Keris Anak Alang Naga Luk 7

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. J Bandung


 
  1. Kode : GKO-263
  2. Dhapur : Naga Sapta/Naga Keras (Keris Pandak/Anak Alang Naga)
  3. Pamor : itam (Keleng)
  4. Tangguh : Palembang (Minangkabau?) (Abad XIX)
  5. Sertifikasi No : 180/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan)
  7. Keterangan Lain : aring susun, ganjo sairas

 Ulasan :

NAGA SAPTA, lebih familiar digunakan untuk menyebut tujuh bilah keris yang pada awalnya dibabar oleh Mpu Singowijoyo, atas perintah ISKS Paku Buwono VII, Raja Surakarta. Keris tersebut semuanya berdhapur Naga Sasra dan semuanya berluk tujuh. Ketujuh keris tersebut diberikan hiasan kinatah emas sangang wadana ( 9 sisi), tetapi motif gambarannya berbeda satu sama lain. Pembuatan ketujuh keris yang semuanya diberi nama Kanjeng Kyai Nagasapta itu dimaksud sebagai lambang perjuangan spiritual masa pemerintahan Paku Buwono VII dalam perjuangannya melawan Belanda.

Meski begitu hingga kini pun masih terdapat silang pendapat tentang berapa sebenarnya jumlah pasti pusaka KK Nagasapta tersebut. Sementara banyak orang meyakini bahwa tujuh buah pusaka KK Naga sapta telah dibuat oleh Empu Singowijoyo selama pemerintahan PB VII. Namun sumber-sumber keraton Surakarta yang sangat mengetahui keberadaan semua pusaka KK Nagasapta, menyatakan bahwa sebenarnya hanya lima buah keris KK Nagasapta yang sempat dibabar oleh Empu Singowijoyo. Konon kelima keris Nagasapta diberikan kepada Raja Swedia, Musolini, Pangeran Hendrik (Suami dari Ratu Yuliana), Bupati Cilacap (juru kunci yang khusus menjaga kembang wijayakusuma), dan satu lagi dipastikan tersimpan di Surakarta dalam keadaan seratus persen masih utuh.

KERIS ANAK ALANG, orang jawa biasanya menyebutnya dengan istilah keris patrem, yaitu keris berukuran kecil, panjang bilahnya sekitar salito atau satu jengkal tangan, atau antara 15-22,5 cm. Walaupun keris anak alang berukuran kecil, namun tetap memiliki material bahan pilihan dan proporsi bentuk keris yang baik.

Penduduk di berbagai wilayah di Sumatera pada umumnya beragama Islam, oleh karena itu bila mereka memiliki anak laki-laki sekitar umur 10-12 tahun akan dilakukan khitanan (sunat). Pada saat upacara khitanan, anak laki-laki tersebut biasanya menggunakan pakaian adatnya masing-masing lengkap dengan kerisnya. Pada saat upacara khitan seringkali digunakan sebagai saat yang tepat bagi orang tua untuk memberikan hadiah keris kepada anak laki-lakinya yang dikhitankan. Keris anak alang biasanya diberikan kepada seorang anak laki-laki sebagai simbol untuk mendewasakan dan membangun rasa tanggung jawab.

KERIS ITAM/WULUNG, keris itam/wulung (tidak berpamor) di Minangkabau dari segi jenis bahannya secara umum dapat dipilah menjadi beberapa jenis, yaitu :

  1. Keris besi bari (malela kendaga, Jw), keris tanpa pamor yang permukaan bilahnya kasar seperti kertas berpasir dan terdapat seperti serpihan kaca. bentuk seperti serpihan kaca merupakan bahan pasir kuarsa yang tercampur dari bahan pasir besinya. Jenis ini banyak dijumpai di Desa Benit, Pal Enam daerah Muara Bungo Jambi dan sekitarnya. Masarakat sekitar menyebutkan dengan istilah kalam. Jenis bahan ini memiliki berat jenis kurang dua kali lipat berat jenis merkuri (air raksa).
  2. Keris malela (murda malela, Jw), keris tanpa pamor yang permukaan bilahnya tampak halus dan licin.  Di Jawa dikenal dengan istilah keris kang lumer grayanganipun yang artinya bilah keris yang halus/licin rabaannya. Jenis besi ini banyak dijumpai di sekitar Pelabuhan Ratu, sedangkan di Sumatera dijumpai di Pantai Puteri Penangis, Padang, Sumatera Barat.
  3. Keris retak seribu (wesi mentah, Jw), keris tanpa pamor yang permukaan bilahnya tampak kasar dan seperti retak-retak yang pada umumnya disebabkan karena proses pembakaran dan penempaan kurang matang.
  4. Keris tarung, keris tanpa pamor yang dibuat dari jenis besi tarung (sejenis besi karang kijang di Jawa). Istilah ini biasa dipergunakan di Riau Kepulauan hingga ke Semenanjung Malaya.
  5. Besi bampur bermian (pamor sanak, Jw), merupakan keris tanpa pamor yang permukaan bilahnya terdapat guratan-guratan alur pamor tetapi tidak begitu jelas karena efek campuran bahan logam pada penempaan.
  6. Dom kecer (ngglugut, Jw), keris tanpa pamor yang permukaan bilahnya seperti tebaran jarum-jarum yang berjajar atau seperti puluh (gelugut, Jw). Istilah ini merupakan istilah yang dipengaruhi dari istilah perkerisan Jawa.
  7. Keris itam (pangawak wojo, Jw), istilah keris tanpa pamor pada umumnya. Itam merujuk pada warna hitam atau tidak berpamor.

ganja sairas

KERIS GANJA SAIRAS, merupakan jenis keris yang relatif jarang dijumpai dan dipercaya memiliki tuah dan makna simbolik yang baik. Keris ini dapat ditengarai dari ganjanya yang menyatu dengan bilahnya (tidak sambungan, ganja sambungan dikenal dengan istilah ganjo manumpang). Keris jenis ini juga memiliki kedudukan yang cukup tinggi pada masyarakat Minangkabau.

TANGGUH MINANGKABAU, Budaya tanguh atau menangguh keris guna merunut gaya, asal daerah, dan juga perkiraan dibuatnya suatu keris belum lazim dilakukan di Sumatera. Selain karena data pendukungnya yang sangat terbatas, juga disebabkan karena masyarakat Sumatera bebas memiliki keris tanpa harus sesuai dengan adat mereka masing-masing. Mereka bisa menerima berbagai gaya keris, bahkan bebas mengkombinasikannya dengan indah dan mampu menyesuaikan dengan pakaian adat, fungsi sosial dan lain sebagainya.

Keris yang berkembang dan dijumpai di Minangkabau dapat dipilahkan menjadi beberapa jenis, yaitu :

  1. Keris yang dibuat di Minangkabau dan bergaya Minangkabau.
  2. Keris yang dibuat di Minangkabau dengan gaya rumpun Sumatera, seperti: keris Palembang, keris Aceh, keris Jambi, keris Riau dan lain sebagainya.
  3. Keris yang dijumpai di Minangkabau namun dibuat di daerah rumpun Sumatera lainnya, misalnya keris Palembang, keris Jambi, keris Riau, keris Lampung dan lain-lain.
  4. Keris yang dijumpai di Minangkabau yang berasal dari Jawa atau Sulawesi yang harus diakui ikut mempengaruhi corak keris Minangkabau.

ULU BALU MEKAMBUN, secara awam, keris-keris rumpun Sumatera dan keris serumpun Melayu bisa dikenali dari bentuk ulu dan sarungnya. Atau dalam istilah perkerisan Jawa, terlihat jelas dari deder dan warangkanya. Kedua sandangan itu sangat beragam dan banyak sekali bentuk dan motifnya, seperti ulu anak ayam, ulu jawa demam, ulu patah tiga dan ulu balu mekambun yang tampak seperti model topeng bentuk segitiga yang menutupi wajah secara penuh, disinyalir merupakan stilasi dari dewi durga. Perekatan pesi dengan hulunya masih menggunakan teknik lama, yakni dengan cara di ‘jabung‘.

Selain itu, tak ada ketentuan baku soal posisi pemasangan gagang atau pegangan dengan bilah keris, orang Jawa biasanya merasa ‘geregetan’ melihat hulu keris serumpun Melayu seperti dipasang terbalik. Namun itulah Melayu dengan segala kekhasannya.

WARANGKA PERAHU BESAK, Karakteristik bentuk warangka yang berasal dari Palembang adalah warangka prahu. Bentuk warangka ini mencerminkan bentuk simbolik dari perahu besak (perahu besar). Warangka prahu ini juga mencerminkan kehidupan msayarakat Palembang di masa silam yang senantiasa dekat dengan air. Mereka biasa hidup di pinggiran sungai, danau-danau atau di rawa-rawa. Bagi masyarakat Palembang, perahu merupakan sarana kehidupan yang dianggap penting. Hingga tahun 1930-an masih dijumpai masyarakat Palembang yang hidupnya menetap dan tinggal di atas perahu. Perahu bagi masyarakat Palembang selain mencerminkan kehidupan mereka yang senantiasa dekat dengan air juga sebagai simbol wawasan, kemuliaan, kemapanan dan sekaligus simbol kekayaan. Lebih jauh, perahu juga merupakan sarana simbolis mencapai segala harapan baik yang bersifat fisik maupun spiritual, bahkan dipercaya memiliki kekuatan magi.

Originalitas meranggi Sumatera dapat kita lihat dalam teknik ‘memanjing’ bilah pada warangkanya, keris-keris Sumatera hingga Semenanjung entah bagaimana seringkali posisi gonjo belakang ‘offside‘ tidak tenggelam ke dalam warangkanya. Justru yang kita anggap sebagai kekurangannya malah menjadi kekhasannya tersendiri. Karena jika sudah tersentuh tangan meranggi jawa posisi bilahnya akan cenderung lebih disejajarkan dengan sudut kemiringan warangka perahu besaknya.

Termasuk di tanah Sumatera keris mengandung semboyan dan makna-makna sosial. “Sampai nafas terakhir, tetap keris tergenggam di tangan“, begitu unen-unen yang diyakini masyarakat melayu pada umumnya. Ini artinya keris menunjukkan tingkat keadaban seseorang. Sama halnya dengan di Jawa, keris berfungsi sebagai jati diri, keabsahan silsilah, tingkat kebangsawanan, simbol legitimasi dan tentu saja piyandel.

keris Naga Tunggal

motif naga luar jawa

Keris anak alang ini besinya termasuk itam atau tidak berpamor dan memakai ganjo sairas. Stilasi ular naganya cukup unik, sangat berbeda dengan muka naga Jawa pada umumnya. Demikian juga dengan penyebutan nama dhapurnya, jika naga luk tujuh orang jawa biasanya menyebutnya dengan naga sapta/naga keras, justru di semenanjung melayu lebih familiar dengan sebutan naga tunggal. Ricikan aring susun (robyong, Jw) terbilang istimewa karena masih sangat utuh, tampak tegas, runcing dan tajam. Bangun bilahnya tidak terlalu menunduk dan bahkan condong leleh-nya relatif tegak lurus. Besinya pun sangat berbeda dengan besi keris Jawa pada umumnya, namun tetap matang tempaan, padat, halus, liat, kuat dan relatif tajam. Motif Ulu Balu Mekambun (stilasi Dewi Durga) dari bahan kayu kemuning yang menampilkan corak garis yang indah berpadu berhias pedongkok (mendak, Jw) terbuat dari suasa dengan sampir tanggah Perahu Besak khas palembang terbuat dari kayu kemuning dengan batang sunah (gandar, Jw) polos tanpa dihiasi pendok melengkapi mato keris (wilah, Jw).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.