Sepaner Tunggul Kukus

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3.950,000,- (TERMAHAR) Tn. SI – Jagakarsa, Jakarta Selatan


1. Kode : GKO-356
2. Dhapur : Sempaner
3. Pamor : Dwi Warno (Satriyo Pinayungan, Wengkon)/Tunggul Kukus?
4. Tangguh : Mataram (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 388/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Yogyakarta
7. Dimensi : panjang bilah 34,3 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 40,8 cm
8. Keterangan Lain : warangka baru


ULASAN :

SEMPANA BENER, Di kalangan masyarakat perkerisan, biasanya disebutkan dengan cara disingkat langsung menjadi sempaner atau sepaner. Dhapur Sempaner mempunyai ricikan sebagai berikut; bentuknya lurus, pada bagian gandhik-nya terdapat sekar kacang, jalen, dan lambe gajah. Dhapur ini juga memakai tikel alis dan ri pandan. Menurut mitos atau dongeng Dhapur Sempaner dibabar oleh Mpu Ciptagati pada masa pemerintahan Nata Raja Budda Kresna tahun Jawa 265.

Di zaman dahulu keris Dhapur Sempaner banyak dimiliki oleh mereka yang aktif bekerja untuk raja atau kerajaan. Sebagian pecinta keris menganggap keris Dhapur sempaner saat ini baik untuk dimiliki oleh orang yang masih aktif bekerja dalam dunia pemerintahan atau masyarakat. “sae kagem ngabdi“.

FILOSOFI, Sempana Bener, berasal dari Bahasa Sansekerta Sumpena dan Bener, Secara harfiah berarti bermimpi di jalan yang lurus (bener). Dalam arti yang lebih dalam, dhapur keris ini memuat suatu pesan angan-angan, harapan serta cita-cita. Dan apabila keinginan tersebut apabila dilandasi suatu pemahaman yang bener dan pener (benar dan tepat) tidak mustahil akan dapat terwujud menjadi suatu kenyataan.

Sempana, Setiap orang berhak memiliki mimpi. Mimpi adalah sebuah anak tangga yang paling bawah, karenanya mimpi harus diperjuangkan. Untuk dapat mewujudkan mimpi tersebut dibutuhkan usaha dan pengorbanan juga konsistensi dan persistensi. Hal ini sesuai dengan filsafat Jawa bahwa ‘jer basuki mawa bea’. Jer (memang, seharusnya begitu), basuki (selamat atau sejahtera), mawa (memerlukan atau menggunakan), beya (biaya atau pengorbanan). Artinya keberhasilan seseorang diperoleh melalui pengorbanan. Hal ini berarti bahwa seseorang harus berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk dapat meraih apa yang diimpikan. Karena cita-cita atau impian tidak mungkin diraih secara instan atau datang dengan sendirinya. Mimpi menjadi pegangan kita, menjadi alasan dari setiap perjuangan.

Juga dalam hal motivasi, karena “sopo sing tekun bakal tekan”. Sopo (siapa), sing (yang), tekun (tekun), bakal (akan), tekan (sampai). Yang artinya barang siapa yang tekun mencari akan sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Tekun mempunyai pengertian mengerjakan sesuatu dengan rajin, konsisten, ulet, tahan uji dan tidak putus asa di tengah jalan hingga membawanya sampai pada tujuan. Tekun sudah tentu dalam hal apa saja. Baik menuntut ilmu, maupun melaksanakan tugas/pekerjaan. Tekun dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Siapa yang mau tekun, maka ia akan ia akan segera tekan atau sampai kepada apa yang menjadi cita-citanya.

Bener, Dalam beribadah kita selalu mohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan jalan yang lurus. Lurus berarti tidak menyimpang dari jalur yang telah ditetapkan. Maka berangkat melalui pemahaman yang benar yang diselaraskan dengan usaha serta ketekunan, tentu saja dilandasi ikhitiar doa itulah yang akan mengantar kepada sebuah pencapaian cita-cita. Karena kesuksesan bisa berarti apapun. Inilah esensi sebenarnya dari dhapur sempana bener.

TENTANG PAMOR, Jika pada bagian tentang pamor pada Surat Keterangan Museum Pusaka TMII ini ditulis sebagai pamor Dwi Warno; Satriya Pinayungan dan Wengkon. Terdapat pula tafsir pembacaan pamor yang berbeda namun juga mempunyai dasar. Ada yang beranggapan jika pamor yang ada pada dhapur Sepaner ini merupakan pamor lintang kemukus. Bentuknya pada bagian sor-soran menggumpal. Gumpalan itu bisa berupa Lawe Satukel, boleh mirip Tunggak Semi, boleh menyerupai Wos Wutah ataupun Bawang Sebungkul. Tuahnya dipercaya mempermudah mencari jalan rejeki, serta dipercaya membantu ketenaran dan menambah wibawa pemiliknya. Hanya saja gumpalan itu biasanya disusul dengan sada sakler, satu garis lurus tepat di tengah.

Sedangkan pada keris ini garis yang ada lebih mirip dengan Janur Sinebit, dimana garis-garisnya berjumlah tiga buah mengumpul di tengah. Yang tuahnya dipercaya dapat menangkal serangan guna-guna atau menangkis hal-hal yang kurang baik. Dan bulatan pamor pada bagian sor-soran dipahami sebagai pamor Puteri Kinurung, yang dipercaya sebagai keris ‘pergaulan’, karena mereka yang memiliki keris dengan pamor ini akan bisa diterima di kalangan manapun, ia akan banyak kawan/relasi.

Namun ada juga yang meyakini, jika pamor yang terdapat pada keris ini merupakan pamor Tunggul Kukus. Tunggul = lambang dan kukus = asap. Terutama dari bentuk garis yang mengikuti bukan sada sakler melainkan beberapa garis terputus, yang sangat mirip dengan kukusan awan. Tuahnya dipercaya disegani oleh banyak orang, berhati jujur, selamat dari kejahatan orang dan doanya makbul.

Karena pembacaan pamor kadang kala berupa bahasa rasa, maka kami kembalikan kepada Panjenengan sendiri untuk menilainya, serta memilah sendiri mana yang Panjenengan percayai.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *