Tombak Menur Payung Songsong Temuan Original Kolektor Item

Mahar : 9.000.00,-


 

1. Kode : GKO
2. Dhapur : Menur
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Kasultanan Palembang (Abad XVIII-XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : proses
6. Asal-usul Pusaka : temuan Sungai Musi, Palembang
7. Dimensi : panjang bilah17 cm, panjang pesi ? cm, panjang total ? cm
8. Keterangan Lain : sangat langka sekali, pusaka tindih, sarung kulit ular


 

ULASAN :

MENUR,  dalam Buku Ensiklopedi Keris karangan Bambang Harsrinuksmo (2004) dijelaskan ; “Menur bentuknya mirip tombak, tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Panjangnya hanya sekitar 5-7 cm, sedangkan pesi-nya hanya sekitar 4 cm saja. Bentuk menur juga beraneka macam, tetapi yang terbanyak adalah bulat runcing. Menur merupakan tosan aji yang digunakan untuk mengisi mahkota payung kebesaran atau payung agung bagi seorang raja atau bangsawan. Karena tempatnya di dalam payung yang disebut songsong itu, menur tidak seperti tosan aji alainnya, hampir tidak pernah dicuci dan diwarangi”.

letak menur menurut buku Ensiklopedi Keris (Bambang Harsrinuksmo)

Selain itu, ada pula referensi menarik yang didapat dari serat/catatan kuno mengenai jenis tombak yang satu ini (menur). Menurut buku Narpawandawa, yang diterbitkan oleh Budi Utama Tahun 1929 diperoleh suatu deskripsi mengenai menur ; “Mênur punika ingkang kadamêl limrahipun kajêng, pandamêlipun kabubud, mawi purus manjing ing dhandhan, wontên ing bungkul. Grênging wêwangunanipun mêrit. Bungkul punika dhasaran êcèt, sarta kapraos. Congkoking bubudan: Ha: nginggil piyambak, mênur, wujud sêkar mênur utawi malathi ingkang taksih kudhup, Na: kudhup, nginggil anjêbèr ing gulu alit, ngandhap agêng, Ca: krêntêng, lingir cacah tiga, Ra: gêgêl, wangun ambalêndhuk, Ka: srêntêng, kados ca, namung kalih, Da: jlèbèr, inggih makatên punika wujudipun. Manawi katamatakên, kados wontên raosipun mênur ingkang gandhèng kalihan kawontênan kina. Songsongipun kangjêng pangeran putra dalêm ingkang kondur saking kaselong punika tanpa mênur.” Atau secara garis besar dijelaskan jika menur itu biasanya terbuat dari kayu, dengan cara dibubut, disetel menyatu dengan dhandhan (tongkat payung). Bentuknya seperti melati yang masih kudup. Jadi menurut pengertian dalam serat ini, menur lebih kepada hiasan di atas payung yang terbuat dari kayu (bukan pemahaman seperti sekarang ini, jika menur adalah tombak isian di dalam payung songsong).

Dari dua (2) kutipan referensi buku di atas, tampaknya ada perbedaan yang mendasar mengenai wujud dari sebuah menur. Fakta yang ada, memang dari dulu hingga saat ini sangat jarang ditemukan sebuah menur asli (jika anggapan menur adalah tombak di dalam payung songsong). Hanya mereka yang berjodoh saja, biasanya yang mendapat pulung bisa mendapatkannya. Hal ini semakin didukung dengan kenyataan hampir 99 % adalah menur sebagai produk jimatan. Lalu mengapa demikian? Tampaknya akan terjawab dalam catatan keraton mengenai sêrat gambar songsong, terdapat sekitar sembilah puluh (90) jenis payung, lengkap dengan bentuk dan peruntukannya, mulai dari no.1 Songsong agêm dalêm hingga no.90 Payungipun kawula dalêm pangindhung.

Dari sembilan puluh (90) jenis payung tersebut HANYA No. 1 yakni Songsong agêm dalêm yang ditulis terdapat tombak di dalamnya (walau tidak terperinci bentuknya), kutipannya adalah sebagai berikut: “Gilap gubêg sêkar waru saha tritisipun mawi bara, sangandhapipun sanggan ruji mawi kranthil, pinggiran argulo sapêthik, pêksi dewata, dhandhan lung kêncanan, sopal sarta tunjung, songsong pusaka dalêm ingkang kagêm pasamuwan agêng punika: kalih, Kangjêng Kyai Brawijaya, Kangjêng Kyai Guwawijaya. Punika mênuripun ing pucuk mawi musthika toya. Ing nglêbêt wontên waosipun, bungkulipun sanggan sinêlut ing êmas. Pèngêtan musiyum Radyapustaka mratelakakên dhandhanipun kajêng mursada”.

SEJARAH & FILOSOFI, Jika kita lihat dalam berbagai potret keluarga atau tokoh di jaman masa kerajaan lampau. Terdapat sebuah “benda” yang selalu ikut hadir. Ia adalah sebuah Payung atau Songsong. Songsong merupakan sebutan untuk sebuah payung dalam budaya Jawa. Songsong merupakan bentuk halus atau biasa disebut sebagai kromo inggil dari kata payung. Benda satu ini rupanya memiliki akar sejarah cukup panjang di Nusantara khususnya tanah Jawa.  Dalam sumberdata prasasti maupun susastra Masa Hindu-Buddha, istilah dalam Bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk penyebut payung adalah ‘pajeng’, yang kemudian vokal ‘e’ diganti dengan ‘u’ dan konsonan ‘j’ dengan ‘y’ di dalam bahasa Jawa Baru dan bahasa Indonesia. Kata jadian ‘apajeng’ berarti: berpayung, dan ‘pinajengan’ berarti: melindungi dengan payung (memayungi). Istilah ini antara lain didapat dalam Kakawin Bharattayuddha (1.14 dan 15, 9.5), Harisraya B (23.5), Hariwangsa (27.10), Krensnataka (39.4), Kidung Ranggalawe (7.151, 9.8 dan 10) serta Kidung Harsyawijaya (2.43). Dalam sumber data prasasti, khususnya prasasti yang berisi ‘penetapan status sima (perdikan)’, diperoleh siratan informasi bahwa jenis payung tertentu yang dinamai ‘pajeng wlu (payung bulat)’, hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan atau orang tertentu diluar bangswan yang memperoleh hak-hak istimewa. Jenis payung khusus lainnya adalah payung berwarna keemasan, yang dalam Kakawin Bharattayuddha dinamai ‘pajeng mas’.

Berbagai relief di candi-candi (Panataran, Borobudur, dll) juga menunjukkan visual “wong agung dengan songsongnya“. Sehingga telah ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa payung  songsong telah dikenal dan dipergunakan semenjak masa Hindu-Buddha. Tradisi memayungi bangsawan berlanjut hingga memasuki masa Perkembangan Islam.

payung songsong sejak masa Hindu-Budha hingga Mataram Islam

Songsong ini ternyata menempati posisi krusial pada masanya yang telah terlupakan. Tidak main-main; benda satu ini merupakan sebuah simbol prestis (penanda keluhuran) dari kalangan bangsawan mana ia berasal atau dari golongan kepangkatan apa ia menjabat. Keistimewaan sebuah songsong tidak hanya itu. Keberadaannya sangat vital membuatnya diperlakukan secara khusus sebagai benda pusaka. Biasanya ada seorang abdi dalem yang ditugaskan khusus untuk membawa payung untuk ndoro-nya, mereka ini disebut Juru Panongsong. Seorang raja jika sedang miyos ke luar istana (blusukan) selalu menggunakan songsong. Selain untuk melindungi tuannya dari sengatan sinar matahari dan cucuran air hujan, yang paling utama adalah melindungi agar bayangan tubuh sang Raja tidak muncul atau terlihat apalagi sampai terinjak oleh pengiringnya, terutama pada bagian kepala. Menginjak bayangan Raja merupakan salah satu bentuk “penodaan”. Karena Raja ibarat wakil Tuhan di Bumi, sehingga harus diupayakan agar bayang-bayang tersebut tidak muncul.

Payung selain sebagai simbol perlindungan dan pengayoman juga keteduhan. Tidaklah mengherankan di daerah Jawa, sampai ketika orang meninggal dan hendak dimakamkan, sebuah payung juga ikut menyertai perjalanannya, dengan harapan agar orang yang meninggal tersebut bisa mendapatkan keteduhan ketika harus melanjutkan perjalananan kehidupannya di alam yang lain.

PUSAKA TINDIH UTAMA, banyak orang tua jaman dahulu mempercayai selain keris jalak budha atau bethok, pusaka tindih yang utama untuk menetralisir hal-hal yang negatif atau kurang baik sesungguhnya adalah tombak menur. Sebagai satu-satunya tosan aji yang letaknya “berani” di atas kepala Raja tentu saja dianggap bukan jenis tosan aji sembarangan (sakral).

PALEMBANG, dari data sejarah Nusantara, dapat diketahui bahwa Palembang dan Jambi merupakan daerah di Sumatera pertama yang menerima penyebaran budaya keris dari pulau Jawa. Ekspedisi Pamalayu atas perintah raja Singosari, Sri Kertanegara pada tahun 1275 diduga merupakan awal pertama pengenalan budaya keris Jawa di Sumatera. Selanjutnya, perkembangan dunia persenjataan di palembang semakin berkibar pada zaman pemerintahan Sultan Candilawang (1662-1706). Pada masa itu penyebaran keris Palembang meluas sampai ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara sebelah barat (Serawak), dan semenanjung Malaya. Masa-masa produktif para empu Palembang terjadi di masa pemerintahan Sultan Agung Kamaruddin (1718-1724) dan Sultan Jayawikrama (1724-1757). Tetapi puncak keindahan keris Palembang terjadi pada awal danpertengahan abad ke-19, yakni kira-kira sezaman dengan masa pemerintahan Pakubuwono VIII dan IX di Surakarta atau Hamengkubuwono V dan VII dan Yogyakarta. Perdagangan yang ramai di pelabuhan Palembang menjadi salah satu dorongan meluasnya penyebaran keris-keris yang indah buatan daerah itu.

