Uler Lulut + Telaga Membleng Meteorit

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950.000,- (TERMAHAR) Tn. SI – Jagakarsa, Jakarta Selatan


  1. Kode : GKO-292
  2. Dhapur : Tilam Upih
  3. Pamor : Uler Lulut + Telaga Membleng
  4. Tangguh : Tuban Pajajaran (Abad XII)
  5. Sertifikasi No : 762/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah  36 cm panjang pesi  6,5 cm , panjang total 42,5 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  8. Keterangan Lain : sudah diwarangi ulang, pamor meteorit, warangka dhang-odhangan

Ulasan :

TILAM UPIH, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Gandik-nya polos, hanya mempunyai dua ricikan yakni tikel alis dan pejetan. Dhapur ini terbilang populer atau cukup terkenal hingga muncul guyonan di kalangan sutresna tosan aji sebagai dhapur sejuta umat, mungkin saja dikarenakan model ricikan-nya relatif sederhana dan bentuknya tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang di jaman dahulu yang bersedia memakainya. Hingga saat inipun relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat. Di dalam gedong pusaka keraton Yogyakarta pun sedikitnya ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono, semuanya berkelas Kanjeng Kiyahi.

FILOSOFI, menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari cinta dan kelembutan wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mencintai  seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya. Pada sisi lain, ada sebuah komitmen atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik.

Keris ini juga dianggap baik dimiliki bagi mereka yang sudah berumah tangga, akan cocok bagi siapapun, setia mendampingi berjuang dari awal, dalam suka maupun duka. Yang diumpamakan mempunyai karakter sebagai estri , yang penuh cinta dan kasih sayang (ngademke). Seperti layaknya seorang wanita, cantik, anggun, luwes, penuh kasih sayang mampu meredam keangkeran, ego, emosi /kekerasan namun tetap kuat dan landhep

Karena kesederhanaan bentuk dan filosofi yang mendalam, untuk peristiwa penting seperti perkawinan, keris dhapur Tilam Upih banyak diberikan sebagai kancing gelung/cunduk ukel, dimana pada jaman dahulu orang tua pihak mempelai perempuan mempunyai kewajiban yang paling utama untuk memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Seandainya pihak mempelai wanita tidak mempunyai, maka keluarga dari mempelai pria yang dianggap punya kewajiban untuk memberikan pusaka sebagai Cundhuk Ukel. Bahkan menurut catatan sejarah Sunan PB X gemar memberikan Kancing Gelung kepada Putra Mantu. Budaya Kancing Gelung ini tidak hanya menjadi milik keluarga kraton tapi juga masyarakat luar kraton.

TANGGUH TUBAN PAJAJARAN, Sebutan tangguh Tuban Pajajaran tidak bisa dikatakan mutlak keris atau tombak itu berciri Tuban atau mutlak berciri Pajajaran. Karena kemungkinannya, bahan-bahan besi dan pamor turut dibawa dalam hijrahnya oleh sang Empu dan keturunannya yang kemudian berkarya di Tuban. Karenanya masih mengandung unsur kekhasan sifat besi-besi Pajajaran, namun sudah sedikit banyak dibentuk dalam balutan style Tuban. Jadi besinya Pajajaran namun bentuknya Tuban, oleh karenanya sering disebut Tuban Pajajaran.

Ketika menatap pusaka ini, seolah kita diajak menikmati kembali sebuah keindahan masa lalu. Curi pandang pertama akan gebyar pamornya mengundang lamunan yang meninggalkan tanya; bagaimana menakjubkannya bilah ini ketika pertama kali diserahkan oleh Sang Empu yang membabarnya? Dengan kualitas seperti ini sudah bisa dipastikan tantingan sangat ringan dan sentilan pun sangat nyaring, pertanda kematangan tempa. Dalam usianya berabad-abad masih dapat menyisakan keutuhan besi dan pamor adalah wujud kedigdayaan material pilihan. Warangka sebagai abdi sang bilahnya sendiri juga tidak mau tampil kalah. Warangka dhang-odhangan yang menyerupai udang, diukir dengan motif daun pale’, yang sekarang ini sudah jarang sekali ditemukan karena hanya sedikit mranggi yang bisa mengukirnya. Pendok yang ada pun mengikuti warangkanya, gaya madura, kesemuanya terbilang masih utuh tanpa kekurangan yang berarti. Jika hulu yang ada sekarang diganti Landhian gaya madura, semisal Tumenggungan tentu akan semakin tampil menawan.

PAMOR METEORIT, Yang dimaksud pamor meteorit adalah pamor keris yang terbuat dari bahan meteorit. Meteorit sendiri adalah benda dari luar angkasa yang berhasil memasuki bumi dan jatuh di permukaan bumi. Meteorit dipercaya merupakan bahan pamor yang paling unggul, baik dari sisi  material maupun spiritual. Secara material, yang paling nyata adalah sifat anti korosi, serta tahan terhadap asam, clorine gas dan juga tahan terhadap garam. Karenanya keris yang diduga dengan pamor meteorit dapat diindikasikan dengan rabaan ngintip (seperti kerak nasi) dimana besi karena usia dan proses pewarangan yang berulang biasanya akan lebih dulu ‘kalah” dibandingkan pamor. Secara spiritual, karena batu meteor jatuh dari langit, dianggap pemberian tersendiri oleh Yang Maha Kuasa.

Beberapa keris yang diduga menggunakan meteor (kamacite) pastilah pamornya bernuansa. Ada keabu-abuan dan ada yang jernih (deling). Pamor nikel biasanya mati (tidak bernuansa) atau orang Jawa menyebutnya dengan menteleng alias jreng. Bahan irons meteorite atau stony irons meteorite bisa digunakan menjadi bahan pamor keris, terutama karena adanya kristal Fe/Ni yang banyak, disertai unsur lain seperti adanya phospor, senyawa Ti, As, Pb sebagai isotop pengikatnya. Ketika dalam prakteknya menjadi pamor keris, unsur-unsur heterogen itu tidak hilang sama sekali sehingga alur pamor meteor akan bernuansa. Pamor ini secara visual ada warna abu-abu dan ada kehitaman serta ada pula bagian yang putih cemerlang, yang jika diamati tampak aura sinar warna-warni. Hal ini menjadi sangat jelas jika keris diminyaki dan dipandang dibawah sinar matahari. Empu Djeno Harumbrojo (alm), menyebutnya dengan kata ”sulak” atau bias pelangi warna.

warangka warangka dhang-odhangan gaya sumenep, yang berbentuk menyerupai Udang. Dengan motif ukiran daun pale’ yang sudah jarang ditemukan dan diukir oleh mranggi sekarang

PAMOR  ULER LULUT, Salah satu motif pamor yang bentuknya bagaikan koloni lulut (sepintas rupanya seperti ulat, ulat jengkal tepatnya, tapi ukuran tubuhnya relatif lebih kecil, mirip belatung). Sebenarnya pamor ini merupakan gabungan dari bentuk bundaran-bundaran yang menempel rapat satu sama lain dari pangkal hingga ujung bilah. Ditinjau dari cara pembuatannya, pamor ini tergolong pamor mlumah. Namun pamor Uler Lulut juga termasuk pamor rekan, karena bentuk pamor itu dirancang terlebi dahulu oleh sang Empu.

Orang tua dulu menyebut, mana saja pekarangan atau kebun yang dilewati binatang ini , akan membawa rejeki. Adapun jika yang dilewati gerombolan lulut tersebut adalah pekarangan rumah seorang pedagang, maka usahanya akan laris manis, dimana pembeli akan berduyun membeli seperti rupa lulut yang selalu berduyun dan bergerombol. Siapa saja yang melihat binatang ini sangat-sangat dilarang untuk membunuhnya, pamali. Karenanya, sebagian besar pecinta keris beranggapan bahwa pamor Uler Lulut mempunyai tuah baik yang dapat membuat pemiliknya mudah dalam mencari rejeki, serta perkataannya dipercaya banyak orang. Pamor ini juga digolongkan sebagai pamor yang tidak pemilih, artinya siapa saja dapat memilikinya.

pamor telaga membleng

PAMOR TELAGA MEMBLENG, artinya danau/telaga yang airnya tertahan/tidak mengalir. Bentuk gambaran motif pamor Telaga Membleng sepintas lalu agak mirip dengan pamor Putri Kinurung. Terletak di bagian sor-soran, tepat di tengah blumbangan atau pejetan. Bentuknya menyerupai gambaran gelombang air (transversal), diawali dengan adanya bulatan kecil lalu menyebar menjadi beberapa lingkaran yang lebih besar.

Tuah atau angsar pamor ini, bagi mereka yang percaya adalah untuk penumpukan harta, memudahkan pemiliknya mencari jalan rejeki. Tuah dari pamor ini juga dipercaya dapat membantu mengatasi sifat boros. Pamor ini tergolong pamor yang tidak pemilih, setiap orang akan merasa cocok bila memilikinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

2 thoughts on “Uler Lulut + Telaga Membleng Meteorit

    1. Mohon Maaf sekali Bpk Bagiyo, untuk uler lulutnya sudah lama termahar. Sudah saya update jg di pojok kanan atas untuk inisial Tuannya yang baru dan kotanya. Matur sembah nuwun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *