Putut Sombro Pamengkang Jagad

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.950,000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-357
2. Dhapur : Puthut
3. Pamor : Nggajih
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 453/MP.TMII/IV/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon
7. Dimensi : panjang bilah 17,5 cm, panjang hulu iras 6,3  cm, panjang total 23,8 cm
8. Keterangan Lain : pamengkang jagad


ULASAN :

KERIS SAJEN, adalah penyebutan untuk kelompok keris dengan bentuk sederhana terkesan primitif, panjangnya sekitar sejengkal, dan kebanyakan hulunya berupa gambaran manusia, distiler menyatu dengan bilahnya serta terbuat dari bahan logam yang sama seperti bilahnya, begitu pula bagian ganjanya iras atau menyatu dengan bilahnya. Bentuk hulu kerisnya ada yang berdiri membungkuk serta menempatkan kedua belah tangan saling bersilang di dada. Ada juga yang duduk sambil meletakkan kedua tangannya di atas lutut, atau yang polos tanpa tangan dengan bentuk leher panjang (mirip nisan kayu orang Islam) dan lain sebagainya. Karena bentuk hulu kerisnya yang mirip seorang resi (putut) dan profil bilahnya serupa dengan keris sombro, lantas banyak yang menyebut Putut Sombro. Jika kujang sering diidentikkan dengan Pajajaran maka keris-keris semacam ini dalam buku-buku yang ditulis oleh orang Barat justru sering terkait sebagai keris Majapahit.

Dengan melihat ukurannya, serta bentuk hulu-nya yang seperti tidak dibuat untuk nyaman digenggam, sangatlah masuk akal jika keris-keris seperti ini bukan sebagai jenis “senjata” fungsional. Terlebih antropomorfisme (bentuk-bentuk manusia) memang merupakan bentuk paling primitif yang oleh para ahli purbakala sudah dikenal sejak ribuan tahun silam. Tidaklah mengherankan jika perlengkapan sajen-sajen kuno pun masih mengikuti bentuk yang ada. Maka sesuai dengan namanya (sajen, berasal dari kata saji), konon keris sajen memang dibuat khusus untuk ‘disajikan’ saat proses ritual upacara keagamaan atau upacara lain yang berkaitan dengan kekuatan supranatural. Orang Jawa mempunyai keyakinan bahwa keris sajen mempunyai potensi melindungi sawah dan ladangnya dari hewan perusak. Cara menjaga sawah atau ladangnya dari pagebluk (gagal panen) adalah melalui upacara bersih desa. Dalam upacara ini disediakan sesaji untuk roh yang dipuja dan dihormati. Di tengah ubo rampe diletakkan sebilah keris sajen. Apabila upacara tersebut sudah selesai keris sajen itu ditanam di pinggir atau di tengah sawah atau ladang. Bahkan saat pemugaran awal Candi Borobudur (1842) diketemukan bentuk keris (sajen) dengan hulu Puthut pada stupa utama Candi. Keris tersebut sekarang menjadi koleksi The National Museum of Ethnology (Leiden, The Netherlands). Keris-keris yang digolongkan sajen kebanyakan hanya berpamor keleng, nggajih, sanak atau mrambut atau era yang lebih muda berpamor banyu mili, atau singkir.

Keris Sajen yang ditemukan saat pemugaran awal Candi Borobudur, saat ini menjadi koleksi The National Museum of Ethnology (Leiden, The Netherlands)

Meskipun menyimpan keris sajen belum menjadi tren masyarakat perkerisan di Indonesia, namun di luar negeri keris-keris sajen ini justru banyak dicari. Bukan saja karna usianya yang dianggap tua, tetapi dianggap sebagai azimat, yang mempunyai tuah sangat baik sebagai perlindungan kepada pemiliknya. Orang-orang Melayu biasanya menyimpan keris sajen tidak dengan warangkanya (sarung), hanya dibungkus dalam kain berwarna putih atau beludru kuning. Sedangkan di Pulau Jawa dan Madura biasanya disimpan dalam warangka sandang walikat. Dan menurut hasil pengamatan penulis, sudah mulai jarang ditemukan keris sajen ori sepuh.

KERIS PIJITAN, Tentang lekukan pada permukaan bilah yang menyerupai bekas pijitan ibu jari tangan memang sulit diterima nalar atau dibuktikan secara ilmiah bahwa itu benar-benar dibuat dengan pijitan jari tangan. Ada sebagian pecinta keris yang menduga bahwa bentuk seperti bekas pijitan tersebut terjadi karena bentuk permukaan paron (landasan)  dan palu yang digunakan tidak rata. Ada juga teori yang menyebut mungkin saja dapat diakibatkan oleh perubahan tegangan besi karena faktor usia bilah dan suhu di dalam warangka yang terlalu lama lebih tinggi dari suhu ruangan, hal ini yang disinyalir menjadi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi atau mengakibatkan besi mulet dengan sendirinya.

Namun ada pula yang meyakini bilah tersebut memang benar dipijit oleh sang Empu sesudah tangannya dicelupkan dalam minyak, karena seorang Empu jaman dahulu adalah seorang yang dianggap pinunjul atau mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu, maka lebih banyak yang meyakini sebagai hasil finishing touch dari laku spiritual sang Empu dalam memberikan kemantapan atas doa-doa yang dipanjatkan.

PAMENGKANG JAGAD, adalah keadaan bilah yang seperti retak terbelah alami di tengah atau di bagian bawah. Keretakan itu menyebabkan pada bilah terdapat celah membujur. Secara teknis, pamengkang jagad disinyalir terjadi karena pada waktu penempaan membuat saton, suhunya kurang sesuai (kurang tinggi), dengan begitu ada bagian-bagian antara besi dan lapisan pamor yang tidak bisa menyatu atau menempel dengan erat satu sama lain. Dan ketika keris tersebut disepuh (quenching), ikatan penempelan antara besi dan pamor terlepas, sehingga keris itu terbelah/retak.

Meski sebagian pecinta keris ada yang beranggapan bahwa keris Pamengkang Jagad merupakan keris yang bisa dianggap gagal atau cacat produk, tapi oleh pecinta keris di Sabah, Serawak, Brunai dan Semenanjung Malaya pada umumnya justru menyukai keris yang bilahnya retak ini, terutama jika retakannya ada pada bagian bawah (sor-soran) atau tengah yang disebut keris retak kadut. Mata keris yang retak seperti ini dicari orang karena dipercaya membawa tuah baik dan kekuatan bagi pemiliknya. Yang kurang disukai justru jika retakannya di ujung bilah, yang disebut dengan retak mayat, karena selalu menginginkan darah.

Terdapat pula suatu kepercayaan yang unik mengenai keris pamengkang jagad ini, diantaranya adalah sebagai sarana untuk memikat hati wanita (pelet, jw). Jika seorang laki-laki hendak memikat hati seorang gadis idamannya atau seorang gadis yang baru ditaksir, apa yang dilakukannya adalah ketika ia melihat gadis pujaannya lalu lelaki tersebut mengambil keris pamengkang jagad-nya, ia kemudian melihat wajah gadis tersebut melalu celah/retak yang tembus pandang itu. Dipercayai gadis tersebut akan jatuh cinta kepada lelaki itu. Wallahu A’lam.

pamengkang jagad

Selain itu ada juga kepercayaan yang berkembang di kalangan aliran penggemar esoteri, jika keris pamengkang jagad banyak digunakan sebaga ‘sarana isian’. Mereka sangat mempercayai bahwa alam semesta menyimpan banyak sekali energi yang belum tergali. Sebagaimana sifat dasar atau hukum sebuah energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan, namun dapat diolah, diproses dan ditransfer ke dalam sebuah media tertentu. Karena dorongan godaan ‘nilai jual’ yang didukung oleh berbagai kepercayaan di atas, ada kecenderungan keris-keris pamengkang jagad yang beredar saat ini sengaja dibuat retak (combong), bukan karena proses alami. Untuk melihatnya memang diperlukan kejelian mata lebih dalam melihat pola bujur retakan.

TANGGUH CIREBON, Ada catatan menarik yang Penulis temukan dalam (copyan) Buku Primbon Pusaka Jawi, yang disalin ulang (tulis tangan) dalam bahasa Jawa oleh Madi Ronggo Widjojo Moeljo (1985), dimana didapatkan referensi bentuk-bentuk keris pendek dengan hulu iras ini pada zaman dahulu lazim disebut Sombro Cirebon Djoko Suro. Apakah penamaan Sombro Cirebon pada masanya dikarenakan bentuk profil bilahnya yang serupa dengan keris-keris sombro yang kita kenal sekarang? dan apakah juga dikarenakan keris-keris ini banyak dibuat atau berasal dari Era Cirebon?

