Carita Kasapta

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : 7.000,000,- (TERMAHAR) Tn. J Bandung


1. Kode : GKO-278
2. Dhapur : Carita Kasapta
3. Pamor : Lar Gangsir
4. Tangguh : ? (Abad XIX-XX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 413/MP.TMII/V/2018
6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah  36,5 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total  44 cm, lebar gonjo 8 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, bonus deder Jogja


ULASAN :

CARITA KASAPTA, adalah salah satu dhapur keris luk tujuh. Sapta artinya tujuh. Ukuran panjang bilahnya sedang; memakai ada-ada tipis, sehingga tidak terlihat jelas, tetapi terasa jika diraba. Ricikan yang terdapat pada keris Carita Kasapta termasuk lengkap, yaitu ada kembang kacang, lambe gajah-nya dua, dan tikel alis. Ricikan yang lainnya adalah sogokan-nya rangkap, memakai greneng, gusen memangjang sampai ke ujung bilah dan kruwingan.

FILOSOFI, Dhapur Carita punika | makna ujar wangsit ingkang prayogi | murat sumurup saèstu | dene ta rahsanira | kapintêran lan kagunan iku tamtu | dijalari ing wong wrêddha | mawa sabab sadayèki || ……. Serat Centhini pupuh 236. Atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia; bentuk Carita, artinya adalah ucapan dan bisikan yang baik, maksudnya adalah mengerti dengan sungguh-sunguh. Makna rahasianya kepandaian dan kelebihan itu tentu diwarisi dari orang tua, karena mereka itulah yang menyebabkan semua ini.

Sapta dalam bahasa Jawa adalah pitu. Pitu adalah lambang dari manusia mulai mencari tameng supaya tidak tergelincir dalam dosa. Kata “pitu” ini merupakan simbol dari pitakon, pitutur, pitulung marang pituwo (pertanyaan yang harus dijawab, nasihat, bantuan dari orang tua atau orang yang dianggap mengerti akan permasalahan hidup) yang berarti sebuah usaha manusia mencari nasihat-nasihat dan petuah supaya hidupnya tidak tergelincir dan bisa selalu dalam pertolongan Yang Maha Kuasa.

TENTANG TANGGUH, untuk masalah tangguh keris Carita Kasapta ini bisa memunculkan sebuah diskusi yang menarik. Karena Tangguh lebih bersifat perkiraan dan sering menimbulkan perdebatan, jauh sebelum Indonesia Merdeka para leluhur kita sudah memberikan pesan, diantaranya Ki Anom Mataram dalam Serat Centhini memberi nasehat sebagai berikut : … Poma wekasingsun, lamun ana ingkang nyulayani, atuten kemawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik, malah oleh bathi, tur ora kemruwuk … (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja lah, berdebat tidak ada gunanya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan tidak ramai.

Tanpa perlu diperdebatkan lagi, pamor lar gangsir yang terdapat pada bilah ini sungguhlah elok, indah nan mempesona, membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh hati dibuatnya. Tantingannya pun begitu ringan, hasil pembacaan meteran pada timbangan digital menunjukkan berat bersih bilah ini adalah 139,64 gr. Sedangkan keris Carita Kasapta ini sendiri memiliki ukuran dimensi ; panjang bilah  36,5 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total  44 cm, lebar gonjo 8 cm. Tantingan yang ringan ini tentu saja didapatkan dari proses mewasuh atau membesot besi (membersihkan besi dari slag/unsur pengotor dengan cara tempa lipat berulang kali sampai besi tidak mengeluarkan bunga api) yang ekstra. Kenapa dikatakan ekstra? karna pada proses ini mempengaruhi “cost material”, seperti bahan besi, arang yang digunakan, lamanya waktu pengerjaan dan tentu saja tenaga yang dikeluarkan.

Atau jika merujuk pada hasil penelitian Haryono Arumbinang Msc, Dr Sudyartomo Suntono dan Dr. Budi Santoso (1983) yang mencoba mengukur unsur logam dalam keris sepuh dengan Xray Florocence atau sekarang akrab dengan sikatan XRF, didapatkan kesimpulan bahwa semua tosan aji yang diselidiki ternyata mengandung Ti (Titanium). Penggunaan bahan mengandung Ti sebagai logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi adalah disengaja oleh Para Empu. Ada kemungkinan Ti ini yang menyebabkan tosan aji jaman dahulu terasa ringan apabila dipegang. Titanium sendiri banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan Jawa dan juga Sulawesi. Dan unsur logam titanium sendiri baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940.

Secara garap pun bisa dikatakan di atas rata-rata. Pamornya cukup matang, terlihat tidak adanya sisi/bentuk lar gangsir yang gagal dari sor-sor an hingga ujung panitis misal spasinya merenggang menjadi mirip ganggeng kanyut. Pun demikian letak pamornya juga rapi berada di tengah bilah, tidak offside atau nerjang landhep dan nyekrak (kasar/tajam) rabaannya. Luk-nya yang ramping sepertinya ingin mengadopsi langgam Majapahit, sedangkan bentuk sekar kacang, pejetan yang cenderung persegi dan sogokan yang lebar dan panjang serta bagian gonjo yang sedikit melambai ke bawah pada bagian ekornya lebih cocok mutrani cengkok Mataram. Wasuhan pamor miringnya yang terlihat ngawat dan tajam (nyekrak) malah seperti ingin mengadopsi tangguh Blambangan yang khas itu.

Dissenting opinion pun muncul, dengan rabaan yang nracap terlebih masih sangat wutuh Sertifikat Museum Pusaka menyebut perkiraan abad XX. Sebagian lagi mengatakan ini merupakan keris nom-noman abad XIX. Penulis sendiri pun lebih moderate dan demokratis mengembalikan semua kepada keyakinan pembaca sekalian, dan hanya memberi catatan secara teknis dimana dengan berat 139,64 gr dan panjang total 44 cm akan susah “dikejar” oleh keris produksi baru, kecuali berniat menggarap dengan cost ekstra yakni melebur sendiri pasir besi sebagai bahan (iron bloom).

PAMOR LAR GANGSIR, Sesuai dengan namanya Lar = sayap dan Gangsir = sejenis jangkrik besar (brachytrypes portentosus), adalah motif pamor unik dimana goresan garis pamornya tampak rumit, lipatan dan puntiran menghasilkan pola nginden yang cantik mirip morfologi umum ruas-ruas sayap jangkrik gangsir. Bagi mereka yang percaya, pamor lar gangsir mempunyai tuah yang dapat menjaga pemiliknya menangkal serangan guna-guna, dan menghindarkan gangguan makluk halus.

Sebuah pamor dipercaya tidak hanya sebagai suatu karya yang berfungsi hiasan bilah semata, tetapi diyakini mempunyai muatan spiritual juga memuat ajaran-ajaran hidup. Konon Lar Gangsir = Gelar Ageman Siro, mengandung sebuah ajaran makrifat Sunan kalijaga, yang memiliki makna bahwa gelar atau jabatan pangkat, ketenaran, kekayaan, kecantikan dan ketampanan dan lain sebagainya di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian yang bisa dikenakan dan ditanggalkan. Tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa yang suatu saat pasti akan dimintaNya kembali. Karena pada dasarnya ketika manusia lahir ke dunia tidak membawa apa-apa, demikian juga nantinya ketika menghadap kepada Penciptanya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

 

 

 

 

 

tes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.