Jangkung Liman Primitif

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : 2,950,000 (TERMAHAR) Tn. J Bandung


 
  1. Kode : GKO-25
  2. Dhapur : Jangkung Liman (Primitif)
  3. Pamor :  Sanak
  4. Tangguh : Cirebon Sepuh
  5. Sertifikasi : proses
  6. Asal-usul Pusaka : Garut, Jawa Barat
  7. Keterangan Lain : bentuk gandik seperti stilasi liman primitif, ukuran sedikit lebih panjang daripada patrem, ganja sairas bergaris (kineret, Jw)

 

Ulasan :

Gonjo iras minangka prasemoning angganing manusa kaliyan Pangeran, kawula kaliyan Gusti, ingkang mucuki kaliyan ingkang mekasi, serta pepethan, tansah sih-sinihan, boten nate pepisahan.

JANGKUNG, biasanya orang-orang perkerisan menyebut keris luk tiga yang memakai ricikan sederhana: sekar kacang baik yang memakai sogokan maupun tidak dengan sebutan keris Jangkung. Dhapur keris luk tiga (jangkung), umumnya dianggap membawakan sifat isi keris yang menunjang cita-cita, karena bentuknya membawa perlambang terhindar dari godaan (fokus pada tujuan). Dalam bahasa jawa sering diungkapkan : ‘sae kagem ingkang kagungan gegayuhan‘. Baik bagi orang yang sedang memperjuangkan cita-cita. Jadi, lebih kurang sifat isi keris itu adalah untuk menambah ambisi dan semangat seseorang dalam meraih cita-citanya.

LIMAN PRIMITIF, disebut ‘primitif’ karena abstrak atau kurang jelas bentuknya, perlu ruang imajinasi yang lebih dalam untuk memahami wujudnya. Motif pahatan semacam ini biasanya dibuat oleh empu-empu luar benteng keraton (empu-empu desa yang tinggal jauh dari pusat) yang penguasaan teknologi maupun sarana dan prasananya masih sederhana dan terbatas. Penggunaannya adalah masyarakat yang pada umumnya (orang desa) atau para kepala desa yang status sosialnya tidak begitu tinggi. Mereka mencoba mengira-ira dan meniru keris-keris agung (pancer) yang dimiliki oleh raja atau bangsawan. Penamaan keris yang menambahkan kata ‘primitif’ di belakangnya menjadi penanda bahwa keris jenis ini dihasilkan oleh Empu-Empu pedesaan. Misalnya Jangkung Liman Primitif, keris luk tiga yang seharusnya pada bagian sor-soran gajah dilukiskan secara detail, bisa dengan belalai, gading, kaki dan ekornya namun dikerjakan dengan garap yang sangat sederhana (primitif). Namun pendapat dari kelompok pemuja esoteri justru berbeda lagi. Keris-keris seperti ini dalam wacana pakem dhapur dan value pasar dianggap keris garap njobo atau ndeso yang nilai maharnya relatif terjangkau. Bagi penggemar keris yang tingkatan pemahamannya sudah makrifat, dianggap keris yang punya nilai cipta rasa dan karsa tersendiri, baik pemilik maupun sang empu sudah tidak terjebak dalam mempertimbangkan pakem (medal paugeran), belenggu material atau , wadag luar. Cipta rasa dan karsanya sudah mengikuti tuntunan hati dan mempertimbangkan kearifan lokal, sehingga karya tersebut menjadi sesuatu yang sifatnya sangat pribadi tidak dapat diperbandingkan.

TANGGUH CIREBON, Mas Ngabehi Wirasoekadga, Abdi Dalem Mantri Pande di Surakarta dalam Serat Panangguhing Duwung menjelaskan tangguh Cirebon : “Dhuwung ganja waradin iras, gulu meled cekak, sirah cecak buweng, buntut urang methit, seblakipun keras ampang, wasuhanipun madya, pamoripun kirang lulut, sekar kacang ngecambah dhuwung ingkang kathah alit-alit serta celak, punapa dene wesi jejeranipun iras kaliyan dhuwungipun, medala leres utawi luk srapatipun sami, sogokan gatra kados kasebut nginggil, dene dhapuripun kirang manggen, sajak dhapur seking”.

Secara eksplisit Wirasukadga menjelaskan jika kebanyakan keris-keris Cirebon baik dhapur luk maupun leres rata-rata berukuran kecil-kecil dan pendek, malah beberapa ada juga yang hulunya menyatu dengan bilah (seperti keris sajen). Secara kualitas garap, mulai dari cara wasuhan, besi hingga pamor semuanya biasa saja seperti halnya keris-keris tayuhan yang tidak mementingkan garap luar atau kedetailan ricikan melainkan ‘isi’ yang utama.  Wirasukadgo juga menduga seperti halnya ‘seking’ (tosan aji bentuknya seperti pisau), keris cirebonan memang difungsikan untuk memudahkan pemiliknya jika harus ‘disengkelit dan diajak’ berpergian.

Penangguhan keris-keris Cirebon versi Wirasukadgo memang dirasa agak berbeda dengan apa yang dipahami mengenai keris Cirebon saat ini. Adanya perbedaan itu kemungkinan perlu menilik ulang wewengkon (peta wilayah) Cirebon di Jaman dahulu ketika Serat Panangguhing Duwung ditulis yang masih menggunakan peta kolonial Jaman Belanda dimana saat itu masih membagi Jawa Barat menjadi 5 wilayah yakni Bantam, Batavia, Priangan, Buitenzorg dan Cheribon. Wirasukadgo juga tidak menjelaskan nama-nama Empu yang mengabdikan diri di wilayah Cirebon,  tetapi dari sumber lain (Koseni, 1979) kita bisa menemukan nama Mpu Bayuaji yang menciptakan keris Kyai Setan Kober yang ternama itu dan mpu Damarjati.

peta Jawa Barat tahun 1930 an

CONDONG – LELEH – MAYAT, merupakan derajad kemiringan bilah terhadap pesi, yang apabila di tinjau dari kemiringannya dibagi tiga macam, yaitu yang condong, yang leleh, dan yang mayat. Keris yang leleh lebih miring daripada yang condong, sedangkan bilah keris yang mayat, adalah yang paling menunduk atau miring sekali.

Peruntukan sebagai keris tayuhan sangat terasa pada keris ini. Meskipun bentuknya sangat prasaja, tapi dalam kesederhanaan tersebut seperti menyimpan sesuatu yang lain. Sesuatu yang banyak menyimpan cerita di masa lalu. Pandangan pertama orang tentu akan tertuju dari bentuk gandiknya. Gandik dengan bentuk telale gajah khas pra islam masih terlihat sangat wutuh. Tidak salah jika kita melihat bentuk imajiner kepala gajah disitu, apalagi dua lambe gajah dipahat persis di bawah sekar kacang-nya semakin meneguhkan bentuk imajiner kepala gajah, tentulah membawa maksud tertentu. Selain itu tidak tampak adanya ricikan lain, hanya blumbangan yang sangat samar dan eri pandan. Lekukan keluk tiganya tampak manis, dengan posisi mayat yang menunduk sekali. Seolah akan selalu mengingatkan kepada kita semua, bahwa semakin berisi padi akan semakin merunduk. Terlebih besinya begitu halus rabaannya seakan menyiratkan kehalusan hati dan keluhuran budi. Jika biasanya bagian gonjo dibuat terpisah (gonjo susulan) yang diambil dari potongan atas bilah sebelum dibentuk, tapi keris jangkung liman primitif ini tampil dalam bentuk gonjo iras, dimana gonjo menyatu dengan bilah yang hanya dibedakan dengan goresan garis. Konon keris-keris dengan gonjo iras jaman dahulu banyak dimiliki oleh mereka yang berusaha mencapai suatu tataran spiritual tertentu atau aliran tertentu (manunggaling kawula gusti-Syekh Siti Jenar).

JALU MEMET, adalah salah satu bagian keris yang bentuknya menyerupai tonjolan runcing, kecil, terdapat pada bagian paling bawah dari gandik yang berbatasan dengan gonjo keris. Di atas bagian jalu memet ini hampir selalu ada lambe gajah.

PAMOR SANAK, atau nyanak (samar) adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya, baik melalui penglihatan maupun perabaan. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pamor sanak. Pemahaman lainnya pamor sanak berasal bahan pamor yang tertua dimana terdiri dari dua atau beberapa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang tidak murni dan  berbeda komposisi unsur-unsurnya itu yang biasanya didapatkan dari daerah yang berbeda pula. Karena proses ‘reaktif’ dari tempa dan pemanasan menghasilkan alur-alur samar.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *