Keris Rajah Empat Warna (alif, sri jagad, rajahnglar, regeb bayu)

Mahar : 4,950,000,-


1. Kode : GKO-305
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 850/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 34,8 cm, panjang pesi 7,1 cm, panjang total 41,9 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarang ulang, semua sandangan baru, gonjo sumberan, rajah 4 warna : alif, sri jagad, rajahnglar, regeb bayu


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Gandik-nya polos, hanya mempunyai dua ricikan yakni tikel alis dan pejetan. Karena model ricikannya relatif sederhana dan tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat baik dari perkotaan hingga pelosok desa, dengan kata lain merupakan salah satu dhapur yang cukup populer.

Konon menurut mitos/dongeng keris Tilam Upih adalah termasuk salah satu dhapur paling purwa, dibabar oleh Mpu Brama Kadhali atas pemrakarsa Nata Raja Buddawaka pada tahun Jawa 261. Oleh karenanya berkembang pemahaman tentang keris Tilam Upih sebagai the mother of keris (ibu keris). Dari keris tilam upih muncul derivasi berupa keris ber-dhapur lurus lainnya. Di dalam gedong pusaka keraton Yogyakarta sendiri pun sedikitnya ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono.

FILOSOFI, Tilam Upih yang dalam terminologi Jawa berarti sebuah alas pembaringan yang terbuat dari anyaman daun Upih (pinang), diistilahkan sebagai kondisi sedang tirakat/prihatin, masih tidur dengan alas yang keras, belum cukup nyaman/empuk. Para orang tua jaman dahulu biasanya secara turun temurun memberikan anaknya yang menikah dengan keris dhapur tilam upih, artinya didoakan agar hidup rumah tangganya nantinya samawa, dan berkecukupan atau sebuah bentuk simbolisasi harapan tentang hidup nyaman berkecukupan yang harus dimulai dari bawah.

Dalam dunia pewayangan Tilam Upih merupakan  pusaka Prabu Yudistira dari Amarta. Yudhistira adalah simbol atau lambang sosok yang suci, tidak mempunyai dosa, oleh karenanya diibaratkan darahnya berwarna putih.  Dari Yudhistira, kita dapat belajar mengenai arti sebuah kejujuran dengan menghilangkan kebohongan, terutama kepada pasangan hidup kita. Karena dengan kejujuran, setiap masalah yag dihadapi akan dapat dengan tenang dan mudah untuk diselesaikan.

Jika Tilam Upih dianggap sebagai Ibu dari keris, begitu juga sang pemiliknya Yudistira yang merupakan kakak paling tua dari 5 bersaudara Pandawa Lima yang dilambangkan dengan lima jari tangan. Sebagai kakak tertua atau Ibu jari berperan melindungi dan memberikan contoh hal baik dalam kehidupan. Yudhistira adalah satu karakter yang nerimo atau banyak mengalah demi kebaikan, dan senantiasa berbaik sangka kepada setiap orang, dalam arti Yudhistira adalah orang yang selalu menyatakan “silahkan” “monggo”. Unggah-ungguh masyarakat Jawa juga selalu menggunakan ibu jari (jempol) untuk menunjukkan arah atau menyatakan persetujuan. Selain itu Yudistira berwatak pendiam tidak banyak bicara. Kalaupun berbicara bukan untuk pencitraan supaya menarik simpati banyak orang. Ia sabar, jujur dan adil serta pasrah dalam menghadapi cobaan hidup. Karena jujur dan sabar harus disertai ke-sumerah-an, maka ia mampu memenjarakan nafsu. Kesabaran tanpa ke-sumerah-an belum dapat dikatan sabar. Yudistira pun layak diacungi dua Jempol.

TANGGUH MATARAM, Yang paling membuat jatuh hati dari pusaka ini adalah besinya yang tampak halus sekali, tempaannya padat, atau diistilahkan diantara para pecinta keris dengan sebutan ‘pulen’. Ada celetukan dari mereka yang sudah pernah menanting pusaka ini dengan menganggap besinya sekelas keris Kiyahi atau Kanjeng Kiyahi. Besi baja dengan karakter yang pulen seperti ini disinyalir menggunakan campuran besi asal Eropa. Hal ini terbilang masuk akal sehubungan dengan kedatangan Belanda (VOC) pertama kali di Jawa (Banten) pada tahun 1596 membuka peluang perdagangan dengan Mataram.

Pamornya juga tampak ngambang dengan garis-garis tipis. Gonjo sumberan berupa puseran-puseran di sepanjang wuwungan (bagian gonjo yang terlihat dari luar ketika bilah disarungkan ke dalam warangka), selain menunjukkan kepiawaian garap sang Empu, seolah juga menjadi berkah tersendiri dari Yang Maha Kuasa. Gonjo sumberan yang sering ditemukan pada keris pamor udan mas ini banyak dicari, karena dipercaya dapat membantu pemiliknya mengalir rezeki bak sumber/mata air yang tidak pernah kering (nyumber).

gonjo sumberan

TENTANG RAJAH, Meski tampil dalam bentuk lurus dan ricikan sederhana, tidak membuat pusaka ini kalah greget dengan keris-keris yang mempunyai ricikan lebih lengkap. Terlebih terdapat empat (4) goresan tipis rajah (emas?). Secara definitif, rajah merupakan guratan-guratan dari emas, perak, atau dari apapun dalam bentuk simbol-simbol tertentu yang bertujuan untuk menambah bobot spiritual dan nilai magisnya tersendiri. Jika rajah tertera pada keris, tombak atau pedang maka dipercaya menambah daya linuwih tosan aji tersebut. Empat macam rajah yang dititipkan pada pusaka ini bukannya tanpa makna, yakni :

  1. Alip, bentuknya hanya berupa potongan garis lurus, cukup tebal, terkadang di ujung garis pamor itu membelok patah sedikit. Banyak yang mempercayai mempunyai tuah yang baik, yakni membantu memperkuat iman pemiliknya sehingga dapat lebih tahan terhadap berbagai macam godaan duniawi. Seseorang yang memiliki keris berpamor alip sebaiknya menjauhi  perbuatan yang tergolong dalam ma lima.
  2. Sri Jagad, bentuknya diistilahkan wajik oleh orang Jawa (bentuk belah ketupat atau jajar genjang oleh orang Jawa biasa disebut bentuk wajik). Tuahnya dipercaya dapat membuat pemiliknya lebih ulet (pantang menyerah) dan lebih berhati-hati (awas).
  3. Rajah Nglar, bentuknya mirip dengan pedang zulfikar yang bersilang; melambangkan keadilan dan kekuatan yang berakar dalam iman.
  4. Regeb Bayu, sekilas mirip dengan pamor tumpuk, jika pamor tumpuk bentuk garisnya lurus mendatar, pada pamor regeb bayu lebih melengkung. Tuah pada umumnya adalah untuk melindungi pemiliknya dari musibah mendadak. Bahasa Jawanya ‘singkir baya‘ atau ‘tulak bilahi‘.

gambar rajah babon surakarta dan cirebon (pamor doewoeng, 1935)

gambar rajah dari petikan primbon Kiyahi Mangoen Prawiro (Surakarta, 1796)

keris (brojoguno?) dan pedang (ki nom?) memakai Rajahnglar

Sandangan pada keris sengkelat inipun sudah diganti semuanya menjadi baru, mulai dari jejeran, selut, warangka hingga pendok-nya. Bagi mereka yang lebih menyukai tampilan fresh tentu menjadi sebuah nilai tambah tersendiri karena tidak ada pengeluaran ekstra untuk penggantian sandangan.

PAMOR BERAS WUTAH, Dalam konteks sejarah peradaban Nusantara, beras bukan hanya sekadar urusan perut, kuliner dan gaya hidup. Beras lengkap dengan segala proses pengolahannya dari awal hingga akhir, telah melahirkan banyak petuah bijak yang menjelma menjadi rambu pengingat atau lonceng kesadaran bagi masyarakat di tlahah Jawa selama berabad-abad. Memang beras bagi masyarakat Agraris laksana daging dan kulit ari, sulit diceraikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya ada ungkapan jawa yang mengatakan : “beras wutah arang mulih marang takare”. Artinya beras yang tumpah ke tanah meskipun dikumpulkan lagi tetap sulit untuk kembali (sama) dengan kondisi/ukuran semula. Seuntai kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa supaya manusia hati-hati dan selalu berjaga-jaga, karena segala hal yang sudah rusak akan sulit pulih seperti sediakala. Pamor ini bisa sebagai pameling dalam hidup berumah tangga antara suami-istri, jika kepercayaan yang sudah lama dibangun dan dibina dalam berumah tangga dirusak, akan sulit kembali sama seperti sedia kala. Peribahasa ini juga memuat nasihat dalam hubungannya dalam kehidupan bermasyarakat, intinya jangan terlampau berharap balas budi dari orang yang telah menerima kebaikan dan pertolongan kita. Sebab jika kita sampai terlalu mengharapkannya, kenyataannya belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

——————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.