Mahesa Teki

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2,950,000,- (TERMAHAR) Tn. JD, Kebumen Jawa Tengah


 
  1. Kode : GKO-208
  2. Dhapur : Kebo atau Mahesa Teki
  3. Pamor : Slewah (junjung derajad & kulit semangka)
  4. Tangguh : Madura (Luar Jawa?) Abad XVIII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 128/MP.TMII/II/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Pekalongan,  Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : warangka baru

Ulasan :

KEBO TEKI, sering juga disebut Mahesa Teki, adalah salah satu dhapur keris lurus, panjang keris ini normal; bilahnya pipih agak lebar dibandingkan dengan keris lainnya. Ricikan yang terdapat pada keris ini adalah: gandik-nya agak panjang, kembang kacang, jalen, lambe gajah (seringkali lebih dari satu) dan blumbangan. Pada zaman dahulu keris Mahesa Teki banyak dimiliki oleh golongan terhormat seperti para Tuan Tanah (land lord) dan pedagang hasil bumi hingga sekarang banyak dicari oleh mereka yang “bermain” dalam dunia property, konstruksi hingga pertambangan karena mereka percaya bahwa Kebo/Mahesa Teki membawa keberuntungan pada mereka yang terlahir memiliki unsur tanah. Bahkan sampai sekarang kepercayaan semacam itu masih bertahan diantara penggemar keris.

FILOSOFI, Kebo (Te)Teki = Kerbau yang sedang menjalani laku teteki atau yang disebut juga dengan ibadah mati raga (bertapa). Secara spiritual “Kebo” sering dipersepsikan sebagai “sosok Panuntun”. Sebagai panuntun, kebo dipahami memiliki fisik yang kuat dan besar, rajin bekerja, setia dan kalem (sabar). Di samping itu para orang tua jaman dahulu telah mewarisi kearifan lokal serta tradisi leluhur agraris yang memandang kerbau sebagai “rojokoyo“. Makna terpisah adalah Rojo artinya Raja dan Koyo artinya kaya, yaitu kerbau yang dipahami sebagai “Raja” (untuk mendapat) hasil yang berlipat banyaknya (misalnya dari membajak sawah). Tak heran dari sisi materialistik kerbau memberikan optimisme dalam menjalani hidup.
Segala sesuatu hakikatnya tentu dari Tuhan. Namun, sebagai manusia kita diwajibkan berusaha baik secara lahir maupun batin untuk keluar dari kesulitan. Dalam laku teteki, salah satunya dijalani dengan laku kungkum atau berendam di tempuran (pertemuan) sungai di malam hari. Dipahami sebagai laku pembersihan diri membersihkan dari sengkala (kesialan) kehidupan yang membuat usaha dan cita-cita kita tersendat dan merupakan wujud pertobatan untuk hidup yang lebih baik. Tetapi sebenarnya terdapat kiasan makna yang lebih dalam dari sekedar mandi di sungai. ‘Nempur’ di tempuran sungai bukan berarti aktifitas fisik saja tetapi lebih dari itu bermakna spiritual. Aliran sungai adalah air lambang sumber kehidupan. Sumber kehidupan alam raya ini tak lain dan tidak bukan yang mempunyai hidup. Yang mempunyai hidup adalah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu ‘nempur’ sesungguhnya tidak lain dan tidak bukan menyongsong campur tangan atau ‘pitulungan’ dari Yang Maha Kuasa. Kebo Teki adalah sebuah visi pemiliknya yang ingin mewujudkan kemudahan hidup, keselamatan dunia akherat, dan kemakmuran hingga turunan-turunannya dimana tentu saja dijemput dengan sebuah lelaku (ikhtiar).

TENTANG TANGGUH, Kesan satriya yang gagah berani dapat langsung dirasakan taklala memandang bilah ini. Bentuknya yang birawa (panjang wilah +/- 38 cm) dengan usuk (jw = ada-ada) yang tegas berpadu dengan karakter besi yang hitam padat dengan rabaan licin seolah melukiskan seorang ksatriya yang halus namun tak kenal kompromi. Sekar kacang sedikit mangan gandik, jalen yang runcing dengan dua lambe gajah-nya masih jelas pada gandik bak menyisakan pahatan-pahatan ketampanan di masa lalu yang masih bisa dinikmati hingga sekarang. Bentuk gonjo wulung tanpa pamor yang sedikit nungkak (naik) di bagian belakang dengan ricikan greneng kiri (jw = ron dha nunut) beradu manis dengan bentuk gonjo yang maju ke depan dengan garis-garis cocor yang terdapat pada ulun cecek (jw = sirah cecak) seolah mengadopsi keris Bali pada umumnya, namun jika keris Bali agak terasa setengah hati dalam melakukan finishing atau sanglingan-nya (digosok dengan kayu/bambu/batu berserat/pori-pori halus) yang kurang licin mengkilat. Beberapa orang justru memasukkannya dalam tangguh Kulonan (Cirebon) juga Madura.

Tampak untuk merapatkan bagian gonjo dengan pesi supaya tidak goyang masih menggunakan cara-cara yang relatif tradisional (kuno) dengan menggunakan sindik  atau beberapa orang menyebut pangselan, dimana setelah bagian gonjo dimasukkan ke dalam pesi sepotong kawat atau besi setebal paku disisipkan di belakang pesi ke lubang gonjo dan dipukul sedalam mungkin kemudian kawat atau besi yang tersisa dikikir dan dipahat sehingga bagian yang tertancap sama sekali rata dengan permukan gonjo. Garis pemisah antara kawat dan pesi dengan gonjo sama sekali tidak terlihat. Cara-cara seperti ini tercatat masih dilakukan oleh Empu Karyadikrama dan didokumentasikan dengan baik dalam buku Der kris Der Javaner (1910) yang ditulis oleh Dr. Isaac Groneman walaupun saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh pengrajin keris karena semakin berkembangnya teknologi.

Selain dari bentuk wilah atau yang dinamakan dhapur, diantara ciri-ciri dan bagian-bagian dari sebilah tosan aji yang sangat menarik perhatian dan seringkali menjadi dasar penting bagi para sutresna tosan aji, salah satunya ialah bagian “pamor”. Adanya kepercayaan bahwa apa yang terlukis dalam bentuk simbolik pada bilah tosan aji mempunyai arti khusus yang menjelaskan daya atau kekuatan gaib yang tersimpul dalam tosan aji tersebut, yang disebut makna pamor

 

 

SLEWAH, adalah sebutan bagi pamor yang mempunyai dua motif yang berbeda sisi depan dan belakangnya. Pamor ini agak mirip dengan pamor Tangkis, bedanya, pada pamor tangkis salah satu sisi di antaranya sama sekali tidak berpamor atau kelengan; sedangkan pada pamor Slewah, kedua sisinya berpamor, tetapi pola gambarab pamornya berbeda. Misalnya pada keris ini pada sisi depan junjung derajad, sedangkan pada sisi sebaliknya ngulit semangka. Pamor slewah juga berbeda denan pamor dwiwarno, yaitu dua macam pamor yang menempati permukaan sisi bilah yang sama. Sebagian pecinta keris beranggapan bahwa pamor Slewah mempunyai sedikitnya dua jenis tuah atau manfaat yang berbeda.

PAMOR JUNJUNG DERAJAD, adalah salah satu motif pamor yang dulu hanya terkenal di Madura dan Jawa Timur. Tetapi sejak sekitar tahun 1985-an pamor ini juga banyak dicari oleh para penggemar keris di Jawa Tengah hingga ke Jakarta. Bentuk gambaran pamor itu sebenarnya berupa gabungan dari dua macam pamor. Pada bagian pangkal keris atau sor-soran terdapat semacam pamor ujung gunung tetapi hanya satu puncak saja. Di atas puncak gunung itu terdapat pamor lain, biasanya ngulit semongko, wos wutah dan pulo tirto. Banyak yang menganggap tuah pamor junjung derajad sangat baik, terutama paling tepat bila dimiliki oleh pegawai negeri hingga kalangan pejabat pemerintahan dan militer. Konon, dengan bantuan tuah pamor ini dan tentu saja dengan izin Tuhan YME pemilik keris akan cepat meraih posisi dalam meniti kariernya (naik pangkat) dari yang sewajarnya dan menaikkan derajadnya menjadi orang besar (sukses). Pamor ini tidak pemilih dan cocok untuk semua orang. Tak heran pamor junjung derajad menjadi pamor kesukaan banyak orang dan menjadi salah satu pamor buruan para sutresna keris.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *