Pandhawa Lare Tuding Pengging

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6.660.000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-355
2. Dhapur : Pandhawa Lare
3. Pamor : Dwi Warno (Tunggak Semi, Banyu Tetes)
4. Tangguh : Pengging (Abad XIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 387/MP.TMII/IV/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Banyumas, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 31,5 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 38,5  cm
8. Keterangan Lain : rojo gundolo, tangguh jarang ditemui, pendok perak banyumasan


ULASAN :

PANDAWA LARE, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima, ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sraweyan dan greneng. Menurut mitos atau dongeng dhapur Pandhawa Lare pertama kali dibabar oleh Mpu Dewayasa atas pemkrarsa Nata Prabu Basupati, pada tahun Jawa 622.

Namun apabila kita membuka buku gambar 164 keris dan 52 tombak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Susuhunan Pahubuwono X yang sudah disalin dalam bentuk buku Dhapur Damartaji rupanya terdapat perbedaan yang signifikan, karena menurut versi ini Dhapur Pandhawa Lare mempunyai ricikan luk lima, gandhik lugas tanpa sekar kacang, pejetan panjang dan sraweyan. Artinya ricikan-ricikan yang saat ini dipahami sebagai Dhapur Pandawa Lare merupakan  Dhapur Pandawa. Apapun perbedaan yang menyertainya sepertinya tidak terlalu signifikan, karena masih dalam dhapur keluarga Pandhawa.

FILOSOFI, Lare = kanak-kanak atau semasa muda. Lakon Pandhawa Lare bercerita tentang lika-liku kehidupan keluarga Pandawa yang harus menjalani pengasingan. Berbagai rintangan kehidupan mereka hadapi. Nakula dan Sadewa yang ketika itu masih kanak-kanak, menangis kelaparan, Dewi Kunti menyuruh Bima dan Arjuna untuk mencari makanan bagi adik kembarnya. Arjuna kemudian datang lebih dahulu. Ketika hendak memberikan dua bungkus nasi pada adiknya, Kunti lebih dahulu bertanya tentang asal usul nasi itu. Arjuna menceritakan bahwa nasi itu dimintanya dari seorang lurah di Desa Sendang Kendayakan. “Jika nasi itu berasal dari belas kasihan seseorang, makanlah sendiri. Jangan kau berikan pada adikmu.” Nasi yang dibawa Arjuna itu sebenarnya adalah pemberian Ki Lurah Sagotra, yang menganggap Arjuna berjasa baginya karena telah membuat istrinya yang semula tak acuh menjadi sayang kepadanya. Bahkan, sebagai pernyataan suka citanya, waktu itu Ki Lurah Sagotra bersumpah akan bersedia menjadi tawur atau tumbal perang bagi kemenangan para Pandhawa dalam Bharatayudha kelak.

Tidak lama kemudian Bima datang pula membawa nasi bungkus. Ia menceritakan bahwa nasi itu ia peroleh sebagai imbalan, karena Bima berhasil membunuh Prabu Baka (Prabu Dawaka) yang mempunyai kebiasaan memangsa manusia. Rakyatnya yang berterima kasih padanya minta agar Bima mau menjadi rajanya, namun Bima menolak. Waktu mereka menanyakan imbalan apa yang dapat diberikan, Bima meminta dua bungkus nasi. “Berikan nasi itu pada adik-adikmu, karena nasi itu kau peroleh dari hasil cucuran keringatmu.”

Spirit hidup Pandhawa dengan tetap menunjung tinggi harga diri menjadi prinsip hidup mendasar yang harus tetap dipegang meskipun dalam keadaan kelaparan atau kesusahan. Harga diri tetap menjadi satu pegangan yang tidak boleh dipertaruhkan dalam kondisi apapun. Dari sisi religiusnya, lakon ini pun menyampaikan pesan akan nilai keimanan dan penyerahan diri secara total yang harus diterapkan dalam hidup di dunia. Dalam berbagai kesusahan yang sudah dirasa tidak ada jalan keluarnya sekalipun, para Pandhawa tidak digambarkan sedikitpun menghujat Tuhan atas kehendak yang mereka alami. Juga nasehat untuk selalu berbakti kepada orang tua terutama Ibu yang telah mengandung dan melahirkan.

Namun bukan berarti sosok Pandhawa adalah tanpa cela, Lakon Pandhawa (kalah) Dadu menjawabnya. Dikisahkan, Di masa mudanya, hanya satu kelemahan diri yang belum dapat diatasi Yudistira, yaitu kegemaran untuk bermain dadu, memegang janji taruhan sebagai dharma. Kerancuan pikiran inilah yang membuat Pandhawa harus kehilangan Amarta. Tak hanya itu, kekalahan Yudhistira juga mengakibatkan kebebasan diri keempat saudaranya dan Drupadi terenggut oleh Kurawa. Sebuah kesalahan yang fatal karena Yudhisthira terlibat perjudian, memiliki karakter “tidak enakan” bila menolak ajakan orang lain serta selalu berprasangka baik bahkan terhadap pihak yang berkali-kali menzaliminya. Lakon Pandhawa Dadu ini memberikan gambaran manusia sesungguhnya. Tak ada satupun yang sempurna. Bahkan yang sering terjadi adalah hal-hal ekstrim yang kontradiktif.

Yudhisthira terlalu percaya diri untuk bermain dadu, dia yakin bahwa dharma akan melindunginya. Yudihisthira terobsesi menaklukkan Duryudana dan para Kurawa tanpa pertumpahan darah, tanpa peperangan, tanpa merepotkan saudara-saudara dan rakyatnya. Akan tetapi Yudhisthira melupakan ‘resiko’ yang besar sekali. ‘Jangan pernah mencoba judi, jika tak mau hidupmu hancur berantakan!’. Nasehat ini sepertinya telah mendunia. Ya, karena judi punya daya bius yang kuat. Efeknya lebih kuat dari narkoba dan alkohol, terjadi kala manusia secara fisik tersadar penuh. Ia mempermainkan alam bawah sadar manusia dengan harapan-harapan memabukkan. Aura judi membuat keserakahan dalam diri berkembang. Maka setiap kali kalah, selalu akan memunculkan dorongan mencoba lagi, dan terus mencoba lagi. Karena ada harapan untuk membalik keadaan. Akibatnya, malah semakin terjerumus.

Yudhisthira diundang main dadu ke Hastina oleh Duryudana. Semua saudara-saudaranya sudah memperingatkan, akan tetapi Yudhisthira merasa tidak enak telah diundang ke Hastina. Tidak enakan. Segan untuk mengatakan ‘tidak’. Kurang, atau bahkan tidak tegas, hingga alasan klise hanya sekedar  ikut-ikutan atau coba-coba. Inilah juga biasanya yang menjadi kelemahan utama mereka-mereka yang sedang beranjak dewasa mencari jati diri. Sebagai remaja yang memiliki jiwa muda bersenang-senang boleh, tapi tetap perlu memegang prinsip yang sesuai kaidah moral masyarakat dan norma agama.

Yudhisthira selalu berbaik sangka terhadap orang lain. Memang sebagai orang yang sudah melakoni jalan spiritual, dia berupaya bebas dari menghakimi orang lain. Akan tetapi, Yudhisthira dan saudara-saudaranya sudah berkali-kali dizalimi, dijebak dan dicoba dibunuh. Mengapa pula Kurawa mengundangnya main judi saat Krishna sedang tidak berada di Indraprastha, saat sedang menghadapi Raja Salwa yang menyerang kerajaannya? mengapa dia tidak waspada? Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah untuk tidak terlalu naif. Karena tidak semua orang sama baiknya. Untuk itu tidak ada salahnya jika menjaga pergaulan. Karna teman baik akan membawa pengaruh baik, begitu juga sebaliknya, teman yang tidak baik akan membawa pengaruh buruk.

Melalui dhapur Pandhawa Lare kita semua bisa memperoleh hikmah bahwa hidup adalah pilihan. Setiap orang selalu mempunyai pilihan sebelum melakukan suatu tindakan, dan kita hanya perlu memilih dengan tepat. Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Dengan berkarya sepenuh hati, pilihan yang diambil lebih berpeluang membawa hasil yang sepadan. Namun bila memilih tindakan hanya berdasarkan untung-untungan yang tidak bisa diperkirakan hasilnya, maka dia telah terlibat dalam suatu perjudiaan. Dan justru sangat memungkinkan untuk membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup. Maka tidaklah mengherankan jika dulunya selain Dhapur Sinom, Dhapur Pandhawa Lare seringkali diberikan sang ayah kepada putranya, sebagai keris hadiah ketika seorang anak laki-laki telah memasuki masa akil balig (khitan).

TANGGUH PENGGING, Membahas mengenai tangguh Pengging dalam dunia perkerisan setidaknya ada 2 (dua) era yang dimaksud yakni; pertama Era Pengging Hindu (Witaradya) sebelum Majapahit dan Era Pengging sejaman Islam Demak (Handayaningrat). Pengging masih tetap Pengging yang sekarang menjadi Kelurahan Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Adalah nama sebuah kerajaan kuno yang pernah berdiri di Jawa Tengah. Seperti halnya Madiun semasa kerajaan Pajang maupun setelah memasuki Era Mataram, Pengging di zaman Demak juga hanya merupakan Kadipaten namun eksis dalam tangguh perkerisan.

pamor meteorit akhodiyat

Pusaka ini seperti sengaja ingin membawa DNA wilwatikta dalam tubuhnya. Tantingan-nya sudah tentu saja sangat ringan sekali, dengan tintingan yang nyaring bunyinya. Kekhasan keris-keris sebelum era Mataram juga dapat dititeni dari posisi jalen dan lambe gajah yang lebih ke tengah gandik. Bentuknya ramping dengan lekuk rengkol yang simetris, dan jatuhnya luk akhir terkesan dalam posisi ‘menuding’ ke depan. Oleh karenanya orang-orang jaman dahulu biasanya menyisipkan kosa kata ‘tuding‘ pada akhir nama dhapur untuk menggambarkan bentuk keris dengan condong leleh agak menunduk dan jatuhnya luk akhir seolah menunjuk (menuding) ke depan. Seperti dalam pusaka ini Pandhawa Lare Tuding. Bahan materialnya pun tidak kalah kelas. Serat-serat besinya tampak hitam, halus perabaannya. Adapun pamornya dapat diduga jika dulunya berasal dari batu meteor, melalui salah satu spot terdapat blok pamor yang putih keperakan, menyala terang yang jika diraba terasa agak ngrekes. Terlebih pemaknaan pamor pada keris Pandhawa Lare Tuding ini kaya akan bentuk dan tentu saja berhubungan dengan kepercayaan tuahnya. Mulai dari pamor nunggak semi yang menyerupai raja gundala, pamor banyu tetes hingga bulatan pamor di bagian gandik yang juga mempunyai arti.

PAMOR DWI WARNA, dalam dunia perkerisan merupakan istilah untuk menunjuk keris yang pada satu sisi bilahnya memiliki dua macam motif pamor dominan yang berlainan. Misalnya pada bilah ini terdapat motif nunggak semi pada bagian sor-soran dan pamor banyu tetes di sepertiga  bilah hingga ke pucuk.

PAMOR NUNGGAK SEMI, adalah salah satu motif pamor yang selalu terletak di bagian sor-soran suatu keris, tombak atau senjata pusaka lainnya. Bentuknya merupakan garis yang tidak beraturan, berlapis dan pada bagian puncak bentuknya seolah-olah sedang “tumbuh” seperti tunas yang sedang bersemi.

Tunggak (akar atau batang pohon yang sudah ditebang yang masih mengakar ke tanah dan berpeluang untuk hidup subur kembali), Semi (bersemi atau tumbuh kembali), artinya sesuatu yang dianggap sebagian orang sudah tidak ada (mati), dengan campur tangan Yang Maha Kuasa bisa kembali bersemi (hidup) serta tumbuh besar seperti sediakala, atau dengan kata lain menggambarkan dari sesuatu dari yang kecil nantinya akan menjadi sesuatu yang besar. Pamor ini sangat disukai oleh para pedagang atau para pemutar modal, karena percaya bahwa tuah pamor ini dapat membantu membalikkan usaha dari yang selama ini merugi menjadi memperoleh keuntungan, mengawal perjalanan usaha mereka, dari yang akan atau sedang memulai suatu usaha baru (diversifikasi) hingga membesarkan usaha yang telah ada sampai berhasil mendapatkan hasil yang dicita-citakan. Pamor Tunggak Semi tergolong pamor tiban, tidak dirancang lebih dahulu oleh sang Empu, sering dianggap berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Benar adanya bahwa suatu keberhasilan atau kesuksesan adalah di tangan Tuhan sedangkan manusia hanya bisa berusaha secara fisik maupun non fisik.

pamor rojo gundolo, menyerupai orang yang sedang dalam posisi sholat (duduk tahiyat)

PAMOR RAJA GUNDALA, Ada bentuk unik pada pamor nunggak semi yang terdapat pada sisi bagian depan, yakni bentuknya meyerupai orang yang sedang dalam posisi sholat (duduk tahiyat). Meskipun abstrak (karena terjadinya tidak sengaja, tiban Jw) namun dapat terlihat mulai dari bentuk kepala, mata hidung, pundak, kaki ditekuk,  membentuk silhouette seseorang yang duduk bersimpuh mirip posisi duduk tahiyat. Bentuk-bentuk abstrak yang menyerupai makhluk halus, hewan, dan manusia ini dalam dunia perkerisan disebut sebagai Pamor Raja Gundala. Banyak digemari karena dianggap Dewanya pamor yang dipercaya sanggup menundukkan pusaka-pusaka lainnya, terlebih jika memiliki keinginan yang jelek atau baik pasti tercapai.

PAMOR BATU LAPAK, Jika bentuk gelang-gelang lingkaran pamor yang terdapat di bagian pejetan/blumbangan disebut dengan pamor telaga membleng, maka pamor di belakang gandik atau di gandiknya yang berbentuk pusar-pusar disebut batu lapak (ada juga batu lapak versi yang lain), berkhasiat kewibawaan dan mendatangkan kekayaan.

pamor-batu-lapak

PAMOR BANYU TETES, atau sering juga disebut tetesing warih. Adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan air yang tidak teratur. Pamor tetesing warih tergolong pamor mlumah dan tidak memilih, siapa saja dapat memilikinya. Pamor ini dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki. Pamor ini menjadi pameling (pengingat) dalam belajar memaknai kehidupan, dimana tetesan air bisa melubangi kerasnya batu karang. Mengajarkan kegigihan agar tidak mudah menyerah, dan selalu tekun/ulet dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan. Karena perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah terletak pada kegigihan. Juga mengajari bahwa segala sesuatu mungkin, asal kita istiqomah.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.