Nogo Nowo

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. J Bandung


 
  1. Kode : GKO-261
  2. Dhapur : Nogo Nowo
  3. Pamor : Ngulit Semangka
  4. Tangguh : Cirebon (Ngentho-entho?) (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 178/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Gundih, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : kolektor item

 

Ulasan :

NOGO NOWO, jika kita mencari referensi pada buku-buku perkerisan yang baru maupun yang lama mengenai nama dhapur Nogo Nowo sepertinya tidak akan menemukannya (setidaknya penulis belum menemukan). Budaya Nusantara merupakan budaya yang kaya corak dan warna, meskipun keraton dianggap sebagai pusat kebudayaan namun masih tersisa ruang-ruang untuk budaya di luar keraton yang masih bertahan hingga saat ini, salah satunya seperti penyebutan nama dhapur yang lebih merupakan kawruh pitutur yang diturunkan melalui pengajaran lisan (tidak ditulis atau dibukukan). Salah satu contohnya adalah keris Nogo Nowo, mungkin bagi para sesepuh akan paham bentuk keris dan ricikan yang dimaksud, namun bagi generasi milenial seperti kita-kita ini akan sedikit bingung dalam mencari rujukannya. Tetapi mereka para sahabat di dunia perkerisan yang pernah membabar pusaka kepada Mpu Ngadeni di Gunung Kidul tentu akan sangat mafhum, hampir semua keris yang dibabar Empu Ngadeni memiliki nama dhapurnya sendiri yang berbeda dengan buku. Seperti dhapur panggeng yang memiliki ricikan sama seperti dhapur sempaner, dhapur panca yang memiliki ricikan yang sama dengan dhapur pandawa dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan yang ada justru semakin menambah keanekaragaman sisi budaya yang intangible dalam dunia perkerisan, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan benar-salahnya.

Nogo Nowo, orang Jawa lebih enak mengucapkan ‘a’ menjadi ‘o’, dalam bahasa Indonesia ditulis Naga Nawa. Naga sendiri adalah Sebagai salah satu makhluk mitologi penggambaran wujud fisik dan kemampuannya bisa jadi berbeda-beda dalam tiap budaya. Semisal Nogo (Jawa) penggambarannya berbeda dengan Liong (China), Dragon (Eropa), Neak (Kamboja), Ryu (Jepang), Yilbegan (Siberia dan Turki), Bakunawa (Filipina), atau Balaur (Rumania), dimana Naga Jawa sering digambarkan tidak memiliki sayap, duri di badan dan tanduk, juga jarang diwujudkan dengan berkaki, namun seringkali diwujudkan seperti para Raja atau Kesatriya dengan memakai badhog atau mahkota di atas kepalanya dan terkadang digambarkan juga memakai perhiasan sumping telinga dan kalung emas. Sedangkan Nawa yang dalam bahasa aslinya merupakan bilangan atau angka Sanskerta yang tidak lain adalah ‘sembilan’.

Menurut pitutur keris Nogo Nowo adalah keris luk sembilan (9) dengan hiasan naga pada bagian sor-soran lengkap dengan badannya yang mengikuti alur luknya. Secara ricikan hampir mirip dengan dhapur Naga Sasra hanya berbeda tampilan luk-nya, dimana orang akan lebih familiar Naga Sasra dalam bentuk luk 13 daripada luk 7, 9, atau 11. Perbedaan lain adalah segitiga penopang dagu (wajikan, posisinya terletak pada bagian gandik, di atas bagian cocor atau sirah cecak) yang pada keris dhapur naga sasra sering diwujudkan dalam bentuk motif makara atau hiasan isen-isen motif floral, namun pada keris Nogo Nowo justru hiasan segitiganya seringkali polos dan tidak menyambung dengan dagu atau rahang bawah sang Naga. Yang ada justru hiasan segitiganya pada bagian ujung atasnya sedikit menekuk ke luar lebih mirip stilasi tangan yang sedang memohon (samadhi) seperti halnya dhapur puthut.

Nilai estetik keris dhapur Nogo Nowo diperlihatkan oleh motif naga yang mendominasi permukaan bilah keris. Kepala naga menghadap keluar menghias bagian gandik. Mulut Naga menganga memberikan kesan hidup dan berwibawa. Posisi wajikan tidak menyambung dengan dagu Naga. Sedangkan bagian dada naga tampak membusung meliuk menuju awak-awakan bilah kemudian menjadi badan naga yang menjuntai ke arah panitis. Badan naga meliuk-liuk tampak cantik, luwes dan terkesan hidup, bergerak mengikuti bentuk luk bilah keris.

FILOSOFI KE’MAKRIFAT’AN, Luk Sembilan ibarat jumlah lubang telinga 2, lubang mata 2, lubang hidung 2, mulut 1, yang dua menurut mereka yaitu lubang depan 1 dan belakang 1 (Qubul dan Dubur), sehingga totalnya menjadi sembilan (9) lubang (Hawa Sanga). Hawa/Howo (Jw) berarti lubang, dan Hawa dalam bahasa Arab dapat pula berarti keinginan atau kehendak, merupakan pemicu hawa (keinginan) dalam diri jiwani manusia. Dan Songo adalah sembilan. Babakan Hawa Sanga mengajak melatih kesetiaan tubuh jasmani (eling lan waspodo), dengan cara membangun keteguhan, ketekunan dan kepastian terhadap Sang Pencipta. Manusia pada dasarnya dituntut dua pilihan dalam proses pencapaian rohani atau diri pribadi yang tinggi, yaitu memilih jalan luhur atau memilih jalan pintas. Babahan Hawa Sanga mengajarkan manusia untuk memilih jalan luhur dan selalu waspada dengan jalan pintas yang ditawarkan setan, karena melalui sembilan lubang inilah sebenarnya manusia bisa mencapai derajat mulia dimana manusia akan lebih terarah hidup dan kehidupannya, karena sebenarnya fitrah dari kesembilan jalan tadi adalah kesucian dan jalan pengabdian kepada Sang Khaliq.

Naga adalah simbol kekuatan spiritual non bendawi, nafasnya yang panjang dan tubuhnya yang dingin serta kemampuannya menahan rasa lapar, ibarat seorang sanyasi (pertapa). Naga dalam mitologi Jawa hampir sama maknanya dengan bulus (kura-kura), sebagai simbol ketenangan batin dan umur panjang. Ornamen atau arca bulus/kura-kura dapat dijumpai di candi-candi seperti di Candi Ceto (lereng gunung Lawu). Ular dan kura-kura bernafas tidak tersengal-sengal seperti anjing atau binatang lainnya (Jw; mengkis-mengkis), hal ini dapat menjadi sebuah perenungan alam, bahwa manusia samadhi harus dapat tenang dengan melakukan pranayana yang sempurna. Melalui pranayana terjadi penyatuan dengan alamnya, dengan penyatuan itu akan dapat mencapai pencerahan.

Bentuk mahkota naga yang tidak menyerupai bentuk mahkota raja yang dikenakan Prabu Kresna (naga raja), maupun bentuk mahkota yang menyerupai mahkota adipati karna (naga sasra) melainkan seperti berbentuk lilitan sorban dengan pola wajikan seperti tangan yang menengadah ke atas adalah sebagai pameling untuk selalu mendekatkan diri dengan Yang Di Atas, karena kepada-Nya lah tempat untuk memohon sesuatu hal dan mengucap syukur segala hal. Pada sebagian keris Naga, pada moncong Naga yang menganga tersebut sering dijejali butiran emas atau berlian. Sabda pendita ratu, ludahnya adalah ludah api (idu geni). Apa yang diucapkan pasti terwujud, karena ucapannya adalah kehendak Tuhan. Getaran alam akan selaras, sinergis dan harmonis dengan getaran nurani, demikian pula sebaliknya getaran nuraninya akan selaras dengan getaran (kodrat/hukum) alam. Di situlah letak seseorang yang pinunjul (mempunyai kelebihan), manakala menjadi mandireng pribadi, berarti pula aku adalah alam semesta, kekuatan alam semesta adalah kekuatanku. Para kesatria yang menjaga ucapan serta tindakannya akan sangat beruntung karena negaranya akan menjadi adil makmur, gemah ripah, murah sandang pangan, tenteram, selalu terhindar dari musibah. Sikap seorang Pemimpin yang senantiasa menyandarkan diri pada kebesaran Tuhan YME tersirat dari bentuk ekor yang mengarah ke atas, karena dari sanalah kita berasal dan berpulang.

TENTANG TANGGUH, sebagian pecinta keris dengan melihat bentuk stilasi naganya yang membawa pengaruh ‘tarekat’ lebih condong kepada tangguh Cirebon, sebagian lagi dengan melihat karakter material besi maupun pamor yang seolah membawa DNA majapahit  dan style bentuk greneng yang lebih njogjani, ‘sreg’ kepada tangguh Ngentho-entho. Karena tangguh sifatnya hanya mengira-ngira berdasarkan tanda-tanda yang dibawa tentulah dalam satu bilah yang ditangguh seringkali memunculkan serangkaian jawaban yang (bisa saja) berbeda. Terlebih Serat Centhini jilid II pupuh 108 s/d 122 memuat pengetahuan tentang keris dan tombak menurut jaman itu. Pengetahuan ini dituangkan dalam bentuk tanya jawab antara Ki Anom Mataram dan Mas Cebolang sewaktu ia bersama dua rekannya berkunjung ke Kotagede, ibukota Mataram pada waktu itu, yang oleh sebagian besar pecinta keris dianggap sebagai sumber tertulis yang menjadi panutan, tidak mengkaitkan masalah tangguh dengan sesuatu zaman, namun lebih kepada sikutan (gaya garapan serta sifat/watak bentuk suatu keris. (sikutan puniku, lelagoning garapan lawan wanda ulat-ulataning dhuwung).

MAS KEMAMBANG, atau maskumambang adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah.

Semakin unik karena pada bagian wuwungan gonjo yang terlihat dari luar ketika bilah dimasukkan ke dalam warangkanya justru tanpa pamor, seolah hendak menyiratkan bahwa keris ini adalah keris tayuhan yang sinengker tidak untuk dipamer-pamerkan, juga seolah menegaskan jika tidak ingin diterawang oleh orang lain.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil  kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Dapat dikatakan bahwa garis-garis lengkung yang berirama pada pamor ngulit semangka ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Kehidupan yang berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut  keadaan, dan pada akhirnya harus kembali ke asalnya.

Keris-keris dengan motif Naga dianggap keris yang sangat bernilai. Mereka yang paham esoteri juga meyakini, keris dengan motif naga berada pada tingkatan atau tataran spiritual yang berbeda (lebih tinggi). Oleh karenanya keris dengan motif naga telah mendapat tempatnya tersendiri di hati para pecinta keris dan diimpikan oleh banyak orang baik sekarang atau pada jaman dahulu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.