gambar tangan sombro cirebon dari copyan Buku Primbon Pusaka Jawi

Adalah sebuah kebetulan jika keris ini didapatkan dari wilayah Cirebon dalam kondisi penuh dengan endapan minyak misik. Endapan misik yang berwarna coklat kehitaman yang jika dilap dengan tisu tidak meninggalkan noda kecoklatan/kehitaman dan saat dibersihkan (diputihkan) tidak mudah karena misik kental yang kering seolah membentuk lapisan tersendiri (bahkan pada bagian celah pamengkang jagad-nya tertutup rapat), hal ini dapat dipastikan merupakan hasil endapan berpuluh-puluh tahun, bukan sengaja ditutup minyak misik supaya terlihat tua.

kondisi keris saat kotor, penuh misik, sangat wingit

Bentuk keris sajen yang terkesan primitif seringkali mengundang pertanyaan tersendiri. Walaupun secara fisik sederhana namun kualitas besinya seringkali istimewa, seolah lebih tahan terhadap karat daripada keris-keris pada umumnya. Pada kenyataannya juga banyak didukung keris sajen yang ditemukan utuh. Pertanyaan lainnya adalah jika hanya digunakan sebagai pelengkap ritual saja, kenapa banyak orang sepuh jaman dahulu sering menyimpan keris ini sebagai keris tindih untuk menetralisir hal-hal yang kurang baik? Bahkan Karsten Sejr Jensen (2005) menulis tentang keris-keris yang ada di Indonesia, Malaysia dan Filipina dalam sebuat format disk (Krisdisk) memberikan footnote bahwa presiden pertama Indonesia Soekarno dikatakan sering membawa tongkat yang di dalamnya berisi keris sajen sebagai tolak bala. Dalam tulisannya Karsten Sejr Jensen juga memberikan sebuah teori jika keris sajen ini awal mulanya kemungkinan berhubungan dengan belati yang digunakan untuk ritual Siwa Bhairawa.

posisi putut seolah sedang pada posisi tahiyat dan berdiri bersedekap

Jika mencermati lebih detail pada keris sajen ini ternyata agak berbeda dari keris sajen pada umumnya, yakni posisi gambaran manusia yang ada tidak menghadap lurus ke depan seperti lazimnya, melainkan menghadap ke sisi kiri  (searah dengan gandik). Jika bagian penutup kepala sering dikaitkan dengan kasta pemiliknya, pada keris ini tampak rata saja, seolah memakai kopiah. Lebih unik lagi jika diintip dari sisi kanan maupun kiri maka posisi sang putut lebih mirip dalam posisi tahiyat daripada posisi duduk sebenarnya, dan jika ditilik pada posisi depan seolah berdiri dalam posisi bersedekap. Sepertinya pengaruh Keislaman sangat kental dalam perwujudan bentuk hulu irasnya.

PAMOR NGGAJIH,  Nggajih artinya serupa dengan lemak. Pamor yang tampak di permukaan bilah seperti berlemak disebut pamor nggajih. Jadi, apapun jenis dan nama pola gambaran pamor itu, kalau penampakannya seperti lemak kering, disebut nggajih. Sebagian ahli perkerisan menduga, keris berpamor nggajih lebih banyak dikarenakan berasal bahan material yang mudah ditemukan (pasir besi dari pantai) dan diolah (smelting) dengan cara lebih sederhana atau tradisional.

Koesni dalam bukunya : Pakem Pengetahuan Tentang Keris mendeskripsikan dengan jelas jenis pamor nggajih, dimana pamor yang pengetrapannya hanya diluluhkan di atas wilahan. Pengetrapan pamor seperti tersebut di atas, penggarapannya kelihatannya mudah, tetapi empu yang menangani harus teliti dan cekatan, selain itu harus mempunyai keahlian dalam membuat gambar yang bermutu. Cara-cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

Lempengan pamor atau bubukan pamor disediakan lebih dulu (biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi). Setelah wilahan dibakar dan terasa sudah panas membara, besi pamor segera dituangkan mulai dari pangkal wilahan langsung mengarah ke bagian pucuk. Jatuhnya pamor di wilah ditunggu sampai kelihatan leleh, keris digerak-gerakkan menurut inspirasi batin sang Empu, tanpa putus mengalir ke arah ujung wilah. Bila sudah sampai pada bagian ujung ada dua macam tindakan sang Empu. Apakah pamor yang dituangkan itu kembali diluluhkan ke arah pangkal, ataukah sudah cukup sekali tuang saja. Inilah cara pengetrapan pamor yang seperti disebutkan di atas disebut pamor luluhan yang tidak perlu memakai tekanan-tekanan jari dan alat-alat lain. Cara ini biasa digunakan Empu luar keraton, empu Desa atau disebut juga empu Njawi. Pengetrapan pamor seperti ini jika sudah jadi dinamakan ‘pamor nggajih’.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Putut Sombro Pamengkang Jagad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *