Keris Tindih Temuan Segaluh

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000,000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen – Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-345
2. Dhapur : Carubuk (Sempono Luk 7?)
3. Pamor : Adeg Wengkon/Tejo Kinurung (Janur Sinebit?)
4. Tangguh : Segaluh (Abad XIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 93/MP.TMII/I/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Sungai Musi
7. Dimensi : panjang bilah 37 cm, panjang pesi ? cm, panjang total ? cm
8. Keterangan Lain : kolektor item, hulu dan mendak masih asli melekat


ULASAN :

CARUBUK, adalahsalah satu bentuk keris luk tujuh. Ukuran panjang bilahnya sedang, biasanya nglimpa, tanpa ada-ada. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah satu, selain itu memakai sraweyan dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Menurut cerita rakyat, bentuk keris dhapur Carubuk dibabar oleh Empu Supo Anom alias Jaka Supa atas pesanan Kanjeng Sunan Kali Jaga dan menjadi piandel ampuh kagila-gila Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada masa itu, karna jika sampai tersentuh kulit akan berujung kematian. Tapi menurut Serat Centhini, dhapur Carubuk diciptakan Empu Mayang pada zaman pemerintahan Prabu Dwastaratha (Tahun Jawa 725), raja Astina dalam pewayangan. Tak heran bagi sebagian pecinta keris, dhapur Carubuk baik dimiliki oleh mereka yang berkecimpung di bidang agama dan ilmu kebatinan atau spiritual.

FILOSOFI  LUK TUJUH, dalam tradisi Sunda kita mengenal berbagai legenda dan juga kisah mistik yang menggambarkan upaya orang Sunda untuk meraih kesejatian hidup dan keutaman hidup. Salah satu rawayan (jalan keruhanian) ada dalam sebuah cerita legenda yang sangat terkenal yakni Kisah Mundinglaya Dikusumah yang diutus Prabu Siliwangi menyusuri Ci Liwung untuk mencari jimat Layang Salaka Domas di Jabaning Langit supaya membuat kerajaan kembali tentram dan tenang terhindar dari permusuhan antar saudara. Kisah ini juga mengharuskan Mundinglaya mengalahkan Raja Siluman yang bernama Guriang Tujuh.

Tempat seseorang dapat mencapai sajabaning langit untuk meraih salaka domas mengalahkan hasrat diri yang sesat dan nafsu yang menyimpang dalam cerita Sunda dilambangkan dengan guriang tujuh. Guriah Tujuh melambangkan ketertarikan duniawi (harta benda dan kekuasaan) yang menghalalkan segala cara atau godaan yang menawarkan kesenangan sesaat dan mengorbankan kehidupan akhirat yang lebih abadi. Guriang tujuh atawa Jongrang Kala Pitu atau 7 Raksasa / Sifat Raksasa yang harus ditaklukan oleh diri kita sendiri mewujud saat ini dalam bentuk-bentuk :

  1. Rasa Takut: Takut dihina, takut gagal, takut mencoba, dll.
  2. Rasa Malu: Malu jujur, malu hidup sederhana, gengsi dll.
  3. Rasa Serakah: Ego, ingin memiliki, ingin menguasai, ingin menduduki, dll.
  4. Rasa Benci: Iri hati, dengki, tidak suka, kecewa, dll.
  5. Bohong: Dusta, tidak amanah, tidak komit, korupsi, ingkar janji, dll.
  6. Delusi: Merasa paling benar sendiri, fanatisme berlebihan. dll
  7. Memberhalakan dunaiwi:  Hedonisme, konsumtif, dll

Kemenangan diraih setelah bisa mengalahkan tujuh (7) Sifat Raksasa yang destrtuktif, maka akan menjadi Maung – manusia yang unggul, Satriya Pinandita atau Sang Budak Angon yang tanpa tanding, ora kena lara, ora kena pati. Tidak bisa sakit karena rasa sakit adanya di dalam hati – yang jika bisa ditaklukan maka tidak akan pernah merasa sakit hati. Kalau kita memiliki cinta kasih kita akan mudah memaafkan orang lain. Tidak Pernah Mati bukan berarti tidak mati fisiknya, karna jasad tetap akan kembali ke tanah, dari debu kembali ke debu. Yang tidak mati adalah nama baik-nya. Kebaikan kepada keluarga, sahabatnya, lingkungan sekitar dan kepada bangsa dan negerinya. Seperti wangsit Prabu Siliwangi dimana yang ditinggalkan jejaknya hanyalah harum mewangi. Bukanlah harum bau melati secara mistis, melainkan sebuah “nama harum” karena jasa dan kebaikannya yang akan selalu diingat.

TANGGUH SEGALUH, Jika dirunut dari Serat Centhini hingga Serat Panangguhing Duwung memang tidak diketemukan tangguh Segaluh. Namun jika kita membuka buku Ensklopedi Keris (2004) karangan Bambang Harsrinuksmo, tangguh Segaluh justru disebutkan paling awal diantara 20 tangguh yang lain. Lebih lanjut mengenai tangguh Segaluh: mempunyai pasikutan kaku tetapi luruh. Besinya terkesan kering, warnanya hitam pucat kehijauan. Pamornya kelem. Panjang bilahnya bermacam-macam, ada yang panjang, ada pula yang pendek. Gandik-nya maju ke depan, sehingga ganjanya selalu panjang. Dalam Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar karangan Haryono Haryoguritno (2006), tangguh Segaluh justru dimasukkan dalam tangguh sepuh sanget setelah era Jenggala dan Kediri, tahun Masehi 800-1200 (lihat tabel).

tabel penangguhan keris menurut Haryono Haryoguritno

PARA MPU ZAMAN PAJAJARAN SIGALUH, Koesni (1979) dalam bukunya yang berjudul Pakem Pengetahuan Tentang Keris mencatat nama Empu yang hidup di jaman Pajajaran Sigaluh, antara lain :

Mpu Anjani adalah semula kawulanegara Pajajaran Makukuhan, tetapi pindah ke negeri Sigaluh, sebab sang Empu ini oleh Raja Pajajaran disangkakan akan mencintai putri selir Prabu Permanadikesuma. Walau pada akhirnya raja Pajajaran tersebut meminta maaf atas kekeliruannya, namum Mpu ini terlanjur meninggalkan negeri tersebut dan mengabdi di negeri Sigaluh. Kejadian ini sekitar tahun ± 1150 M. Karyanya berupa dua (2) keris yang bernama Kyai Blarakijo dan Kyai Blabak.

Mpu Maja dan Mpu Omayi adalah pasangan suami-istri yang hidup pada zaman Sigaluh juga. Keduanya banyak membuat keris-keris pusaka, hanya sayangnya karya-karyanya tidak disebutkan dhapur maupun nama gelarnya.

PENYEBARAN KERIS DARI JAWA KE SUMATERA (ERA SUNDA), data-data arkeologis menunjukkan bahwa hubungan Jawa dan Sumatera telah terjalin dengan baik pada era Sriwijaya di Sumatera atau era Sunda di Jawa Barat pada kisaran abad ke-7 s.d. abad ke-12. Berdasarkan penelusuran sejarah, persebaran budaya keris Jawa ke Sumatera terjadi dalam beberapa era (sejak era Sriwijaya hingga era Palembang) dan tidak melalui satu daerah/pintu saja. Pintu masuk budaya keris antara lain melalui Jambi, Lampung, Palembang, Minangkabau dan daerah-daerah lainnya. Bila dicermati keris-keris di daerah Lampung sangat kental dengan dengan nuansa keris dari Jawa namun semakin ke arah dalam pulau seperti Palembang, Minangkabau, Pekanbaru, dan Gayo pengaruh tersebut (keris jawa) mulai memudar. Demikian pula pengaruh keris Bugis (Sulawesi) terasa sangat kuat di Semenanjung Malaya, Tanjung Pinang, Riau dan semakin memudar pengaruhnya di daerah Minangkabau, Palembang, Jambi dan Lampung. Sedangkan pertemuan arus keris Jawa dan keris Sulawesi tampak terjadi di Palembang. Minangkabau, dan Jambi.

Artefak keris Sunda banyak ditemukan dan dijumpai di berbagai wilayah Pulau Sumatera terutama di Jambi dan Sumatera Barat khususnya Minangkabau, serta Palembang, Lampung dan Riau. Manuskrip Sejarah Empu mencatat pada masa Sunda Pajajaran terdapat seorang Empu yang bernama Sanggabumi yang berdasarkan beberapa naskah paduwungan merupakan putra tertua dari Mpuni Mbok Sombro, yang hijrah ke barat dan mengembangkan ilmu perkerisan ke wilayah Sumatera dan menetap di Minangkabau. Pada era yang sama juga terdapat catatan bahwa keris buatan Mpu Puthu Galuh yakni Kyai Bango Mampang raib, tiba-tiba terdapat di Keraton Sriwijaya. Hal menarik lainnya adalah hingga kini ada pengakuan oleh para pande besi di sepanjang pulau Sumatera yang meyakini dan menganggap diri mereka merupakan keturunan Mpu Nyi Sombro dari Sunda (Yuwono, 2016: 23).

GONJO IRAS, atau gonjo janggelan, atau di daerah Riau, Kalimantan Barat dan Malaysia sebagian menyebutnya dengan istilah ganja menumpu, adalah sebutan bagi gonjo keris yang menyatu dengan bilahnya. Pada keris dengan gonjo iras, batas antara bagian sor-soran bilah keris dengan ganja-nya hanya berupa guratan/goresan dangkal. Jika umumnya keris dengan gonjo iras banyak diketemukan pada bilah lurus seperti misalnya sombro atau keris sajen dan umumnya dengan kualitas garap kurang baik, adalah sebuah kelangkaan sendiri kita masih bisa menemuinya pada bilah berkelok (luk) dengan kualitas tempa dan bahan yang baik.

PAMOR ADEG WENGKON, adalah salah satu motif  pamor yang sebenarnya merupakan perpaduan antara Sada Saler dengan pamor Wengkon. Ada juga yang menyebut pamor ini Adeg Tiga atau Tejo Kinurung, dimana pada dasarnya seluruh tepi bilah keris dilingkari dengan gambaran pamor yang menyerupai tepi bingkai, sedangkan di tengahnya ada pamor yang menyerupai garis membelah dua sisi.

Menjelang Pilkada  keris-keris dhapur atau pamor dengan taksu ‘pendongkrak kepemimpinan’ (bakal calon) dan ‘penguat kekuasaan’ (incumbent) biasanya banyak dicari sebagai ‘cekelan’ (pegangan) bagi mereka yang mempunyai hajat dalam dunia politik. Jawabannya mungkin ada pada keris luk 13 seperti ‘sengkelat’ atau mungkin ‘parungsari’ untuk nama dhapur-nya atau bisa juga ‘tejo kinurung’ atau ‘raja abala raja’ untuk jenis pamornya. Sebagian pecinta keris mempercayai bahwa pamor tejo kinurung memiliki tuah yang baik terutama bagi mereka yang bekerja untuk negara atau di dalam pemerintahan. Itulah sebabnya banyak pejabat yang memiliki keris dengan pamor seperti ini sebagai ‘piyandel’ penguat batin dan penjagaan diri. Dari beberapa sample keris-keris temuan sepertinya pamor Adeg Wengkon atau Tejo Kinurung sudah ada mulai jaman Purwacarita. Bahkan beberapa catatan kuno juga menyebutkan pamor Adeg Wengkon menjadi pilihan sang Raja Surakarta (Sunan PB IV) ketika membabar pusaka luk 13 dhapur Parungsari dengan panjang bilah ± 60 cm, lebar bilah bagian bawah ± 8 cm dan panjang ganjanya ± 13 cm kepada Mpu Brajaguna dengan ciri garis tepen berbentuk pamor mlumah dan garis sada sakler pamor miring (sumber : Buku Sunan Sugih, Paguyuban Darah Dalem PB.V Surakarta oleh R.M Soemantri Soemosapoetro).

 

beberapa keris temuan dengan pamor tejo kinurung yang diperkirakan berasal dari tangguh purwacarita dan singasari

KERIS TINDIH, adalah konsep spiritual bagi keris yang tentu saja banyak diyakini mempunyai tuah yang baik bagi para kolektor tosan aji. Di kalangan para koletor tosan aji, sering ada anggapan bahwa diantara keris koleksinya mungkin ada yang tidak cocok (kurang/tidak bisa menyatu) dengan dirinya atau mempunyai pengaruh (energi/tuah) kurang baik. Walau demikian, ia merasa sayang untuk melarung atau melepasnya. Untuk menetralkan atau meredam pengaruh negatif atau kurang baik dari keris-keris tersebut, biasanya para kolektor memiliki apa yang dinamakan keris tindih. Keris ini dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat “menindih” segala pengaruh buruk dari keris lain yang ditakutkan berimbas negatif, baik bagi pemiliknya maupun keluarga sekitarnya. Dengan memiliki satu atau beberapa buah keris tindih, dipercaya akan memberikan ruang nyaman dan sisi yang lebih aman bagi sang pemilik.

kondisi keris temuan yang sudah hampir bersih dari endapan, sayang kondisi awal ketika ditemukan tidak sempat diabadikan

Dari beberapa keris temuan yang ada di Griyokulo, keris ini merupakan sebuah artefak yang dapat “diselamatkan” dalam keadaan “cukup utuh” setelah melewati proses pembersihan endapan patina. Pantas saja keris-keris temuan memiliki penggemar fanatiknya tersendiri, karena rasa memang tidak bisa membohongi. Sedari dalam kondisi kotor hingga selesai dilakukan pewarangan ada sebuah daya pikat tersendiri dan energi mahanani yang mengalir begitu menghipnotis jika menantingnya. Terlebih panjang bilah 37 cm dengan lebar gonjo 9 cm memberikan dedeg unik tersendiri. Dan patut diduga pada bagian wuwungan (bagian ganja yang terlihat dari luar ketika bilah disarungkan) dulunya merupakan eks kinatah, karena masih dapat terlihat (sedikit) guratan-guratan sulur-sulur bunga di bagian ekor cicak. Dan memang penulis sempat melihat sedikit warna kekuningan (njlarit tipis 1 mm), hanya sayangnya tidak sempat diabadikan gambarnya, dan ketika usai dibersihkan dan hendak diwarangi ternyata sudah tidak ditemukan lagi (rontok).

guratan sulur-sulur eks kinatah masih bisa secara samar terlihat
posisi hulu putri malu (balu keabun) yang terbalik? sehingga bagian muka justru menghadap ke arah dalam/belakang

Penampakan Luk 7 nya yang agak samun juga masih meliuk indah. Bagian ricikan lain seperti sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan dan eri pandan juga masih bisa terbaca dengan tegas. Hanya saja memang bagian pamornya sudah tidak menampilkan garis-garis yang menyambung. Namun begitu tetaplah ada berkah tersendiri keris ini masih menyisakan bagian mendak (perunggu?) dan hulu balu mekambun/putri malu/topengan polos asli sebelumnya. Dengan berat total 235 gr, kemungkinan bagian hulu bisa memenuhi kuota 100 gr jika suatu saat pemilik berniat melakukan uji karbon untuk mengetahui perkiraan usia. Warangka sampir kabau/kepala kerbau (turunan warangka sari bulan) sengaja dibuat sendiri dari bahan kayu jati untuk menyesuaikan bentuk hulu yang tertinggal.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

  1. ————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *