Keris Pamor Miring Majapahit

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Ibu. T, Bandung


1. Kode : GKO-346
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Blarak Sinered (Dwi Warno Blarak Sinered + Lar Gangsir?)
4. Tangguh : Majapahit (Abad XIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 94/MP.TMII/I/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Pekalongan, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 29 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 35 cm
8. Keterangan Lain : warangka baru


ULASAN :

BROJOL, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang sangat sederhana tanpa ricikan apapun hanya pejetan atau blumbangan. Dhapur ini sangat populer dan bisa ditemukan di setiap tangguh.

Brojol makna karêpkita | muradipun ingkang sampun kawijil | rasa kang bisa sirèku | anggêmèni wicara | sadurunge kawêtu sinukmèng kalbu | aja lunyu ing pangucap | lunyu lonyot angacuwis ||……. Serat Centhini

FILOSOFI, bentuk brojol maknanya adalah kehendak kita, yakni apa yang telah dikeluarkan. Jadi hendaknya kita selalu hati-hati dan cermat dalam berbicara. Sebelum berbicara hendaknya apa yang kita bicarakan itu diresapi dahulu dalam hati. Jangan mudah mengucapkan kata-kata yang sulit dipegang atau nantinya akan di cap orang lain tidak bisa dipercaya.

Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut, dua telinga dan dua mata, maksudnya supaya kita bisa lebih banyak mendengar dan melihat daripada bicara. Anteng, meneng, jatmika adalah sikap ksatria Jawa yang ada kaitan dengan bicara adalah perak dan diam adalah emas. Ajining raga dumunung ana ing busana, ajining dhiri sumunung ana ing lati, menunjukkan bahwa raga fisik dinilai dari busana yang kita kenakan tetapi nilai dari diri kita ada pada ucapan-ucapan kita. Dalam peribahasa Indonesia kita juga mengenal ungkapan “berjalan peliharalah kaki, berbicara peliharalah lidah”. Hati-hatilah dalam bicara karena mulut kita pun suatu saat bisa mencelakakan diri kita sesuai dengan peribahasa “Mulutmu Harimau mu”.

TANGGUH MAJAPAHIT, Daripada memiliki banyak keris/tombak, lebih baik hanya memiliki sebilah keris/tombak Majapahit. Itulah pepatah guyonan di kalangan kolektor perkerisan yang tentu saja terlalu menyangatkan atau memberi bobot berlebihan pada keris tangguh Majapahit. Namun dalam kalimat bernada bercanda itu, ada makna lain yang mengandung kebenaran, Koleksi keris/tombak seorang kolektor baru bisa dikatakan lengkap bila sudah memiliki tangguh Majapahit – yang dianggap sebagai pancer atau panutan/masterpiece bentuk keris zaman sesudahnya. Tangguh Majapahit mempunyai ciri-ciri antara lain sebagai berikut :

Tanting : enteng, karena bilahnya tipis
Besi : padat, semu nglei, tidak gampang keropos
Pamor : kebanyakan tidak abyor, sebagian besar di bagian odo-odo karena sap-sapan pamor cuman dua bekukan atau 16 sap, karenanya di bagian kruwingan pamornya habis
Baja : sedikit, karenanya keris Majapahit bila diurut rasanya empuk, tidak terasa keras
Bilah : sedang tidak besar, tidak kecil, tipis kebanyakan memakai odo-odo. Bila keris Majapahit bilahnya ada yang anglimpa, menjalin, wanda-nya metenteng berani, itu adalah buaan Empu Djigdja putra Tapan, yaitu Singkir
Gonjo : agak pendek, sirah cecak lancip gulu meled sedang tidak pendek maupun panjang. Keris buatan Empu Supa gonjo bregas (gagah), gendok (waduk) besar, sebit rontal, buntut urang mbuweg, wuwug agak mulu (mendungkul)
Gandik : besar, nglatak, jalen memotong gandik, tetapi itu keris Majapahit yang praja
Pejetan : agak sempit, sedikit mbata ngadeg dalam (batu bata berdiri)
Sogokan : gagah, luwes, dalam, ngendil, tidak berpamor. Tetapi untuk keris Majapahit tua, sogokannya agak panjang, terbawa cengkok Pajajaran
Odo-odo : ndering, tepiannya agak tajam
Kruwingan : dalam, bregas/gagah, terlebih buatan Pangeran Sendang, kruwingan-nya sampai hampir tembus sebaliknya
Luk : bregas, sedang, tidak kemba
Wadidang : luwes, sekar kacangnya pantas

Kesan besi dan pamor Majapahit akan dapat langsung dirasakan ketika menanting pusaka ini. Tantingannya yang sangat ringan, perawakannya yang ramping, terlebih besi yang berserat halus kebiruan semakin menegaskan trah Wilwatikta-nya. Untuk pamornya sendiri jika kita perhatikan pada bagian depan hanya tersisa 20-25 persen saja sedangkan pada sisi sebaliknya masih bisa beruntung untuk disyukuri karena menyisakan 60-70 persen ke-praja-an-nya di masa lalu. Warangka branggah yang ada sudah diganti dengan warangka baru, untuk mendak dan pendok yang ada lebih lawas daripada warangkanya. Keris-keris yang berasal dari tangguh Wilawatikta ini banyak menjadi incaran banyak kolektor karena dianggap mempunyai perpaduan “garap dan isi” yang menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang pas. Material logam dan garap tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar esoteri di atas rata-rata tangguh lainnya.

DWI WARNO, dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa merupakan istilah untuk menunjuk keris yang pada satu sisi bilahnya memiliki dua macam motif pamor yang berlainan. Misalnya, pada pangkal hingga ke bagian pertengahan keris ini terdapat motif pamor yang menyerupai sayap jangkrik, atau disebut lar gangsir, sedangkan di bagian pertengahan ke atas menampilkan motif garis-garis miring yang lebih tegas/lurus, atau biasanya dinamakan pamor balrak sineret. Pada pamor dwi warno, kedua pamor yang berbeda itu dibatasi oleh besi tanpa pamor antara 5 mm sampai 25 mm. Atau jika kedua pamor itu menyambung, batas antara kedua pamor itu harus cukup kontras. Penyebutan yang hampir mirip dengan pamor Dwi Warno adalah pamor Slewah, bedanya pada pamor slewah mempunyai gambaran pamor yang berbeda sisi depan dan belakangnya.

PAMOR LAR GANGSIR, Sesuai dengan namanya Lar = sayap dan Gangsir = sejenis jangkrik besar (brachytrypes portentosus), adalah motif pamor unik dimana goresan garis pamornya tampak rumit, lipatan dan puntiran menghasilkan pola nginden yang cantik mirip morfologi umum ruas-ruas sayap jangkrik gangsir. Bagi mereka yang percaya, pamor lar gangsir mempunyai tuah yang dapat menjaga pemiliknya.

Sebuah pamor dipercaya tidak hanya sebagai suatu karya yang berfungsi hiasan bilah semata, tetapi diyakini mempunyai muatan spiritual juga memuat ajaran-ajaran hidup. Konon Lar Gangsir = Gelar Ageman Siro, mengandung sebuah ajaran makrifat Sunan kalijaga, yang memiliki makna bahwa gelar atau jabatan pangkat, ketenaran, kekayaan, kecantikan dan ketampanan dan lain sebagainya di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian yang bisa dikenakan dan ditanggalkan. Tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa yang suatu saat pasti akan dimintaNya kembali. Karena pada dasarnya ketika manusia lahir ke dunia tidak membawa apa-apa, demikian juga nantinya ketika menghadap kepada Penciptanya.

PAMOR BLARAK SINERED/NGIRID, Ada yang menyebutnya  dengan istilah blarak ngirit. Bentuk gambaran pamor blarak sinered serupa dengan daun kelapa (blarak, Jw), lengkap dengan pelepahnya. “Blarak” adalah bahasa Jawa dari “daun kelapa tua” karena daun kelapa muda disebut “janur”. “Sineret” adalah sebuah phrase dalam bahasa Jawa yang berakar kata “seret”. Kata “Sineret” merupakan bentuk jamak dari kata “seret” yang bisa disederhanakan-arti sebagai “diseret-seret”. Begitu juga Ngirid artinya nggered (menarik). Konsep pamor ini adalah pengejawantahan dari “daun kelapa yang diseret-seret”. Konsep ini diserap dari kehidupan di daerah pesisir yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Konon, anak-anak jaman dahulu, karena tidak adanya alat permainan buatan pabrikan seperti sekarang, mereka sering menarik daun kelapa sambil bermain dan berlari-lari di pantai, sehingga terbentuk coretan-coretan yang unik di pasir. Mengandung filosofi yang menggambarkan bahwa pencapaian cita-cita perjuangan yakni “Kejayaan” adalah perjuangan atas nama kebersamaan, bukan individu pemimpin semata.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Keris Pamor Miring Majapahit

  1. Pemjelasan yang sangat baik, mudah dipahami dan tidak menandung hal hal yg menjerumuskan pada tindakan yg tidak masuk akal.
    Semoga berguna bagi semua umat manusia, terutama garis darah Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *