Harga : 850,000,- (TERJUAL) Tn. J, Bandung
- Perabot : Hulu dan mendak
- Model : Bung Karno
- Bahan : Kayu
- Dimensi : Tinggi 11,5 cm, lebar atas 2,5 cm, lebar tengah 3,5 lebar bawah 2 cm
- Keterangan Lain : lawas, unik
Ulasan :
BUNG KARNO DAN SEMIOTIKA PECI, Siapa tak kenal Bapak Proklamator Indonesia? Satu hal yang rasanya selalu identik dan lekat dari penampilan seorang Sukarno, adalah peci hitamnya. Pada pertemuan Jong Java tahun 1921, Bung Karno datang memakai peci dan mendeklarasikan peci sebagai penutup kepala sebagai simbol pemersatu bangsa dari semua kalangan. Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci hitam, seperti dituturkannya dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Soekarno menyebut peci sebagai ciri khas dirinya dan simbol nasionalisme. Sejak itu, Soekarno hampir selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan publik. Seperti yang dia lakukan saat membacakan peldoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930. Dan peci kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual. Peci yang sebelumnya disepakati secara sosial sebagai penutup kepala saat beribadah atau berhari raya, dan orang yang memakai peci akan dianggap orang yang rapi, suci dan ramah, serta taat beribadah, artinya dia adalah sosok yang bisa dipercaya sudah dikonversi untuk berbagai kepentingan seperti diplomasi. Pemilihan warna hitam juga ada alasannya sendiri, yaitu karena terinspirasi dari salah satu penguasa negara di Eropa yang menjadikan warna hitam sebagai simbol kekuasaan, keberhasilan, juga kedisiplinan. Kemudian, warna hitam ini diubah Bung Karno sebagai simbol solidaritas, egaliter, dan juga simbol perjuangan bangsa yang tertindas.
CATATAN GRIYOKULO, meski diukir secara sederhana (primitif) namun seolah hidup menampilkan figur tegap setengah badan seorang pemimpin yang gagah, tenang berwibawa lengkap menggunakan peci di kepalanya mirip Sukarno muda (Bung Karno). Bisa saja hulu ini dulunya dimiliki oleh seseorang dari daerah yang menganut paham Marhaenisme. Hulu ini juga masih dilengkapi dengan mendak bawaan sebelumnya yang terbuat dari kuningan dengan patina yang mengendap di permukaan hasil campur tangan sang waktu. Terdapat retak rambut alami sepanjang 2,5 cm pada bagian dada tengah dan bentuk hidung sisi kanan yang kurang sempurna lagi. Disebut retak rambut karena garis/celahnya tipis sekali mirip sehelai rambut. Secara keseluruhan masih dalam kondisi baik yang bisa diterima. Hulu kontemporer/kalawijan selain antik dan unik juga jarang ada duanya ini sangat cocok dipajang sebagai hiasan maupun disematkan pada pusaka klangenan Anda, terlebih jika Panjenengan seorang Nasionalis sejati.
Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com
————————————







