Mangkurat Mangkunegara

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7,500,000,- (TERMAHAR) Tn. ANR, Duren Sawit Jakarta Timur


 
  1. Kode : GKO-238
  2. Dhapur : Mangkurat Mangkunegara
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh :  Mataram (Cirebon?) (Abad XVII)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : /MP.TMII/VIII/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Banjar Patroman, Jawa Barat
  7. Keterangan Lain : dhapur langka, warangka baru (randan)

Ulasan :

MANGKURAT MANGKUNAGARA, berbicara mengenai keris luk lima dengan salah satu ricikan-nya menggunakan pudhak sategal, pada buku ‘dhapur keris‘ (1950) yang ditulis oleh G.P.H Hadiwidjojo (salah seorang Putra Dalem PB X dari istri BRAy. Sitarukmi) bersama Sunaryo (salah satu abdi dalem keraton Surakarta) akan kita ketemukan setidaknya tiga dhapur keris yang hampir serupa yakni; pudhak sategal, mangkurat mangkunegara dan hanoman. Perbedaan yang menonjol adalah pada dhapur mangkurat mengkunegara menggunakan ricikan jenggot dan lambe gajah dua,  sedangkan pada dhapur hanoman terdapat ricikan yang khas yakni sogokan-nya memanjang hingga ke ujung bilah. Konon dhapur Mangkurat Mangkunagara pertama kali dibabar atas prakarsa sang prabu Brawijaya I oleh Empu Hanggareksa tahun 1381 M.

Menurut Serat Centhini, Pudhak Sategal merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun pudhak, letaknya di sor-soran. Bentuknya menyerupai pudhak (kelopak bunga pandan), dengan ujung-ujungnya yang runcing. Untuk keris tidak ada pakem khusus mengenai ragam posisi pudhak sategal. Ada yang sisi depan dan belakang rata sejajar, ada yang sisi depannya lebih tinggi, atau sebaliknya. Hanya pada tombak seperti dhapur Daradasih Menggah dan Dora Mengala posisi pudhak sategal selalu dalam letak yang sejajar di kedua sisi.

Agak berbeda dengan Serat Pustaka Raja Purwa, menurut para ahli ricikan pudhak sategal baru ada pada Zaman Mataram akhir dan semakin populer pada zaman Surakarta (PB). Keris-keris tangguh tua seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Sepuh tidak ada yang memakai ricikan pudhak sategal. Apakah ricikan pudhak sategal merupakan pengganti atau terinspirasi pola kinatah kamarogan yang populer di jaman Mataram Sultan Agung? Ataukah sebagai simbol cita-cita Panembahan Senopati untuk mengembalikan kejayaan Mataram dengan konsep ‘ganda arum‘? Dimana Mataram berasal dari kata Mata Arum (jarwo dosok) yang berarti sumber keharuman.

FILOSOFI, barangkali dhapur luk lima Mangkurat Mangkunagara adalah salah satu nama dhapur keris yang ‘abot sanggane’ (berat bawannya). Karena sebagai pusaka keris dianggap ‘hidup’ tak hanya karena daya gaibnya saja, tetapi dikarenakan pula oleh adanya nilai-nilai filosofi atau moral yang menjadi inspirasi sekaligus panutan atau tuntunan hidup bagi penyandangnya (formulasi jiwa luhur). Mangkurat berasal dari kata mangku yang berarti menopang atau menyangga dan rat artinya adalah jagad atau dunia semesta. Sedangkan Mangkunagara juga berasal dari dua kata, mangku yang berarti menopang atau menyangga dan nagara berarti sebuah wilayah kekuasaan beserta segala sesuatu yang hidup dan tumbuh di atasnya.

Bahwa hidup orang jawa itu kiblatnya bukan untuk dirinya sendiri. Dhapur Mangkurat Mangkunegara, nama yang sarat makna dipilih bukan sekedar enak didengar, tetapi justru didoakan, dilantunkan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan nama itu menjadi gambaran setiap raja di dalam rumah. Bahwa selain ‘hamengku-memangkat‘ trah keluarga sendiri, untuk menjadi manusia yang unggul dan berderajad tinggi, juga hamengku, hamengkoni, hamemangku, menjunjung tinggi masyarakat yang ‘ngawula‘ kepadanya, serta masih pula berjuang demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Pendek kata membuat dunia menjadi tempat yang semakin layak dihuni oleh manusia.

Dalam konsep budaya kepemimpinan jawa, kekuasaan bukan diperuntukkan bagi seorang pemimpin semata, akan tetapi lebih menekankan pada apa dampak baiknya bagi rakyat dan negara. Sebuah kekuasaan dianggap berhasil seperti ungkapan ‘Negara titi tentrem, nagari ingkang panjang punjung pasir wulir loh jinawi gemah ripah karta tur raharja‘ atau Negara yang aman tentram, terkenal karena kewibawannya, besar dan luas wilayahnya meliputi pegunungan sampai laut, hasil bumi yang melimpah, negara kaya dan rakyat sejahtera.

Falsafah Kepemimpinan Jawa sendiri sebenarnya dapat kita telaah dari ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yang mengandung dua substansi, yakni kepemimpinan dan kerakyatan. Hal ini dapat ditunjukkan dari perwatakan patriotis Sang Amurwabumi (gelar Ken Arok) yang menggambarkan sintese sikap bhairawa-anoraga atau ‘perkasa di luar, lembut di dalam’.

Serat Pamarayoga, karya R. Ng, Ranggawarsita menjelaskan bahwa ratu, memegang pemerintahan atas utusan Hyang Agung. Ia dilindungi tri loka buwana, yaitu pinandhita, bathara dan satriya. Maksudnya, pemimpin dilindungi oleh pendeta (spiritualistik), dewa (pemberi berkah), dan kesatria (prajurit). Pemimpin harus berwawasan luas, memiliki ilmu kanuragan, kadigdayan dan kawicaksanan. Jati diri para pemimpin merupakan dharma (kewajiban) yang sangat berat, terbagi menjadi 8 hal, meliputi:

(1) Hanguripi, seorang pemimpin harus melindungi rakyat, menghormati dan menjaga perdamaian, sesuai undang-undang, sehingga timbul rasa percaya diri, untuk mencapai kehidupan yang layak.

(2) Hangrungkebi, bahwa seorang pemimpin harus berani berkorban jiwa, raga dan harta demi kesejahteraan bangsa. Mukti wibawa sebagai abdi masyarakat menjadi tanggung jawab yang harus diemban. Menghimpun kekuatan untuk membela rakyat dengan sasanti ‘bersatu kita teguh bercerai kita runtuh’.

(3) Hangruwat, berarti memberantas berbagai masalah yang mengganggu jalannya pemerintahan demi ketenteraman negara, misalnya mengurangi kemiskinan, memberikan pendidikan keterampilan para pemuda, revolusi mental, meningkatkan ketakwaan, dengan harapan mendapatkan ampunan, membersihkan diri, agar Tuhan memberikan kemudahan dan solusi.

(4) Hanata, berarti ’menata’ bahwa para pemimpin harus menghayati falsafah njunjung drajating praja, berdasarkan konsep ’nata lan mbangun praja’, menegakkan kedisiplian, kejujuran, dan loyalitas, demi kesejahteraan rakyat, dengan sasanti ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani‘, memberikan contoh, membangkitkan semangat karja dan berwibawa di depan rakyat, berpengaruh seperti dilansir dalam kepemimpinan Pancasila. Rakyat diberikan kesempatan untuk memanfaatkan potensi alam milik negara, sesuai dengan amanat UUD 45.

(5) Hamengkoni, ’memberi bingkai’, agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. Pemerintah memberikan kemerdekaan (kebebasan bertangung jawab), kepada rakyat untuk berusaha memanfaatkan potensi dalam negeri, dan menjalin bekerja sama dengan negara lain tanpa intervensi.

(6) Hangayomi, ayom berarti ’lindung’, ’teduh’ atau berarti memberikan perlindungan kepada rakyat, agar merasa aman, bebas mencari nafkah di bawah naungan wahyu Ilahi. Untuk menjaga kewibawaan bangsa pemimpin berkewajiban melindungi rakyat.

(7) Hangurubi, membangkitkan semangat kerja kepada rakyat, untuk mencapai kesejahteraan hidup. Rakyat berharap kesejahteraan terpenuhi, berpegang pada perilaku adil, jujur dan setia membela kebenaran. Rasa asih dan asuh menyertai dalam membina hubungan dengan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan, tatap berpegang pada sabda pandhita ratu. Bahwa seorang pemimpin harus setia pada ucapannya.

(8) Hamemayu, menjaga ketenteraman negara, dengan keselarasan dan keharmonisan berlandaskan saling percaya menjauhkan diri dari sifat curiga, demi memperbaiki tatanan pemerintahan.

Dari delapan ajaran pemimpin di atas, dapat diketengahkan bahwa pimpinan memang memiliki tugas mulia. Pemimpin memiliki tugas khusus yang tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa. Dalam Mangkurat Mangkunegara, tersirat makna simbolik tentang wujud kepemimpinan yang selalu dinantikan bangsa ini sejak lama, yang dapat dijadikan inspirasi bagi setiap pemimpin dalam mengelola kekuasaan. Kepemimpinan yang memberikan semerbak jejak  keharuman tiada habisnya bagi rakyatnya, dan akan terus dikenang sepanjang masa, bahkan nantinya saat  sudah berpulang.

TENTANG TANGGUH, Yang tampak berbeda dengan pusaka-pusaka lain, material bilah ini warna besinya seperti tanah liat, jika diamati dibawah sinar matahari tampak sembur emas yang kekuning-kuningan. Orang menyebutnya dengan malela kendaga. Besi jenis ini pada jaman dahulu sangat disukai oleh para Raja sehubungan dengan daya keampuhannya. Pada buku Serat Cariyosipun Para Empu ing Tanah Jawi 1919; ada cuplikan dalam bentuk tembang asmardana yang berkesan sakral : ‘pamore ngelamat kuning/ semu garing ingkang tosan/ kuning ingkang semu ijo/ milane tan kena kelar/ ingkang ngaku kedhotan/ wong desa kang ngaku teguh/ dicuwik nyawane minggat‘ yang artinya kurang lebih : ‘pamornya semburat kuning/ besinya agak kering/ kuning kehijau-hijauan/ maka tidak ada yang menandingi/ baik yang mengaku kebal senjata/ rakyat jelata yang mengaku kuat/ disentuh nyawanya melayang.

Tampaknya semua akan sepakat luk lima pada bilah ini ‘berhasil’ tampil luwes, diperindah dengan ricikan pudhak sategal yang sejajar atau imbang kanan-kirinya memotong sraweyan. Condong leleh-nya sedikit lebih tegak, dengan sekar kacang nguku bimo. Bagian pejetan dan sogokan depan belakang dibuat lebar dan dalam. Bentuk eri pandan dan wadidang yang khas dan dimensi pesi yang besar akan lebih cocok jika dimasukkan kepada langgam Cirebon. Semakin unik dengan tampilan gonjo berpamor yang menungkak di belakangnya. Tantingannya terasa sangat ringan dalam panjang bilah 38,5 cm. Entah kenapa meski pamornya bukan tergolong pamor yang mewah (rekan dan mubyar) tetapi jika menanting akan bisa merasakan greget tersendiri (ngayang batin). Kesederhanaan tampaknya memberikan kedalaman makna tanpa batas.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Mangkurat Mangkunegara

Tinggalkan Balasan ke Wahyu Nugroho Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *