Puthut Sombro (Pejetan)

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6.660.000,- (TERMAHAR)Tn. AP, Senen – Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-276
2. Dhapur : Puthut Sombro
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 395/MP.TMII/V/2018
6. Asal-usul Pusaka : Eks Koleksi JB. Basuki, Surakarta
7. Dimensi : panjang bilah 20,3 cm, panjang hulu iras 5,7 cm, panjang total 26 cm, lebar gonjo  4,8 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

KERIS PICHIT atau PEJETAN, adalah istilah yang dipakai untuk menyebut keris yang permukaan bilahnya terdapat “kesan ” lekukan-lekukan menyerupai bekas ‘pijitan’ jari tangan. Di Pulau Jawa dan di Indonesia pada umumnya keris yang demikian dinamakan keris pejetan atau keris pijitan. Sedangkan istilah pichit merupakan istilah yang dipakai di daerah Riau, Kepulauan dan Daratan, Semenanjung Malaya, Serawak, Sabah serta Brunai Darussalam.

Tentang lekukan pada permukaan bilah yang menyerupai bekas pijitan ibu jari tangan memang sulit diterima nalar atau dibuktikan secara ilmiah bahwa itu benar-benar dibuat dengan pijitan jari tangan. Ada sebagian pecinta keris yang menduga bahwa bentuk seperti bekas pijitan tersebut terjadi karena bentuk permukaan paron (landasan)  dan palu yang digunakan tidak rata. Namun ada pula yang meyakini bilah tersebut memang benar dipijit oleh sang Empu sesudah tangannya dicelupkan dalam minyak.

Keris Pijitan dibagi dalam dua jenis :

  1. Pijitan yang terdapat pada mata keris sajen (Orang Barat menyebutnya dengan keris Majapahit)
  2. Pijitan yang terdapat pada bilah yang tidak memiliki hulu iras. Banyak pecinta keris beranggapan karena bilah tidak mempunyai hulu berbentuk dewa/putut, maka ia tidak memiliki daya gaib seperti yang terdapat pada keris sajen.

Dalam dunia krisologi keris pichit atau pejetan tergolong keris tayuhan, yakni keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan esoteri (isi, gaib) dibandingkan dengan eksoteri (penampilan luar). Bahkan oleh kalangan Semenanjung Melayu, keris ini dianggap sebagai azimat yang mempunyai kesaktian amat hebat, orang Melayu tidak menyimpannya di dalam sarung keris sebagaimana keris lain, biasanya justru dibungkus dalam kain atau baldu kuning atau kain berwarna putih. Itulah sebabnya banyak pecinta keris yang beranggapan bahwa keris pejetan tergolong keris yang memiliki tuah baik. Akibat adanya kepercayaan seperti itu, sejak perempat abad ke-20 banyak ditemukan keris owahan, untuk menampilkan kesan pejetan yang dipalsukan dengan ditempa menggunakan landasan gotri ukuran besar.

KERIS SAJEN atau SEKING atau keris MAJAPAHIT, adalah penamaan umum terhadap keris-keris sederhana, panjang sekitar sejengkal dan kebanyakan hulunya menyatu dengan bilahnya. Hulu keris juga terbuat dengan bahan logam sama seperti bilahnya, berupa gambaran manusia yang distilir. Keris-keris yang digolongkan sajen kebanyakan hanya berpamor keleng, sanak atau mrambut atau era yang lebih muda berpamor banyu mili, singkir dll. Konon keris sajen memang dibuat khusus untuk keperluan upacara keagamaan atau upacara lain yang berkaitan dengan kekuatan alam gaib.  Orang Jawa mempunyai keyakinan bahwa keris sajen mempunyai potensi melindungi sawah dan ladangnya dari hewan perusak. Cara menjaga sawah atau ladangnya dari pagebluk (gagal panen) adalah melalui upacara bersih desa. Dalam upacara ini disediakan sesaji, yaitu makanan untuk roh halus, roh yang dipuja dan dihormati. Di tengah ubo rampe diletakkan sebilah keris sajen. Apabila upacara tersebut sudah selesai keris sajen itu disajikan ke alam, dengan cara ditanam di pinggir atau di tengah sawah atau ladang. Sumber akurat lain, seperti Prasasti Poh (904 M) juga menyebut “kerissebagai bagian dari sesaji yang perlu dipersembahkan. Meski demikian masih timbul pertanyaan apakah keris yang digunakan untuk keperluan sesaji tersebut memiliki bentuk rupa yang sama dengan keris yang telah dikenal sekarang ini?

Keris sajen, yang oleh buku tulisan orang Barat sering disebut keris “Pichit Majapahit”, pada umumnya memakai ganja iras dan memiliki hulu iras dalam bentuk sifat manusia. Ada yang berdiri membungkuk dengan menempatkan kedua belah tangan bersilang dada. Ada juga jenis hulu dalam posisi duduk sambil menempatkan kedua belah tangan ke atas lutut. Ada pula keris sajen yang mempunyai hulu menghadap ke sebelah tanpa tangan dengan kepala berbentuk bujur dan leher yang panjang. Bentuk hulu terakhir ini ditengarai menyerupai bentuk nisan orang Islam. Dalam sebuah buku tulisan dalam Bahasa Denmark oleh Karsten Sejr Jensen yang berjudul Den Indonesiske Kris banyak menguraikan detail kelengkapan lain pada kepala. Menurut pendapat Karsten, keris sajen yang memakai kuluk adalah menggambarkan seorang bangsawan atau putera Islam. Usianya ditengarai tidak begitu tua karena dibuat sekitar abad XVI. Kebanyakan keris sajen memakai penutup kepala dalam jenis topi yang berlekuk di tengah. Ini menggambarkan seorang bangsawan atau orang istana. Ada juga yang memakai mahkota berbentuk menara gereja yang menggambarkan anak raja. Sedangkan hulu keris yang memakai sorban, menggambarkan seorang sami atau pendeta atau penasihat untuk anak raja. G.B. Gardner (1933), salah seorang warga negara Inggris yang telah 20 tahun lebih tinggal di tanah melayu menjelaskan pula apabila kepala hulu keris sajen jika dilihat dari bagian belakang menyerupai kepala ular sendok atau cobra, keris ini dipersembahkan kepada dewa ular.

Pada tahun 1842 saat pemugaran awal candi Borobudur, diketemukan bentuk keris (sajen) dengan hulu Puthut pada stupa utama Candi. Keris tersebut sekarang menjadi koleksi The National Museum of Ethnology (Leiden, The Netherlands) .

keris temuan saat pemugaran candi Borobudur, saat ini tersimpan di Belanda

Konon menurut pitutur orang-orang jaman dahulu, keris pichit majapahit/keris sajen/keris seking/keris pejetan dibuat menggunakan “besi kadewatan”. Mengapa besi kadewatan tersohor begitu awet? Meski tipis, namun terbukti sanggup bertahan lama (long lasting). Jika merujuk pada Kitab Jitapsara,  manuskrip kuno mengenai babon kawruh keris Cirebon, maka satu-satunya bahan besi yang tertulis asal muasalnya dari alam kadewatan adalah besi  Pulosani. Menurut kitab Jitabsara besi Pulosani dulunya disebut Besi Wuryan, nama ini mengandung arti besi yang berasal sejak munculnya ‘bangsa peri” (sebelum adanya bangsa manusia). Begitu tuanya asal muasal besi ini, maka secara geologi jika dicari letaknya, maka besi wuryan dari bangsa peri ini banyak terdapat di dasar bumi. Maka disebut sebagai besi Pulosani.

Masih dari kitab Jitapsara, tampilan fisik besi pulosani berwarna hitam kebiruan (nyamber lilen), seratnya halus seperti beludru. Disebut sebagai ratunya besi. Sifatnya sangat dingin, hanya bagus untuk dijadikan keris. Jika dibuat keris biasanya tanpa dicampur dengan besi lain, maka menurut kepercayaan orang jaman kuno, si pemilik keris dengan besi Pulosani biasanya “kajen kineringan ” (dihormati semua orang), dipercaya banyak orang, bagus untuk “nggayuh kalenggahan” (mencari kedudukan), menolak segala “pakarti” (hal/perkerjaan) yang jelek. Untuk makanannya adalah paruh burung pelatuk bawang, tulang burung perkutut semuanya digerus halus, dicampur dengan minya dedes/rase baru kemudian ditabur-taburkan.

GANJA IRAS, atau ganja janggelan, sebutan bagi ganja keris yang menyatu dengan bilahnya. Pada keris ber-ganja iras, batas antara bagian sor-soran bilah keris dengan ganja-nya hanya berupa guratan/goresan dangkal. Keris ber-ganja iras pada umumnya sederhana bentuknya. Selain itu hal ini tentu secara penggarapan akan lebih masuk akal, jika seandainya bagian ganja dibuat terpisah lalu timbul pertanyaan bagaimana cara memasukka ganja-nya ke pesinya?

KERIS TINDIH, sebutan bagi keris yang dianggap mempunyai tuah positif bagi para koletor tosan aji. Di kalangan pecinta keris sering ada anggapan bahwa di antara keris koleksinya mungkin ada yang karakternya kurang sesuai atau bahkan membawa pengaruh kurang baik, walau demikian dia merasa sayang untuk melarung atau memaharkan ke orang lain. Untuk menetralkan pengaruh-pengaruh negatif tersebut, biasanya para kolektor memiliki ‘keris tindih’. Keris tindih dianggap mempunyai magi yang dapat meredam segala pengaruh buruk dari keris lain. Dengan memiliki minimal satu atau beberapa keris tindih, akan menciptakan ruang aman dalam diri pemilik.

Umumnya keris tindih hampir selalu diberikan warangka sandang walikat, sebagain kecil diberikan gayaman, dan hampir tidak pernah ada yang diberikan warangka ladrang atau branggah. Selain itu untuk cara penyimpanannya juga khusus, dimana biasanya ditempatkan di bagian rak paling atas.

FILOSOFI, Antropomorfisme atau bentuk-bentuk manusia memang merupakan bentuk paling primitif, yang menurut para arkeolog, sudah dikenal sejak jaman ribuan tahun silam. Maka tidaklah mengherankan, jika bentuk “persembahan” atau sajen-sajen kuno pun masih mengacu mengikuti bentuk primitif ini.

Easter Island (Polynesia, Chile). Seven Moai of Ahu Akivi

Apa atau Siapakah Puthut itu? Istilah Puthut sebenarnya mengacu pada dunia ‘sanggar‘ yang digunakan Empu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama. Sanggar disini bukan berarti sanggar/kursus yang lazim kita kenal sekarang, semisal sanggar tari, sanggar senam atau sanggar-sanggar yang lain, tetapi ‘sanggar‘ dimaksud adalah tempat atau wadah pendidikan (panggonan ngangsu kawruh/nyantrik, Jw) keagamaan (Budha atau Hindu), atau yang dalam Islam dikenal pondok pesantren.

Puthut atau Putut = abdi (laki-laki) kepercayaan sang pendeta, selaku cantrik kepala yang dipercaya mengatur tugas-tugas para cantrik; bertugas merawat sanggar palanggatan, bertanggung-jawab mengatur, menata, merawat perlengkapan persembahyangan;

Sepertinya memang masih dapat dirunut benang merahnya antara ‘puthut dan sesajen’, karena memang tugas seorang puthut adalah asisten resi yang tugasnya memelihara kerapian dan kebersihan sanggar pamujaan (pertapaan), sekaligus juga menyiapkan ubo rampe untuk keperluan acara keagamaan.

Relief Puthut merupakan manifestasi dari roh para leluhur. Masyarakat pribumi asli Nusantara era pra Islam yang bila berjalan tanpa alas kaki, rambutnya disanggul di atas kepala mereka percaya sepenuhnya kepada roh-roh leluhur. Tradisi ini terus berlanjut, dimulai sejak kerajaan-kerajaan pertama di Jawa Tengah, Mataram kuno Jawa Tengah yang didirikan oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya – tiada lain adalah Rahiyang Sanjaya dari Kerajaan Galuh yang berpusat di Ciamis Tatar Sunda. Roh leluhur tersebut diharapkan dan dimohon pertolongannya menjaga dan menjadi saksi serta merestui kutukan bagi mereka yang berani melanggar titah raja. Relief puthut juga dipercaya simbol kawula alit yang mempunyai semangat egaliter, memiliki kerendahan hati, kesungguhan untuk belajar, keihlasan dalam mengabdi dan tetap untuk selalu merendahkan hati.

Yang paling kental dari karakter keris puthut sombro ini adalah aura “wingit dan mistisnya”. Rasanya hampir semua orang yang pernah menanting lansung keris ini juga mengamini hal yang sama. Keunikan yang lain besinya terkesan hitam legam kebiruan, halus, liat dan keistimewaan yang utama adalah tampak selalu basah walau lama tidak diminyaki. Lekukan-lekukan yang sering dipersepsikan sebagai ‘stempel’ bekas pijitan ibu jari dengan jari telunjuk dan jari tengah sangat terasa jika diraba pada bilahnya. Meskipun bentuk puthut distilasikan secara sederhana (primitif) tapi berkesan hidup dan bernyawa seolah tergambar pria paruh baya dengan jenggotnya yang lebat memakai iket/udeng yang sepertinya masih kental dengan unsur Hindhu dimana sisi sebelah kanan yang lebih besar dan lebih tinggi dari sisi sebelah kiri menandakan bahwa manusia bersujud bakti atas dasar darma yakni darma sebelah kanan dan darma sebelah kiri. Pakaian yang dikenakan mirip orang istana/bangsawan sisi depan belakang bermotif, tampak berwibawa. Hulu iras nya juga tampak berbeda dari yang lain karena mengambil posisi setengah badan, bukan posisi umumnya yang berdiri sehingga hulu tampak lebih pendek. Sudah pula menggunakan teknik lipatan dan kualitas bahan yang mumpuni. Tantingannya pun memiliki bobot yang sangat ringan, sangat jauh berbeda dengan keris sajen buatan baru. Tampaknya saat ini sudah semakin sulit menemukan keris puthut sombro yang sepuh. Bentuknya mirip sekali dengan keris temuan stupa di Candi Borobudur yang saat ini menjadi koleksi Museum Leiden.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.