Sabuk Inten

Mahar : 4,950,000,-


 
  1. Kode : GKO-250
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 32/MP.TMII/I/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : warangka gayaman kayu cendana wangi, sogokan sedikit tembus

 

Ulasan :

SABUK INTEN, menurut cerita rakyat dhapur Sabuk Inten diciptakan oleh 800 empu tahun jawa 1381 pada masa Prabu Brawijaya Akhir. Karena dibabar oleh empu Domas (domas, menurut Kamus Bahasa Sunda-Inggris , Jonathan Rigg, 1862 ; berarti 800 dengan asal kata dwa yang artinya dua dan mas yang berarti 400, di samping mempunyai arti sebagai emas logam mulia) yang memiliki kedudukan spesial, pastilah keris yang dihasilkan memiliki kandungan makna yang khusus pula. Boleh dikata keris Sabuk Inten juga relatif familiar ditelinga masyarakat luas daripada jenis keris yang lain. Salah satu kemungkinannya barangkali karena nama Sabuk Inten pernah diangkat menjadi salah satu judul karya sastra ciptaan SH. Mintarja yang berjudul Nagasasra Sabuk Inten.

Sedangkan ricikan dhapur Sabuk Inten tergolong lengkap yakni; Luk sebelas, kembang kacang, jalen, lambe gajah, pejetan , tikel alis, sogokan depan dan sogokan belakang (rangkap), sraweyan dan greneng atau eri pandan.

FILOSOFI, Kekayaan atau kemulyaan hidup (raja brana disimbolkan Inten) bagi orang Jawa diperoleh dengan laku prihatin (disimbolkan Sabuk, mengencangkan ikat pinggang). “Sapa obah mamah, ulet ngelamet, ana awan ana pangan, tuking boga seka nyambut karya, sregep iku gawe kamulyan” (Siapa bekerja dapat makan, siapa cerdik dan kerja keras makan enak, ada hari ada rezeki, rajin bekerja sumber kesejahteraan, makan enak dan baik, hasil laku prihatin, cegah dhahar lan guling/mengurangi makan/puasa dan tidur/tirakat atau kerja keras.

TANGGUH MATARAM, Tantingan (mengukur berat ringannya melalui rasa, salah satunya adalah dengan menggoyang-goyangkan ke atas dan ke bawah) begitu ringan dengan rabaan besi yang halus pertanda matang tempa. Luk-nya yang ramping seolah masih membawa gaya mataram awal (senopaten). Pamor merata di sepanjang tengah bilah khas keris-keris mataram pada umumnya. Kembang kacang-nya yang nguku bima masih terlihat cantik. Meski begitu tak ada gading yang tak retak, sogokan depan belakang yang seringkali dibuat dalam pada masa kini sering menyisakan bentuk yang tidak wutuh (tembus). Warangka gayaman surakarta yang terbuat dari kayu cendana wangi dengan garap yang wangun dan pendok krawangan yang tebal menambah value tersendiri, selain harga bahan baku kayunya sudah tinggi dan sudah mulai susah ditemukan.

PAMOR BERAS WUTAH, Jika dalam motif batik disebutnya Beras Kecer adalah motif  bentuknya berupa butiran-butiran menyerupai beras yang tersebar. Maknanya pun sama, Beras Kecer /Wutah bermakna pengharapan untuk kemakmuran dan rejeki yang melimpah. Bagi lelaki Jawa yang telah menikah, pamor ini juga mengingatkan akan tanggung jawab lelaki sebagai kepala keluarga untuk bertanggungjawab menghidupi / menafkahi keluarganya yang berupa sandang pangan, sebagaimana tercermin dari ritual “kacar-kucur” pengantin Jawa, dimana pihak lelaki “menumpahkan beras” ke tempat yang telah disediakan pihak perempuan. Arti simbolis ritual ini juga berarti bahwa rejeki yang didapat sang suami “tidak lari kemana-mana“ selain ke istri sendiri – yang sekaligus menjadi pengelolanya. Pamor ini juga sebagai pengingat simbol kesetiaan seorang pria yang sudah berumah tangga (baca = suami). Istri-lah tempat kita kacar-kucur. Istri tempat menampung/menyebarkan benih dan lahirlah anak-anak kita. Berat-susahnya beban hidup dipikul bersama.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *