
Mahar : 6,660,000,-(TERMAHAR) Tn. J Bandung
- Kode : GKO-240
- Dhapur : Naga Tapa/Naga Pasa
- Pamor : Kulit Semangka
- Tangguh : Madura Sepuh (Abad XV)
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 498/MP.TMII/VIII/2017
- Asal Usul Pusaka : Blitar, Jawa Timur
- Keterangan lain : warangan lama
Ulasan :
NAGA TAPA, oleh sebagian pecinta keris dhapur Naga Tapa kadang-kadang disebut Naga Pasa, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang ukuran bilahnya tidak panjang (sedang). Bagian gandik diukir dengan bentuk kepala naga, sedang bagian badannya lurus ke atas dengan ekornya hampir mendekati pucuk bilah. Tetapi kadang-kadang bagian naga itu tidak diwujudkan secara realistis, melainkan berubah bentuk menjadi ricikan lain semisal ada-ada, sehingga permukaan bilahnya menjadi nggigir lembu. Biasanya dhapur naga tapa atau naga pasa memakai ricikan tambahan lain seperti sraweyan dan ri pandan, tetapi ada juga yang memakai sraweyan dan greneng lengkap. Hampir bisa dipastikan keris dengan relief naga sengaja dibuat sebagai benda pusaka. Keris-keris pusaka bereliefkan naga dikagumi dari keindahan dan kharisma fisiknya (tontonan) serta nila falsafahnya (tuntunan). Selain itu keris naga dipercaya memiliki tuah dan daya magis yang baik.
FILOSOFI, Naga merupakan salah satu binatang mitologis yang melegenda hampir di seluruh dunia. Sebagai makhluk mitologis perwujudannya pun akan tampak berbeda-beda, tak terkecuali Naga Jawa. Kisah-kisah tentang Naga di Pulau Jawa pada umumnya berintikan kisah-kisah mitologis mengenai tuntunan (pedoman nilai-nilai luhur) dan tontonan (divisualkan secara indah). Dalam rentang sejarahnya yang panjang konotasi atas kekuatan magis naga ini demikian lekat dalam alam pikir masyarakat Jawa, tidak mengherankan apabila motif naga senantiasa hadir dalam sendi-sendi masayarakat Jawa tersebut. Sebagai contoh dalam bidang keagamaan naga hadir di bangunan-bangunan suci (candi atau pertirtaan) dan corot kendi air suci. Dalam ikon-ikon politik, kata naga seringkali hadir sebagai simbol kebesaran seorang raja dan kerajaannya, pataka (panji-panji), pusaka, sengkalan dan lain-lain. Tak ketingalan dalam bidang kesenian, naga sering menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni, misalnya sastra, seni tari, pewayangan, tata busana dan lain-lain. Tampaknya, wujud-wujud naga hampir selalu dihubungkan dengan simbol kesucian yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya.
Naga Tapa (naga yang sedang bertapa)/ Naga Pasa (Naga yang sedang berpuasa).
Motif hiasan bilah yang digunakan umumnya sederhana tetapi tidak menghilangkan keindahannya. Kepala naga menggunakan sorban yang digarap secara tersamar namun terkesan hidup. Badan naga juga tersamar pada bagian leher dan kemudian menghilang. Sebuah pengingat supaya manusia mampu menekan hawa nafsu berupa kekuasaan atau jabatan, harta benda atau kekayaan dan lain-lain. Makna simbolis ini dapat juga dimaknai bahwa sebagai seorang pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, karena apa yang dimiliki hanyalah sampiraning urip (titipan yang bersifat sementara). Nafsu duniawi yang tidak terkendali akan membawa pada kesesatan hidup dan menjauhkan dari daya-daya supranatural. Ia tidak akan mampu menangkap bisikan gaib sehingga gagal menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan lantiping rasa (rasa yang tajam) atas nilai-nilai keilahian.
Manusia yang menyadari sangkan dan paran-nya (peran) akan berusaha melepasan diri dari ikatan duniawi. Ia akan berusaha mensucikan dirinya untuk dapat mencapai kesempurnaan dan terlepas dari karma. Pensucian diri (raga dan jiwa) manusia diperlihatkan dengan menjaga polah (perilaku), sabda (kata-kata) dan manah-nya (pikiran) sesuai dengan darma-nya sebagai seorang ksatriya. Manusia melakukan laku tapa brata untuk mensucikan raga dan jiwanya.
Laku yang paling sederhana untuk mencapai tujuan itu adalah laku tapa cegah dahar lawan guling (mencegah nafsu makan dan tidur), laku kungkum (berendam dalam air), laku ngebleng (menyendiri dalam suatu ruangan), dan lain sebagainya. Proses laku yang dilakukan manusia ini diharapkan mampu membangkitkan lantiping rasa (ketajaman rasa), lantiping pikir (ketajaman berpikir) dan kawicaksanaan urip (hidup bijaksana) sehingga dapat menangkap wahyu atau daya-daya supranatural.
TENTANG TANGGUH, kesan sederhana, misterius namun manis dapat ditangkap ketika menanting bilah ini. Perwujudan bilahnya ramping dan sangat ringan dipengaruhi era kerajaan besar yang berkuasa saat itu (Majapahit Akhir). Besinya halus rabaannya dan nyaring bunyinya ketika disentil, pertanda matang tempa. Pamornya kalem tiban merata sepanjang bilah, karena memang dibuat sebagai pusaka tayuhan (menonjolkan isi) tidak bertujuan untuk mempertontonkan pola keindahan pamor.
Hal-hal menarik perhatian adalah dari sisi depan dan belakang bentuk mulut naga yang tidak membuka, seolah mempunyai jumlah bibir tiga (3), seperti bentuk semar dalam wayang keling khas pekalongan dimana pengaruh Hindu-Budhanya Majapahit masih kentara. Bagian mahkota, sumping dan kalung sebagai atribut kelengkapan seorang Raja atau pemimpin meskipun dalam tatahan yang sederhana namun masih bisa terbaca dengan jelas. Kepala naga sedikit mendongak dibuat sesuai pakem keris naga pada umumnya sebagai simbol kewibawaan, kepercayaan diri, dan sadar dengan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Bagian badan distilasikan secara sederhana tanpa kehilangan makna dengan bentuk guratan-guratan sebagai penanda sisik sewunya (penolak 1000 bahaya). Pada bagian wadidang ricikan eri pandan atau greneng-nya begitu kentara pesisirannya (Cirebon). Warangka timoho dan deder werut-nya sudah cukup apik sebagai abdi mendampingi sang pusaka tuannya.
Dhapur keris Naga Tapa tergolong langka dan jarang dijumpai. Tak mengherankan pada jaman dahulu, keris dhapur ini banyak dimiliki oleh Raja atau pemimpin, pangeran, tokoh agama atau kiai hingga orang-orang yang suka mendalami dunia spiritual.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————










