Sabuk Inten Mayang Mekar Majapahit

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6,600,000,-(TERMAHAR). Tn. R. BH, Kendari


 
  1. Kode : GKO-248
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Mayang Mekar
  4. Tangguh :  Majapahit (Abad XIII)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 804/MP.TMII/XII/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Palembang
  7. Keterangan Lain : pamor langka, tangguh favourite

 

Ulasan :

CONDONG CAMPUR – SABUK INTEN – SENGKELAT, Kita semua tentunya pernah mendengar tentang sebuah kerajaan besar (imperium) nusantara yakni Majapahit. Zaman keemasan Majapahit melekat erat pada pemerintahan Rajanya keempat, Hayam Wuruk. Bersama Patihnya Gajah Mada membangun Majapahit menuju puncak kejayaan berdasarkan falsafah kenegaraan “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”. Namun takdir berkata lain, dalam usia senjanya Majapahit bukan lagi memancarkan suryanya. Surya Majapahit telah meredup dan tenggelam ke dasar samudera. Keluhuran yang pernah dicita-citakan seolah telah pudar dan kehilangan makna. Kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan beratus tahun tiba-tiba menjadi asing tak dikenal lagi tercabik oleh berbagai intrik. Majapahit perlahan-lahan meranggas, keropos, membusuk dan akhirnya tumbang. Jatuhnya Majapahit ini ditandai dengan Sengkalan, Sirna Ilang Kertaning Bumi (tahun 1400 saka).

Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan dalam negeri. Untuk mengatasi masalah ini, konon dipanggilah sekitar seratus orang Empu untuk membuat satu keris sakti. Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata “condong” dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti “cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…”. Sementara “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah “pembawa persatuan”.

Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti “ikat pinggang  permata/intan”) dan golongan wong cilik memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama “sengkelat” diyakin berasal kari kata-kata Jawa “sengkel atine” yang berarti “hati yang berat/lelah/kecewa”, dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan terhadap pemerintahan yang ada. Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supranatural, bahkan setiap pusaka memiliki karakter dan kecocokannya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutnya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan bernafsu ingin menguasai.

Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung. Dengan bantuan Keris Sengkelat akhirnya Kyai Condong Campur yang terkenal sakti itu berhasil dikalahkan. Dalam kemurkaannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti “kekacauan/bencana”) ke tanah Jawa. Selesai mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya “sesuatu”. Kisah tersebut di atas bisa jadi hanya sebuah legenda atau mitos. Namun bisa pula mengandung sebuah kebenaran yang dibalut dengan dongeng.

TANGGUH MAJAPAHIT, trio keris condong campur, sabuk inten dan sengkelat ber-tangguh Majapahit mempunyai kelas dan penggemar fanatiknya sendiri sehubungan dengan cerita legenda peperangan yang melibatkan ketiga keris tersebut. Tantingannya begitu ringan dengan perawakan bilah yang ramping. Besinya tampak padat dan rapat berbeda dengan keris-keris tangguh setelahnya (Mataram dan selanjutnya). Meski pamor miring-nya bisa dikatakan sudah mulai kehilangan eksistensinya namun guratan kecantikan sekaligus kewibawaan masih bisa dirasakan pancarannya. Pamor pada bagian wuwungan gonjo masih bisa dikatakan wutuh menampilkan alur-alur eksotisnya, menandakan gonjo yang ada dibuat dengan bahan yang sama dengan material bilah. Seperti tulang rusuk yang dipatahkan dari seorang lelaki, untuk dijadikan wanita sebagai teman sepadannya. Untuk setia menemani dari awal hingga akhir, tak berkesudahan. Perabot warangka pun sudah layak menemani sang pusaka, sederhana dan bersahaja namun tidak kehilangan derajadnya.

PAMOR MAYANG MEKAR,  bentuk gambaran pamornya sangat indah, seperti daun seledri, banyak peminatnya namun tergolong langka karena proses penempaannya tidaklah gampang. Pamor Mayang Mekar tergolong pamor miring, juga tergolong pamor rekan (rekaan) yang menuntut skill tersendiri dari sang Empu, tak heran nilai mas kawinnya (mahar) lebih tinggi dari keris-keris sejenis. Ditinjau dari segi tuah atau angsarnya pamor Mayang Mekar juga menarik. Menurut sebagian pecinta keris, keris dengan pamor mayang mekar mempunyai tuah yang bisa membuat pemiliknya dikasihi oleh orang sekelilingnya, luwes dalam pergaulan, mudah mendapatkan pengikut, dan bahkan ada yang sangat mempercayai dapat digunakan untuk memikat lawan jenis (dalam bahasa Jawa disebut pengasihan). Walaupun penampilannya indah dan menyenangkan serta banyak diburu, pamor ini tergolong pamor pemilih, tidak semua orang dapat cocok untuk memilikinya. Mereka yang duduk di dalam pemerintahan, seperti pejabat, wakil rakyat, anggota TNI/Polri hingga top level manajemen dianggap cocok memilikinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *