangarêp  atau penuntun). Selain tuah pokoknya sendiri, keris tindih juga mempunyai kekuatan bawaan yang dapat “menindih” (meredam) segala pengaruh kurang baik dari benda gaib lain.

Bukanlah hiperbola jika kita sejenak terhenyak, pikiran-pikiran mulai menerawang dan berimajinasi membayangkan zaman dimana lelaki sejati berusaha menemukan takdirnya dan mengukuhkan dharma-nya sebagai seorang kesatriya. Segalanya tentu tidaklah semudah sekarang, karena harus diperjuangkan dengan tetesan darah dan keringat hingga air mata. Pasopati adalah sebuah way of life. Sungguhlah beruntung kita sebagai anak cucu dapat merawat pusaka lintas  generasi dengan kisah heroiknya tersendiri.

PAMOR NYANAK, adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaannya. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pamor sanak. Pemahaman lainnya pamor sanak berasal bahan pamor yang tertua dimana terdiri dari dua atau beberapa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang tidak murni dan  berbeda komposisi unsur-unsurnya itu yang biasanya didapatkan dari daerah yang berbeda pula. Karena proses ‘reaktif’ dari tempa dan pemanasan menghasilkan alur-alur samar.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

One thought on “Pasopati Singosari

Tinggalkan Balasan ke Wahyu Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *