Nagagini Siluman

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6.660.000,-(TERMAHAR) Tn. S, Pulogebang – Cakung Jakarta Timur


  1. Kode : GKO-291
  2. Dhapur : Nagagini Siluman
  3. Pamor : Ilining Warih
  4. Tangguh : Madura Sepuh (Abad XV)
  5. Sertifikasi No : 749/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah  30 cm panjang pesi 7 cm , panjang total 37 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Semarang, Jawa Tengah
  8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, warangka lawasan, mut-mutan tidak ada

Ulasan :

NAGA SILUMAN,  Motif naga tanpa badan dalam dunia perkerisan secara umum disebut dengan istilah dhapur naga siluman. Sesuai dengan namanya, naga siluman merupakan motif naga yang hanya menampilkan bentuk kepala hingga lehernya saja dan tidak dilengkapi dengan badannya. Keris Naga Siluman dapat berupa keris lurus ataupun keri ber-luk.

NAGA GINI, Secara harafiah Naga Gini berarti Naga Perempuan. Nagini dalam bahasa sansekerta berarti naga perempuan sedangkan Naginikanya yang berarti gadis naga. Karakteristik perwujudan rupa Naga Gini dapat ditengarai dari ukuran kepala naga yang umumnya kecil, badan naga tampak langsing (kurus), mulut naga menyeringai, moncong naga tidak terlalu meruncing, perwajahan naga tampak tenang, cantik dan feminin, mengenakan kelengkapan bak seorang putri dengan mahkota pendek yang khas, lengkap dengan sumping atau kalung.

Batari Nagagini mempunyai sifat kasih sayang kepada sesama, bersopan santun dan pandai menghargai orang lain. Halus tutur katanya, tidak pernah melukai hati orang lain. Sehingga dipandang sangat simpati dan pandai membawa diri. Bahkan dalam menegur dan mengecam orang yang dipandang bersalah atau membuat kesalahan pun mempergunakan kata-kata yang halus. Dengan demikian dia berharap orang itu tidak tersinggung dan mau menyadari kesalahannya. Oleh sebab itu banyak orang menghormatinya.

FILOSOFI, Dalam cerita pewayangan Jawa, Naga dianggap sebagai bangsa terkuat dan memiliki intelektualitas tertinggi pada zamannya sehingga disinggung dalam peperangan besar baratayudha bangsa naga tidak boleh ikut campur dalam peperangan tersebut. Dalam dunia pakeliran disebutkan bahwa para dewa mempunyai skenario bahwa keluarga Bharata (Pandawa dan Kurawa) harus berperang sampai titik darah penghabisan untuk memperebutkan Astinapura. Ini takdir para dewa yang harus terjadi. Karena itu apapun yang menghalangi skenario ini, harus disingkirkan. Menurut para dewa, Antareja salah satu dari tiga Ksatria Pandawa yang pasti akan menggagalkan Bharatayuda. Salah satu anak Pandawa ini dipastikan akan dalam sekejap menumpas Kurawa, sehingga yang akan terjadi adalah penumpasan kilat sekaligus pembunuhan massal, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di kedua pihak. Sehingga Antareja anak dari Bima yang memiliki darah naga dari ibunya Nagagini, akhirnya kembali kekediaman bangsa naga di dunia bawah.

Sedangkan Siluman dapat diartikan hal gaib atau kemampuan melakukan sesuatu yang tidak wajar melebihi kemampuan manusia biasa. Setiap perilaku manusia akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan seseorang. “Perilaku-perilaku tertentu yang khas” akan menimbulkan bekas yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Perilaku tertentu ini disebut dengan tirakat, lelaku atau olah rohani. Dalam kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan tapa brata orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan kesadaran tinggi serta mampu menahan hawa nafsu, mendekatkan dengan tujuan-tujuan yang penting yang hendak dicapai. Pada umumnya orang melakukan tirakat/lelaku/olah rohani adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

Maka dhapur Nogo Siluman memiliki makna sebagai “guru sejati” dalam bentuk daya supranatural yang memiliki kekuatan adikodrati, artinya menyadari bahwa pengaruh dan kekuatan penentu itu tidak lagi berasal dari roh-roh yang tidak kelihatan, melainkan berasal dari satu kekuatan mutlak, adikodrati, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan merupakan satu-satunya penentu, sebab pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada, sehingga dengan demikian segala fikiran, tingkah laku dan perbuatan manusia selalu diorientasikan kepada Tuhan, sejalan dengan dogma-dogma agama yang dianut manusia.

TENTANG TANGGUH, pada saat menanting pusaka ini dapat dirasakan takjubnya bobot yang begitu ringan serasa tidak memiliki berat massa. Seperti kita ketahui keris-keris se-era Majapahit memang memiliki bobot tantingan yang ringan dimungkinkan karena adanya unsur titanium (Ti). Penggunaan bahan mengandung Ti sebagai logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi adalah disengaja oleh Para Empu. Ada kemungkinan Ti ini yang menyebabkan tosan aji jaman dahulu terasa ringan apabila dipegang. Titanium sendiri banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan Jawa dan juga Sulawesi. Dan unsur logam titanium sendiri baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940. Jika selama ini sosok dhapur Naga lebih memihak sisi maskulinitas, justru keris ini merupakan penyeimbang, dimana bentuk Nogonya terpahat demes dan ayu. Rasanya semua orang akan sepakat jika perwujudan naga dalam gandiknya adalah sosok naga estri (perempuan) dengan sorot mata anggung, tenang, memakai mahkota pendek, lengkap dengan kalung hiasan leher dan sumping hiasan telingan, dengan badan langsing yang digarap secara tersama, sederhana namun hidup. Besinya terlihat kering, khas daerah pesisiran kemungkinan penyepuhannya dengan air yang mengandung kadar garam tinggi. Besi jenis seperti ini akan terlihat gurat kecantikannya ketika sering diminyaki. Dan pola luk lima-nya yang dalam/rengkol dengan condong leleh yang lebih menunduk (mayat) seolah mengadopsi gaya Pengging yang khas dengan luk rengkol-nya menambah karakter keris keningratan-nya tersendiri dan menjadi pameling untuk selalu tetap memiliki kerendahan hati kapanpun dan dimanapun.

Pamor ILINING WARIH  atau sering disebut banyu mili secara harafiah berarti air yang mengalir, merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir. Seperti filosofi air yang selalu mengalir mencari jalannya sendiri dari Gunung (hulu) hingga Samudera (hilir), membasahi daratan kering, menghidupi tempat-tempat yang tandus. Pamor ini dipercaya membawa semangat pembaharuan, keluar dari masa sulit dalam kehidupannya.  Tak heran banyak Pecinta keris menggemari keris dengan pamor motif sederhana ini karena tuahnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *