Sabuk Inten Gajah Singo Kiai Joko Minulya

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ? (TERMAHAR) Tn. MU Waru, Sidoarjo


 
  1. Kode : GKO-207
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram  Sultan Agung Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 127/MP.TMII/II/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Koleksi Pribadi
  7. Keterangan lain : sogokan tembus, warangka kayu eboni, deder putri kinurung, pendok kemalo hitam selorok perak

Ulasan :

Kêris iki gêgaman nanging sajiwa saraga: dadi panganggo kang ora pisah, kang nganggo bisaa: wirya, arta, wasis, rahayu slamêt.

BENTUK SABUK INTEN, memiliki makna: sabuk yang berarti ikat pinggang, sabuk digunakan dengan cara melingkarkan (nggubed) di badan atau lebih tepatnya dipinggang. Dan lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh). Dan inten yang berarti intan permata, tiada lain adalah jerih payah yang didapat ketika sudah melalui perjalanan panjang. Hidup adalah sebuah proses, proses yang harus dimulai sedini mungkin, sejak muda (JOKO), perjalanannya amat panjang yang membutuhkan banyak perjuangan untuk dapat meraih impian. Keris sabuk inten adalah simbol pusaka yang melambangkan kesungguhan hati dalam mencapai kesucian, kemuliaan, kemakmuran dan kekuasaan bagi pemakainya.

Pada kinatah gajah singo sebelah kiri emas sudah tidak ada, foto sebelah kanan kondisi wutuh, sumber foto : Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar

GAJAH – SINGO, adalah nama salah satu hiasan kinatah (emas) yang ditempatkan pada bagian bawah gonjo keris. Penempatannya, antara bagian stilasi mini berbentuk gajah dan bagian singo dipisahkan olek peksi keris. Permukaan yang tidak tertutup oleh badan gajah dan singa itu dihiasi pula bentuk ornamen hiasan lainnya (lung-lungan).

Beberapa Ahli Sejarah mengatakan bahwa penggambaran angka tahun dengan benda, alam semesta, karakter manusia atau hewan sudah menjadi tradisi yang baku. Angka-angka tersebut dipuitisasi menjadi kata-kata yang di-decode dari inspirasi filosofi kejadiannya. Jadi Sengkalan adalah suatu cara dalam budaya Jawa untuk menyebutkan susunan angka tahun dengan lambang, baik melalui kata, gambar atau wujud. Obyek lambang itu dapat berupa tumbuhan, hewan, manusia, benda alam semesta, serta kondisi ataupun sifat obyek tersebut. Momen yang tercatat dalam sejarah umum maupun dalam kawruh padhuwungan itulah yang membuat keterkaitan Gajah Singo dengan sengkala memet (candra sengkala).

Disebut “Gajah Singo Curigo Tunggal” merupakan catatan condro sengkolo padamnya pemberontakan Pragola di Pati (yang dimulai sejak jamannya Panembahan Senopati dan berlanjut hingga masa Sultan Agung bertahta). Jika boleh dan dibenarkan kata “gajah” dianggap sebagai “raja hutan” adalah 1, singo (harusnya simo) artinya galak atau watak 5, curigo artinya lungid atau tajam juga watak 5, kemudian tunggal adalah 1. Karena candra sengkala dibaca dari belakang, maka yang dimaksud adalah angka tahun 1551 menurut kalender Jawa atau 1629 M sesuai catatan DR. H.J de Graaf yang menuliskan dengan rinci perkiraan tuntasnya pemberontakan itu pada 1629 M atau 1551 tahun Jawa.

Kinatah Gajah Singo adalah sebagai perlambang pengagungan Mataram yang telah perkasa lagi setelah sebelumnya dua tahun berturut-turut gagal menyerang Batavia, ditandai dengan takluknya pemberontakan Adipati Pragola II di Pati oleh serangan prajurit Mataram dengan kekuatan penuh dalam situasi antara marah (ngamuk) dan berkabung sepulang dari kekalahannya dalam perang di Batavia. Oleh karenanya Ingkang Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma berkenan memberikan ganjaran (hadiah) kepada “Pahlawan Perangnya” Putra Sentana (kerabat) ataupun para abdi-abdinya yang telah berjasa memenangkan Perang, keris diberikan kinatah sebagai berikut (Dhuwung = Wêsi Aji, Nayawirôngka, 1936) :

  1. Untuk Putra Sentana dan Pepatih Dalem, kinatah anggrek manglar monga, atau singo barong.
  2. Abdi Dalem wadana kliwon (bupati dan bupati anom) kinatah kamarogan
  3. Panewu Mantri, Gajah Singo
Pemberian kinatah pada momen tersebut seolah menjadi sesuatu yang sangat penting sekali. Indikasi bahwa untuk penyatuan perwira dengan ganjaran kinatah gajah singo sangat mungkin karena pada waktu itu Sultan Agung membutuhkan konsolidasi menyeluruh dan dukungan segenap tentaranya setelah kekalahan penyerangan di Batavia juga penghianatan internal. Di sisi lain bentuk gajah singo sering dianggap sebagai lambang kekuatan yang bermusuhan. Singa yang dimaksudkan sebagai lambang dari kerajaan Mataram (dengan tafsir: Singo nggero atau getak Mataram, yang berarti singa yang mengaum sebagai gertak pasukan Mataram), sedangkan gajah dianggap melambangkan kadipaten Pati (dengan tafsir Gajah nggiwar, berarti gajah yang menghindar karena takut) yang akhirnya bertekut lutut di bawah kekuasaan Mataram Sultan Agung.
 
Jika kita mengamati beberapa keris dengan ornamen Gajah Singo di bagian bawah gonjo yang ada, teknik dasar yang dipasangkan pada kinatahpun ditemukan bervariasi. Versi pertama kinatah gajah singo diberikan dengan mengganti gonjo sekaligus, dapat dilihat dari perbedaan besi yang lain antara bilah dan gonjonya. Seperti gajah singo pada pusaka ini, stilasi kedua hewan dengan bulatan ornamen lainnya tersebut diukir menjadi satu kesatuan dengan bagian gonjo. Namun pada kinatah gajah singo yang lain juga sering diketemukan teknik paku. Kembang maupun stilasi bentuk dari hewan gajah maupun singo dibuat dengan cara memberi tetesan besi las pada gonjo asli, kemudian ditutup dengan emas tebal lalu dipahat stilasi gajah dan singo timbul (3 dimensi) sedangkan motif bunganya dibuat sistem paku pines ditancapkan dengan cara di bor pada gonjonya. Meskipun kinatah Gajah Singo secara literatur tercatat pada era Mataram Sultan Agung memerintah, tidak menutup kemungkinan ditemui pada era-era setelahnya.
 
TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG, Pusaka ini termasuk salah satu pusaka yang menjadi klangenan pribadi, entah kenapa saat bilah dilolos dari warangka, aura adem merbawani sangat terasa. Tantingan terasa “super ringan” serasa tidak berbobot sama sekali pertanda banyak mengandung logam titanium khas keris-keris sepuh yang bermutu (garap dalem). Penulis pribadi betah berlama-lama jika menatap pusaka ini, terbius dengan keindahan garap pamor meteoritnya yang penuh dengan pamor akhodiyat seolah mengajak kembali ke masa lalu. Jaman dimana keris adalah sebagai senjata dan pendamping, sejiwa seraga tak terpisahkan. Jaman dimana pusaka ini menegaskan status sosial dan pencapaian dari pemiliknya. Begitu banyak hal yang bisa dilamunkan : pusaka ini pastilah dulu dimiliki oleh orang yang sangat berkecukupan tidak hanya kebutuhan dasar sandang, pangan dan papannya, tapi sudah mencapai taraf pemenuhan kebutuhan teratas yakni aktualisasi diri. Dapat dibayangkan jika pada jaman dahulu untuk membeli memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan dan pakaian saja sudah susah, terbayang berapa pengorbanan biaya yang harus dikeluarkan untuk membabar pamor seroyal ini? Mulai dari kelangkaan bahan pamor meteor, cara mendapatkan juga berapa lamanya hingga selesai dibabar.

Pamor Akhodiyat

Pakem Petung Keris Mataram
Tarikan luknya begitu manis, seolah melambangkan liku-liku perjalanan hidup yang harus dijalani dengan semangat pantang menyerah. Kembang kacang nguku bimo tampak gagah nyatrio, diimbangi gandik sedikit tegak penuh percaya diri. Pamor meteorit begitu dermawan tersebar merata di seluruh bilah, diselingi banyak titik-titik akhodiyat diantaranya. Pamor akhodiyat yang berwarna cemerlang adalah pamor tiban, tak ubahnya menjawab doa sang pemilik akan berkah yang tiada henti-hentinya dari Sang Maha Kuasa (MINULYA). Jika diukur dengan simpul-simpul pakem keris Mataram pun menampilan pakem petung yang pas, menunjukkan kelasnya. Rabaan pamor terasa “ngintip” di beberapa area sebagai hasil dari royalnya pamor juga asal bahan pamor yang bermutu tinggi. Rasanya banyak orang sepakat tangguh lempoh (tidak menimbulkan perdebatan tangguh) Mataram Sultan Agung.
Dari perlengkapan pendukung yakni warangka tampaknya sudah tidak ada pekerjaan rumah kembali. Branggah Yogya kayu eboni disandingkan dengan ukiran tunggak semi putri kinurung dimana pada bagian hulu tersebut dikelilingi oleh ukiran stilasi tumbuhan atau taman bunga dengan tambahan makoro. Memiliki makna sebagai harapan menjadi seseorang yang bahagia, hidupnya dipenuhi dengan segala sesuatu serba berkecukupan dan berkelimpahan serta terlindungi dari hal-hal yang buruk. Dan pendok kemalo hitam dengan slorok buntu perak jaman dahulu memang sesuai dengan peruntukan bagi penerima tanda kehormatan gajah singo yakni untuk mantri panewu sudah terasa wangun (pantas).
Namun seperti pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, bagian sogokan yang dibuat agak dalam dengan janur tipis oleh sang Empu, juga logam (emas?) yang menutupi gajah singo harus merelakan kecantikannya digerogoti oleh sang Batara Kala (waktu). Untuk pewarangan memang Penulis sengaja untuk request tukang jamas untuk “digosongkan”. Hanya sebuah preference (pilihan), juga sebuah kearifan lokal para pinesepuh jaman dahulu untuk tidak terlalu mengumbar pamer (show off) apa yang dimiliki. Tidak perlu pujian dari orang lain jika kita tahu kualitas diri sendiri!
 
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

4 thoughts on “Sabuk Inten Gajah Singo Kiai Joko Minulya

  1. sangat membantu buat perbendaharaan perpusakaan budaya bangsa
    biar tambah mendalam lagi mengenai filosufi di dalam pusaka yg dilukisksn penuh dengan ke kepepercayaan tinggi.dan kebathinan yg ikhlas sabar dan tawaqal
    salam budaya nusantara ibu pertiwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *