Mahar : 2.000,000,- (TERMAHAR) Tn. US, Grogol Jakarta Barat
1. Kode : GKO-339
2. Dhapur : Kujang Ciung
3. Pamor : Nggajih
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1672/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Bojonegoro
7. Dimensi : panjang bilah 16,8 cm, panjang pesi 5,2 cm, panjang total 22 cm
8. Keterangan Lain : sarangka dusun, sudah diwarangi
ULASAN :
KUJANG CIUNG, adalah salah satu bentuk kujang yang memiliki waruga (bilah) seperti paruh burung Ciung (sejenis burung Bincarung, melambangkan makhluk dunia atas), adalah burung dengan rupa yang elok yang memiliki paruh panjang dan lancip, warna bulu yang merah, lincah dalam gerak dan gagah apabila sedang bertengger di dahan pohon, lincah dalam gerak, serta nyaring ketika berkicau. Burung Ciung bagi masyarakat Sunda dianggap sebagai simbol pencitraan yang positif, sehingga dalam Pantun Bogor kujang ini dituturkan sebagai senjata para Bangsawan yang berkedudukan paling tinggi, yaitu sebagai Raja, Prabu Anom, dan Pendeta Agung Kerajaan (Brahmesta). Nama raja besar Sunda yang sangat termashur adalah Prabu Ciung Wanara. Penamaan Ciung bertalian dengan keberadaan burung Ciung ketika itu dimana sifat-sifat nature burung Ciung tersebut merupakan cerminan kecerdasan, pandai berdiplomasi, dan rupawan.
Kujang Ciung merupakan salah satu jenis kujang yang paling khas dan paling populer atau banyak ditemukan dengan berbagai variasi bentuk hampir di seluruh wilayah Pasundan, bahkan juga banyak dijumpai di sepanjang pulau Jawa, Madura hingga ke Bali dan Lombok. Varian-varian tersebut apabila dicermati masih tetap mengacu pada struktur dua sabit yang saling membelakangi, hanya saja pada bagian tertentu ada yang lebih tipis atau ada yang lebih lebar. Pola Dasar Bentuk Struktur Kujang Ciung adalah Sabit pada bagian atas membentuk congo atau papatuk yang merupakan ujung atau bagian yang paling runcing pada kujang ciung. Ujung sabit atas yang melengkung ke bawah membentuk siih. Sabit Pada bagian bawah membentuk waruga (badan) sampai ke tadah kujang. Dua sabit tersebut saling membelakangi untuk membuat keseimbangan bentuk.
MATA/LUBANG KUJANG, adalah lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisanya berupa lubang lubang kecil. Kegunaannya sebagai lambang kedudukan status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
Dalam tradisi prepantun Bogor (Ki Panjak) mengenal adanya Mata kujang yang melambangkan Mandala atau Dunia atau Alam yang akan dilalui manusia sejak di dunia fana hingga alam baka, yaitu Mandala Kasungka, Mandala Permana, Mandala Karma, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Mandala Jati, Mandala Samar dan Mandala Agung.
Kujang berdasarkan mata atau lubang dan artinya :
- Mandala Agung, bermata sembilan. Adakalanya dipanggil medal. Biasanya pemegangnya adalah Raja Bramestha dan Pandita agung.
- Mandala Samar, Bermata delapan. Adakalanya disebut ngajadi.
- Jati Mandala, Bermata tujuh. Adakalanya disebut malik. Biasanya pemegangnya Prabu anom, Mantri dangka (Perdana Menteri) dan pandita.
- Mandala Suda, Bermata enam. Adakalanya disebut usik.
- Mandala Seba, bermata lima. Adakalnya disebut mangrupa. Biasanya pemegangnya adalah seorang Bupati, Geurag serat, gerang Puun.
- Mandala Rasa biasa disebut wesi kuning, bermata empat. Adakalanya disebut gumelar. Pemegangnya para putri menak keraton.
- Mandala Karna, bermata tiga. Adakalanya disebut gumulung. Pemegangnya para Puun.
- Mandala Permana. bermata dua. Adakalanya disebut lumenggang.
- Mandala Kasungka, bermata satu. Adakalanya disebut ngaherang. Pemegangnya para guru tangtu Agama.
Disukai maupun tidak disukai, eksistensi keberadaan kujang memang kalah jika dibandingkan tosan aji lain misal keris dan tombak. Kujang pada masanya pernah menjadi simbol kedaulatan dan kejayaan sebuah negara bernama Kerajaan Pajajaran. Bendera Pajajaran yang berwarna hitam putih bersulamkan gambar kujang, juga diberitakan dalam kisah serial Pantun Bogor (Umbul-umbul Pajajaran hideung sawaréhbodas sawaréh disulaman kujang jeung pakujajar nu lalayanan) seolah ikut tenggelam ketika negara Pajajaran mulai runtuh setelah tahun 1579 Masehi. Pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran, orang-orang terdahulu pun akhirnya ikut menyimpan dan menyembunyikan kujang. Bahkan, sejak saat itu pula kujang tidak pernah muncul dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial. Kujang pun jarang dipertontonkan karena (Pajajaran) sudah tidak “daulat” lagi. Itulah kenapa kujang seolah jarang ditemukan atau senyap keberadaannya (sinengker).
Kujang Ciung ini memiliki rericikan siih (mata) sebanyak empat buah, tiga buah pada bagian tonggong dan satu buah lainnya pada bagian beuteng (pangkal congo) yang sudah terkorosi sehingga memunculkan bentuk lubang yang tidak sempurna lagi. Kujang ini juga dilengkapi dengan rericikan gigi/rigi pada bagian tonggong-nya. Pada bagian pangkal bilah juga dilengkapi rericikan taji. Bilah kujang Ciung ini setelah kami warangi memiliki tampilan pamor yang cukup kontras yang menunjukkan dibuat dari jenis biji/pasir besi yang banyak mengandung nikel (Ni) dan kristal kuarsa (SiO2). Selain itu bilah kujang ini sangat ringan, keras, dan liat yang menunjukkan dibuat dalam tempaan yang matang. Warangka yang ada berupa sken yang terbuat dari kayu dilapis kulit, vintage khas tosan aji-tosan aji yang diperoleh dari pelosok desa.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————












