Pandita Bala Pandita

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.450,000,- (TERMAHAR) Tn. LWW, Kanigoro – Blitar


1. Kode : GKO-340
2. Dhapur : Brojol (Pamengkang Jagad)
3. Pamor : Pandita Bala Pandita
4. Tangguh : Madura (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :1675/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Nganjuk, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 22 cm, panjang pesi  6 cm, panjang total 28 cm
8. Keterangan Lain : pamengkang jagad, pesi untiran, gonjo mas kumambang


ULASAN :

BROJOL, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Ada dua versi bentuknya; yang pertama, panjang bilahnya hanya sekitar 15 sampai 19 cm, bilahnya tipis, rata dan biasanya merupakan keris kuno. Pejetan yang ada hanya samar-samar saja. Gandhik-nya pun polos dan tipis. Kadang-kadang memakai gonjo iras (menyatu dengan bilah). Kadang-kadang pula pada bilahnya ada lekukan-lekukan dangkal, seolah lekukan itu bekas ‘pijitan‘ dari jari tangan. Keris brojol jenis pertama ini (pendek) sering disalah kaprahkan secara berjamaah dengan sebutan keris Sombro, padahal sombro adalah nama empu wanita dari Pajajaran yang hijrah ke Tuban. Sedangkan jenis brojol yang kedua, ukuran panjang bilahnya sama dengan keris biasa, sekitar 30-35 cm. Gandhik-nya polos dengan ricikan hanya pejetan (kentara) tanpa ricikan lain. Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun jawa 1170.

FILOSOFI, Bahasa Jawa adalah bahasa yang kompleks dan rumit, banyak sekali kata atau sebutan istilah yang sulit sekali untuk diterjemahkan, bahkan ada juga istilah yang tidak mungkin lagi didapatkan diterjemahkan dalam bahasa apapun, kecuali bagaimana menjelaskan istilah yang “tak-terjemahkan” dengan cara lain yang akhirnya dapat difahami oleh orang lain yang memang tidak faham dengan bahasa Jawa, termasuk didalamnya istilah “brojol”.

Brojol adalah suatu istilah atau kata yang sering dipergunakan untuk mengungkapkan peristiwa lahirnya jabang bayi. Brojol adalah suatu terminologi yang memang indentik dan terkait dengan masalah kelahiran, keris dapur “brojol” merupakan suatu karya spiritual, tentunya juga mempunyai makna spiritual yang ingin disampaikan oleh sang empu, dimana makna spiritual tersebut terkait dan identik dengan “kelahiran”. Bayi yang dilahirkan tentunya sangatlah polos dan bersih. Pesan yang ingin disampaikan oleh empu melalui keris dapur brojol adalah agar manusia dapat dilahirkan kembali secara spiritual, disucikan, atau kembali ke fitrah (lahir dan hidup baru menjauhi dosa-dosa lama) atau hijrah (berpindah menuju kehidupan lebih baik, bermakna, dan indah).

PAMENGKANG JAGAD, adalah keadaan bilah yang seperti retak terbelah alami (megar, Jw) di tengah atau di bagian bawah. Keretakan itu menyebabkan pada bilah terdapat celah membujur. Secara teknis, pamengkang jagad disinyalir terjadi karena pada waktu penempaan membuat saton, suhunya kurang sesuai (kurang tinggi), dengan begitu ada bagian-bagian antara besi dan lapisan pamor yang tidak bisa menyatu atau menempel dengan erat satu sama lain. Dan ketika keris tersebut disepuh (quenching), ikatan penempelan antara besi dan pamor terlepas, sehingga keris itu terbelah/retak.

Meski sebagian pecinta keris eksoteri (menyangkut garap luar) ada yang beranggapan bahwa keris Pamengkang Jagad merupakan keris yang bisa dianggap gagal, tapi oleh para “pecinta esoteri” keris di Nusantara bahkan pecinta keris di Sabah, Serawak, Brunai dan Semenanjung Malaya pada umumnya justru menyukai keris yang bilahnya retak ini, karena dipercaya tuahnya justru menjadi semakin kuat.

MAS KEMAMBANG, atau maskumambang adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, dianjurkan memiliki keris yang ganjanya berpamor mas kumambang ini.

TENTANG TANGGUH, Terlepas dari Pamengkang Jagad-nya, yang bisa dianggap sebagai sebuah kekurangan namun bisa juga disyukuri sebagai berkah tersendiri dari Yang Maha Kuasa. Keris ini menampilkan pembawaan yang prasaja. Bilahnya lebar, tipis dengan korosi alami di sepanjang sisi tajam bilahnya. Sandangannya juga masih khas dusun, bawaan sebelumnya. Selain itu, pesi pada keris model untiran pun banyak dicari pemburu esoteri karna dianggap dibuat bukan oleh sembarang Empu. Tercatat Empu-empu mumpuni seperti Ni Mbok Sombro, Jaka Sura, Supadriya, Kyai Guling Mataram bahkan hingga kini Empu Ngadeni di Gunung Kidul masih menyertakan pesi berbentuk puntiran pada keris/tombak yang dibabarnya.

pesi untiran

PAMOR PANDITA BALA PANDITA, membahas pamor Pandita Bala Pandita seolah otomatis membahas tiga (3) pamor lain, yakni pamor Ujung Gunung, Junjung Derajad dan Raja Abala Raja. Secara umum keempat pamor tersebut memiliki tampilan yang mirip berupa garis-garis yang menyudut. Bedanya untuk pamor Ujung Gunung, kaki garis-garis sudut itu menerjang tepian bilah. Pada pamor Raja Abala Raja, memang mirip Ujung Gunung, tapi bagian-bagian garis yang bertemu dan membuat sudut tersebut mengelompok/ada di beberapa tempat, seperti di bagian sor-soran, tengah-tengah, maupun ujung bilah (tidak sampai menerjang tepi bilah). Sedangkan untuk pamor junjung derajad, serupa benar dengan pamor Raja Abala Raja tetapi pamor tersebut berhenti sekitar pertengahan bilah, kemudian di atasnya terdapat pamor lain. Dan untuk Pandita Bala Pandita sendiri ujung-ujung dari pertemuan garis menyudut itu semuanya bertemu pada ujung bilah keris.

Arti nama Pandita Bala Pandita adalah pendeta berpasukan pendeta. Kata Pandita berasal dari bahasa Sansekerta Dalam Bhagawadgita Bab IV. 19 dikatakan bahwa yang disebut dengan Pandita adalah manusia yang tidak memiliki keterikatan terhadap benda keduniawian. “Yasya sarve samarambhah, kamasamkalpavarjitah, jnanagnidagdhakarmanam, tam ahuh panditham budhah”. Terjemahannya: “Ia yang segala perbuatannya tidak terikat oleh angan-angan akan hasilnya dan ia yang kepercayaannya dinyalakan oleh api pengetahuan, diberi gelar Pandita oleh orang-orang yang bijaksana”. Yang termasuk kelompok ini, antara lain Pedanda, Bujangga, Maharsi, Bhagavan, Empu, Kiai, Rohaniawan dan sebagainya, yang  merupakan golongan paling dihormati (kasta tertinggi).  Pandita biasanya tidak terlepas dari kehidupan Raja. Pandita pada umumnya bertugas sebagai penasehat Raja (Purohito). Bahkan dikatakan bahwa Raja tanpa Pandita lemah, Pandita tanpa Raja akan musnah. 

Pada perang Jawa (awal 1826), konsep Pandita Bala Pandita ternyata dipakai untuk menata pasukan Diponegoro, dimana tiap kesatuan diberi nama, yaitu :

  1. Pasukan Bulkio yang terdiri dari para Ulama dan para santri dengan melakukan perang sabil. Kepala pasukan Bulkio diberi gelar Basyah, yang diambil dari bahasa Turki Pasya. Prajurit-prajuritnya memakai pakaian seragam jubah dan sorban. Warnanya tidak sama, menurut pasukannya masing-masing.
  2. Pasukan Turkio, yang terdiri dari para bangsawan, Bupati, Adipati, priyayi dan masyarakat umum
  3. Pasukan Arkio, yang terdiri dari para wanita dan pemudi dalam segala lapisan.

Ditinjau dari segi tuah atau angsar, sesuai dengan namanya paling cocok dimiliki oleh para rohaniawan atau mereka yang menekuni dunia spiritual agar mampu menerima getaran-getaran gaib, memiliki mata batin dan dapat memancarkan kewibawaan rohani, serta dapat mewujudkan ketenangan dan penuh welas asih yang di sertai kemurnian lahir dan batin dalam mengamalkan ajaran agama. Selain itu menurut sebagian pecinta keris menyebabkan sang pemilik dipercaya orang, perkataannya diugemi (didengar), sehingga mudah untuk mencari murid atau pengikut. Namun pamor ini tergolong sangat pemilih. Mereka yang terkadang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. khususnya malima, sebaiknya tidak usah menyimpan keris berpamor Pandita Bala Pandita.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *