Mahar : 7,000,000,-(TERMAHAR) Tn. UW Kab. Hulu Sungai Selatan, Kal Sel
- Kode : GKO-222
- Dhapur : Sengkelat
- Pamor : Ngulit Semangka
- Tangguh : Demak Abad XVI
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 213/MP.TMII/III/2017
- Asal-usul Pusaka : Ngawi, Jawa Timur
- Keterangan Lain : pesi tindik (emas?), kolektor item
Ulasan :
”Nora kepingin misuwur karena peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karena piwulange leluhur”.
SENGKELAT, Manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Keris adalah simbol, yang membangun sebuah filosofi yang paling manusiawi. Ia mengijinkan kita untuk belajar kedalaman rasa serta makna tanpa memaksa kita ke dalam satu kebenaran. Pada prinsipnya, keris menawarkan paugeran (patokan) yang simpel tentang hidup. Dan sebagai sebuah simbol keris dhapur Sengkelat dikenal sebagai patron wong cilik. Seperti yang dikisahkan dalam Babad Demak, keris Sengkelat merupakan simbol perlawanan (reformasi) wong cilik yang kecewa, marah, terhadap carut marutnya keadaan kerajaan Majapahit. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sengkel atine atau jengkel hatinya.
Keris Sengkelat juga merupakan simbol kepemimpinan yang banyak dirindukan, kepemimpinan yang memihak wong cilik. Sosok pemimpin tanpa jarak dengan kehidupan rakyat yang dipimpinnya dalam arti kiasan dan arti harfiah. Seorang pemimpin yang mengambil “jalan sunyi” dan tidak popular, bersahaja, sak madyo. Bahasanya lugas dan sederhana, mudah dipahami rakyat kebanyakan karena memang berasal dari kehidupan rakyat kebanyakan.
Dalam perspektif spiritual, Sengkelat mewakili watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik. Keadaan mentalnya sangat matang, tidak kagetan dan tidak gumunan senantiasa eling dan waspadha. Sengkelat bagaikan air tenang yang menghanyutkan, di balik ketenangan sikapnya tersimpan kejeniusan, ketajaman batin, kaya pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Sengkelat menggambarkan figur yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran dan menghindari perbuatan dur-angkara.
TENTANG TANGGUH DEMAK, Sangat sedikit referensi mengenai tangguh Demak. Dalam Ensiklopedi Keris karangan Alm Bambang Harsrinuksmo tangguh Demak ditulis ; mempunyai pasikutan yang wingit, bilahnya berukuran sedang, besinya hitam kebiruan dan berkesan basah, pamornya tergolong kalem dan berkesan mengambang, gonjonya tipis dengan sirah cecak pendek. Kemudian S Lumintu juga menulis; Tangguh Demak gonjo rata, sirah cecak kecil dan menguncup, pamor bagus, besi agak kuning kurang bercahaya (guwaya), condong leleh agak membungkuk, tikel alis pendek, sogokan panjang, kembang kacang kecil, jalen kecil, lambe gajah agak besar dan panjang. Kemudian Koesni dalam Bukunya Pakem Pengetahuan Tentang Keris juga menulis keris buatan jaman Demak ; kebanyakan buatan jaman ini memiliki daya tarik sendiri dimana jika dilihat secara sepintas masih meniru-niru buatan Majapahit, tetapi jika diperhatikan secara benar walau besinya basah seperti besi Majapahit, namun pamor yang menempel disitu seolah mengambang. Dari hal tersebut bisa dinyatakan bahwa walau besi buatan Demak memang terdiri dari besi pilihan, tetapi sayang airnya yang terang tidak memadai. Malah bisa dikatakan air yang untuk mencampur pembuatan keris di negeri ini, terdiri dari air asin.
RT Waluyodipuro dalam tulisannya “Seserepan bab Dhuwung tuwin ubarampe saha lalajenganipun” menulis lebih detail lagi, dimana pada jaman kerajaan kraton Bintoro/Demak terdapat tiga Empu :
- Empu Purwasari (putra Rara Semboga) yasan dhapur : brojol, tilam upih dengan ciri pamor bantat arusoh (keras kaku agak kotor), beliau juga yasan pedang Lameng dengan ciri besi berwarna biru, pamor jelas, dan bagian pesi mempunya ciri belang dua.
- Empu Purwatanu (putra Empu Purwasari), jaman peralihan Demak – Pajang, yasan dhapur : brojol dengan ciri gonjo nguceng mati semu kidhung (mirip ikan kecil mati agak malu-malu), bilah tipis sekali, pamor beras wutah dengan sepuh dilat. Selain itu beliau juga yasan dhapur lain seperti jalak ngore, tilam upih, jalak sangu tumpeng dengan ciri yang sama.
- Empu Subur (putra Empu Gedhe dari Banyumas), hingga pindah ke Pajang tidak pernah membuat keris, tombak ataupun pedang. Hanya membuat pangot, arit, pacul, gobang, wadung. *(kemungkinan dari sini adanya pitutur lisan maupun tulisan yang menyatakan budaya keris kerajaan Demak Bintoro kurang mendapat perhatian dari pusat kekuasaan digantikan oleh Wedung, yang sebenarnya masi debatable karena menurut sejarah Demak Bintoro lebih memilih teknologi mesiu daripada senjata tradisional)
Dan dalam Serat Panangguhing Dhuwung, catatan mas Ngabehi Wirasoekadga dhuwung Tangguh Demak ditulis ; dhuwung gonjo waradin, gulu meled alit, sirah cecak ngluncup, bangkekan singset, buntut urang papak, seblakipun ruruh wasuhaning pamor muyak merak ati tosanipun kuning raos kemba lenggahipun andhekung kidung, menawi nggangge sekar kacang nyantheng, jalen mayat sumungkem, lambe gajah moncer soho landhung, blumbangan lebet ciyut, sogokan landhung keder lebet awak-awakipun dhuwung ngruwing ananging ketingal kendho, menawi medal leres lenggahipun tumungkul, bilih gandhikanipun gandikipun sedhengan kedher, tikel alis jugag. Atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebihnya adalah : bagian gonjo rata, gulu meled kecil, sirah cecak seperti kuncup, wadidang langsing, buntut urang datar, dalam rasa pandangnya gagah, wasuhan pamornya rata dan menarik hati, besinya kuning namun agak hambar, badannya tidak terampil (gesit). Sekar kacang-nya kaku, jalen agak miring, lambe gajah terlihat dominan panjang, pejetan dalam tapi sempit, bagian sogokan mengembang panjang, dalam dan tegak lurus, badan bilah seperti ada kruwingan samar. Jika keluar dhapur lurus terlihat agak menunduk, gandik-nya sedang dan tegak lurus dengan tikel alis ringkas.
pesi unik, tindak centre di tengah, tetapi lebih maju ke sirah cecak
Kesan pertama menanting Kiai Sengkelat ini adalah kesan wagu yang konsisten, dan dari situ justru menjadi signature tersendiri, keunikan yang menjadi pembeda garap dengan pusaka-pusaka lain dan justru terasa manis mampu menarik hati. Secara keseluruhan masih bisa dikatakan TUS, keutuhan bilah masi sangat terjaga pertanda pemilihan material tidak sembarangan dan perawatannya sebelumnya sudah baik dan benar. Tampak pada bagian sor-soran; gandik sedang dan miring (amboto rubuh) dengan jalen menggantung lancip seperti duri, bagian sekar kacang langsing tapi nggelung wayang, tikel alis tampak pendek dan ringkas. Pada bagian sogokan jika dirasakan lebih ternyata perlu kemampuan extra dari sang Empu untuk membuat sogokan landhung (lebih panjang dari ukuran normal) dengan tarikan yang meliuk ke belakang mirip stilasi paruh burung dandang (gagak). Bentuk sogokan seperti ini bisa dijadikan penanda ciri khas garapan seorang Empu. Besinya berwarna hitam kebiruan berkesan basah dengan pamor kelem merata di sepanjang permuakaan bilah. Luknya sedeng tidak kemba dan tidak samar dengan posisi condong leleh dan panitis yang agak menunduk. Bagian gonjo-nya rata dengan karakter huruf jawa dha dan ma pada ricikan greneng tidak berkiblat. Yang menjadi keunikan lebih dari bilah ini adalah posisi pesi yang menunjang bilah tidak terletak pas di tengah, agak maju ke depan, khas tangguh sepuh yang banyak diketemukan sebelum era Mataram Islam. Penulis sendiri masih belum bisa memahami maksud dibuatnya demikian, apakah ciri garap seorang empu, tangguh ataupun hanya masalah kesenangan atau estetika semata. Terlebih lagi sindik atau orang jawa bagian timur menyebut dengan pangselan pesi terbuat dari logam lain (emas/wesi kuning?). Tentu ada maksud dan tujuan dimana logam lain sengaja ditanamkan menjadi satu dengan pusaka. Jika pemberian logam lain pada bagian luar yang tampak oleh orang lain bertujuan salah satunya untuk status sosial, maka pemberian logam lain pada bagian pesi yang dianggap sinengker tersembunyi oleh hulu tentu saja dapat dipahami sebagai maksud religius atau spiritual.
terdapat tindik emas pada bagian pesi
Dengan bentuk yang sangat sederhana dan cenderung wagu, terasa nyeleneh, tetapi enak dipandang. Sogokan dan blumbangan yang tidak imbang antara sisi muka dan belakang, lambe gajah seperti undhak-undhakan (pijakan tangga). Pada bagian gonjo; sirah cecak-nya lancip dan perut gonjo tampak tipis oleh beberapa pecinta keris dipahami sebagai tangguh Madiun. Jika ditarik benang merah tampaknya juga ada kesamaan dengan cerita tutur rakyat, Sultan Demak (Trenggono?) memerintahkan kepada Ki Supa Anom/Umyang Pajang/Ki Kodok untuk membuat sebilah keris yang bisa menjadi pusaka andalan keraton. Mendapat tugas berat ini, Ki Supa Anom memutuskan mencari wangsit dengan cara mengembara ke berbagai pelosok. Langkah kakinya membawanya ke desa Wonosari, Purubaya. Ketika mendekati sendang di daerah itu kakinya tanpa sengaja menendang bangkai seekor katak dan masuk ke dalam sendang. Anehnya, begitu tersentuh air, bangkai kodok (katak) itu kembali hidup. Melihat keajaiban ini, Ki Supa Anom menyimpulkan bahwa tempat untuk membuat keris sudah diketemukan. Dan selanjutnya disebut sebagai Empu Ki Kodok.
Rabaan adanya benang merah antara Empu di Demak hijrah ke Madiun masih masuk akal, karena menjelang akhir abad 16 saat itu penguasa Madiun adalah Pangeran Timur yang dikenal sebagai Panambahan Madiun, merupakan putera bungsu dari Sultan Trenggono dari Demak. Ki Supo Anom dan Empu-Empu dari Demak lain bisa jadi diboyong oleh Pangeran Timur ke Madiun, yang memang sedang memperkuat diri dengan membuat banyak persenjataan. Setelah Pajang sebagai kelanjutan Demak runtuh (kembali menjadi Kadipaten), Mataram sebagai kerajaan yang masih muda, haus akan ekspansi, menjadi ancaman bagi kerajaan-kerajaan atau kadipaten-kadipaten kecil di Jawa Timur, termasuk Madiun. Kabupaten-kabupaten ini enggan diperintah Mataram, sehingga mereka perlu memperkuat diri – antara lain dengan cara membuat sebanyak mungkin senjata, seperti keris dan tombak.
PAMOR NGULIT SEMANGKA (sering disingkat menjadi Ngulsem), Layaknya batik parang, motif unik yang terdapat pada kulit buah semangka menyiratkan bahwa jalan hidup yang tak selamanya lurus bahkan mungkin akan penuh liku dan kerikil tajam. Jalan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, tidak perlu merasa khawatir karena segala sesuatunya sudah ada yang Maha Mengatur.
Alam tetaplah menyimpan berjuta kearifan yang dapat menuntun kita pada suatu jalan. Sebagai salah satu motif dasar pamor tiban. Pamor Ngulit Semangka juga memiliki makna yang menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga. Dalam konteks tersebut motif ngulit semangka mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis diagonal yang bertemu pada suatu titik juga melambangkan penghormatan, keteladanan, cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran. Aura dinamis pada pamor ini juga menganjurkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti atau menyerah dalam menggapai suatu kesuksesan.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com
————————————















