Sabuk Inten Senopaten

Mahar : 3.450,000,-


1. Kode : GKO
2. Dhapur : Sabuk Inten
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Mataram Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : Proses
6. Asal-usul Pusaka :  Klaten, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 36,5 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 43,5 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarang ulang, warangka dusun


ULASAN :

SABUK INTEN, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sebelas. Ukuran panjang billahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, dan ri pandan atau greneng. Menurut mitos /dongeng keris Sabuk Inten pertama kali dibabar oleh 800 Empu (Domas) pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya wekasan (akhir) tahun Jawa 1381.

FILOSOFI, Bentuk Sabuk Inten, memiliki makna: sabuk yang berarti ikat pinggang, sabuk digunakan dengan cara dilingkarkan (nggubed) di badan. Manusia harus bersedia berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh). Dan inten yang berarti intan permata, hasil dari jerih payah yang didapat ketika sudah melalui perjalanan panjang. Dhapur Sabuk Inten adalah simbol pusaka yang melambangkan kesungguhan dalam mencapai kesucian, kemuliaan, kemakmuran dan kekuasaan bagi pemakainya.

TANGGUH MATARAM SENOPATEN, menurut Buku Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012) secara umum adalah sebagai berikut:

  • Tanting : enteng, ringan
  • Besi : kebanyakan ngrekes, beberapa ada yang halus
  • Pamor : agak banyak
  • Baja : tebal tipisnya cukup, sepuhan cukupan sebatas wadidang
  • Bilah : cukupan
  • Gonjo : nyecak nyander, tetapi tidak terlalu nglempreh
  • Gandik : agak tipis, sekar kacang juga kecil dan tipis
  • Pejetan : tidak terlalu dalam, wangunnya persegi
  • Sogokan : dangkal agak sempit, panjang sogokan sempit
  • Ada-ada : hanya sampai lu ke-3 habis
  • Kruwingan : sama, diatas luk ke-3 cuma samar-samar saja
  • Luk : kemba sedikit
  • Wedidang : mblancir

Secara keseluruhan keris sabuk inten ini masih terlihat “cakep”, kalem dan prasaja. Membawa karakter keris majapahit yang ramping dan ringan. Besinya juga terbilang bagus, sangat halus jika diraba, seratnya rapat pertanda matang tempa. Mampu menampilkan gradasi tiga warna; abu-abunya baja, hitamnya besi serta putihnya pamor. Untuk sandangan model Jogja yang ada masih orisinil mempertahankan baju lamanya, baik dari deder-nya dan warangka gayaman yang ada menggunakan kayu timoho. Hanya saja lazimnya keris-keris yang ditemukan di pelosok dusun, pada umumnya warangkanya sudah tidak dalam kondisi terbaiknya, di beberapa spot tidak dapat mengingkari usianya termakan sang waktu, meskipun masih dikatakan layak untuk tetap dipakai.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut pamor ngulit semangka, karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka. Dalam filosofi budaya Jawa, Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini dipercaya mempunyai tuah yakni mendatangkan rejeki yang berlimpah, membuat pemilik Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.