Ada rasa ingin tahu yang begitu mendalam mengenai peruntukan/pemilik songsong temuan ini sebelumnya, beruntung beberapa tulisan serat-serat kuno masih bisa dijadikan rujukan yang cukup membantu. Dari bentuk yang ada, hampir semua orang rasanya sepakat jika ini merupakan bentuk dari sebuah ujung payung (songsong) yang lazim disebut menur.

Payung ini terbilang sangat istimewa dimana ketika pertama kali ditemukan di dasar sungai Musi masih terdapat selongsong emas menghiasai tangkai (dhandhan, Jw). Oleh para pemburu harta karun selongsong emas tersebut diambil dan dijual terpisah dengan tombak menurnya. Para pemburu harta karun ini memang lebih memfokuskan perburuan pada perhiasan kuno dari emas, perak dll serta guci atau keramik-keramik kuno. Ajaibnya juga kayu sebagai tangkai songsong yang telah memfosil ini masih sangat keras, tentu saja bukan berasal dari jenis kayu sembarangan.

selayaknya tombak juga memiliki methuk berbentuk cincin

Rasa penasaran semakin menjadi ketika menanting tombak yang dalam dimensi panjangnya 40 cm ini ternyata termasuk antep (tak heran dalam relief candi dan foto-foto lama dipegang dengan tangan dua), serta melihat guratan-guratan kayu yang tersingkap muncul kecurigazn adanya pesi tombak. Terlebih dalam serat gambar songsong yang berjumlah 90 gambar hanya songsong agem dalem yang di dalamnya terdapat tombak, semakin menambah kebulatan untuk membersihkan menur ini dari patinanya. Sungguh suatu hadiah tak terperi, setelah dibersihkan dari patinanya memang di dalamnya merupakan suatu tombak. Besinya sangatlah wingit, karna tampak hitam membatu. Bentuknya mengkerucut seperti ujung stupa candi Borobudur. Dan seperti halnya sebuah tombak yang memiliki kelengkapan methuk atau pada keris disebut gonjo, methuk menur ini berbentuk seperti cincin yang melingkar. Hanya saja pada bagian ujung masih menyimpan sebuah pertanyaan, apakah awalnya lancip seperti tombak umumnya atau memang seperti adanya sekarang yang tidak lancip seperti ujung stupa candi?

Dari kayu pada tangkai songsong atau yang lazim disebut dhandhan terlihat warna dasar hitam. Masih dalam serat sama menjelaskan jika warna dasar tangkai yang digunakan untuk kaum ningrat hanya hitam dan hijau, dimana warna hitam memiliki kedudukan yang lebih tinggi, seperti dalam kutipan mengenai pakem yang ada pada dhandan berikut : Dhandhan punika minôngka garaning payung, ingkang kadamêl kajêng utawi dêling sarta kaêcèt, dhandhan punika warni sanggan. (1) Dhasaripun cèt cêmêng, lung kêncana praosan, mawi sopal sarta tunjung, punika agêm dalêm, para putra, tuwin pêpatih dalêm. ( 2) Dhasaripun cèt cêmêng, kagambar lung pakis mawi êcèt jêne, srunènipun abrit, mawi sopal sarta tunjung, dhandhan songsongipun pangeran kolonèl, pangeran santana, Radèn Ayu Sêdhahmirah sarta para priyantun dalêm. (3) Kados ôngka 2, kaot tanpa tunjung, dhandhan payungipun santana dalêm. (4) Kados ôngka 2, kaot dhasaripun ijêm, tanpa sopal sarta tunjung, namung kalintonan karah, dhandhan payungipun bupati, bupati anom, mayor, kaptin upsir. (5) Ijêm byur, tanpa karah, dhandhan payungipun abdi dalêm panèwu mantri sapangandhap.

dari foto yang ada, payung kebesaran Sultan Yogyakarta memakai hiasan prada emas full

Dan “gong terakhir” tentu saja adalah selongsong emas yang ada pada tangkai songsong ini sebelumnya. Menurut Pratelan Bab Songsong di Yogyakarta peruntukkannya antara lain sebagai berikut: (1) Gilap/prada emas rata (full) : Sultan. (2) Gilap Jawa : permaisuri. (3) Putih atas prada separuh : Residen, dan masih banyak lagi. Sedangkan di Surakarta Songsong Gilap/Songsong Jene/Songsong yang warnanya hanya byur kuning emas yang berhak memakai adalah : 1. Raja 2. Permaisuri dan 3. Orang yang sebutan/gelarnya KGPAA.

terdapat selongsong emas pada menur ini sebelumnya

Dengan melihat kecocokan pakem di serat-serat kuno dan bukti pendukung lainnya yang masih ada, lalu siapakah pemilik payung songsong ini sebelumnya? kami kembalikan kepada Anda! Rahayu….

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.