Keris Anoman Tangguh Pengging

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.500,000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-347
2. Dhapur : Anoman
3. Pamor : Tetesing Warih
4. Tangguh : Pengging (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 129/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Tasikmalaya, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 39 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka dan tangguh jarang ditemui


ULASAN :

ANOMAN, yang terkadang disebut Pandawa Anoman, dalam beberapa buku keris kuno ditulis Hanoman, adalah nama salah satu dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilah keris ini sedang. Dhapur keris Anoman memakai ricikan : kembang kacang, lambe gajah satu, memakai eri pandan, serta ciri yang paling khas mudah dikenali adalah sogokan rangkap yang memanjang dari bagian sor-soran hingga ke ujung bilah. Dhapur Anoman termasuk dhapur luk lima yang sangat langka. Menurut mitos atau dongeng Dhapur Anoman pertama kali dibabar oleh 800 Empu (domas) atas pemrakarsa Prabu Brawijaya wekasan pada tahun Jawa 1381.

Bentuk sogokan khas dari dhapur anoman yang memanjang ke atas pucuk

FILOSOFI, Anoman, sosok yang mungkin tidak asing lagi bagi kita sekalian. Meski dalam bentuk fisik seekor kera putih, namun pribadi yang dimilikinya layaknya manusia sempurna. Kisah kehidupan Anoman merupakan salah satu legenda ksatria yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Ia seolah-olah tidak pernah habis untuk selalu diceritakan, apalagi mengenai kebesaran dan keagungan pribadinya. 

Cobalah tengok ketika dengan sendirinya ia berani membumi-hanguskan Alengkadiraja (di negeri Alengka ini, segala bentuk kemungkaran dan kemunafikan tumbuh dengan subur. Sehingga jarang sekali ada nilai-nilai kebenaran disana). Tanpa berpikir panjang – bila ia merasa benar – maka Anoman pun langsung menawarkan diri menuju Alengka untuk menemukan keberadaan Dewi Sinta, istri Sri Rama yang diculik oleh Rahwana. Dan karena sikap kesatrianya inilah, maka ia pun menjadi panutan ikon kebenaran manusia di sepanjang sejarah dunia. Ia adalah seorang duta, panglima sekaligus pahlawan yang senantiasa berada di garis depan bila terdapat ketidakadilan dan keangkaramurkaan. Dimanapun ia berada, bila ada kebajikan yang memanggilnya, maka dengan segera ia akan menunaikan tugasnya tanpa pamrih. 

Namun, pada jaman-jaman ini kita saksikan bersama bahwa kebenaran seolah sangat sulit ditemukan. Keberadaanya dalam kehidupan sehari-hari mungkin sudah sirna entah kemana, sehingga terus membawa manusia berada di pinggir jurang kebobrokan. Tak dipungkiri lagi bahwa banyak manusia yang sudah tidak mau lagi memperjuangkan kebenaran. Sudah jarang ada orang yang mempertimbangkan moralitas dan akhlak terhadap tindakan yang telah, sedang dan akan mereka lakukan.  Bahkan, kebenaran itu telah menjadi sesuatu yang langka dan mahal harganya. Ia pun sudah tidak lagi terjangkau oleh kehidupan peradaban manusia modern.

Padahal jika kita mau sedikit untuk lebih bijaksana, kebenaran adalah keseimbangan antara pengetahuan yang benar dengan objek yang mengalir dalam kenyataan hidup sehari-hari. Ia lawan dari kekeliruan dan musuh dari nafsu binatang. Ya, berusaha untuk hidup secara benar adalah tantangan terbesar dalam menjalani kehidupan di dunia. Karena hidup benar sama halnya kita berperang dengan diri sendiri. Dalam diri manusia ada hati dan nafsu yang tidak bisa hidup bersama, jika hati kuat, nafsu mati, sebaliknya jika nafsu kuat maka hati mati. Dengan berjalan pada arah yang benar, maka secara otomatis seseorang tentu menyakini keberadaan Tuhan sehingga tidak akan berpaling dari-Nya. Cinta kasih akan terus mendiami relung hatinya, sehingga hidayah Ilahi tentu senantiasa menemaninya dalam kehidupan.

Untuk itu mari kita bercermin kepada sosok Anoman, sang pembela kebenaran. Meski ia ditakdirkan dengan kondisi fisik seekor kera putih, namun tindakannya melebihi manusia pada umumnya. Kemuliaan budi pekertinya layak di katakan agung, karena apa yang telah ia berikan bertolak belakang dengan seorang yang mengaku manusia tapi tindakannya tidak jauh berbeda dari seekor binatang. Orang yang sudah bersih seperti putihnya Anoman itu akan menjadi pribadi yang awas. Bukan awas matanya, tetapi awas hati nurani untuk dapat melihat kenyataan dan esensi dari segala eksistensi.

TANGGUH PENGGING, Membahas mengenai tangguh Pengging dalam dunia perkerisan setidaknya ada 2 (dua) era yang dimaksud yakni; pertama Era Pengging Hindu (Witaradya) sebelum Majapahit dan Era Pengging sejaman Islam Demak (Handayaningrat). Seperti halnya Madiun semasa kerajaan Pajang maupun setelah memasuki Era Mataram, maka Pengging di zaman kasultanan Demak Bintoro juga hanya merupakan sebuah Kadipaten, namun eksis dalam tangguh perkerisan. Bambang Harsrinuksmo dalam Buku Ensiklopedi Keris menulis Tangguh Pengging; pasikutannya sedang, ramping garapannya rapi.  Jika keris luk, luk-nya rengkol sekali. Besinya hitam dan berkesan basah. Pamornya tergolong kalem dan berkesan mengambang. Gonjo-nya tipis, sirah cecaknya pendek. Sedangkan Haryono Haryoguritno dalam Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar memberikan gambaran tabel tangguh atau periodesasi keris dengan memasukkan tangguh Pengging sebagai kategori Tangguh Sepuh setelah Majapahit atau sejaman dengan Demak (kurang lebih akhir tahun 1400 M hingga awal tahun 1500-an M).

tabel tangguh atau periodesasi keris

Ketika melolos keris Anoman Pengging ini kita akan merasakan kewingitan aura terpancar dari rona besi yang nglempung, tampak basah, padat dan keras mirip besi-besi keris Sedayu yang tersohor itu. Besi-besi jenis pulen ini banyak digemari oleh para pecinta tosan aji. Minyak akan tampak awet tanpa mengering seolah tidak sanggup menembus pori besi. Bentuk luk sarpa lumampah dengan bilah yang ramping dan pamor nyeprit seolah tidak ingin menghilangkan jejak sejarah bahwa Pengging adalah trah Singhawardhana, pewaris sah tahta Majapahit bukan Demak.

Untuk sandangan yang ada masih menyertakan bawaan sebelumnya dengan bentuk warangka gandar iras. Warangka dengan gandar iras juga memerlukan ‘pengorbanan’ bahan kayu 3x hingga 4x lebih banyak dari kebutuhan normal warangka biasa (seperti gambar di bawah). Tak heran harganya lebih mahal dari warangka biasa. Dari kesemuanya yang paling patut disyukuri, adalah sebuah “pulung” tersendiri jika bisa memiliki dhapur yang langka di pasaran dan berasal dari era (tangguh) yang jarang diketemukan.

warangka gandar iras memerlukan 3-4x bahan kayu yang lebih banyak

PAMOR TETESING WARIH, atau sering juga disebut banyu tetes atau beberapa pecinta keris menyebutnya dengan istilah nyeprit. Adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan air yang tidak teratur. Pamor tetesing warih tergolong pamor mlumah dan tidak memilih, siapa saja dapat memilikinya. Pamor ini dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki.

Pamor ini menjadi pameling (pengingat) dalam belajar memaknai kehidupan, dimana tetesan air bisa melubangi kerasnya batu karang. Mengajarkan kegigihan agar tidak mudah menyerah, dan selalu tekun/ulet dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan. Karena perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah terletak pada kegigihan. Juga mengajari bahwa segala sesuatu mungkin, asal kita istiqomah.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *