Jalak Nyucup Madu

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3,450,000,-(TERMAHAR) Tn. Dr. AFM Jatinegara, Jakarta Timur



  1. Kode : GKO-218
  2. Dhapur : Jalak Nyucup Madu
  3. Pamor : Ngulit Semangka
  4. Tangguh : Mataram Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 195/MP.TMII/III/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : warangka baru, material besi OK, pamor meteorit

 

Ulasan :

JALAK NYUCUP MADU, adalah salah satu bentuk dapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya normal. Permukaan bilahnya datar, tanpa ada-ada. Keris ini mempunyai gandik polos, pejetan dan greneng, serta sebuah sogokan berukuran pendek di depan. Pada umumnya, sogokan ini sempit dan dalam. Keris ber-dapur Jalak Nyucup Madu juga memakai tikel alis. Selain itu, tidak ada lagi ricikan lainnya.

Dalam kesederhanaan ricikan dan penampilannya, ternyata menyimpan suatu ajaran makrifat yang dalam dan  mengandung nilai filsafat kehidupan adiluhung. Burung Jalak adalah perlambang dari manusia itu sendiri, Nyucup dalam bahasa Jawa kurang lebih berarti menghisap, sedangkan Madu dapat diartikan manis. Maknanya adalah burung Jalak selalu memakan makanan yang baik, jadi kita sebagai manusia tentunya harus dapat berupaya agar selalu memakan dari sumber yang baik atau halal. Burung Jalak juga dalam mencari makan tidak merusak, di mana dia mengambil madu (sari pati bunga) yang dihisapnya dengan hati-hati hinggap pada sekuntum bunga lalu kemudian menghisap madu bunga dengan sangat lembut dan sabar. Maknanya kita sebagai manusia yang di tunjuk oleh Allah SWT sebagai khalifah di dunia ini, hendaklah bisa berusaha mencari rezeki dengan cara yang baik, tidak merusak lingkungan dan alam. Burung Jalak ketika mencari makan tidak hanya mengambil yang dia perlukan tetapi kehadiran nya membawa manfaat untuk bunga, yaitu membantu proses penyerbukan. Maknanya manusia  dalam mencari rezeki harus bisa mendatangkan manfaat untuk yang lain dan membawa kebaikan di manapun kita mencari rezeki bukan kerusakan.

Keris memang menyimpan banyak cerita, pitutur, kawruh, budaya, hingga kepercayaan yang menjadi sisi intangible heritage. Justru sisi oral dan intangible dari keris ini yang diakui lebih dahulu oleh UNESCO di Paris pada tanggal 25 November tahun 2005. Seperti halnya wayang yang dalam sebuah kitab memunculkan banyak lakon carangan, pada budaya tosan aji juga tidak bisa dibohongi menyimpan banyak sempalan budaya. Semisal kepercayaan akan dhapur Sepang akan memberikan ‘taksu’ rumah tangga yang harmonis hingga ‘kepentingan’ berpoligami, dhapur Jalak Nyucup Madu dipercaya memberikan ‘energi’ menjadi pejuang hati bagi mereka yang memiliki darah muda untuk berpetualang mengarungi lautan asmara (menghisap sari madu) menaklukkan dewi-dewi pujaannya di seluruh penjuru negeri.

 

WESI AJI, Di Jawa keris dan tombak juga disebut wesi aji atau tosan aji, artinya ‘besi yang bernilai atau dimuliakan’. Sehingga tak heran berkembang ‘mazhab’ memilih pusaka adalah pertama dengan melihat besi. Sedangkan pamor tak lebih dari ‘bedak’ (riasan), namun kecantikan dalam (inner beauty) terletak pada besinya. Dan hal ini semakin diperkuat dimana nenek moyang kita juga mewariskan berbagai serat atau catatan mengenai jenis-jenis besi lengkap dari nama, bentuk visual, rabaan, tintingan dan tuah-tuah baik hinga yang buruk.

Tidak bisa dinafikan yang menjadi pembawaan menonjol pada keris ini adalah material besinya yang bisa dikatakan di atas rata-rata umumnya. Besinya berwarna biru keabu-abuan (orang jawa menyebutnya dengan ngelar gelatik) dengan serat sangat halus dan tempaan  rapat. Pamor pada bilah ini juga memiliki warna keabu-abuan yang terang dan indah serta menunjukkan gurata-guratan pamor yang kontras dengan warna besi (tegas), sehingga dapat diduga bahan pamornya dibuat dari jenis aeron meteorit. Tapi seperti halnya manusia yang kadang kurang fotogenic di depan kamera, menurut hemat Penulis keris ini lebih terlihat cantik aslinya ketika kita me-nanting-nya langsung.

Bagian odo-odo juga masih terdefinisi dengan jelas baik melalui pengamatan visual maupun rabaan tangan. Bagian gandik tampat sedikit mboto rubuh (miring) dengan pejetan agak sempit namun tampak dalam, berbanding terbalik dengan bagian tikel alis yang lebar tetapi dangkal. Sogokan depan entah kenapa sepertinya sengaja dibuat sangat pendek oleh sang Empu, terkamuflase dengan motif pamor sehingga perlu pengamatan lebih jeli. Bentuknya akan menimbulkan kebimbangan apakah memang ricikan tersebut adalah sogokan depan atau hanya bentuk karakter blumbangan yang dibuat tegas.

 

Pertanyaan yang lain, apakah dulunya pusaka ini dimiliki oleh priyayi Solo? karena budaya mbuntut tumo pada masa lalu lazim dilakukan di masyarakat perkerisan Solo. Kegemaran mem-buntut tumo-kan ini secara gamblang dapat ditemui pada keris-keris koleksi alm. Haryono Haryo Guritno yang ditampilkan pada buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar, tampak keris-keris dari berbagai macam tangguh pada bagian ujungya sudah dibentuk sesuai “aliran Surakarta”.

PAMOR NGULIT SEMANGKA (sering disingkat menjadi Ngulsem), Alam tetaplah menyimpan berjuta kearifan yang dapat menuntun kita pada suatu jalan. Layaknya batik parang, motif unik yang terdapat pada kulit buah semangka menyiratkan bahwa jalan hidup yang tak selamanya lurus bahkan mungkin akan penuh liku dan kerikil tajam. Jalan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, tidak perlu merasa khawatir karena segala sesuatunya sudah ada yang Maha Mengatur.

Sebagai salah satu motif dasar pamor tiban. Pamor Ngulit Semangka juga memiliki makna yang menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga. Dalam konteks tersebut motif ngulit semangka mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis diagonal yang bertemu pada suatu titik juga melambangkan penghormatan, keteladanan, cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran. Aura dinamis pada pamor ini juga menganjurkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti atau menyerah dalam menggapai suatu kesuksesan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *