Warangka dan Hulu Fosil Geraham Gajah Purba

Harga : 3.500,000,- (TERJUAL) Tn. FBIC, USA


  1. Perabot : Warangka
  2. Model : Gayaman Solo
  3. Bahan : Fosil Geraham Gajah Purba
  4. Dimensi : Tinggi Warangka 5 cm, tinggi gandar 34 cm, panjang total 39 cm
  5. Berat : Warangka 435 gr, Hulu 84 gr
  6. Keterangan Lain : bahan langka susah didapat, bonus hulu dan mendak

Ulasan :

FOSIL GERAHAM GAJAH PURBA, Orang boleh menganggap Singa adalah Raja hutan, tetapi binatang terkuat adalah Gajah. Selain karena kekuatannya, Gajah dikenal pula karena gadingnya. Harga jualnya sangat fantastis memang, hal itulah yang kerap membuat para pemburu liar gelap mata untuk mendapatkannya. Maka peribahasa “tak ada gading yang tak retak” sering diplesetkan (guyonan) menjadi “tak ada gading yang tak mahal”. Tidak hanya cukup berhenti disitu, selain faktor rupiah, gading juga memberikan nilai magis sebagai jimat keberuntungan agar terhindar dari kesialan, memberi efek sugesti untuk dapat menangkal racun yang masuk ke dalam tubuh, dan sebagai binatang terkuat diharapkan membawa energi untuk mendongkrak kejantanan atau mencitrakan kelas pemiliknya. Karena karakteristiknya yang fenomenal itu menjadikannya memiliki nilai prestisius jika diolah dalam berbagai bentuk karya seni, diantaranya perabot keris.

Dan salah satu bahan perabot keris yang tidak kalah kelas dari gading (tentu saja juga berasal dari anggota tubuh gajah itu sendiri) adalah gigi gerahamnya. Jika gading merupakan gigi seri dari hewan herbivora ini, maka gigi geraham yang biasanya memiliki karakteristik menarik untuk diolah menjadi suatu karya seni adalah dalam bentuk fosil. Fosil-fosil geraham yang ada diperkirakan berasal dari gajah purba jenis Mastodon, Stegodon dan Elephas. Keistimewaan prosesnya yang terjadi beratus-ratus ribu tahun yang lampau seolah menorehkan embos garis-garis tinta alam yang memukau.

CATATAN GRIYOKULO, Warangka keris ini seolah membangkitkan sejarah planet bumi setelah terkubur lebih dari 300.000 tahun. Membayangkan tanah Jawadwipa sekitar 300.000 hingga 700.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis purba yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap burung-burung raksasa begitu juga dengan sungai-sungai penuh dengan kuda nil. Di darat dikuasai oleh hewan-hewan liar dan buas.

Karakter bahannya yang keras sekali tentu saja berhubungan dengan tingkat kesulitan dalam mengukirnya. Selain memerlukan tenaga dan ketelitian ekstra juga akan memboroskan perkakas yang dipakai (sering tumpul atau patah), karenanya sangat sedikit mranggi/pengukir atau seniman yang bersedia membuatnya, ataupun jika ada ongkosnya menjadi berlipat. Karena dibentuk dari fosil penanganannya pun harus hati-hati, karena jika jatuh akan pecah.

salah satu keris Jawa yang diperkirakan berasal dari abad 18-19, menjadi koleksi Museu de Evora, Portugal

Secara keseluruhan warangka fosil geraham (bam) ini masih dalam kondisi prima. Permukaan yang tidak terlalu rata (terutama pada corak garis-garisnya) dan rongga-rongga yang ada justru merupakan salah satu penanda otentikasi seperti halnya retaknya gading. Sangat miyayeni untuk disandingkan dengan pusaka klangenan panjenengan, serta mendongkrak aura keningratan. Terlebih bagian gandar yang ada juga terbuat dari fosil geraham. Hulu Keris dan mendak yang ada diberikan sebagai bonus saja

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *