Kiai Sabuk Inten Amangkurat

Mahar : 8,000,000,-


 
  1. Kode : GKO-246
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh :  Mataram Amangkurat (Abad XVII)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 580/MP.TMII/X/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Pekalongan, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : TUS, kolektor item

 

Ulasan :

SABUK INTEN, merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk sebelas. Ukuran panjang billahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah. Ricikan lain yang terdapat pada keris Sabuk Inten adalah sogokan depan dan belakang, sraweyan, dan ri pandan atau greneng.  

FILOSOFI, Bentuk Sabuk Inten, memiliki makna: sabuk yang berarti ikat pinggang, sabuk digunakan dengan cara dilingkarkan (nggubed) di badan. Manusia harus bersedia berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh). Dan inten yang berarti intan permata, hasil dari jerih payah yang didapat ketika sudah melalui perjalanan panjang. Dhapur Sabuk Inten adalah simbol pusaka yang melambangkan kesungguhan dalam mencapai kesucian, kemuliaan, kemakmuran dan kekuasaan bagi pemakainya.

Luk sewelas (asih). Dalam agama Islam, kita selalu diajarkan untuk senantiasa memulai segala aktivitas dengan mengucap “Bismillahirrahmaanirrahim“. Terjemahan bebas dalam bahasa Jawanya “kelawan nyebut asmaning Allah Dzat kang Moho Welas Tur Kang Moho Asih“. Ini merupakan alasan welas asih atau kasih sayang yang langsung diajarkan oleh Allah melalui sifat-Nya yaitu “Rahman” yang merupakan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk didunia ini tanpa pandang bulu. Tak pandang apakah ia miskin atau kaya, pintar atau bodoh, muslim atau bukan muslim semua mendapat kasih sayang dari Allah Rabbil’alamin. Sedangkan “Rahim” merupakan kasih sayang Allah di akhirat kelak yang merupakan balasan bagi mereka yang senantiasa bertaqwa kepada-Nya. Itulah sebagian ajaran kasih sayang dalam Islam, setiap saat dan dimanapun kita harus selalu memulai sesuatu dengan rasa penuh kasih sayang terhadap sesuatu tersebut.

Demikian juga Ajaran tentang Kasih (welas asih) dalam Kristen dan Katolik, Kasih itu sabar = Kesabaran sangat diperlukan saat kita menghadapi situasi dan orang yang tidak sesuai dengan harapan kita. Kasih itu murah hati = Kemurahan hati merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh manusia. Kasih itu tidak cemburu = Sifat cemburu merupakan ketidaksenangan kepada seseorang yang memiliki sesuatu lebih. Kasih itu tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia Tidak Melakukan yang Tidak Sopan. Tidak Mencari Keuntungan Diri Sendiri. Ia Tidak Pemarah. Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain. Ia Tidak Bersukacita Karena Ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia Menutupi Segala Sesuatu. Percaya Segala Sesuatu. Dan Mengharapkan Segala Sesuatu, Sabar Menanggung Segala Sesuatu.

Dalam ajaran Hindu yang disebut dengan cinta kasih adalah konsep bhakti. Bhakti artinya luapan perasaan cinta kasih atau kasih sayang yang dilandasi kebersihan pikiran, kesucian hati dan ketulus-iklasan yang tanpa pamrih. Bhakti ini dapat ditujukan kepada orang tua dengan hormat dan patuh kepadanya, kepada saudara dengan menghargainya, kepada teman dengan kesetiakawanan dan kepada Hyang Widi dengan media persembahyangan. Kesemua wujud bhakti tersebut merupakan realisasi dari kasih sayang/cinta kasih yang hakiki. Dan itu bisa dilakukan kapan saja.

Dalam agama Budha, ajaran welas asih tertera dalam 20 ajaran welas asih Dewi Kwan Im. Selain itu, ajaran mendasar dan utama dari Sidharta Gautama adalah tentang welas asih atau dan kasih sayang diantara sesama makhluk serta lingkungan sekitar.

TANGGUH AMANGKURAT, biasa juga disebut tangguh Kartasura, pasikutan-nya galak (pola garapnya agal), birawa, besinya mentah keputih-putihan dan pori-pori besinya kasar, pamornya kemambang dan warnanya agak keruh. Empu pada masa ini adalah Empu Lujuguna II dan Empu Brajaguna I, keduanya merupakan empu yang hijrah dari Madura. Keris-keris tangguh Amangkurat relatif sedikit dan jarang dijumpai. Pada umumnya masyarakat perkerisan mempercayai keris-keris tangguh Amangkurat memiliki tuah pemberani, tegas dan kadangkala menjadikan panasan (brangasan). Sangat cocok dimiliki oleh mereka yang terlahir sebagai pemimpin, yang memerlukan ketegasan.

Keris ini mampu menyuguhkan kesan apik dengan keutuhan ricikan-ricikan pada bilahnya. Tengoklah kembang kacang-nya yang nggelung wayang dengan gemulainya diimbangi dengan lekukan pada gandik yang mencuri perhatian tersendiri. Jalen dan lambe gajah-nya runcing bak duri-duri mawar yang menjaga kelopaknya dari tangan-tangan jahil. Sogokan landung (panjang dan lurus) nyata dalam mengimbangi tarikan luknya yang semakin rapat ke ujung panitis, yang tentu saja memerlukan petung-nya tersendiri. Tingkat kepresisian garap dapat terlihat apabila kita menarik simpul dengan benang, dari mulai pesi melewati janur dan ujung sogokan (puyuhan/bebel) hingga menuju ke arah panitis (pucuk bilah) didapatkan satu simpul yang lurus. Besinya halus, pilihan. Pola sebaran pamornya pun merata di sepanjang sisi tengah bilah (tidak nerjang landhep) khas Mataraman. Bentuk gonjo dengan sedikit eksyen ricikan tungkakan menambah kesan demes, terlebih bagian greneng yang masih wutuh dan bisa terbaca karakter huruf jawa dha-nya memberikan nilai plus bagi para penikmat seni. Karena tidak dipungkiri dalam era digital seperti sekarang ini sudah sangat susah untuk dijumpai dan sudah menjadi rahasia umum banyak yang masuk ke dalam lemari kolektor-kolektor mapan. Pemakaian mendak selut mrutu sewu dan warangka ladrang gandar iras kayu trembalo meskipun vintage tapi cukup mendongkrak performa keris kelas Kiai.

PAMOR BERAS WUTAH, Padi, bagi masyarakat agraris, ternyata bukan sembarang tanaman. Ia bukan hanya melebihi tanaman lain, tetapi mempunyai kesejajaran dengan manusia. Seperti halnya manusia, padi dipandang berasal dari alam dewata, langit, surga, atau Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, padi dan manusia mempunyai siklus hidup yang sama. Tuhan memberi tanaman padi, manusia mengolahnya menjadi gabah, beras kemudian nasi. Seperti kelahiran, perkawinan dan kematian, manusia menempuh “daur hidup” untuk nantinya kembali kepada Penciptanya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *