Pandhawa Mataram Amangkurat

Mahar : 5.000,000,-


1. Kode : GKO-321
2. Dhapur : Pandhawa
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram Amangkurat (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1189/MP.TMII/IX/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 38,5 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 45 cm
8. Keterangan Lain : tangguh jarang dijumpai


ULASAN :

PANDHAWA, atau sering juga disebut pendawa, adalah salah bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilah ini sedang; biasanya permukaannya nglimpa. Keris dhapur Pandawa memakai ricikan; kembang kacang, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan eri pandan atau greneng. Sepintas lalu keris ini mirip dengan dhapur Pandawa Cinarita, perbedaannya dengan keris dhapur Pandhawa pada keris Pandawa Cinarita lambe gajah-nya dua dan memakai jengggot.

FILOSOFI, Pandhawa (Lima) dalam simbol: Pernahkah mendengar nama Pandhawa Lima dalam cerita pewayangan? Sesuai dengan namanya, maka sosok Pendawa juga berjumlah 5 orang. Mereka adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Bagi penganut aliran kejawen, umumnya mengetahui adanya jagad ageng (alam semesta) dan jagad alit (yang ada dalam tubuh manusia). Bahkan memahami juga bahwa dalam jagad alit tersebut juga terdapat jagad ageng. Biasanya pengenalan itu berlanjut dengan menggulung jagad ageng ke dalam jagad alit. Berkaitan dengan hal tersebut maka penganut aliran kejawen juga akan memahami bahwa sosok-sosok pendawa lima yang disebutkan di atas juga terdapat dalam tubuh kita. Bisa juga diartikan bahwa Pendawa lima merupakan simbol makrifat yang diberikan Gusti Allah pada manusia. Bahkan setiap manusia memiliki karakter Pendawa Lima di dalam tubuh mereka masing-masing. Lalu dimanakah posisi sosok-sosok Pandawa Lima itu dalam tubuh manusia? Jika biasanya sebuah silsilah dimulai dari urutan dari yang tertua, namun sebenarnya manusia melewati fase lima tingkat pembelajaran hidup justru dimulai dari yang termuda, yakni sebagai berikut :

Sadewa. Orang yang berada di fase ini, adalah mereka-mereka yang merasa bak dewa. Merasa sudah hebat, terpaling. Memang tak ada yang salah dengan orang yang merasa hebat. Merasa hebat mungkin juga bukan sebuah dosa. Hanya saja, biasanya orang yang sungguh-sungguh hebat, tidaklah merasa.

Nakula. Ini adalah tahapan saat seseorang mulai banyak berpikir. Pribadi yang kritis, banyak mempertanyakan tentang peristiwa dan apapun. Isi kepalanya selalu penuh tanda tanya. Bukan karena ia tidak mengerti akan banyak hal, namun karena ada kegelisahan dalam hati, menuntut jawaban atas setiap remah cerita penuh misteri yang ditawarkan semesta.

Arjuna. Kaum hawa tentu fasih mengenal nama ini. Arjuna justru seringkali digambarkan sebagai orang yang ala kadarnya. Hanya memakai jubah, tak memakai dandanan untuk menarik perhatian. Sosoknya menarik, bukan karena ketampanan lahiriah. Fase ini menggambarkan manusia seperti cawan yang kosong dan siap menerima ilmu kehidupan. Ia akan membiarkan dirinya kosong agar bisa menerima banyak hal.

Bima. Dalam kisah pewayangan, tokoh bima memiliki cerita paling panjang. Fase ini adalah masa mencari jati diri secara mendalam. Manusia menerjemahkan visi dan berusaha mencapainya. Bisa lari ke puncak tertinggi, atau menyelam ke dasar laut terdalam. Ini adalah masa seorang manusia mencari tujuan hidup dan meresapi saripati hidup. Bima digambarkan memakai kalung ular, menyiratkan seorang yang bijak sekalipun mungkin pernah berbuat salah dalam hidupnya. Masa lalu yang buruk, sebaiknya menjadi pengingat tidak untuk diulang, tapi terus menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Yudhistira. Ini adalah fase kematangan kepribadian. Tahap ini adalah masa dimana seseorang benar-benar telah mampu menyerap ilmu kehidupan. Kesombongan bisa jadi sudah tak ada dalam diri. Ia belajar memahami tidak lagi menghakimi.

Jadi, sudah berada di fase manakah kita?

TANGGUH MATARAM AMANGKURAT, beberapa orang perkerisan menyebutnya dengan tangguh Kartasura. Menurut Buku Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012) secara umum tangguh Amangkurat/Kartasura adalah sebagai berikut:

  • Tanting : berat, nggindel
  • Besi : ngrasak, kurang wasuhan
  • Pamor : kasap dan tlotor-tlotor
  • Baja : agak tebal, sepuhannya tua sekali
  • Bilah : corok (besar, tinggi) adhegnya kaku
  • Gonjo : besar, mbedog, huruf Dha greneng agal-agal
  • Gandik : besar dan agak rendah
  • Pejetan : jarang dan dalam
  • Sogokan : sempit, dangkal dan agak ngeri (menduri)
  • Ada-ada : seperti umumnya saja
  • Kruwingan : kaku dan tidak dalam
  • Luk : kaku
  • Wedidang : kebanyakan memakai ron dha nunut.

Apabila menatap secara sekilas, sangat kentara sekali jika keris pandhawa ini tampak lebih birawa (lebar, besar) dibandingkan keris-keris era mataram pada umumnya. Bentuk guwaya yang kaku seolah ingin mewakili perwatakan pemiliknya bukannya sosok sulit diatur, namun untuk sebuah prinsip yang dirasa benar merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Korosi alami di sepanjang lekuknya mempertontonkan kesan pasikutan yang galak, terlebih dengan karakter besi agak ngrasak dan warna pamornya yang agak keruh seolah ingin menunjukkan dominasi Amangkurat. Keris-keris tangguh Amangkurat relatif sedikit dan jarang dijumpai sehubungan dengan banyaknya pergolakan (perebutan tahta) di jamannya. Pada umumnya masyarakat perkerisan mempercayai keris-keris tangguh Amangkurat memiliki tuah pemberani, tegas dan kadangkala menjadikan panasan (brangasan). Sangat cocok dimiliki oleh mereka yang terlahir sebagai pemimpin, yang memerlukan ketegasan.

PAMOR BERAS WUTAH – Simbol Masyarakat Agraris, Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah yang dihasilkan dari proses penempaan dan pelipatan besi, baja dan bahan pamor. Keaneka-ragaman corak dekoratif itu selain memiliki fungsi estetika (keindahan) juga sering diangap sebagai simbol. Suatu penggambaran akan doa, pengharapan dan cita-cita tertentu.

Pada masa lampau keberhasilan sektor pertanian selalu menjadi simbol kemakmuran dan indikator ketahanan suatu negeri. Bahkan kredo ‘gemah ripah loh jinawi‘ menggambarkan betapa makmur dan sejahteranya masyarakat jaman itu. Beberapa pemimpin besar masa silam, khususnya Raja (Mataram), bahkan lahir dari kalangan petani. Sebagai masyarakat agraris ikatan emosial dengan kehidupan pertanian menjadi demikian kental. Chemistry (ikatan emosional) itu memunculkan inspirasi untuk menciptakan beberapa dhapur dan pamor yang berkaitan dengan kondisi alam dengan bentuk-bentuk yang diilhami oleh flora dan fauna yang akrab dengan kehidupan masyarakat agraris. Maka dari itu banyak tosan aji yang dibuat dengan maksud khusus dan diyakini memiliki tuah yang berkaitan dengan kemakmuran, semisal pamor wos wutah.

Secara denotasi wos wutah adalah beras yang tumpah dari tempat penyimpanannya (karena terlampau penuh isinya). Sedangkan secara konotasi dalam pamor wos wutah terkandung rasa ucapan syukur atas berkat rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam. Rasa syukur atas hasil yang diperoleh dari perjuangan panjang memeras keringat, rajin dan tidak pernah menyerah dalam merawat tanaman padi agar menghasilkan produksi panen yang berlimpah. Bukti dari sebuah totalitas nyata seseorang dalam perjuangannya memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan negerinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.