Tombak Singkir

Mahar : 2.000,000,-


1. Kode : GKO-
2. Dhapur : Kudup Cempaka
3. Pamor : Adeg Sapu/Singkir
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : Proses
6. Asal-usul Pusaka :  Banjarnegara, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 21 cm, panjang pesi 12 cm, panjang total 33 cm
8. Keterangan Lain : sudak diwarangi ulang, landeyan + tutup dusun


ULASAN :

KUDUP CEMPAKA, dalam bahasa Indonesia artinya tombak dhapur kuncup bunga cempaka. Tombak ini juga termasuk tombak kecil, tetapi ukurannya agak lebih besar dari tombak khudup melati atau tombak kudhup gambir, ukurannya juga hanya satu jengkal tangan kira-kira 20-an cm.

FILOSOFI, Pada awalnya bunga cempaka banyak tumbuh di pegunungan. Terinspirasi dari karakter pohon yang kuat, mampu berumur panjang, harum wanginya serta indah dipandang mata, menjadikannya pada jaman dahulu bunga Cempaka digemari oleh Raja, dan para Adipati. Kembang ini kemudian banyak ditanam di lingkungan istana/kadipaten/padepokan sebagai simbol keharuman dan kebersihan hati. Menurut kepercayaan, bunga cempaka juga bersifat menolak pengaruh jahat dan mendatangkan pengaruh yang baik. Bunga cempaka kuning dipercaya mendatangkan rejeki dan kekayaan, bunga cempaka putih melambangkan kesucian hati dan cinta kasih. Cempaka dalam bahasa Jawa = Cepaka berati “cepak o”, atau dekat, gampang. Cepak sandang pangane berarti kecukupan hidupnya, cepak rejekine berarti gampang mencari rejeki, cepak jodoh berarti enteng jodoh. Selain sebagai senjata tombak, tombak dhapur kudup cempaka dipercaya sebagian pemburu isoteri sebagai tombak piyandel untuk keharmonisan rumah tangga, menolak pengaruh jelek dan mendatangkan pengaruh baik, juga piyandel dalam mendatangkan rejeki, relasi atau jodoh.

TANGGUH CIREBON, Secara umum tangguh Cirebon dibagi tiga (3) periode yakni;

  1. Era Cirebon Awal, dimulai dari era Sunan Gunung Jati (memerintah 1448-meninggal 1569) sampai Panembahan Ratu II (1649-1666) yang lebih banyak dipengaruhi gaya Pajajaran.
  2. Cirebon Tengah, dimulai dari era pasca Panembahan Ratu II sampai dengan Sultan Sepuh IV (kurang lebih 1597-1750), banyak dipengaruhi gaya Mataram.
  3. dan Cirebon Akhir, dari masa Sultan Sepuh IV sampai dengan Sultan Sepuh VIII (dengan rentang waktu 1750-1876). Perang yang pasang surut selama sekitar 180 tahun di Cirebon dan sekitar Majalengka pada rentang waktu 1700-1880 dengan kolonial Belanda (Perang Kedongdong), memicu berkembang pesatnya pembuatan gaman (terutama tombak) atau persenjataan tradisional di Cirebon.

Tombak singkir ini masih cukup menawan hati. Secara keseluruhan pun masih bisa dikatakan utuh hingga bagian paksi-nya dengan korosi-korosi alami di pinggir-pinggir bilahnya yang masih pada tahap normal untuk seusianya. Pandangan mata awalnya sudah pasti akan tertuju pada garis-garis pamor keabuan  tebal dan ngawat yang beradu kontras dengan hitamnya besi. Mampu memancarkan gereget-nya tersendiri. Sebenarnya landeyan yang ada (berukuran panjang 140 cm) dan tutup tombaknya merupakan sandangan bawaan sebelumnya yang masih otentik dipertahankan. Hanya saja sudah tidak dalam kondisi terbaiknya. Selazimnya keris/tombak yang diperoleh dari pelosok-pelosok dusun, yang karena kurangnya pemahaman atau ketakutan (terlalu di-sinengker-kan), menjadikannya kurang mendapat sentuhan perawatan berujung kerusakan.

PAMOR ADEG SAPU/SINGKIR, Adalah penamaan umum untuk motif gambaran pamor yang bentuknya menyerupai garis membujur dari pangkal ke ujung bilah keris atau tosan aji lainya. Ada beberapa jenis pamor adeg. Diantaranya adalag pamor adeg mrambut, adeg sapu, adeg siji dan adeg wengkon. Secara umum, garis-garis pamor adeg mrambut adalah yang paling tipis dan halus, sekitar 0,2 mm. Yang lebih tebal dan kasar disebut adeg sapu. Sedangkan adeg siji garisnya paling tebal, sampai sekitar 4 mm dan berada tepat di tengah bilah. Dan untuk adeg wengkon merupakan perpaduan antara pamor wengkon dan adeg siji. Pamor Adeg ini tergolong pamor rekan, yakni motif pamor yang bentuknya dirancang terlebih dahulu oleh sang Empu. Ditinjau dari teknik pembuatannya, pamor adeg tergolong pamor miring, dimana saton-nya diletakkan tegak lurus terhadap inti bilah.

Ada sebagian pecinta keris yang menyebut pamor adeg dengan sebutan pamor singkir(terutama pada keris ber-luk). Walau sebenarnya Singkir bukan nama pamor, melainkan nama seorang empu yang tidak hanya satu orang dan dari zaman yang berbeda. Misalnya, ada Empu Singkir dari dusun Tapan pada zaman Pajajaran, Empu Ki Singkir Wonoboyo dari zaman Majapahit, Empu Singkir dari Sedayu, dan ada juga Empu Setra Banyu dari zaman Mataram. Selain itu pengertian “Singkir” bisa juga muncul dari para Empu yang dulunya pernah tersingkirkan, disingkirkan atau menyingkirkan diri dari pusat kekuasaan. Kebetulan sebagian besar keris dan tosan aji yang dibuatnya banyak dijumpai menggunakan motif adeg. Keris/tombak yang dibuat oleh para Empu yang bernama Singkir tadi kemudian dipercaya memiliki fungsi tertentu, seperti menolak geni (api), banyu (air), angin, dan baya (bahaya). Karna public opinion tersebut, kebiasaan sebagian orang lalu menyebutnya dengan pamor singkir, yang mempunyai konotasi untuk menolak halangan atau menyingkirkan hal-hal jelek yang tidak diinginkan (kalis ing sambikolo).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.