Sempana

Mahar : 4,950,000,-


 
  1. Kode : GKO-257
  2. Dhapur : Sempana
  3. Pamor : Ganggeng Kanyut
  4. Tangguh : Madura Sepuh (Mataram?) (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 60/MP.TMII/I/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : pamor miring

 

Ulasan :

SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi dalem.

FILOSOFI LUK SEMBILAN, Dalam khasanah Jawa kalimat di atas sangat akrab diucapkan orang-orang tua : ‘Yen Kowe Kepingin Selamet, Jogoen Bolongan Songo utowo babakan Songo‘, artinya jika kamu kepingin selamat dunia ahirat, jagalah Sembilan lubang atau Sembilan perkara. Hawa/Howo bahasa Jawa dapat berarti lubang, dan Hawa dalam bahasa Arab dapat pula berarti keinginan atau kehendak, merupakan pemicu hawa (keinginan) dalam diri jiwani manusia. Dan Songo adalah sembilan. Ternyata, secara fisik juga bisa kita pahami bahwa bolongan songo yang dimaksud orang-orang tua dulu adalah: jumlah lubang telinga 2, lubang mata 2, lubang hidung 2, mulut 1, yang dua menurut mereka yaitu lubang depan 1 dan belakang 1 (Qubul dan Dubur), sehingga totalnya menjadi sembilan (9) lubang.

Babahan Hawa Sanga mengajak melatih kesetiaan tubuh jasmani (eling lan waspodo), dengan cara membangun keteguhan, ketekunan dan kepastian terhadap Sang Pencipta. Manusia pada dasarnya dituntut dua pilihan dalam proses pencapaian rohani atau diri pribadi yang tinggi, yaitu memilih jalan luhur atau memilih jalan pintas. Babahan Hawa Sanga mengajarkan manusia untuk memilih jalan luhur dan selalu waspada dengan jalan pintas yang ditawarkan setan, karena melalui sembilan lubang inilah sebenarnya manusia bisa mencapai derajat mulia dimana manusia akan lebih terarah hidup dan kehidupannya ketika mau berikhtiar untuk mengontrol 9 lubang hawa tadi, karena sebenarnya fitrah dari 9 jalan tadi adalah kesucian dan jalan pengabdian kepada Sang Khaliq. Atau sebaliknya, melalui lubang Sembilan inilah manusia bisa lebih hina dari pada hewan yang paling hina, ketika manusia tidak mampu menjaganya.

Dhapur keris luk sembilan, umumnya dikaitkan dengan  perlambang bantuan dan penunjang karier pemiliknya. Pemilik keris ini biasanya dianggap memiliki ambisi untuk maju dalam hal karier. Jadi pada umumnya taksu keriss berdhapur luk sembilan dianggap dapat membantu memelihara ambisi pemiliknya untuk lebih maju guna mencapai jenjan karier yang lebih tinggi.

TENTANG TANGGUH, berasal dari kata ‘tak sengguh’, artinya diduga. Maka, cara memperkirakan tangguh (jaman pembuatan, tetapi pada jaman dahulu lebih spesifik dengan nama empu) ini berarti hanya menduga yang paling mendekati. Hal pertama adalah dengan cara meneliti sikutan (adalah cengkok gaya, rancang bangun, garapan serta watak bentuk keris), dan kemudian jenis besi keris, baja dan pamornya. Karena dalam hal menangguh lebih mengandalkan rasa yang terasah dari pengalaman dan laku tentu saja bisa benar atau bisa salah. Karena Tangguh sering menimbulkan perdebatan maka Ki Anom Mataram dalam Serat Centhini memberi nasehat sebagai berikut : … Poma wekasingsun, lamun ana ingkang nyulayani, atuten kemawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik, malah oleh bathi, tur ora kemruwuk … (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja lah,  berdebat tidak ada gunanya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan tidak ramai…)

Seperti pada keris sempono pamor ganggeng kanyut ini, boleh dikatakan agak membingungkan, orang menyebutnya dengan tilar tanggu (keris yang sulit dicari tangguhnya berdasarkan ciri-ciri yang terdapat pada keris itu). Dapat kita lihat bersama pada bagian gandik atau sor-soran  masih dipengaruhi karakter keris-keris majapahit, tetapi jika menengok ke atas dengan bentuk luk nya yang samar (kemba) dan condong leleh (kemiringan) agak menunduk lebih cocok sebagai karakter luk keris pasundan. Pun demikian pula dengan besinya, serasa sudah mambu londo (bercampur dengan besi-besi Eropa) yang apabila kita menilik sejarah nasional perdagangan VOC mengalami masa keemasannya di jaman Mataram. Sedangkan pamornya sendiri justru terlihat ‘kurang mataram’, agak kelem (redup) kurang byor (terang/kontras).

Tetapi jika mencoba mengkaitkan dengan sejarah pada Zaman Mataram Sultan Agung pernah ada cerita   Ketika  merencanakan mengempur VOC di Batavia,  Sultan Agung mempersiapkan diri melengkapi peralatan perang. Sultan Agung mengumpulkan empu – empu dan pande besi yang ada di daerah kekuasaan Mataram. Para Empu tersebut berasal dari seluruh penjuru tanah jawa berjumlah 800 dikumpulkan di Mataram untuk melaksanakan perintah membuat keris, tombak, meriam dan senjata perang lainnya, peristiwa inilah yang disebut “Pakelun“. Kata kelun artinya penguasaan menyeluruh atau mutlak. 800 orang empu ini kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok dipimpin oleh empu senior (empu tindih) dan kepadanya diberikan pangkat lurah mantri, berjumlah 8 orang yakni: Ki Tepas, Empu berasal dari Semarang, Ki Salatea, Empu berasal dari Tuban, Ki Mayi, Empu berasal dari Jawa Barat, Ki Legi, Empu keturunan Ki Supogati dari Majapahit, Empu Gedhe, Anak Empu Cublak dari Pajang, Empu Luwing, Empu berasal dari Semarang, dimana eyang buyutnya adalah Mpu Ki Koso Madura, Ki Guling, Empu berasal dari Mataram, Ki Ancer, Empu berasal dari Kalianjir, Ki Tundhung, Empu berasal dari Kudus yang tidak lain adalah Ki Supo Enom (Jokosupo II), yang diangkat membawahi semua empu (Empu Jejeneng).

Berbeda dengan keris buatan Empu pakelun Majapahit yang keris-kerisnya mempunyai satu gaya, satu pasikutan, keris-keris karya Empu Pakelun Mataram lahir dengan membawa gaya masing-masing Empu dan bahan material daerah asalnya nya. Tangguh/pasikutan zaman pemerintahan Sultan Agung banyak dan beragam karena adanya reformasi dibidang seni, budaya dan penanggalan, masyarakat umum diberi kebebasan untuk memiliki keris dan para empu diberi kebebasan untuk membuat kreasi karya terbaik, sehingga pesikutan sangat beragam sejak awal pemerintahannya.

 

PAMOR GANGGENG KANYUT, Ganggeng = Ganggang (sejenis tanaman air)  yang meliuk-liuk menahan arus air, sedangkan Kanyut adalah bahasa Jawa yang artinya hanyut. Ganggang akarnya tetap menancap kuat sementara batang dan ujungnya melambai-lambai didera derasnya arus sungai seolah-olah akan ikut hanyut, merupakan ekspresi simbolisme dari sebuah harapan agar si pemegang menjadi seorang tokoh yang selalu teguh dalam keputusannya (tegas), dapat menjadi panutan (berwibawa) dan selalu memberi pencerahan pada bawahannya (pamomong), dan ujung tanamannya yang meliuk-liuk mengikuti arah arus merupakan gambaran perlunya menjadi pribadi yang luwes, sehingga mudah untuk menjalin hubungan sosial dengan siapapun dimanapun serta bisa diterima oleh semua kalangan.

Pamor ini sebenarnya tergolong pamor miring, tetapi karena motif gambaran pamor ini muyeg dan rumit, pada waktu penempaannya banyak bagian yang semula merupakan pamor miring menajdi mlumah. Dengan demikian setelah pamor ini jadi, tampak seperti kombinasi pamor mlumah miring.Tuah atau angsar pamor ganggeng kanyut, bagi yang percaya terutama adalah untuk kelancaran pergaulan. Pemilik keris dengan pamor ini akan mudah mendapat kawan, dan seperti pepatah banyak kawan akan banyak rejekinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *