Sengkelat

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : 5,000,000,- (TERMAHAR) Tn. ANR, Duren Sawit Jakarta Timur


 
  1. Kode : GKO-243
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh :  Mataram (Madiun) (Abad XVII)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 566/MP.TMII/X/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Kolektor Palembang
  7. Keterangan Lain : warangka baru, warangan lama, tindik pada bagian pesi

 

Ulasan :

SENGKELAT – ada yang menyebutnya Sangkelat, adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Dhapur Sangkelat mirip dengan keris dhapur Parungsari. Bedanya, pada Sangkelat lambe gajah-nya hanya satu, sedangkan pada Parungsari dua buah. Keris dhapur Sangkelat mudah dijumpai karena banyak jumlahnya dan salah satu dhapur klangenan yang dianggap wajib dimiliki oleh Pecinta Tosan Aji. Selain keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat milik Keraton Kasunanan Surakarta, ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sangkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.

FILOSOFI – Luk Telulas, Dalam kepercayaan Jawa (ilmu othak-athik), luk 13  bermakna ‘las lasaning urip manungso’,  atau akhir dari siklus sebuah kehidupan, menjawab dimana asal mula dan tujuan akhir manusia kelak akan kembali? Dengan memahami ajaran tentang  asal mula dan tujuan akhir hidupnya atau sangkan paraning dumadi (asal mula sangkan dan tujuan dari akhir paraning, segala yang ada di dunia dumadi), manusia diharapkan mampu mengendalikan dirinya sendiri dan selalu menumbuh suburkan perilaku-perilaku yang terpuji dan yang mulia. Dengan melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan mulia, manusia diharapkan akan sampai pada tingkatan hidup yang secara spiritual disebut sebagai “jalma pinilih” atau manusia terpilih.

Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang diangap sebagai angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala. Angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan, maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan, dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, maka persiapkanlah dengan sebaik-baiknya. Karena jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.

TENTANG TANGGUH,Bagian sor-soran masih bisa terlihat wutuh, gandik miringnya membawa kekhasan keris-keris madiunan dimana bentuk pejetan dan sogokan yang seringkali tidak imbang di kedua sisi. Ricikan sekar kacang-nya pun masih dapat dinikmati bentuk nggelung wayang-nya yang sempurna begitu juga bentuk greneng-nya. Tikel alis-nya terkesan lurus tegas dengan luk yang sedikit masuk (rengkol) seolah ingin tampil agak berbeda dengan yang lain. Tantingan bilah ringan seperti keris-keris sepuh pada umumnya, dengan besi yang halus, rapat dan pamor merata di seluruh permukaan bilah.

TINDIK PESI, pesi atau di daerah jawa bagian timur lebih akrab disebut dengan paksi, adalah bagian tangkai keris yang masuk ke dalam hulu. Karena letaknya yang sinengker masuk ke dalam hulu menjadikannya ‘ada namun tiada’ (adikodrati). Karena kesakralannya itu, ada anggapan jika keris dengan pesi yang sudah tidak utuh atau pugut kemudian di-srumbung sudah merupakan keris yang tidak sempurna lagi (cacat). Sedangkan tindik (logam) dan tambal (pada bagian pamor) oleh sebagian pecinta isoteri dianggap memiliki sangkut pautnya dengan tataran spiritual pemiliknya tersendiri. Tindik atau tambal dipahami untuk menambah atau menutup apa yang menjadi kekurangan.

PAMOR BERAS WUTAH – Simbol Masyarakat Agraris, Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah yang dihasilkan dari proses penempaan dan pelipatan besi, baja dan bahan pamor. Keaneka-ragaman corak dekoratif itu selain memiliki fungsi estetika (keindahan) juga sering diangap sebagai simbol. Suatu penggambaran akan doa, pengharapan dan cita-cita tertentu.

Pada masa lampau keberhasilan sektor pertanian selalu menjadi simbol kemakmuran dan indikator ketahanan suatu negeri. Bahkan kredo ‘gemah ripah loh jinawi‘ menggambarkan betapa makmur dan sejahteranya masyarakat jaman itu. Hidup dalam nafas kemanusiaan yang harmoni, damai, toleran dan selalu berbuat kebajikan. Beberapa pemimpin besar masa silam, khususnya Raja, bahkan lahir dari kalangan petani. Sebagai masyarakat agraris ikatan emosial dengan kehidupan pertanian menjadi demikian kental. Chemistry (ikatan emosional) itu memunculkan inspirasi untuk menciptakan beberapa dhapur dan pamor yang berkaitan dengan kondisi alam dengan bentuk-bentuk yang diilhami oleh flora dan fauna yang akrab dengan kehidupan masyarakat agraris. Maka dari itu banyak tosan aji yang dibuat dengan maksud khusus dan diyakini memiliki tuah yang berkaitan dengan kemakmuran, semisal pamor wos wutah.

Secara denotasi wos wutah adalah beras yang tumpah dari tempat penyimpanannya (karena terlampau penuh isinya). Sedangkan secara konotasi dalam pamor wos wutah terkandung rasa ucapan syukur atas berkat rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam. Rasa syukur atas hasil yang diperoleh dari perjuangan panjang memeras keringat, rajin dan tidak pernah menyerah dalam merawat tanaman padi agar menghasilkan produksi panen yang berlimpah. Bukti dari sebuah totalitas nyata seseorang dalam perjuangannya memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan negerinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *