Jangkung Pacar Corok

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.333.000,-(TERMAHAR) Tn. D Jakarta Timur


 
  1. Kode : GKO-247
  2. Dhapur : Jangkung Pacar
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh :  Cirebon (Abad XV)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 581/MP.TMII/X/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Majalengka, jawa Barat
  7. Keterangan Lain : warangka dusun memprihatinkan, bagian luk atas sedikit korosi, mendak perak, keris corok

 

Ulasan :

JANGKUNG PACAR, merupakan salah satu dhapur keris luk tiga,  menurut tabel ricikan dalam Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar karangan Alm Haryono Haryoguritno keris ini menggunakan ricikan ; kembang kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, sogokan depan dan belakang, sraweyan dan tidak lupa greneng. Keris dhapur Jangkung Pacar tergolong langka. Karena bentuknya mirip dengan pandhawa cinarita hanya berbeda luk lima dengan luk tiga, disebagian kalangan sutresna tosan aji, keris dengan ricikan seperti di atas sering pula dinamakan dhapur Jangkung Cinarita.

FILOSOFI, Keris berlekuk tiga (Jangkung) mengandung arti agar dalam hidupnya manusia untuk selalu “eling” memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa agar hidupnya jinangkung-jinampangan dening Allah (dilindungi dan diberkati oleh Yang Maha Kuasa). Menurut kepercayaan, keris berlekuk tiga baik untuk mereka yang sedang berusaha menggapai tujuan atau cita-cita dalam hidupnya.

Angka 3 juga merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan, maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan, dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, maka persiapkanlah dengan sebaik-baiknya.

Sedangkan (daun) Pacar sendiri adalah adalah tumbuhan tertua yang digunakan sebagai warna kosmetik (menghias diri). Corak lukisan dan warna yang dihasilkan daun pacar ibarat ‘mewarnai hidup dengan berbagai makna, sekaligus memaknai hidup dengan berbagai warna’. Hidup memang penuh warna. Dari mulai warna yang paling suram hingga yang paling cerah. Namun, tingkat kesuraman dan keceriaan sebuah warna tidak selalu mutlak melainkan relatif dalam berbagai kondisi. Begitu juga dengan siklus kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Masalah merupakan salah satu warna yang selalu ada pada setiap kehidupan. Beragam respon yang ditunjukkan oleh setiap orang dalam menangani setiap masalah yang dimilikinya. Namun, dari segala perbedaan pandangan yang kita punya dengan orang lain tentang permasalahan hidup, ada satu hal yang mungkin sama tetapi masih sering terlupakan oleh kita manusia; ‘Bersyukur’. Dalam setiap masalah banyak hikmah yang bisa kita petik dan pelajari. Melalui masalah, kita akan menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam mengambil sikap dan memutuskan sesuatu ke depannya.

TANGGUH CIREBON, Rata-rata merupakan keris tayuhan (mementingkan isoteri) mempunyai pasikutan yang wingit namun tampak serasai dan tampan. Besinya hitam kecoklatan (seperti tercampur tanah dan tampak kotor) dan berkesan kering karena kandungan bajanya cukup tinggi. Pamornya tergolong kelem (suram) dan berkesan mengambang. Sirah cecak pada gonjonya pendek. Hal yang menonjol dari jangkung pacar ini adalah ricikan pada bagian sor-soran-nya yang masih tampil perkasa menyisakan keutuhan, terutama bagian jenggot dan greneng susun-nya. Tarikan luk tiganya juga dirasa luwes, berbeda dengan ‘keris lurus yang dijangkungkan’ (lurus dibuat luk tiga). Ukuran panjang bilahnya yang lebih dari 40 cm bisa dikatakan lebih birawa dari keris-keris Jawa pada umumnya (corok). Namun seperti pepatah ‘tak ada gading yang tak retak’, pada bagian luk akhir menjelang pucuk bilah sudah mulai termakan usia, berbanding terbalik dengan kegagahan di bagian sor-soran. Keris-keris yang tampak wutuh di bagian sor-soran dan sedikit ‘termakan’ pada bagian ujungnya, kebanyakan merupakan keris tayuhan yang dulunya di-sinengker-kan oleh pemilik sampai ahli warisnya. Saking privatnya dalam perawatan pun cukup ditetes minyak pada bagian wuwungan gonjo tanpa dibuka, alhasil karena ketidak konsistenan jumlah takaran penetesan (feeling) menyebabkan minyak turun dan ngecembeng di bawah gandar, menjadi sumber kelembaban, musuh utama logam.

Belum lengkap disebut keris, jika belum ada gagang dan perabot lainnya. Dan belum lengkap disebut kolektor jika belum mempunyai keris tangguh dan perabot cirebonan. Garan (penyebutan untuk hulu) Cirebon sangat khas, sebagai salah satu wilayah pesisiran yang kental dengan nuansa islami ini justru mengadopsi bentuk makhluk hidup yang sesungguhnya dilarang oleh Ajaran Islam. Seperti bentuk pulungan pada garan ini. Pulungan merupakan nama sejenis burung keramat yang dianggap sebagai simbol peruntungan dan perlindungan. Bentuknya hampir mirip dengan yaksa atau butha bajang, dimana pulungan berhidung seperti burung berwajah raksasa yang memakai kalung ular sering disebut garan Bima. Sedangkan butha bajang berwajah manusia raksasa, hidungnya tidak seperti paruh burung, biasanya telanjang dan tidak memakai kalung. Untuk srangka (penyebutan untuk warangka cirebon) praon-nya tampak begitu setia sebagai abdi bilahnya dalam kondisi yang sudah renta, menunggu purna tugasnya.

PAMOR NGULIT SEMONGKO,  dinamakan pamor ngulit semongko karena pamornya mirip dengan alur-alur kulit buah semangka. Tuahnya dipercaya memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada pada golongan mana saja dan siapa saja.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *