Keris Tayuhan Sempono Bungkem

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3.450,000,- (TERMAHAR) Tn. J, Bandung


1. Kode : GKO-342
2. Dhapur : Sempono Bungkem
3. Pamor : Ilining Warih
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 90/MP.TMII/I/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Cilacap, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 27 cm, panjang pesi 3,5 cm, panjang total 30, 5 cm
8. Keterangan Lain : dhapur yang banyak dicari orang


ULASAN :

SEMPONO BUNGKEM, atau supana bungkem adalah salah satu bentuk dhapur keris ‘keluarga’ sempana yang agak berbeda dari sempana umumnya karena bukan berluk sembilan melainkan ber-pakem luk tujuh. Dan tampaknya semua literatur yang ada mulai dari Dhapur Damartaji (1998), Ensiklopedi Keris (2004), Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar (2006), hingga literatur lama seperti Tjuriga Dhapur (1963) dan Kawruh Empu (1914) menegaskan keris ini berluk tujuh (7). Ricikan keris sempana bungkem memakai kembang kacang, tetapi kembang kacang-nya bungkem, dimana ujungnya rapat menempel pada dinding gandik. Selain itu jika kembang kacangnya pogok pun disebut sempono bungkem juga. Tidak ada ricikan lain, kecuali jalen, dan kadang-kadang memakai tikel alis. Termasuk dhapur keris yang susah ditemui pada saat ini.

gandik sempono bungkem (kondisi kotor)

Dhapur sempono bungkem populer  karena keris ini banyak dicari oleh mereka yang berprofesi sebagai hakim, jaksa, pembela, atau penasihat hukum hingga para pejabat pemerintahan karena konon keris dhapur sempono bungkem memiliki tuah yang dapat mempengaruhi lawan bicaranya. Menurut kepercayaan keris sempono bungkem memiliki taksu yang baik dimiliki oleh mereka yang dalam pekerjaan atau profesi sehari-harinya harus sering berdebat atau adu argumen. Bahkan yang lebih ‘nyeleneh‘ lagi keris ini juga tidak hanya menjadi monopoli kaum atau profesi di atas, mereka yang menginginkan keluarga yang ‘samawa’ sering mencari dhapur ini sebagai piandel untuk membungkam ocehan mertua, mulut istri yang cerewet, hingga menjauhkan rasan-rasan (fitnah) orang lain baik di lingkungan kerja maupun kehidupan bertetangga (sosial). Bahkan mereka-mereka yang terjerat dengan masalah “hukum” seringkali membutuhkan dan  percaya akan ‘taksu’ dhapur sempono bungkem sebagai salah satu sarana dukungan non fisik.

FILOSOFI, Bungkem = Belajar Diam, Ricikan wajib yakni kembang kacang bungkem menjadi ciri atau penanda tersendiri dari dhapur sempono bungkem.  Jika dalam pemahaman umum tuah yang diharapkan keris Sempono Bungkem adalah untuk dapat membungkam (terkuncinya mulut) lawan bicara (baca: didengar), tetapi apabila kita mau lebih bijak untuk mampu berkaca pada diri sendiri (baca: mendengar), ada sebuah piwulang yang dititipkan pada keris dhapur sempono bungkem. Belasan atau puluhan tahun lalu, saat masih balita seringkali orangtua mengajari kita untuk belajar berbicara. Mengeja kata perkata, belajar merangkai kalimat. Semakin banyak kosa kata yang diucapkan oleh anak maka semakin banggalah orangtua. Berbeda ketika kita masih kecil, ketika dewasa ada baiknya kita belajar untuk diam.

Diam justru membuktikan laku-hidup di segala situasi. Diam untuk menenangkan, membersihkan, membeningkan. Diam juga merupakan bagian penting dari komunikasi, untuk mendengarkan. Keadaan ini juga sekaligus memberi ruang bagi kita untuk berpikir dan menanggapi. Diam mengandung kehendak refleksi. Diam itu olah kesabaran. Diam mengajarkan mawas diri. Diam itu ejawantah diri.   Percayalah; ‘langit tak perlu bersusah payah menjelaskan dirinya tinggi dan sampah tidak perlu berbicara dirinya kotor’.

KERIS TAYUHAN, merupakan sebutan bagi keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal esoteri (tuah) daripada keindahan garap (pemilihan bahan besi dan pembuatan pamornya). Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit. Walaupun dari segi keindahan tidak dinomor-satukan, keris Tayuhan tetaplah tidak bisa dipandang sebelah mata karena pembuatnya juga seorang Empu. Patut diketahui bahwa keris-keris pusaka milik keraton, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta, pada umumnya adalah jenis tayuhan. Dhapur keris tayuhan biasanya sederhana, misalnya tilam upih, jalak dinding, kebo lajer, bukan jenis dhapur yang mewah semacam naga sosro atau singo barong. Selain itu, keris Tayuhan umumnya berpamor tiban, bukan pamor rekan. Di kalangan pecinta keris, keris Tayuhan biasanya sinengker, atau lebih bersifat pribadi bukan keris yang mudah diperlihatkan kepada orang lain, apalagi dengan tujuan untuk sekedar pamer.
TAYUHAN

TANGGUH CIREBON, Mas Ngabehi Wirasoekadga, Abdi Dalem Mantri Pande di Surakarta dalam Serat Panangguhing Duwung menjelaskan tangguh Cirebon : “Dhuwung ganja waradin iras, gulu meled cekak, sirah cecak buweng, buntut urang methit, seblakipun keras ampang, wasuhanipun madya, pamoripun kirang lulut, sekar kacang ngecambah dhuwung ingkang kathah alit-alit serta celak, punapa dene wesi jejeranipun iras kaliyan dhuwungipun, medala leres utawi luk srapatipun sami, sogokan gatra kados kasebut nginggil, dene dhapuripun kirang manggen, sajak dhapur seking”.

Secara eksplisit Wirasukadga menjelaskan jika kebanyakan keris-keris Cirebon baik dhapur luk maupun leres rata-rata berukuran kecil-kecil dan pendek, malah beberapa ada juga yang hulunya menyatu dengan bilah (seperti keris sajen). Secara kualitas garap, mulai dari cara wasuhan, besi hingga pamor semuanya biasa saja seperti halnya keris-keris tayuhan yang tidak mementingkan garap luar atau kedetailan ricikan melainkan ‘isi’ yang utama.  Wirasukadgo juga menduga seperti halnya ‘seking’ (tosan aji bentuknya seperti pisau pendek), keris cirebonan memang difungsikan untuk memudahkan pemiliknya jika harus ‘disengkelit dan diajak’ berpergian. Sejak dahulu Cirebon selalu menjadi pusat tasawuf dengan sinkretik yang kuat.

Pamor ILINING WARIH  atau sering disebut banyu mili secara harafiah berarti air yang mengalir, merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir. Seperti filosofi air yang selalu mengalir mencari jalannya sendiri dari Gunung (hulu) hingga Samudera (hilir), membasahi daratan kering, menghidupi tempat-tempat yang tandus. Pamor ini dipercaya membawa semangat pembaharuan, keluar dari masa sulit dalam kehidupannya.  Tak heran banyak Pecinta keris menggemari keris dengan pamor motif sederhana ini karena tuahnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *