Buntel Mayit

Mahar : 6,666,666,-


 
  1. Kode : GKO-254
  2. Dhapur : Patrem
  3. Pamor : Buntel Mayit
  4. Tangguh : Madura (Abad XIX-XX)
  5. Sertifikasi No : 36/MP.TMII/I/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur
  7. Keterangan Lain : sudah diwarangi, pamor langka

 

Ulasan :

KERIS PATREM, membahas keris patrem laksana membahas keris tindih dimana selalu banyak cerita yang bisa digali dalam balutan sejarah maupun bumbu-bumbu budaya lokal hingga kepercayaan disitu. Patrem bukanlah nama dhapur, hanya sebuah ‘istilah’ untuk menggolongkan tosan aji dalam skala ukuran yang lebih kecil. Bentuknya ada yang lurus maupun luk dan bisa ber-dhapur apa saja, namun dimensinya disebut tak lebih dari sejengkal (sekitar 20 cm-an), walau begitu tetap dibuat mengikuti pakem yang ada. Karena ukurannya yang lebih mungil dari rata-rata keris yang ada, tampak lebih pantas untuk disandang para estri (wanita).

Terlebih catatan tertulis mengenai perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan akhir di Nusantara, terutama keraton Jawa Tengah Selatan (Yogyakarta dan Surakarta) cenderung menguatkan sinyal feminimitas bahwasanya patrem adalah identik dengan ageman wanita. Laporan seorang penyewa tanah kesultanan dari Nantes, Prancis, Joseph Donatien Boutet, yang pernah mengunjungi Surakarta pada zaman Pakubuwono V memberi gambaran menarik mengenai “perempuan wirayuda” : “Empat puluhan perempuan duduk berbaris di bawah tahta (Sunan) dan benar-benar bersenjata lengkap: berikat pinggang dengan sebilah keris pendek (patrem) diselipkan disana, masing-masing juga memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil……. harus diakui mereka pasukan pengawal berkuda yang mengagumkan”. Catatan lain terdapat pada Sawung Gagatan dimana pada masa perang Diponegoro Tumenggung Prawiro Digdoyo, salah seorang Panglima Perang Wilayah Monconegoro Brang Timur dan Pasisir Utara serta Penasehat Pribadi Pangeran Diponegoro pernah memberikan pusaka berupa patrem kepada R.A Sumirah, adik sepupu Pangeran Diponegoro pemimpin Laskar Wanita : “Pada suatu ketika dalam keadaan istirahat setelah sidang selesai dan sebelum mereka kembali ke Markas Pusat di Dekso, Tumenggung Prawiro telah memberikan pusaka berwujud patrem dengan pamor putri kinurung atau putri winengku kepada R.A Sumirah yang dapat digunakan sebagai piandel diri dalam peperangan membela tanah air. Patrem itu juga dinamakan picis cacing kanil, cara membawanya diselipkan pada setagen dibawah payudara. Pusaka ini berasal dari Nenek Pertapa yang menurut kisahnya peninggalan Eyang Sunan Kalijogo. Pesannya agar pusaka ini nantinya diberikan kepada putri muda pejuang yang berani membela kebenaran. Sedang khasiatnya dengan menyebut Nama Kebesaran Tuhan, pembawanya bisa terhindar dari mara bahaya (jw, Winengku siro, kalis ing sambikolo)”.

PATREM – Kecil, indah dan penuh rahasia, pandamel tentrem (jw) yang berarti (sesuatu yang sifatnya) membuat hati dan pikiran tenang. Dimensi ergonomisnya memudahkan untuk ‘disandikan’ terselip diantara pakaian (kemben) sebagai piyandel yang selalu setia menemani. Secara isoteri pun dipercaya tampilan luar hanyalah sebuah wadah, sedangkan “isi’-nya justru berbanding terbalik dengan kulit, dimana banyak diyakini bahwa keris kecil kekuatan “isi”-nya lebih besar. Kecil-kecil cabe rawit adalah sebuah ungkapan yang bisa diartikan mempunyai kualitas yang tinggi, berbobot atau bermutu, bukan ala kadarnya, bukan asal-asalan. Biar kecil atau sedikit, tidak disepelekan oleh yang lebih besar dan lebih banyak, karena berkualitas.

PAMOR BUNTEL MAYIT, Nama pamor ini memang mengesankan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Buntel yang berarti melilit atau membungkus, dan Mayit berarti mayat yang dalam kepercayaan mayoritas Nusantara ditidurkan ‘miring’, walau secara harafiah bisa diartikan ‘dililit atau dibungkus (dengan cara) agak miring’ seolah lebih menyiratkan makna yang berhubungan dengan alam kubur (kematian), yang bagi orang Jawa diartikan dengan kesialan atau petaka dalam hidup. Inilah salah satu sebabnya mengapa pamor buntel mayit oleh masyarakat Jawa selama ini cenderung disirik (dihindari), karena dianggap membawa pengaruh kurang baik bagi pemiliknya. Walaupun sebagian orang Jawa lain berpendapat, jika si pemilik ini tergolong orang yang ‘kuat’ menahan pusaka sekelas ini, maka pamor buntel mayit ini justru akan sangat ‘mendongkrak’ si pemilik dalam menarik rezeki. Sebuah pendapat yang memang cenderung saling bertolak belakang. Namun kendati begitu, toh nyatanya masyarakat Jawa lebih banyak menghindari untuk menyimpan Buntel Mayit, ketimbang merawatnya. Apalagi diperkuat tidak hanya pada pamor keris, ‘julukan maut’ buntel mayit juga disematkan kepada hal lain yang ‘kurang baik’ seperti dikenal diantaranya nama kayu buntel mayit (kayu yang terdapat bagian rapuh atau bagian yang mati pada waktu pohonnya masih hidup), dan perkutut buntel mayit (burung perkutut yang mempunyai beberapa helai bulu putih pada sayapnya).

Namun sebaliknya, bagi masyarakat Bali dan Lombok, Pamor Buntel Mayit justru pamor yang paling banyak dicari dan digemari, karena dipercaya akan bisa mendatangkan segala tuah yang baik bagi diri manusia, yakni kepercayaan diri dan kemantapan, juga membawa kewibawaan dan keberanian. Di pulau yang terkenal dengan slogannya sebagai Bumi Gogo Rancah ini, pamor buntel mayit dianggap sebagai pamor tambangan. Dan yang paling digemari adalah pamor tambangan badung. Menurut sebuah sumber di Lombok, sebutan pamor tambangan badung itu memang ada hubungannya dengan sebuah kerajaan di wilayah Bali di masa lalu, yakni Kerajaan Badung. Dan tambangan badung memang mengandung arti : ada tali (pertalian) kerajaan Badung dengan kerajaan di Lombok.

Bagi masyarakat Bali dan Lombok ‘semua pamor adalah baik’. Yang terjadi kemudian hanyalah cocok atau tidak cocoknya pamor bagi seseorang yang menyandang kerisnya. Misalnya, seseorang dengan pembawaan yang keras dan berani, tidak cocok menyimpan keris dengan pembawaan keras dan berani. Karena justru dipercaya hanya akan membawa pemiliknya lebih berangasan, emosional dan tak terkendali. Keris dengan pembawan keras dan berani akan lebih cocok untuk mereka yang berpembawan lembut. Jadi keris seolah pasangan sang pemilik yang menutup kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri pemilik. Perbedaan keyakinan dalam memandang pamor buntel mayit bagi orang Jawa dengan Orang Bali Lombok ternyata tidak hanya dalam memandang soal pamor saja. Misal dalam sikap duduk saja, sangat jelas perbedaan antara dua suku ini. Jika wanita Jawa duduk setengah bersila merupakan hal yang biasa, maka justru menjadi sesuatu hal yang tabu bagi orang Sasak, Lombok. Wanita Sasak jika duduk haruslah bersimpuh.

Apapun kepercayaan itu, maka berpulang kepada mereka yang meyakininya. Keris memang memberi ruang untuk berbagai hal, karena warisan leluhur ini begitu kaya akan kedalaman makna.

Pamor Buntel Mayit secara garap termasuk pamor rekan, yaitu bentuk pamor yang secara sengaja dirancang oleh sang Empu. Dari teknik pembuatannya, pamor ini termasuk pamor puntiran, yaitu perpaduan antara pamor mlumah dan pamor miring. Sebelum dibentuk menjadi kodokan (calon), saton dipelintir dulu baru kemudian dipanaskan dan ditempa berjajar. Pamor ini biasanya tidak memiliki inti baja (slorok aten). Nama pamor buntel mayit mengacu pada pocong (mayat yang dibungkus kain mori) atau bisa juga metafora spiral lainnya .Tapi karena pola tatanan pamornya mudah terlihat seperti bentuk yang lain, maka beberapa orang menyebutnya dengan nama lain misalnya: pangeran welang (ular yang racunnya mematikan, dengan warna belang garis hitam dan putih penuh sampai bagian bawah).

FILOSOFI, belitan seperti benang atau kain dari bagian sor-soran (bawah) ke bagian pucukan (atas bilah) menggambarkan: ‘tidak ada sesuatu yang instant dalam hidup, semua butuh proses’. Bahwa seseorang untuk menuju cita-cita (kesempurnaan) dalam hidupnya harus melalui perjalanan berliku,  menanjak dan berputar, seperti mengitari gunung untuk menggapai indahnya sang surya di puncak. Suatu perjalanan spiritual, untuk mencapai tahapan Manunggaling Kawula Gusti.

bentuk pesi agak kotak, tidak silinder

BATA-AN, warangka ladrang, jaman dahulu hanya untuk para bangsawan atau pemimpin, umumnya dipakai untuk acara-acara resmi atau suatu upacara. Warangka ladrangnya tampak vintage dihiasi ukiran butha makara tanpa rahang bawah mirip hiasan butha makara pada Candi-candi di Jawa Tengah, sedangkan kekhasan bali adalah pada matanya yang dibuat ‘gecak‘ hitam (bahasa Bali, gecak adalah titik hitam). Pada danganan (hulu keris) menampilkan pola ukiran togogan motif butha nawasari lambang kesejahteraan dibuat dengan gaya sederhana, dimana di tangan kirinya memegang oncer untuk memercikkan air berkah keselamatan sedangkan tangan kanannya ditekuk kebelakang  memegang bunga sari (bunga kehidupan).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *