Sengkelat Warangka Cendana Wangi

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000.000,-(TERMAHAR) Tn. SB – Tegal, Jawa Tengah


  1. Kode : GKO-294
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 764/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah  36,3 cm panjang pesi  7 cm , panjang total 43,3 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Kolektor Jakarta
  8. Keterangan Lain : warangka cendana wangi, hulu tayuman, pendok perak

Ulasan :

SENGKELAT – adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Dhapur Sengkelat mirip dengan keris dhapur Parungsari. Bedanya, pada Sengkelat lambe gajah-nya hanya satu, sedangkan pada Parungsari dua buah. Keris dhapur Sengkelat menjadi salah satu dhapur klangenan Pecinta Tosan Aji. Ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sengkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.

FILOSOFI, Dhapur Sêngkêlat ginita | maknanira yèku urubing ati | murade patrap linuhung | dene ta rahsanira | ing sarina kalawan sawênginipun | tangi lungguh mlaku nendra | duga-duga aywa kari || …. Serat Centhini, artinya adalah nyala hati. Maknanya adalah tingkah laku yang luhur, yakni pada siang hari dan malam hari, saat manusia duduk, berjalan, terjaga maupun tertidur untuk tidak pernah lupa, selalu menimbang-nimbang, dan berpikir dahulu sebelum bertindak.

Luk Telulas, Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang diangap sebagai angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala. Angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan.

Dalam kepercayaan Jawa (ilmu othak-athik), luk 13  bermakna ‘las lasaning urip manungso’,  atau akhir dari siklus sebuah kehidupan, menjawab dimana asal mula dan tujuan akhir manusia kelak akan kembali? Dengan memahami ajaran tentang  asal mula dan tujuan akhir hidupnya atau sangkan paraning dumadi (asal mula sangkan dan tujuan dari akhir paraning, segala yang ada di dunia dumadi), manusia diharapkan mampu mengendalikan dirinya sendiri dan selalu menumbuh suburkan perilaku-perilaku yang terpuji dan yang mulia. Dengan melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan mulia, manusia diharapkan akan sampai pada tingkatan hidup yang secara spiritual disebut sebagai “jalma pinilih” atau manusia terpilih.

Kepopuleran dhapur Sengkelat sebagai pusaka pilih tanding tak lepas dari kisahnya yang dimuat dalam ceritera babad, dimana pusaka inilah yang sanggup mengalahkan teror pusaka aji pepundhen Raja Majapahit Brawijaya V, yakni keris Kyai Condhongcampur, dimana sebelumnya Kyai Sabukinten yang telah mencoba melawannya terdesak kalah. Tak heran dhapur Sengkelat yang diciptakan atas dhawuh Sunan Kalijaga kepada Mpu Supa dan selanjutnya dimiliki Sultan Demak menjadi duwung pujanipun para wali. Gejala tentang mulai tumbuhnya proses perubahan kekuasaan dan peralihan pengaruh politik dari Majapahit ke Demak Bintoro, secara simbolik terwakili melalui penciptaan keris yang bernama Kyai Sengkelat, merupakan simbol perlawanan rakyat yang menginginkan perubahan tatanan.

TANGGUH MATARAM, keris Mataraman biasanya pasikutannya demes, tampan, serasi, menyenangkan dan enak dilihat. Pamornya juga rata-rata mubyar. Terbagi dalam tiga Tangguh; yang pertama adalah Mataram Senopaten dengan masih membawa gaya atau karakter dari keris-keris jaman Majapahit. Hal ini dkarenakan empu-empu pada jaman Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit atau keturunan-keturunan dekatnya. Sedangkan pada jaman keemasan Mataram Sultan Agung, budaya perkerisan menjadi  semakin berkembang baik dari teknologi, secara garap maupun kualitas kinatahnya. Dan terakhir pada jaman Amangkurat, sesuai dengan karakter sang Raja, keris tangguh Amangkurat tampak pasikutan-nya lebih galak, berukuran birawa lebih besar dan lebih panjang dengan pola garap lebih agal (kasar).

Meski tampil dengan bahan pamor yang sangat kaya  memenuhi sepanjang sisi bilah dari sor-soran hingga pucuk, keris ini masih tampak prasojo. Langit sepertinya tak perlu menjelaskan bahwa dia tinggi. Apa yang kita lakukan dan perbuat semestinya sudah mengungkapkan siapa diri kita yang sebenarnya dan itu yang akan dikenal serta dikenang setiap orang. Bentuk kembang kacang-nya yang nggelung wayang dengan jalen yang utuh dan lancip menggambarkan sosok ksatriya dalam diri kita. Ada-ada yang tergarap samar namun sangat kentara jika diraba seolah ingin menyimpan “ketegasan” dalam kesederhanaannya. Bentuk pejetan persegi dengan bagian bebel/ atas sogokan yang sedikit cembung apabila dilihat dari samping atau sisi tipis bilah seolah ingin menunjukkan darah Mataram sejatinya. Gonjo wulung-nya pun menambah perbawanya sendiri.

Sandangan yang mengiringi terbilang istimewa, dengan balutan warangka gayaman kayu cendana wangi dihiasi pendok perak dan jejeran tayuman (sesuai dengan yang tertulis pada sertifikat). Keris luk1 3 memang paling cocok jika disandangi dengan kayu cendana. Pilihan warangka cendana mengandung falsafah mendalam bagi orang Jawa. Cendana mempunyai pemahaman : “Kalamun wus kinepung lair tepang lair batine, kadya wreksa cendana, njaba arum njero wangi, sinartan meca wicara kang mranani, istingarah sato galak dadi sanak“. Apabila seseorang sudah mampu mengenal lahir dan batinnya, sadar diri akan tugas kemanusiaannya seperti wanginya cendana di luar maupun di dalam disertai ucapan yang terjaga baik , tidak aneh jika semua nafsu duniawinya dapat dikuasai. Selanjutnya tidak ada satupun pekerjaan rumah yang menanti. Rasanya ndudut ati.

warangka gayaman terbuat dari kayu cendana wangi tim-tim dihiasi pendok perak dan jejeran tayuman

GONJO WULUNG, adalah sebutan bagi gonjo yang sama sekali tidak berpamor, sehingga keadaannya polos dengan warna hitam legam. Banyak pendapat yang mencoba memberi penjelasan mengapa sebuah keris yang bilahya berpamor bagus, tetapi bagian ganjanya dibuat bercorak wulung.

  1. Pertama, ada yang berpendapat bahwa keris itu adalah “keris bagus luar dan dalam” yang kemudian dibuatkan putran. Agar kesinambungan dari kekuatan abstrak kedua keris terus terjaga, maka ganja dari keris yang asli diambil untuk ikut dilebur bersama bahan material logam lainnya yang telah disiapkan untuk membuat bilah keris baru. Sedangkan keris asli yang dibuatkan putran-nya tadi, dibuatkan ganja baru, yakni ganja wulung untuk meningkatkan kembali isoteri.
  2. Kedua, gonjo polos juga sering digunakan untuk menutupi kepusakaan keris tersebut, agar pada saat disarungkan ke dalam warangka ciri motif/pamor tidak “terbaca” dari luar. “Pager” perlindungan demikian dimaksudkan agar keris yang bermutu dan dipercayai memiliki angsar yang baik, tidak mudah dideteksi lawan, atau diincar oleh mereka yang memiliki niatan jahat untuk mencuri, juga untuk menghindar dari incaran raja dan keluarganya (yang pada jaman dahulu tidak segan-segan untuk mengambil keris yang baik milik kawula-nya jika memang menginginkannya).
  3. Ketiga, gonjo susulan juga banyak digunakan untuk kepentingan penggantian terhadap ganja yang sudah ada, baik karena ganja yang lama sudah rusak atau cacat, hilang, atau memang pemilik keris berkeinginan untuk mengganti dengan yang baru. Meski dapat saja pemilik keris menggantikannya dengan gonjo yang lebih bagus, seperti dengan hiasan kinatah emas, namun untuk kasus penggantian gonjo yang rusak atau cacat, menurut kebiasan yang berlaku dulu, pemilik keris akan membuat gonjo baru yang bercorak wulung. Dengan gonjo polos semacam itu orang akan mengetahui bahwa keris telah kehilangan gonjo asli dan kemudian oleh pemiliknya dibuatkan sebuah gonjo yang baru.
  4. Keempat, sengaja dibuat karena pertimbangan estetika. Bilah yang berpamor ramai atau kontras, memang akan berpenampilan lebih indah disandingkan dengan gonjo wulung agar keindahan pamor berfokus pada bilah itu sendiri.

PAMOR BERAS WUTAH, Padi, bagi masyarakat agraris, ternyata bukan sembarang tanaman. Ia bukan hanya melebihi tanaman lain, tetapi mempunyai kesejajaran dengan manusia. Seperti halnya manusia, padi dipandang berasal dari alam dewata, langit, surga, atau Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, padi dan manusia mempunyai siklus hidup yang sama. Tuhan memberi tanaman padi, manusia mengolahnya menjadi gabah, beras kemudian nasi. Seperti kelahiran, perkawinan dan kematian, manusia menempuh “daur hidup” untuk nantinya kembali kepada Penciptanya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *