Adeg Wengkon/Tejo Kinurung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.000.000,- (TERMAHAR) Tn. PS Pondok Melati, Bekasi


1. Kode : GKO-274
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Adeg Wengkon/Tejo Kinurung
4. Tangguh : Madura Sepuh (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 355/MP.TMII/V/2018
6. Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 37 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total 44,5 cm, lebar gonjo  7,5 cm
8. Keterangan Lain : warangan lama, pamor buruan kolektor


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah keris salah satu dhapur keris lurus, tergolong sangat sederhana karena hanya menggunakan ricikan; gandik polos dan  pejetan, dengan pawakan nglimpa tanpa ricikan lainnya. Konon menurut cerita, dhapur Tilam Upih pertama kali dibabar oleh Empu Brama Kadhali pada Jaman Nata Praja Buddawaka (tahun Jawa 261).

Sama halnya dengan dhapur Brojol, dhapur keris ini terbilang cukup populer dan relatif paling banyak dijumpai di setiap tangguh (era/jaman), juga mudah dijumpai fisiknya sampai ke pelosok desa. Tak heran sampai muncul istilah “dhapur sejuta umat” di kalangan masyarakat perkerisan. Kepopulerannya bukanlah tanpa alasan, dengan ricikan yang tidak terlalu ramai, menjadikan banyak orang bersedia memakainya. Di lain sisi hingga saat ini melekat kepercayaan  di masyarakat bahwa pusaka-pusaka yang powerful secara isoteri biasanya terdapat dalam sebuah dhapur sederhana (lurus) seperti brojol dan tilam upih, bukan dhapur mewah dengan ricikan kompleks. Terlebih menurut catatan kuno hampir semua Empu-Empu mumpuni dari Jaman Pajajaran hingga Mataram banyak membabar kedua dhapur tersebut dalam karya spiritualnya.

Banyak cerita tentang keris-keris pusaka keluarga dengan dapur Tilam upih. Banyak juga yang meyakini bahwa pusaka (ampuh) yang berwujud keris biasanya memiliki bentuk-bentuk sederhana, seperi halnya Tilam Upih. Di keraton Yogyakarta sendiri ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu Kanjeng Kia Pulanggeni, Kanjeng Kiyahi Sirap dan Kanjeng Kiyahi Sri Sadono. Konon, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan disaat jaya. 

FILOSOFI, Kinom mèsêm lon lingira | de dhapuring curiga kang winarni | Tilam-upih kang rumuhun | makna pasêmonnira | murat jalma wadon dene rahsanipun | pamikire marang katga | dikaya mikir padêmi || – Serat Centhini pupuh 236.

Atau jika diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia: dengan tersenyum Ki Nom berkata pelan: mengenai jenis dapur keris, tilam upih terlebih dahulu, makna yang terkandung adalah wewadi seorang wanita  sedangkan rasa dan pemikirannya terhadap keris, seperti memikirkan istri.

Tilam Upih memuat makna philosopis. Tilam Upih, sebagai lambang dari wanita. Maksudnya memperlakukan keris itu sama halnya dengan memperlakukan wanita. Keris adalah simbol kasih seorang Ibu yang tak pernah lekang jaman meskipun tak lagi mengalirkan air susu; kasih ibu sepanjang masa. Demikian pula belas kasih seorang Ayah kepada anak-anaknya dan seorang Suami bagi istrinya haruslah tidak pernah surut. Sesungguhnya keris Tilam Upih adalah sebuah simbol wanita yang senantiasa mengiringi simbol kejantanan. Itulah kenapa jika melihat secara maknawi, keris dhapur Tilam Upih memang pantas dianggap sebagai Pusaka Keluarga karena bersifat perempuan, penuh simbol putri dan belas kasih. Jika diperluas lagi menjadi semangat belas kasih. Manusia harus mampu mengejawantahkan semangat belas kasih kepada sesamanya.

PAMOR TEJO KINURUNG, adalah salah satu motif pamor yang sebenarnya merupakan perpaduan antara pamor sada saler dengan pamor wengkon. Dimana gambarannya seluruh tepi bilah keris dilingkari dengan gambaran yang menyerupai tepi bingkai, sedangkan di tengahnya terdapat pamor yang menyerupai garis lurus.

Menjelang Pilkada  keris-keris dhapur atau pamor dengan taksu ‘pendongkrak kepemimpinan’ (bakal calon) dan ‘penguat kekuasaan’ (incumbent) biasanya banyak dicari sebagai ‘cekelan‘ (pegangan) bagi mereka yang mempunyai hajat dalam dunia politik. Jawabannya mungkin ada pada keris luk 13 seperti ‘sengkelat‘ atau mungkin ‘parungsari‘ untuk nama dhapur-nya dan ‘tejo kinurung’ atau ‘raja abala raja‘ untuk jenis pamornya. Sebagian pecinta keris mempercayai bahwa pamor tejo kinurung memiliki tuah yang baik terutama bagi mereka yang bekerja untuk negara atau di dalam pemerintahan. Itulah sebabnya banyak pejabat yang memiliki keris dengan pamor seperti ini sebagai ‘piyandel’ penguat batin dan penjagaan diri. Bahkan beberapa catatan kuno juga menyebutkan pamor Adeg Wengkon menjadi pilihan sang Raja Surakarta (Sunan PB IV) ketika membabar pusaka luk 13 dhapur Parungsari kepada Mpu Brajaguna.

Pembawaan karakter madura yang keras, tegas namun tetap luwes sangat terasa pada aura pusaka ini, tak mengherankan sejak jaman dahulu kerajaan-kerajaan di Madura relatif tidak mempunyai musuh karena flexible dalam beradaptasi dan keris-kerisnya pun berpengaruh terhadap gaya dan bentuk keris-keris di Nusantara. Panjang bilahnya 37 cm menjadikannya tampak gagah dan berwibawa. Pada penampang gonjo-nya tampak datar dan lurus (wuwung) dan pejetan-nya sangat khas membawa dârâ Madura, dimana relatif lebih besar dari keris jawa pada umumnya. Tikel alis-nya juga berbeda terlihat pendek dan ringkas, tapi sangat terasa jika diraba. Besinya mempunyai kekuatan baja sebagai tulang bilah lebih kuat daripada tangguh lain. Pamornya royal (boros) dengan garis pamor yang agal, relatif lebih besar dan tebal terlihat bolak-balik depan belakang masih bisa dikatakan utuh, baik garis wengkon-nya serta garis adeg-nya. Jika nantinya dilakukan pewarangan ulang tentunya akan memperlihatkan  pamor terhadap besi yang lebih kontras dan terang.

Lengkaplah sudah, dhapur tilam upih bagi seorang pemimpin menjadi pameling agar memiliki kepekaan, mampu mengejawantahkan kebaikan dan semangat belas kasih kepada sesamanya, karena pemimpin yang baik adalah mereka yang dicintai rakyatnya bukan ditakuti. Selanjutnya pamor tejo kinurung yang membelah dua sisi akan selalu menjadi pengingat bahwa dirinya saat ini tidak hanya menjadi milik keluarganya saja, tetapi sudah diwakafkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pada akhirnya keris lurus dengan ricikan sederhana ini sungguhlah pantas menjadi pusaka asuhan kesatriya yang pemberani, bersemangat tinggi, teguh pada pendirian, jujur, menjunjung tinggi rasa setia kawan, selalu berpihak pada kebenaran dan cinta keluarga. Menjadi teman setia seperjuangan dalam menggapai kejayaan dan keharuman nama di bumi Nusantara.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *