Kujang Lanang TUS

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3.950.000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen – Jakarta Pusat


  1. Kode : GKO-289
  2. Dhapur : Kujang Lanang
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh :  Cirebon (Abad XV)
  5. Sertifikasi No : 747/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah 25 cm panjang pesi 13 cm, panjang total 38 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur
  8. Keterangan Lain : TUS kolektor item, sudah diwarangi, sarung kulit ular

Ulasan :

KUJANG LANANG, konon bentuk kujang lanang diambil dari huruf Ba dan Johar awal, yang merupakan indikasi bahwa Pajajaran Nagara pada pemerintahan Sunan Cipancar (1521) sudah memberlakukan agama Islam dalam hukum negara atau hukum darigama.

FILOSOFI, Kujang merupakan identitas masyarakat Sunda. Kujang mencerminkan ketajaman dan melambangkan kekuatan serta keberanian untuk melaksanakan kewajiban dalam melindungi hak dan kebenaran, hal tersebut merupakan salah satu sikap yang harus dilakoni oleh masyarakat Sunda. Kujang dianggap sebagai penyambung antara masa lalu dan sekarang, dengan menyebut kujang, masyarakat Sunda diharapkan akan mengingat akar jati dirinya. Teringat akan identitas budaya asalnya yang dihidupi oleh alam. Kujang menjadi spirit dalam mengarungi kehidupan, kehidupan yang diibaratkan sebagai medan peperangan, perang ideologi, budaya dan ekonomi. Kujang yang merupakan teman berperang (batur ludeung) menjadi simbol utama penjaga semangat masyarakat Sunda dan keberanian yang telah diwariskan oleh leluhur.

periodesasi purwa rupa kujang

TANGGUH CIREBON, berdasarkan periodesasi model purwa rupa atau macam bentuk kujang dapat digambarkan melalui tabel di atas. Ketika pengaruh Islam tumbuh di masyarakat, kujang pun direka ulang menyerupai huruf Arab “Syin”. Ini merupakan bagian dari strategi politik Prabu Kian Santang dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tatar Sunda yang menginginkan agar rakyat tatar Sunda yang kala itu masih memegang kujang mengasosiasikan kujang kepada dasar agama Islam. Syin adalah huruf pertama dalam kalimat syahadat dimana setiap manusia bersaksi akan Tuhan yang Esa dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Dengan mengucapkan kalimat syahadat, ia (tiap manusia) secara otomatis masuk Islam. Kujang pengembangan terbaru (tangguh Sumedang Larang, Cirebon, Banten) mengingatkan kesetiaan kepada Islam dan ajarannya.

Tidak disangsikan bentuk kujang lanang ini relatif utuh mulai dari bagian paksi yang masih panjang, tadah yang membulat luwes, hingga lekuk manis bilahnya membuat jatuh hati siapapun yang melihatnya. Menemukan sebilah kujang yang TUS (Tangguh, Utuh, Sepuh) merupakan satu kebanggaan atau pulung (keberuntungan) tersendiri, artinya bahwa ada satu bilah lagi artefak sebagai bukti sejarah berhasil diselamatkan karena kenyataannya banyak sekali kujang yang memang sudah tidak utuh, dan menjadikan mata rantai sejarah terputus.

Apabila dicermati dimensinya tampak sedikit lebih birawa dibandingkan kebanyakan kujang sejenis. Meski ukurannya lebih besar tantingan-nya tidaklah berat, salah satu indikator proses mewasuh (memurnikan) besi yang matang. Bahan materialnya (pamor, besi, baja) sepertinya banyak dipengaruhi Mataram. Hal tersebut tidaklah mengherankan, kekalahan Pajang dari Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati pada tahun 1582, menjadi awal kebangkitan Mataram dalam hegemoni politik di pulau Jawa. Walaupun Cirebon bukanlah daerah bawahan langsung Mataram, melainkan daerah vassal  atau negara protektorat dari Mataram menjadikan Cirebon menerapkan kebijakan-kebijakan dari Mataram meski tidak berkewajiban menyerahkan upeti dalam upacara seba setiap tahunnya, sebagai tanda kepatuhan kepada raja Mataram.

berbagai macam senjata pusaka Indonesia, dimana kujang lanang (kiri bawah) dipasangkan dengan landeyan

Penulis juga menemukan hal menarik, jika menilik gambaran sketsa yang ditulis Albert Racinet (1825-1893) dalam bukunya yang berjudul Le Costume Historique (1888), pada gambar di atas ternyata kujang lanang dipasangkan pada landeyan mirip dengan tombak bukan dengan deder dan warangka layaknya keris atau hulu dan sarung seperti kudi.

PAMOR BERAS WUTAH , ditemukannya prasasti Canggal di Magelang Jawa Tengah berangka tahun 723 M yang ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta menunjukkan sejak Jaman Mataram Sanjaya, Jawadwipa adalah sebuah negeri yang kaya akan padi atau beras. Pada masa tradisional, beras merupakan sebuah indikator stabilitas ekonomi dan politik serta kemakmuran sebuah kerajaan. Melimpahnya beras dalam sebuah kerajaan menjadi indikator bahwa kerajaan tersebut mengalami kemakmuran, sehingga stabilitas politik kerajaan pun terjamin.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (2008: 70) menyatakan bahwasanya pulau Jawa sangat subur untuk pertanian. Sektor pertanian merupakan sumber mata pencaharian yang sangat utama. Ia mengatakan bahwa bangsa Jawa adalah bangsa petani yang memiliki struktur masyarakat yang khas.

“Pulau Jawa sangat bagus untuk pertanian; tanahnya sangat subur. Para petani tidak hanya menanam sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti membeli barang-barang kebutuhan yang sedikit mewah. Bangsa Jawa adalah bangsa petani, dan akhirnya membentuk struktur masyarakat yang khas. Petani mendapat uang dari tanamannya, prajurit dari upahnya, pegawai dari gajinya, para ulama dari sumbangan (zakat), dan pemerintah dari hasil pajak. Kekayaan suatu desa atau satu propinsi tergantung dari luas dan kesuburan tanahnya, sistem pengairannya, serta jumlah kerbau yang dimiliki.”

Apabila penguasa zaman sekarang menggunakan berbagai indikator ekonomi, penguasa zaman dulu menggunakan beras sebagai indikator stabilitas ekonomi dan politik serta pencapaian kemakmuran. Dengan demikian beras wutah atau beras yang (sampai) tumpah, adalah manifestasi dari doa, permohonan dan harapan akan mendapatkan segala hasil dari semua jerih payah dalam setiap tetesan keringat, air mata dan darah yang telah diupayakan selama ini tidak menjadi hal sia-sia.

Kujang dengan berbagai cerita, kisah heroik dan magisnya masih tetap melegenda sampai sekarang. Dalam perkembangannya kujang sangat diminati bukan sekedar karena daya gaib atau harapan bagi pemiliknya untuk mendapatkan “sesuatu”, tetapi telah bergeser pada nilai estetika dari bentuk fisik dan nilai investasi karena faktor kelangkaan. Para kolektor yang menyimpan kujang khususnya orang kulonan, mempunyai motivasi untuk menghormati warisan leluhur dan bentuk penguatan karakter sebagai orang Sunda. Selain dari motivasi tersebut ada pula yang memburu power esoteri-nya sebagai ‘syarat’ untuk kepentingan dan maksud pribadi yang bersifat sinengker (pribadi).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *