Naga Liman Luk 5

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. J Bandung


 
  1. Kode : GKO-260
  2. Dhapur :Naga Liman Luk 5
  3. Pamor : Beras Wutah (udan mas tiban)
  4. Tangguh : Madura Sepuh (Era Majapahit?) (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 86/MP.TMII/I/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : dhapur langka, kolektor item

 

Ulasan :

NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari sosok ular  (biasanya dibuat tersamar mirip naga siluman). Ricikan lainnya adalah sraweyan, ri pandan atau greneng. Keris ini biasanya dijumpai dalam bentuk lurus, keluk 3, keluk 5 dan keluk 7. Dhapur Naga Liman tergolong langka seperti halnya dhapur ganan lain seperti naga dan singo.

FILOSOFI, LIMAN = gajah, dikenal juga dengan nama Vinayaka yang berarti penghilang rintangan (menghapus semua hambatan yang datang dan memberi kita kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk melewati semua tugas). Dalam kepercayaan Hindu, gajah merupakan vahana (tunggangan) beberapa dewa, seperti Dewa Indra yang dikenal dengan nama Gajah Airawata, Dewa Skanda, Dewa Sani Dewa Balabadhra dan dalam bentuk Gajamukha, yakni Ganesha. Sedangkan dalam kepercayaan Hindu, gajah merupakan vahana atau tunggangan dari Dhyani Buddha Aksobhya. Gajah juga dipercaya sebagai simbol kejantanan (laki-laki) yang dikaitkan dengan lingga atau vajra. Gajah juga dianggap sebagai astamanggala, yaitu benda keberuntungan yang harus ada pada saat penobatan Raja. Tidak salah dalam masa awal pemerintahannya Sultan Agung raja Mataram begitu menggandrungi keris Lar Monga.

Dalam perwujudannya, mulut sang gajah yang terbuka cukup lebar sebagai pengingat bahwa manusia harus mampu mengandalikan kata-katanya. Sikap atau kematangan (menep) seseorang dalam menjalani kehidupan dapat dilihat dari sikapnya yang sedikit berbicara. Manusia diingatkan untuk bicara seperlunya, sebagaimana ungkapan ‘ngomong nganggo waton, ora waton ngomong‘, yang berarti bicara itu menggunakan dasar bukan asal ngomong. Apabila kemudian dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan luhur, ungkapan tersebut merupakan sabda yang tidak boleh berubah, sabda pandita ratu tan keno wola-wali. Dengan demikian kemuliaan seseorang adalah kemampuannya untuk menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan.

NAGA = ular besar, dikenal dengan nama naga Taksaka simbol penjagaan atau perlindungan. Keistimewaannya membawanya hadir dalam setiap bangunan-bangunan suci (candi) hingga keraton-keraton di Jawa. Seperti di bagian atas gapura magangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat ornamen dua naga yang ekornya ke mengarah atas lalu melilit, menyatu. Ornamen tersebut dibaca “Dwi Naga Ngrasa Tunggal”. Dwi berwatak 2, naga berwatak 8, ngrasa berwatak 6, dan tunggal berwatak 1. Diperoleh susunan angka 2, 8, 6, dan 1, sehingga diperoleh tahun 1682, yaitu saat dibangunnya bagian itu. Tidak ketinggalan di kraton Surakarta, ada juga ornamen yang dibaca “Naga Muluk Tinitihan Janma”. Naga berwatak 8, muluk (terbang) berwatak 0, tinitihan (ditunggangi) berwatak 7, dan janma (manusia) berwatak 1;  digabung menjadi 8071, setelah dibalik menjadi 1708.

Dalam perwujudannya pada pusaka, badan naga yang tersamar dari bagian leher dan selanjutnya mengikuti lekukan bilah sampai ke atas dapat diinterpretasikan sebagai himbauan kepada manusia untuk menjalani hidup dengan mengendalikan hawa nafsunya. Pengendalian diri ini dimaksudkan sebagai suatu proses menuju pemahaman spiritual kasampurnaning urip supaya mampu menangkap bisikan-bisikan maupun tanda-tanda alam, seperti wahyu, ilham atau wisik. Maka ketika menjadi pemimpin akan senantiasa menyadari bahwa derajad dan pangkat merupakan sebuah amanah dari Tuhan yang musti dijalankan dengan benar. Semakin tinggi derajad dan pangkat maka kewajibannya akan semakin berat pula.

Keris Naga Liman merupakan simbol keteguhan dalam memegang sebuah amanah serta bagaimana menjadi manusia yang selalu ikhlas berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, dimanapun ia berada.

TENTANG TANGGUH, luk dan bentuknya yang ramping dengan tantingan sangat ringan khas wilwatikta. Besinya hitam, halus, berserat rapat sangat matang tempa. Pamornya pun tak kalah terang dan gemerlap. Bagian gandik tampak stilasi gajah berbelalai dengan leher melewati blumbangan selanjutnya bagian badan dari sang naga menjuntai ke atas tersamar mengikuti lekak-lekuk bilahnya meski diukir secara sederhana namun terkesan hidup. Terkadang hal-hal yang sederhana mempunyai kedalaman makna tersendiri yang susah untuk diuraikan.

PAMOR UDAN MAS TIBAN, jika kita ‘membaca ulang’ dengan menggunakan roso kadang dalam suatu pamor yang dominan seringkali terselip pamor tiban yang dipercayai mempunyai tuah-tuah yang lebih khusus. Pamor tiban ini oleh mereka yang mempercayainya dianggap sebagai kodrat dan berkah tersendiri dari yang Maha Kuasa karena munculnya tidak dirancang oleh sang Empu. Seperti pada bilah ini dalam pola beras wutahnya menampilkan pola abstrak dari formasi udan mas yang kita kenal saat ini menyerupai pola lingkaran dengan deretan 2 1 2 lingkaran. Tuahnya dipercaya untuk mendatangkan kekayaan. Pada jaman dahulu keris-keris berpamor udan mas, pancuran mas atau pamor lain yang tuahnya dianggap dapat membantu mendatangkan kekayaan disimpan dalam sebuah peti kayu kecil yang dinamakan kendaga. Di dalam kendaga ditaruh potongan kayu boga (ficus toxicaria linn) kira-kira sejengkal panjangnya. Potongan kayu boga tersebut diberi sarung (biasanya dari kain satin) sehingga seolah menyerupai guling. Orang tua jaman dahulu mempercayai bahwa kayu boga dapat memperkuat tuah keris itu.

PAMOR RAJA TEMENANG, adalah salah satu motif pamor khas madura yang juga terkenal di beberapa daerah di Jawa Timur. Pamor ini berupa gambaran lingkaran bersusun, seperti lingkaran pamor udan mas, dan terletak tepat di tengah gonjo keris, sejajar dengan lobang pesi pada kedua sisinya. Pamor raja temenang tergolong pamor rekan, tetapi juga merupakan pamor mlumah. Menurut kepercayaan pamor raja temenang mempunyai tuah yang baik, karena dapat menyebabkan pemiliknya berwibawa besar dan mempunyai pengaruh pada orang-orang di sekelilingnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.